Industri lainnya
( 1858 )INDUSTRI OTOMOTIF LESU : GIIAS SIAP INJEKSI PENJUALAN MOBIL
Laju penjualan mobil di dalam negeri berpotensi terdongkrak pada tahun ini seiring dengan 55 merek otomotif terlibat dalam ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS pada 18—28 Juli 2024. Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Rizwan Alamsjah mengatakan bahwa ke-55 merek otomotif yang ikut serta terdiri atas 31 merek kendaraan penumpang, empat kendaraan komersial, dan 20 merek sepeda motor. “Adanya banyak pemain baru membuat banyak cerita. Saya rasa banyak sekali hal yang menarik pengunjung,” katanya dalam konferensi pers GIIAS 2024 di Jakarta, Rabu (12/6). Dia memaparkan, sejumlah merek kendaraan penumpang yang ikut debut pada pameran tahun ini adalah Baic, BYD, GAC Aion, Jaecoo, Jetour, dan VinFast. Menurutnya, masih ada empat merek kendaraan komersial yang hadir, seperti Hino, Isuzu, Mitsubishi Fuso, dan UD Trucks. Oleh karena itu, Rizwan optimistis penjualan mobil sepanjang tahun ini bisa menembus target 1,1 juta unit atau minimal setara dengan pencapaian pada 2023. Dia menegaskan, revisi target penjualan mobil di domestik belum dipertimbangkan lantaran pasar sudah mulai menunjukkan pemulihan pada Mei 2024.
Apalagi, ada pameran GIIAS 2024 yang siap digelar pada 18—28 Juli 2024. “Kami mengharapkan pasar ini masih sangat potensial. Jangan cepat-cepat berubah dahulu. Optimistis dong,” katanya.
Untuk penjualan ritel pada Mei 2024 juga menembus 72.137 unit atau meningkat 22,7% dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebanyak 58.788 unit. Sayangnya, penjualan secara wholesales pada Januari—Mei 2024 hanya menembus 334.969 unit, atau anjlok 21% daripada periode yang sama 2023 sebanyak 423.771 unit. Penjualan ritel juga lesu dengan angka 361.698 unit atau turun 14,4% daripada Januari—Mei 2023 sebanyak 422.514 unit.
Head of Public Relation JDI Fedy Dwi Parileksono mengatakan, BAIC akan membawa dua model pada pameran, yakni BJ 40 Plus dan BAIC X55 II yang bertarung dalam kelas SUV. BAIC juga segera memulai fasilitas perakitan atau completely knocked down (CKD) di Indonesia dari salah satu model yang akan dipamerkan dalam ajang GIIAS. Sementara itu, agen pemegang merek (APM) otomotif juga berharap penjualan mobil bisa meningkat dengan pameran GIIAS pada 18—28 Juli 2024. Sales & Marketing and After Sales Honda Prospect Motor (APM) Yusak Billy menyatakan, pasar otomotif pada kuartal II/2024 sudah kembali bergairah. Laju penjualan mobil Honda berpotensi melejit, sejalan dengan digelarnya GIIAS 2024.
Marketing & Customer Relations Division Head Astra International Daihatsu Sales Operation Tri Mulyono juga memandang pasar otomotif domestik masih penuh harapan di tengah lesunya penjualan hingga Mei 2024. Menurutnya, pameran GIIAS pada Juli 2024 bakal menggairahkan pasar domestik, termasuk bagi Daihatsu.
Dia membenarkan pelemahan pasar otomotif sudah terjadi sejak kuartal I/2024, dengan koreksi sekitar 15% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
PT Toyota-Astra Motor (TAM) juga berharap pasar otomotif bisa bangkit pada pertengahan 2024. Marketing Director TAM Anton Jimmi Suwandy mengatakan, lesunya penjualan disebabkan oleh berbagai faktor ekonomi makro, seperti tingginya suku bunga Bank Indonesia atau BI Rate di level 6,25%, dan menyebabkan pengajuan kredit mobil menjadi lebih ketat.
Menanti Efek IKN ke BUMN Karya
Sejumlah emiten konstruksi berhasil menjaring kontrak baru di sepanjang tahun berjalan ini. Contohnya PT Adhi Karya Tbk (ADHI). Pada Mei 2024, ADHI meraih perolehan kontrak baru sebesar Rp 9,4 triliun. Realisasi kontrak baru ini naik dibanding periode April 2024 yang sebesar Rp 6,3 triliun. Sekretaris Perusahaan ADHI, Rozi Sparta bilang, perolehan kontrak baru ADHI pada Mei 2024 didominasi oleh proyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Total, ADHI mengerjakan total 24 proyek di IKN dengan nilai kontrak Rp 17,7 triliun. Di antaranya, proyek gedung istana wakil presiden dan jembatan pulau balang bentang pendek tahap II. Selain Adhi Karya, PT PP Tbk (PTPP) juga ketiban berkah IKN. Hingga Mei 2024, PTPP mencatat nilai kontrak baru senilai Rp 8,9 triliun. Salah satu perolehan nilai kontrak PTPP berasal dari proyek peningkatan jalan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Beberapa proyek di kawasan IKN berhasil diselesaikan PTPP dengan progress 100%.
