Anggaran Bencana
( 221 )Bank Fokus Kejar Dana Murah
Tren penurunan suku bunga mengurangi minat masyarakat untuk berinvestasi di deposito. Di tengah penurunan bunga, bank fokus mengejar dana murah (CASA) untuk menekan biaya dana.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, nilai deposito perbankan per April 2022 Rp 2.821 triliun, atau tumbuh 1,0% year-on-year (yoy). Jika dihitung dalam basis kalender dan bulanan, nilai deposito April turun masing-masing 1,3 % dan 0,1%. Sedang dana murah, seperti tabungan dan giro, tetap tumbuh. Secara tahunan, kedua simpanan itu tumbuh signifikan. Nilai giro per April tumbuh 18,4% yoy sedang tabungan meningkat 15,9%. Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga meningkatkan porsi dana murah demi mendorong efisiensi biaya dana.
Dalam Dua Hari, SBR011 Sudah Laku Rp 1,52 Triliun
Surat berharga negara ritel ketiga tahun ini, yakni Saving Bond Ritel seri SBR011, laris manis. Penjualan SBR011 pada Jumat (27/5) hingga pukul 16.00 WIB sudah mencapai Rp 1,52 triliun. Perolehan tersebut memenuhi 30% dari target awal pemerintah, yakni Rp 5 triliun.
Hebatnya, penjualan tersebut hanya perlu waktu dua hari saja. Penawaran SBR011 baru dibuka pada Rabu (25/5) dan baru akan ditutup pada 16 Juni 2022.
PUPR Undang Swasta Masuk ke Sektor Air Bersih dan Sanitasi
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengajak swasta berkolaborasi dengan Kementerian/Lembaga (K/L) untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi layak. Sementara itu, komitmen Kementerian PURP untuk menyediakan sanitasi layak dan air minum aman telah diwujudkan dengan pembangunan 61 bendungan, perbaikan kualitas danau-danau alami, serta pembangunan intake di sungai. Selain itu, Menteri Basuki mengajak Kemendikbud dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meningkatkan inovasi sistem air minum dan sanitasi agar lebih efisien. "Dengan program air bersih dan sanitasi, kami ingin memperkecil angka stunting (gagal tumbuh kembang pada balita) dan kemiskinan ekstrem. Jadi ketersediaan air bersih dan sanitasi yang baik merupakan basic untuk kesehatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi," paparnya. (Yetede)
Karena Hepatitis Akut Masih Misterius
Penyebab penularan hepatitis akut pada anak-anak hingga saat ini masih misterius. Karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum bisa memberikan rekomendasi kepada pemerintah tentang pelaksanaan pembelajaran tatap muka. "Sampai saat ini belum ada keputusan IDAI untuk pembelajaran tatap muka itu," kata Ketua Unit Kerja Koordinasi Gastrohepotologi IDAI, Muzal Kadim, dalam diskusi secara daring, pekan lalu. Pernyataan itu dibenarkan oleh Ketua Pengurus Pusat IDAI, Pimpin Basarah Yanuarso, kemarin. Menurut dia, IDAI masih mengkaji setiap temuan kasus yang diduga hepatitis akut, termasuk pemeriksaan adenovirus di laboratorium. Pemeriksaan ini tidak mudah karena akan menyita waktu cukup lama. Apalagi belum semua laboratorium mampu melakukannya. Ditengah ketidakpastian ini, Pimpin meminta sekolah meningkatkan kewaspadaan. Protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 wajib dilanjutkan. (Yetede)
Menangani Ancaman Wabah Hepatitis Akut
Pemerintah jangan sampai salah langkah dalam menyampaikan informasi mengenai ancaman wabah penyakit hepatitis akut, karena masyarakat masih jenuh dengan segala tetek bengek pandemi. Yang terbaik adalah sampaikan fakta penyakit ini sejelas-jelasnya, sebaik-baiknya. Ancaman ini nyata adanya, jangan pernah lagi menyangkal sepert yang dilakukan di awal pandemi Covid-19 pada 2020. Sejak WHO mengumumkan kejadian luar biasa hepatitis akut ini pada 15 April, kasusnya semakin banyak ditemukan. Hingga 1 Mei, setidakya 228 kasus di 20 negara. Terakhir Indonesia melaporkan ada tiga kasus. Tentu saja ini bukan yang sebenarnya. Sebab, dalam hal wabah baru, jumlah yang terhitung mengikuti fenomena puncak gunung es. Yang ketahuan sedikit, yang sebenarnya berkali lipat jumlahnya. Di Jawa Timur saja, per 4 Mei 2022 telah ditemukan 114 kasus penderita dengan gejala jaundice (kekuningan) akut di 18 kabupaten/kota.
