Investasi lainnya
( 1334 )Bahana Kelola Dapen BUMN Rp 193,83 Triliun
Kegiatan pengelolaan aset investasi dana pensiun (dapen) milik BUMN bakalan diserahkan ke anak usaha Indonesia Financial Group yakni PT Bahana TCW Investment Management.
Alasannya, pengelolaan dana pensiun BUMN saat ini masih terpecah-pecah di antara perusahaan pelat merah. Belum lagi, ada segudang masalah di beberapa dapen BUMN. Jika penyerahan terjadi, maka Bahana TCW Investment Management akan mengelola dana jumbo. Karena jika merujuk data OJK hingga April 2022, investasi dana pensiun sebesar Rp 323,05 triliun. Surat Berharga Negara merupakan instrumen pengisi portofolio dengan nilai paling besar Rp 93,64 triliun. Nah dari dana itu menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Moeljadi ada sekitar 60% dari total portofolio industri milik BUMN. Berarti, Bahana TCW Investement Management bisa mengelola nilai portofolio sekitar Rp 193,83 triliun.
Upaya INA Tarik Investasi Terganjal Tata Kelola BUMN Yang Buruk
Indonesia Investment Authority (INA) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) dengan mandat sebagai sovereign wealtf fund (SWF) untuk pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia dinilai membutuhkan modal yang lebih besar dari yang dimiliki saat ini sebesar Rp 75 triliun. Juru bicara INA Masyita Crystalin mengungkapkan, selama ini LPI kewalahan melakukan asset recycling infrastruktur operasional seperti jalan tol karena valuasi proyek yang tidak komersial dan buruknya tata kelola BUMN. Nilai proyek dan kompleksitas perjanjian serta banyaknya stakeholder yang terlibat membuat juga semua proses memakan waktu. "Ini yang membuat para investor berpaling," ujar Masyita saat dihubungi Investor Daily, baru-baru ini. Skema asset recycling adalah langkah dalam pemanfaatan pemindah tanganan aset lama, untuk membangun aset yang baru. (Yetede)
Zipmex Akan Melebarkan Sayap Ke Vietnam
Platform exchange aset kripto, Zipmex berencana mengembangkan bisnis ke Vietnam. Sejauh ini, Zipmex sudah beroperasi di Thailand, Singapura, Indonesia dan Australia. Pendiri dan CEO Zipmex Marcus Lim mengatakan, timnya sudah mengamati prospek bisnis di Vietnam selama dua tahun terakhir. "Vietnam adalah pasar yang sangat menarik dan memiliki penetrasi tentang aset kripto yang paling tinggi di Asia Tenggara," kata Marcus. Marcus memandang Vietnam akan menjadi negara yang menarik untuk ditembus. Selain itu, Marcus melihat negara Asia lainnya, seperti Malaysia dan Filipina juga masuk radar tetapi masih belum menjadi prioritas Zipmex.