Antara lain, proyek penyiapan KIPP Fase 1, proyek penyiapan KIPP Fase 2, proyek dermaga logistik IKN, proyek jalan Sumbu Kebangsaan Sisi Barat tahap 1. Berkah dari proyek IKN juga dipetik PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Per kemarin, WIKA telah mengantongi nilai kontrak Rp 11,05 triliun untuk proyek IKN. Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya, Mahendra Vijaya mengatakan, saat ini WIKA tengah mengerjakan sembilan proyek IKN. Analis PT Kanaka Hita Solvera (KHS) Andhika Cipta Labora mengatakan, proyek IKN tidak bisa mendongkrak kinerja emiten BUMN karya. Pasalnya, kinerja sejumlah emiten BUMN karya masih negatif. Di tahun ini, emiten BUMN karya masih akan terkena sentimen negatif karena masih tingginya suku bunga Bank Indonesia (BI). Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, dampak proyek IKN terhadap kinerja emiten BUMN karya masih bervariasi. Ini bergantung pada keterlibatannya para emiten dalam proyek IKN tersebut. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama melihat, kinerja saham emiten BUMN karya masih fluktuatif seiring dengan kinerja keuangan yang terus turun. Apalagi, emiten BUMN konstruksi banyak tersandung kasus korupsi. Arus kas juga masih negatif dan butuh restrukturisasi utang.
Kinerja Lesu, Saham Industri Masih Layu
Industri masih belum berenergi. Tampak dari indeks sektoral yang terjun sedalam 14,8% secara tahunan atau year to date (ytd) hingga perdagangan Senin (10/6). IDX Industrials menjadi sektor dengan penurunan terdalam ketiga setelah sektor teknologi dan sektor transportasi & logistik. Kedua sektor itu masing-masing mengakumulasi penurunan 27,63% dan 21,23% sejak awal 2024. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, emiten di sektor industri relatif sensitif terhadap sentimen makro ekonomi, kebijakan moneter dan pergerakan nilai tukar rupiah. Nah, sentimen yang ada sejauh ini cenderung menekan sebagian emiten di sektor industri. Tekanan itu cukup tergambar dari kinerja kuartal I-2024 sejumlah emiten di sektor ini. Audi mencontohkan PT Astra International Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang laba bersih mereka menyusut hingga double digits. Toh,
Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga tengah melandai. Meski masih bertahan di zona ekspansi, PMI Manufaktur per Mei 2024 menyusut 0,8 poin secara bulanan dari 52,9 menjadi 52,1. Di sisi lain, secara pembobotan saham ASII masih menopang sektor industri. Tapi kinerja emiten holding multi-industri tersebut sedang tertekan. Secara ytd, saham ASII mengakumulasi pelemahan 20,18%, di jajaran atas saham laggard penggerus indeks. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menambahkan, secara teknikal sektor industri masih downtrend dan masih didominasi volume penjualan. Herditya menyarankan buy on weakness ASII dengan estimasi target harga di Rp 4.720 - Rp 4.860. Lalu speculative buy UNTR dengan target harga Rp 22.850 - Rp 23.350 dan MARK target Rp 965 - Rp 1.020.
Hilirisasi Vs Industrialisasi
Di tengah isu hilirisasi yang programnya akan diteruskan pemerintahan presiden terpilih hasil Pilpres 2024, terbit regulasi baru di bidang industri dalam bentuk Permenperin No 6 Tahun 2024 tentang Tata Cara Penerbitan Pertimbangan Teknis Impor Produk Elektronik, yang membatasi impor barang elektronik untuk mendorong industri elektronik domestik. Hal ini dilatari kekecewaan Presiden Jokowi terhadap kinerja neraca perdagangan elektronik yang terus defisit. Padahal, dengan hilirisasi komoditas unggulan, industri dalam negeri harusnya ikut terdongkrak naik karena hilirisasi dan pengembangan industri (industrialisasi) ibarat ”satu tarikan napas”.
Hilirisasi ditujukan untuk memberi nilai tambah bahan-bahan mentah yang dijual di pasar internasional, dalam bentuk barang setengah jadi dan/atau barang jadi. Proses nilai tambah itu membutuhkan industri dalam negeri sehingga hilirisasi juga akan mendongkrak industri manufaktur domestik. Industrialisasi berkontribusi besar menciptakan lapangan kerja. Hasil optimal hanya terjadi jika program hilirisasi dijalankan oleh industri dalam negeri, bukan seperti pada hilirisasi nikel. China adalah contoh kisah sukses strategi hilirisasi yang terjadi berbarengan dengan industrialisasi, tanpa perlu mempertentangkannya.
