;
Tags

Multinasional

( 22 )

Tax Treaty Dengan ASEAN Diperluas

Ayutyas 24 Jul 2020 Kontan

Dirjen Pajak terus menambah kerjasama dengan negara – negara ASEAN untuk memperkuat P3B atau Tax Treaty. Yang teranyar adalah dengan Kamboja pada 23 Oktober 2017 di Jakarta dan pada 13 Oktober 2017 di Phnom Penh. Hasil P3B Indonesia-Kamboja adalah jenis pajak Indonesia yang tercakup dalam pajak penghasilan (PPh).

Dirjen Perpajakan International Ditjen Pajak Kemenkeu John Hutagaol menyatakan ada enam manfaat P3B bagi Indonesia, Pertama, mengeliminasi pajak berganda. Kedua, membagi hak pemajakan antara negara sumber dengan negara investor. Ketiga, memberikan kepastian perlakuan pajak atau tax certainly. Keempat, memperkuat kerja sama perpajakan termasuk pertukaran Informasi perpajakan. Kelima, menghapus atau mengurangi diskriminasi pajak atas investasi. Keenam, mencegah terjadinya penghindaran dan pengelakan pajak. Pendapat serupa juga diutarakan Pengamat Pajak Center of Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar, ia menilai di era globalisasi, berbagai negara mengenai istilah global value chain (GVC) yang berarti proses produksi melibatkan beberapa negara.  Karena itulah, fungsi P3B adalah memastikan investor agar tidak kena pajak berganda agar tidak menghambat rantai GVC.


Google Indonesia Masih Mengkaji Pembayaran Konten Media di Indonesia

Ayutyas 06 Jul 2020 Kontan, 30 Juni 2020

Google Indonesia mengklaim saat ini masih melakukan diskusi dengan sejumlah penerbit mengenai kemungkinan penerapan skema pembayaran konten di Indonesia, seperti halnya yang telah dilakukan di sejumlah negara lain. Hal tersebut dikatakan Head of Corporate Communications Google Indonesia Jason Tedjasukmana. 

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Abdul manan menyambut baik langkah Google tersebut. Dia menyarankan Google untuk membayar konten berdasarkan kualitasnya, bukan berdasarkan jumlah klik saja, lantaran banyak informasi bombastis tapi memiliki unsur propaganda bila hanya mengacu pada jumlah klik.

Dikutip dari Reuters, Google Alphabet mengambil langkah menyelesaikan percekcokannya dengan media dan penerbit, dikatakan bahwa mereka membayar sejumlah grup media di Australia, Brasil, dan Jerman untuk konten berkualitas tinggi dan berharap melakukan lebih banyak kesepakatan dengan yang lain setelah bertahun-tahun berusaha menangkis permintaan pembayaran dari penerbit berita di seluruh dunia dengan imbalan menggunakan konten.

OECD: Pemulihan Ekonomi akan Lamban dan Tidak Pasti

Ayutyas 21 Jun 2020 Investor Daily, 11 Juni 2020

Ekonomi global diperkirakan kontraksi setidaknya 6% tahun ini. Hilangnya pendapatan dan ketidakpastian menjadi dampak yang ditimbulkan oleh wabah virus corona Covid-19. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD menyatakan, jika sampai terjadi gelombang kedua penularan di akhir tahun, kontraksi itu dapat mencapai 7,6%. Pada kedua skenario di atas, pemulihannya akan berlangsung lambat dan tidak pasti.

Organisasi berbasis di Paris, Prancis ini menggarisbawahi, produk domestik bruto (PDB) global dapat tumbuh sebesar 5,2% pada 2021. Jika krisis Covid-19 tertanggulangi. Tapi hanya sebesar 2,8% jika muncul gelombang infeksi yang kedua. Menurut laporan tersebut, aktivitas ekonomi di 37 negara anggota OECD telah runtuh. Dalam beberapa kasus penurunan mencapai 20%-30%. Selama tidak ada vaksin atau pengobatan atas virus corona Covid-19, OECD menilai upaya menjaga penularan dengan jaga jarak fisik, mengetes orang, melacak, dan mengisolasi yang terinfeksi akan tetap menjadi kunci dalam memerangi pandemi ini. Tetapi dalam kondisi seperti itu, sektor-sektor yang dipengaruhi oleh penutupan perbatasan dan sektor yang membutuhkan kontak pribadi yang dekat, seperti pariwisata, perjalanan, hiburan, restoran, dan akomodasi tidak dapat beroperasi seperti sebelumnya.