Menangani Ancaman Wabah Hepatitis Akut
Pemerintah jangan sampai salah langkah dalam menyampaikan informasi mengenai ancaman wabah penyakit hepatitis akut, karena masyarakat masih jenuh dengan segala tetek bengek pandemi. Yang terbaik adalah sampaikan fakta penyakit ini sejelas-jelasnya, sebaik-baiknya. Ancaman ini nyata adanya, jangan pernah lagi menyangkal sepert yang dilakukan di awal pandemi Covid-19 pada 2020. Sejak WHO mengumumkan kejadian luar biasa hepatitis akut ini pada 15 April, kasusnya semakin banyak ditemukan. Hingga 1 Mei, setidakya 228 kasus di 20 negara. Terakhir Indonesia melaporkan ada tiga kasus. Tentu saja ini bukan yang sebenarnya. Sebab, dalam hal wabah baru, jumlah yang terhitung mengikuti fenomena puncak gunung es. Yang ketahuan sedikit, yang sebenarnya berkali lipat jumlahnya. Di Jawa Timur saja, per 4 Mei 2022 telah ditemukan 114 kasus penderita dengan gejala jaundice (kekuningan) akut di 18 kabupaten/kota.
Menangani Ancaman Wabah Hepatitis Akut
Pemerintah jangan sampai salah langkah dalam menyampaikan informasi mengenai ancaman wabah penyakit hepatitis akut, karena masyarakat masih jenuh dengan segala tetek bengek pandemi. Yang terbaik adalah sampaikan fakta penyakit ini sejelas-jelasnya, sebaik-baiknya. Ancaman ini nyata adanya, jangan pernah lagi menyangkal sepert yang dilakukan di awal pandemi Covid-19 pada 2020. Sejak WHO mengumumkan kejadian luar biasa hepatitis akut ini pada 15 April, kasusnya semakin banyak ditemukan. Hingga 1 Mei, setidakya 228 kasus di 20 negara. Terakhir Indonesia melaporkan ada tiga kasus. Tentu saja ini bukan yang sebenarnya. Sebab, dalam hal wabah baru, jumlah yang terhitung mengikuti fenomena puncak gunung es. Yang ketahuan sedikit, yang sebenarnya berkali lipat jumlahnya. Di Jawa Timur saja, per 4 Mei 2022 telah ditemukan 114 kasus penderita dengan gejala jaundice (kekuningan) akut di 18 kabupaten/kota.
Gita Wirjawan: Supercycle Komoditas Bisa Lanjut Sampai Tahun Depan
Pandemi Covid-19 membuat terjadinya Commodity superCycle atau Supercycle Komoditas, membuat harga komoditas melambung tinggi. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut sampai tahun depan. Pemerintah diharapkan dapat memanfaatkan dampak positif nya dengan melakukan redistribusi kesejahteraan. Mantan Menteri Perdagangan Gita Wrijaman mengatakan, berapa lama durasi terjadinya supercycle komoditas sangat berkolerasi dengan secepat apa terjadinya herd immunity yang signifikan di mancanegara. "Di negara-negara maju itu sudah mencapai herd immunity tetapi negara-negara berkembang belum tentu bisa mencapainya di Kuartal III atau Kuartal IV tahun ini. Mungkin bisa menunggu tahun depan," ucap Gita kepada Investor Daily, Selasa (26/4). Gita menilai supercycle komoditas memberikan dampak positif pada perdagangan, ruang fiskal dan juga ruang moneter Indonesia. Tinggal bagaimana pemerintah dapat meredistribusikan surplus tersebut untuk kepentingan, kesejahteraan masyarakat luas. (Yetede)
Mankes: Seluruh Claim Biaya Pasien Covid-19 Ditanggung Pemerintah
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebutkan bahwa seluruh pasien Covid-19 sampai saat ini masih ditanggung pemerintah. "Harusnya ditanggung pemerintah semua. Jadi kalau ada pasien yang ditagih pihak rumah sakit, itu tidak benar, Dalam perawatan itukan ada paket-paketnya berdasarkan aplikasi INA-CBGs. Kalau mengikuti paket layanan itu, ya seharusnya rumah sakit mengikuti peraturan itu. Jadi sudah ada paket yang harus dibayar pemerintah semua," kata Menkes Budi kepada Beritasatu.com di Gedung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Jakarta. Menkes Budi, mengatakan, hal itu terkait dengan ditebitkannya Keputusan Menteri Keshatan (KMK) Nomor HK.01.07/Menkes/1112/2022 tentang Petunjuk Teknis Klaim Penggantian Biaya Pelayanan Pasien Covid-19. "Sebenarnya, biaya rumah sakit itu menurun drastis dari periode Delta ke Omicron karena sangat berbeda varian virusnya Kalau Delta dia masuk parahnya cepat dan masuk ICU cepat. Jadi paket perawatan dan obat yang mahal masuk semua ke pasien . Sementara untuk Omicron berbeda dan tidak seperti Delta," ungkapnya. (Yetede)
Perang Membelah Ekonomi Global
Organisasi Perdagangan Dunia, atau World Trade Organization (WTO) mengingatkan perang Rusia-Ukraina telah menggelapkan prospek perdagangan dunia dan bakal membahayakan ekonomi global, karena dapat membaginya menjadi blok-blok persaingan atas konflik tersebut. "Ini bukan waktunya untuk berubah arah. Dalam sebuah krisis, diperlukan perdagangan lebih banyak guna mendukung akses kebutuhan yang stabil dan adil. Membatasi perdagangan akan mengancam kesejahteraan keluarga, bisnis dan menambah tugas lebih banyak untuk membangun pemulihan ekonomi yang tahan lama pasca pandemi Covid-19," ujar Direktur Jendral (Dirjen) WTO Ngozi Okonjo-Iweala dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, yang dilansir AFP pada Selasa (12/4).
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022