Mengembalikan Aset Korban Investasi Bodong
Korban investasi emas bodong Rp 1 triliun oleh terdakwa Budi Hermanto sedikit lega setelah jaksa penuntut umum pada sidang lanjutan yang ke-30 di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten, meminta majelis hakim agar aset terdakwa yang disita dikembalikan pada korban. ”Ini langkah penting agar penegakan hukum memperhatikan aspek pemulihan kerugian korban,” kata Rasamala Aritonang, kuasa hukum korban dari Visi Law Office, Selasa (24/5). (Yoga)
Modal Jari, Beli Reksa Dana di Livin’ Investasi Mulai dari Rp100.000
Guna menjawab kebutuhan dan tren investasi melalui digital platform, Financial Super App Livin' by Mandiri besutan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. resmi meluncurkan fitur terbaru bagi nasabahnya yaitu Livin’ Investasi. Sekarang, para nasabah terutama nasabah milenial dari bank berkode emiten BMRI ini bisa langsung berinvestasi reksa dana lebih cepat, mudah, dan aman, hanya melalui satu aplikasi. Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar mengatakan bahwa melalui Livin’ Investasi, nasabah dapat langsung melakukan pendaftaran secara instan tanpa perlu datang ke kantor cabang. Menurut beliau, dengan fitur terbaru Livin’ Investasi pada Livin' by Mandiri berlogo kuning ini, nasabah dapat langsung melakukan investasi reksa dana tanpa modal besar, hanya dengan modal Rp100.000 saja nasabah sudah bisa melakukan pembelian produk investasi. Saat ini total investor Bank Mandiri telah mencapai sebesar 127 ribu nasabah dan diperkirakan akan terus tumbuh lebih dari delapan kali lipat pada 2024. Dan untuk keterangan lebih lanjut mengenai fitur Livin’ Investasi ini, nasabah Bank Mandiri juga dapat langsung mengunjungi bmri.id/livininvestasi. Adapun sebagai informasi, sejak diluncurkan pada Oktober 2021, finansial super app Livin' by Mandiri telah menjadi produk utama Bank Mandiri untuk segmen ritel yang menawarkan beberapa keunggulan, yaitu layanan keuangan terintegrasi dalam satu aplikasi, serta menjadi platform ekosistem digital favorit nasabah.
East Ventures Siapkan Pendanaan Start-up US$ 550 Juta
East Ventures, perusahaan modal ventura (venture capital/NC) terkemuka yang fokus di Indonesia, telah meraih US$ 550 juta untuk rencana pendanaan terbarunya. Dana tersebut akan digunakan untuk pendanaan perusahaan rintisan berbasis teknologi (start-up) tahap awal dan tahap lanjutan di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. "Kami telah mengubah diri dari investor tahap awal menjadi investor multi-stage dan menjadi platform efisien dan kuat untuk mendukung, enterpreneurship. Kami akan mengalokasikan US$ 150 juta untuk pendanaan tahap lanjutan," tutur Wilson, dalam pernyataannya, Selasa (20/5/2022). Perusahaan juga mencatat lebih dari US$ 86 miliar gross merchandise value tahunan secara agregat berdasarkan portofolionya. East ventures pun akan memastikan integrasi aspek-aspek keberlanjutan dalam setiap praktik bisnis dan penggunaan pendanaan. "Selama ini, berkat dukungan berkelanjutan dari semua pemangku kepentingan terkait, Indonesia termasuk salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di Asia Tenggara," ujarnya. (Yetede)
Investasi Semakin Berimbang, Efek Pengganda Dinanti
Kinerja investasi pada triwulan I-2022 menunjukkan perbaikan signifikan. Selain realisasi investasi yang tumbuh 28,5 % secara tahunan, pemerataan investasi juga semakin berimbang antara daerah Jawa-luar Jawa serta sektor tersier dan sekunder. Walakin, efek pengganda dari investasi yang besar itu terhadap kesejahteraan masyarakat masih dinanti. Kementerian Investasi mencatat, realisasi investasi triwulan I-2022 mencapai Rp 282,4 triliun, tumbuh 28,5 % secara tahunan dan 16,9 % secara triwulanan. Capaian itu merupakan rekor tertinggi 10 tahun terakhir. Dibandingkan dengan total target investasi sepanjang 2022 yang dipatok Rp 1.200 triliun, capaian triwulan I tahun ini sudah 23,5 %.