Pemerintah dan bank sentral di seluruh dunia telah mengambil langkah besar untuk melindungi bisnis dan para pekerja dari kejatuhan ekonomi. Tetapi ini juga memiliki konsekuensi, kata laporan itu, karena utang publik bruto naik dengan cepat. Pemerintah dinilai perlu menyesuaikan dukungannya, memungkinkan proses restrukturisasi yang cepat untuk perusahaan, menyediakan penghasilan bagi pekerja di antara sejumlah pekerjaan, pelatihan bagi yang kehilangan pekerjaan, dan perlindungan sosial bagi pihak yang paling rentan.

Indonesia Siap Tampung Relokasi Pabrik dari Tiongkok

Ayutyas 21 Jun 2020 Investor Daily, 11 Juni 2020

Pemerintah Indonesia menyiapkan kawasan industri di Batang, Jawa Tengah untuk menampung pabrik milik perusahaan Amerika Serikat (AS) dan Jepang yang akan direlokasi dari Tiongkok. Daerah Batang dipilih karena ketersediaan lahan dan infrastruktur pendukung lainnya sehingga bisa cepat menangkap peluang relokasi investasi global ke Tanah Air.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan, pemerintah berencana memindahkan pengembangan kawasan industri (KI) di Brebes ke Batang dikarenakan masalah pembebasan lahan yang belum selesai. Kedua daerah tersebut merupakan kabupaten yang sama-sama berada di pesisir utara Provinsi Jawa Tengah. Menurut Erick, langkah tersebut harus dilakukan karena pemerintah harus cepat bergerak mengembangkan kawasan industri untuk menggaet relokasi investor global ke Indonesia terutama Jepang, Korea dan AS yang akan merealisasikan investasinya di Indonesia enam bulan lagi dan sudah bersiap untuk membangun industri di kawasan tersebut.

Rencananya, pengembangan kawasan industri di Batang akan menggunakan lahan milik PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN dengan luas 4.000 hektare (ha) dan sudah ada 300 meter jaringan rel kereta api dan pelabuhan peninggalan Belanda yang akan dikonversi menjadi lahan industri. Ia menjelaskan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan direktur utama PTPN sudah meninjau langsung ke lokasi untuk melihat upaya ini sebagai sebuah langkah percepatan.

Bahlil mengunjungi sejumlah kawasan yaitu Kawasan Industri Brebes, areal perkebunan PT Perkebunan Nusantara IX Batang, serta Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang. Dalam kunjungannya, Kepala BKPM juga melakukan koordinasi dengan Bupati Batang Wihaji untuk pengembangan industri dan investasi yang menelan investasi sebesar Rp 60 triliun. Nantinya pembangkit ini akan membantu PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menambah suplai listrik Jawa-Bali sebesar 5,7%. Jawa Tengah berada pada peringkat empat realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) periode triwulan I-2020 dengan nilai Rp 19,3 triliun (9,1%) dari total realisasi investasi. Investasi PMDN jauh mendominasi senilai Rp 14,6 triliun, sementara investasi PMA sebesar US$ 321 juta (Rp 4,7 triliun)

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta W Kamdani mengatakan, rencana kepindahan pabrik milik perusahaan asal AS dari Tiongkok ke Indonesia dicetuskan oleh US International Development Finance Coorporation (DFC). Lembaga ini menyebutkan, banyak pelaku usaha AS yang hendak merelokasi pabrik dari Tiongkok, karena tingginya tensi perang dagang antar kedua negara. Kadin, menurut dia, sedang melakukan penjajakan dan pemetaan melalui jaringan pengusaha di negara asal pabrik maupun di Indonesia.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Johnny Darmawan menilai, Indonesia memiliki banyak keunggulan dibandingkan para pesaing, antara lain dari segi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Menurut dia, pemerintah harus mempersiapkan lokasi pabrik tersebut, serta peraturan yang memudahkan investor masuk Indonesia. Di samping itu, pemerintah perlu mempersiapkan kebutuhan pabrik lainnya, seperti tenaga kerja, infrastruktur, dan energi yang berbiaya kompetitif dibandingkan negara-negara tujuan investasi lain. Sementara itu, Shinta memandang, saat ini pemerintah pusat dan daerah memiliki terlalu banyak regulasi terkait perizinan investasi. Oleh sebab itu, Indonesia harus menyederhanakan aturan regulasi terkait perizinan, ketenagakerjaan, dan juga menyiapkan infrastruktur yang diperlukan oleh pabrik-pabrik yang akan direlokasi tersebut.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenperin Janu Suryanto menerangkan, Indonesia memiliki ketersediaan pasar yang besar dan bahan baku yang melimpah. Bahkan, Indonesia dinilai memiliki keunggulan untuk bisa dijadikan sebagai hub manufaktur di wilayah Asean. Selain itu, daya tarik lainnya bagi investor, Indonesia telah menyatakan kesiapan dalam menerapkan industri 4.0 melalui implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Menurutnya, selain masih mengincar penanaman modal dari sektor industri yang menghasilkan produk substitusi impor, pemerintah akan lebih gencar menarik investasi yang dapat menciptakan lapangan kerja atau sektor padat karya. Dalam situasi Pandemi seperti saat ini, investasi tentunya akan memberikan dampak positif bagi penciptaan lapangan kerja, baik itu yang skala besar atau kecil.

