Upaya INA Tarik Investasi Terganjal Tata Kelola BUMN Yang Buruk
Indonesia Investment Authority (INA) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) dengan mandat sebagai sovereign wealtf fund (SWF) untuk pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia dinilai membutuhkan modal yang lebih besar dari yang dimiliki saat ini sebesar Rp 75 triliun. Juru bicara INA Masyita Crystalin mengungkapkan, selama ini LPI kewalahan melakukan asset recycling infrastruktur operasional seperti jalan tol karena valuasi proyek yang tidak komersial dan buruknya tata kelola BUMN. Nilai proyek dan kompleksitas perjanjian serta banyaknya stakeholder yang terlibat membuat juga semua proses memakan waktu. "Ini yang membuat para investor berpaling," ujar Masyita saat dihubungi Investor Daily, baru-baru ini. Skema asset recycling adalah langkah dalam pemanfaatan pemindah tanganan aset lama, untuk membangun aset yang baru. (Yetede)
Tags :
#Investasi lainnyaPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023