Menteri Investasi/Kepala BKPP Bahlil Lahadalia, Rabu (27/4) mengatakan, sejak triwulan III-2020, realisasi investasi makin stabil menyebar merata ke luar Jawa. Investasi yang masuk pada triwulan I-2022 juga mulai tampak berimbang dari segi sektor. Jika selama ini investor lebih tertarik menanamkan modal di sektor tersier (jasa/padat modal), kali ini komposisinya semakin berimbang antara investasi di sektor tersier dan sekunder (manufaktur/padat karya) yang bersifat menyerap banyak tenaga kerja. Bahlil mengatakan, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya mencatat investasi tertinggi senilai Rp 39,7 triliun pada triwulan I-2022. Itu menunjukkan geliat sektor manufaktur dan hilirisasi yang mulai bangkit ditengah kekhawatiran akan ancaman deindustrialisasi beberapa tahun terakhir ini. ”
Peneliti Center of Investment, Trade, and Industry Institute for Development of Economics and Finance, Ahmad Heri Firdaus, menilai, pekerjaan rumah untuk mendorong investasi yang berkualitas masih banyak. Selain perlu mendorong investasi di kawasan luar Jawa, hal terpenting adalah menakar dampak pemerataan investasi itu ke sejumlah indikator kesejahteraan ekonomi di daerah. Hal itu bisa terlihat dari dampak investasi terhadap inflasi, pengangguran, kemiskinan, ketimpangan, serta indikator kondisi keuangan daerah yang tampak dari pertumbuhan pendapatan asli daerah. (Yoga)
Agar Tidak Menjadi Pembeo Investasi
Bukalapak menjadi perusahaan berpredikat unicorn pertama yang melakukan penawaran saham kepada publik luas, diikuti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Pada 11 April 2022, emiten berkode GOTO ini menjadi perusahaan teknologi rintisan kedua yang membuka penawaran saham perdana kepada public. Seturut klasifikasi BEI, perusahaan ini sama-sama bergerak di sektor perangkat lunak dan jasa teknologi informasi. Keduanya pun dikenal luas oleh publik sebagai penyedia berbagai platform dan produk dalam ekosistem digital. Popularitas dua jenama ini menarik animo publik. Bukalapak mendapatkan respons yang besar, bahkan sebelum melakukan perdagangan perdana. Jumlah orang yang mendaftar untuk membeli saham sebelum perdagangan perdana mendekati 1 juta orang. Angka yang fantastis dibandingkan animo publik pada IPO perusahaan sektor lainnya yang hanya diminati puluhan ribu investor ritel. Pada pembukaan pasar pada hari pertama, emiten dengan kode BUKA ini mencatatkan 96.000 investor yang telah membeli saham. Faktor promosi dan menghangatnya iklim berinvestasi saat pandemi menyumbang peran larisnya emiten ini. Meski demikian, sejumlah kalangan menyebut derasnya arus membeli saham BUKA juga didorong oleh rasa fear of missing out (FOMO).
Iklim investasi bagi investor ritel atau individu menghangat di tahun pandemi. Pada 2021, jumlah investor domestic di pasar modal mencapai 7,5 juta, melonjak 2 kali lipat 2020. Padahal, pertambahan jumlah investor tahun sebelumnya hanya 40 - 60 %. Hingga Maret 2022, investor domestik di pasar modal mencapai 8,4 juta. Investor ritel atau individu secara umum didominasi generasi muda, 60,18 % berusia di bawah 30 tahun dan 21,61 % berusia antara 31 hingga 40 tahun. Sayangnya, nuansa kontraproduktif justru tampak dari animo masyarakat dalam berinvestasi. Gelombang perhatian masyarakat pada IPO Bukalapak dibarengi kekecewaan karena merasa dirugikan secara finansial. Sejumlah masyarakat yang menjadi investor BUKA menunjukkan sikap kecewa saat harga saham mengalami penurunan beberapa hari sejak IPO. Kekecewaan ini disampaikan di media sosial, laman e-dagang, hingga kolom komentar Bukalapak di aplikasi Playstore. Padahal, lumrah jika pasar saham mengalami penurunan. Respons inilah yang mengindikasi publik yang berinvestasi didorong oleh rasa takut ketinggalan alias