Bank Dunia - Ekonomi Dunia akan Kontraksi 5,2 persen

Ayutyas 21 Jun 2020 Investor Daily, 9 Juni 2020

Bank Dunia mengeluarkan laporan terbaru proyeksi ekonomi global pada Senin (8/6) di Washington, Amerika Serikat (AS). Kreditor internasional ini menyatakan, ekonomi dunia bakal mengalami kontraksi 5,2% pada 2020 akibat dampak wabah virus corona Covid-19. Ceyla Pazarbasioglu, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kelembagaan, Keuangan, dan Pertumbuhan yang Adil menyebutkan bahwa Proyeksi kontraksi ekonomi global tersebut, akan menjatuhkan 70 hingga 100 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem.

Sejauh ini, para ekonom masih sulit mengukur dampak Covid-19. Bank Dunia menyebutkan Tiongkok nyaris menjadi satu-satunya negara yang diprediksi mencatatkan pertumbuhan tahun ini. Bank Dunia memperkirakan ekonomi Tiongkok tumbuh hanya 1% tahun ini. Tapi AS diprediksi kontraksi 6,1%, zona euro kontraksi 9,1%, Jepang kontraksi 6,1%, Brasil kontraksi 8%, Meksiko kontraksi 7,5%, dan India kontraksi 3,2%.


Permintaan Minyak 2020 Anjlok 9,3 Juta Bph

Ayutyas 19 Apr 2020 Investor Daily, 16 April 2020

Badan Energi International atau International Energy Agency (IEA) menyampaikan tahun ini permintaan minyak global akan mengalami penurunan lebih rendah dibandingkan tahun lalu, bahkan mencapai level yang terakhir terlihat pada 1995, menyusul langkah-langkah karantina (lockdown) di banyak negara guna mencegah penyebaran wabah virus corona Covid-19 yang telah membuat perekonomian mandek. Dalam laporan bulanan terbaru IEA yang dirilis pada Rabu (15/4), Menurut IEA, aktivitas di sektor transportasi hampir menunjukkan penurunan dramatis di mana-mana, seraya mencatat bahwa tindakan karantina telah dilaksanakan di 187 negara dan wilayah sebagai respons terhadap wabah Covid-19. “Bahkan dengan asumsi pembatasan perjalanan telah berkurang pada semester kedua tahun ini, kami memperkirakan permintaan minyak global pada tahun 2020 akan turun 9,3 juta barel per hari dibandingkan 2019, menghapus hampir satu dekade pertumbuhan,” ujar badan yang berkantor pusat di Paris, Prancis seperti dilansir dari CNBC 

Pemulihan Ekonomi China Ekspor Impor Membaik, Terhambat Pada Pengiriman

Ayutyas 16 Apr 2020 Kompas, 15 April 2020

Tingkat penurunan ekspor dan impor China pada Maret 2020, berdasarkan data yang dirilis, tidak sedalam penurunan pada Februari. Ini seiring dengan mulai berproduksinya pabrik-pabrik di China.

Para pelaku pasar keuangan global menarik napas lega setelah data bea dan cukai China, Selasa (14/4/2020), menunjukkan aktivitas ekspor dan impor China pada Maret 2020 membaik lebih dari perkiraaan survei sebelumnya dari Bloomberg. Namun disisi lain, Para ekonom memperkirakan aktivitas pengiriman barang dari dan ke China tahun ini masih akan tertekan karena pandemi Covid-19 telah membuat aktivitas bisnis di seluruh dunia terhenti.

Menurut kepala ekonom dari Zhonghai Shengrong Capital Management di Beijing, Zhang Yi, Angka perdagangan di atas ekspektasi tersebut tidak berarti telah bebas dari masalah, Ia memper kirakan produk domestik bruto (PDB) triwulan I-2020 China yang akan dirilis Jumat (17/4) akan menunjukkan kontraksi 8 persen. Jika itu terealisasi, berarti terjadi kemerosotan PDB China pada triwulan pertama sejak 1998.

Gambaran sebaian impor yang lebih baik mencermin kan bahwa pengiriman yang macet di pelabuhan sedang di buka lagi dan dikebut. Namun, konsumsi domestik China masih lemah, terlihat antara lain terlihat dari penurunan impor bijih besi.

Sanofi-GSK Siapkan Vaksin Covid-19 untuk 2021

Ayutyas 16 Apr 2020 Investor Daily, 15 April 2020

PARIS – Dua raksasa farmasi dunia, Sanofi dan GlaxoSmithKline (GSK) akan bekerja sama membuat vaksin virus corona Covid-19, yang diharapkan dapat memasuki fase pengujian klinis tahun ini. Dengan demikian diharapkan dapat tersedia pada paruh kedua 2021.

CEO Sanofi Paul Hudson mengatakan, dalam menghadapi krisis kesehatan global luar biasa ini, tidak ada satu pun perusahaan yang dapat sendirian mengupayakan adanya vaksin itu.

Menurut pernyataan bersama kedua perusahaan pada Selasa (14/4), Vaksin ini akan mengombinasikan antigen yang dikembangkan Sanofi yang merangsang produksi antibodi pembunuh kuman, dengan teknologi adjuvan dari GSK - substansi yang memperkuat respons imun yang dipicu oleh vaksin.

Sanofi dan GSK mengungkapkan, upaya bersamanya didukung oleh pendanaan dan kolaborasi dengan Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA) dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat (AS). Direktur BARDA Rick Bright mengatakan, pengembangan vaksin Covid-19 yang diperkuat adjuvan itu berpotensi dapat mengakhiri wabah ini. Dan akan membantu dunia untuk lebih siap menghadapi wabah-wabah akibat virus korona di masa depan

Pemangkasan belum atasi tekanan

Ayutyas 14 Apr 2020 Kompas, 14 April 2020

Harga minyak dunia kembali tertekan sekalipun negara-negara produsen yang tergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC) menyepakati pemangkasan produksi. Hal itu mengindikasikan kesepakatan itu diproyeksikan belum cukup untuk mengatasi tekanan akibat lemahnya permintaan meski pemotongan produksi kali ini tercatat empat kali lebih besar dibandingkan dengan saat krisis keuangan glo bal 2008.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menyebut Riyadh akan memangkas total produksi 3,8 juta barel minyak per hari, dari produksi harian sebelumnya, yaitu 12,3 juta barel. Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut akan memangkas melebihi kesepakatan OPEC sedangkan pemangkasan oleh Brasil, Kanada, Indonesia, dan Norwegia akan mengurangi pasokan hingga 5 juta barel per hari.

Namun menurut analis Aspek Energi, Virendra Chauhan dan Takashi Tsukioka, Presiden Asosiasi Perminyakan Jepang (PAJ) ditempat terpisah, pemotongan tidak akan dapat mendorong harga mengingat skala inventaris dunia dan tidak adanya komitmen dari Amerika Serikat atau anggota G-20 lainnya, Takashi mengharapkan OPEC terus melanjutkan pembicaraan untuk menstabilkan pasar minyak. Sejumlah pengamat menambahkan, tekanan akan menguat jika pemerintah di mayoritas negara di dunia memperluas langkah pemba tasan perjalanan.

Disisi lain American Petroleum Institute-perkumpulan perusahaan penambang minyak AS-mengatakan, kesepakatan OPEC terjadi karena produsen di AS telah lebih dulu menyesuaikan produksi di tengah penurunan permintaan.

Para analis mengamati juga kenaikan cadangan minyak juga berpeluang menekan harga karena menurunkan permintaan. Diperkirakan cadangan minyak di negara-negara maju akan tumbuh pada triwulan II-2020. China juga diperkirakan bakal meningkatkan cadangan minyak hingga 10 persen dibandingkan dengan posisi Maret setelah memulihkan aktivitas ekonomi. Seorang pelaku pasar minyak yang menolak disebutkan namanya mengatakan, cadangan minyak di perusahaanannya akan terus tumbuh, namun relatif lambat Karena kesepakatan pemotongan produksi oleh OPEC.

Setelah itu, fokus utama para pelaku pasar adalah data cadangan strategis AS sebagaimana dicatat Departemen Energi AS.

Opini, Indonesia Siap Sambut IMF

Admin 02 Aug 2018 Republika
Pemerintah menganggap bahwa dana pelaksanaan acara yang berada dibawah Rp 1 Triliun akan membawa manfaat yang lebih besar daripada biayanya. Apakah Indonesia perlu mengajukan pinjaman kembali ke IMF.