FOMO. Analis saham Lucky B Purnomo menyebutnya sebagai euforia investor pemula yang tak diimbangi pengetahuan memadai tentang mekanisme dasar pasar modal yang berfluktuasi Wartawan sekaligus praktisi investasi Joice Tauris Santi turut berbagi tips untuk menghindari perilaku FOMO, dengan disiplin mengikuti rencana perdagangan (trading plan). Dalam tahapan membuat rencana perdagangan, investor dapat terlebih dahulu membuat stock universe, yaitu saham pilihan yang akan dipantau. Akhirnya, langkah untuk meneliti dan memahami perlu ditempatkan di rak pikiran paling prioritas agar tidak sebatas membeo. (Yoga)
Homologasi Tak Serius Hanya Jurus Mengulur Waktu
Persoalan pengembalian dana investor dari tawaran investasi yang diduga melanggar hukum, sudah ibarat benang kusut. Tidak adanya kepastian pengembalian dana, menyebabkan kesabaran investor terkikis dan menempuh berbagai cara, salah satunya lewat penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L. Tobing mengatakan, umumnya pengembalian dana korban investasi ilegal sulit dilakukan meski terhadap pelaku atau perusahaan dijatuhkan putusan pailit. "Namun walau telah dinyatakan pailit, terhadap pelaku tetap dapat diproses hukum dengan laporan dari korban," tandas Tongam. Perencana Keuangan Finansial Consulting Eko Endarto bilang, secara historis, hampir tidak pernah terjadi pengembalian dana investor yang sempurna alias seutuhnya. "Sebaiknya dihindari dari sedari awal, dengan melakukan riset terhadap tawaran investasi itu," ucap Eko.
Geliat Kaum Muda Berinvestasi
Lembaga Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI mencatat, jumlah investor saham, reksa dana, SBN, dan pasar modal terus meningkat. Dilihat dari tren periode 2018 hingga 19 Oktober 2021, pertambahan jumlah investor pada 4 instrumen investasi itu berkisar 45 % sampai 82 % per tahun. Jumlah investor saham meningkat 79,4 % dari 1,7 juta investor pada 2020 menjadi 3,04 juta pada 19 Oktober 2021. Investor pasar modal meningkat 71,4 % dari 3,9 juta menjadi 6,7 juta pada periode yang sama. Pada reksa dana, jumlah investor meningkat 89 % dari 3,2 juta menjadi 6 juta investor. Berdasarkan profil kelompok usia, mayoritas investor pasar modal berasal dari kelompok usia milenial muda dan generasi Z dengan usia maksimal 30 tahun. Tak mengherankan, banyak yang mengatakan beberapa tahun ini sebagai eranya kelompok muda berinvestasi, mereka menyumbang 59,61 % dari total investor pada 2021. Dominasi milenial muda dan generasi Z dalam pasar modal juga terjadi pada 2020, sebanyak 54,90 %. Berdasarkan data jumlah investor ritel Agustus 2021, kelompok usia 18-30 tahun mendominasi investor baru di sektor ritel. Jumlahnya mencapai 684.400 investor.
Preferensi jenis investasi yang dipilih generasi milenial dan generasi Z tak lepas dari lekatnya mereka pada platform digital. Platform ini menyediakan layanan investasi yang sangat mudah digunakan, bahkan memberikan analisis singkat tentang situasi pasar investasi.Selain itu, syarat dan administrasi yang dibutuhkan untuk mendaftar tidak rumit. Pilihan investasi yang ditawarkan pun beragam, dari investasi saham, reksa dana, P2P lending, hingga mata uang kripto yang dapat diakses hanya melalui telepon pintar. Platform-platform digital untuk investasi juga membuka kesempatan bagi para investor muda serta pemula untuk berinvestasi mulai dari nilai yang kecil. Hal ini menjadi daya Tarik investor muda untuk memulai investasi sesuai dana yang dimiliki. Meningkatnya investor muda ditambah kuatnya literasi keuangan menjadi modal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, yang menjadi keuntungan bagi Indonesia yang sedang memasuki bonus demografi dengan generasi milenial dan generasi Z merupakan proporsi terbesar populasi. (Yoga)