China mengalami peningkatan industri manufaktur mereka selama lebih dari 35 tahun (Wen, 2024). Kunci keberhasilan hilirisasi China adalah dengan melakukan pendekatan relatif sederhana, bertahap, dan bersifat eksperimental. Fase pertama, 1970-an, dengan industrialisasi di perdesaan, dengan mengenalkan industri pertanian pada mekanisasi serta pembangunan infrastruktur secara masif demi menjamin mobilitas yang tinggi dan kelancaran sirkulasi logistik. Setelah fondasi industri perdesaan sudah kuat, dengan kepemilikan campuran, tahapan hilirisasi industri baru dilakukan.
Fase kedua (1988-1998) menekankan pada industri dengan produksi masif, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang besar maupun ekspor. Pada fase ketiga (1998-sekarang), hilirisasi dilakukan besar-besaran, dengan berbagai bentuk produksi dan konsumsi. Belajar dari China, yang utama dan terpenting adalah penyediaan berbagai bentuk insentif ekonomi bagi industrialis dalam negeri dibandingkan mengundang industrialis asing melalui kemudahan investasi. Dalam konteks inilah, terbitnya Permen No 6/2024 jadi cukup relevan di saat presiden terpilih bersiap ”gas pol” melanjutkan hilirisasi. (Yoga)
RELOKASI PABRIK CHINA : Kawasan Industri Butuh ‘Pemanis’ Tambahan
Pelaku usaha kawasan industri minta pemerintah menambah ‘pemanis’ yang bisa meningkatkan daya tarik Indonesia untuk menyambut rencana relokasi fasilitas produksi sejumlah industri dari China. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Sanny Iskandar mengatakan, hubungan ekonomi antara China dan Amerika Serikat (AS) yang bergerak fluktuatif membuat relokasi fasilitas produksi dari Negeri Panda ke Indonesia meningkat. Hal tersebut berimpak terhadap permintaan lahan yang cukup tinggi.
Stabilitas ekonomi dan politik, kata dia, juga menjadi faktor penting dalam upaya menjaring investor dari luar negeri. Untuk itu, pemerintahan saat ini maupun yang baru nantinya harus bisa menjamin stabilitas guna menciptakan iklim investasi kondusif. Dia menuturkan, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan pengusaha untuk menjaring relokasi pabrik dari pelaku industri di China, yakni melalui peningkatan infrastruktur di kawasan industri dengan pengembangan konsep smarteco industrial estate.
Seperti diketahui, Jones Lang LaSalle (JLL) memproyeksi bakal terjadi akselerasi rantai pasok yang membidik Asia Tenggara dan India sebagai basis produksi dalam 1 dekade ke depan. Hal tersebut didorong oleh pertimbangan perusahaan manufaktur yang mencari lokasi dengan opsi pembiayaan lebih baik untuk memanfaatkan volatilitas rantai pasokan. Beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan China mulai menjajaki relokasi.
Lulusan SMK Bisa Sokong Industri Gim
Pelaku industri gim di Tanah Air masih kesulitan bersaing dengan pengembang asing. Padahal, selain mampu menyerap banyak tenaga kerja, peluang ekonomi dari industri gim ini masih sangat besar. Menurut data konsultan gim Newzoo, pasar gim Indonesia pada 2021 sebesar 1,74 miliar USD atau Rp 27,2 triliun. Pada saat bersamaan, jumlah pemain gim dalam negeri diprediksi 192,1 juta orang pada 2021. Namun, potensi itu masih didominasi industri gim asing, mencapai 99,5 persen (Kompas.id, 19/2/2024). Berdasarkan pendapat pelaku industri gim nasional, salah satu permasalahan utama yang butuh segera diatasi adalah ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten. Mereka berharap, dunia pendidikan ikut menyiapkan lulusan yang siap bekerja.
Plt Direktur SMK di Kemendikbudristek Wardani Sugiyanto, Selasa (4/6) di Jakarta, mengatakan, daya dukung untuk industri gim Indonesia dapat disiapkan dari lulusan SMK. Kini, ada 4.100 SMK dengan sedikitnya 500.000 siswa dengan konsentrasi keahlian yang relevan dengan industri gim, seperti bidang multimedia, rekayasa perangkat lunak, dan desain komunikasi visual. Ke depan, dia berharap, kepala sekolah dan industri memperkokoh kolaborasi ini. Lewat implementasi Kurikulum Merdeka, sekolah bisa kreatif menyusun kurikulum sesuai perminatan industri. ”Dengan pembelajaran terdiferensiasi, anak juga bisa dioptimalkan untuk mengembangkan minatnya di industri gim,” kata Wardani. (Yoga)
Industri Farmasi Indonesia sebagai Industri Strategis
Menurut data Kemenkes RI, industri farmasi lokal mampu memenuhi permintaan domestik tanpa terlalu bergantung pada impor, yang sering kali rentan terhadap gangguan rantai pasokan internasional (Kemenkes RI, 2020). Dengan total kapasitas produksi 40 miliar tablet per tahun, Indonesia memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan dalam negeri secara mandiri. Ini menunjukkan Indonesia sebenarnya tidak memerlukan investasi besar ataupun importasi obat jadi dari negara luar untuk memenuhi kebutuhan kesehatan nasional (BPS Indonesia, 2021). Dengan kapasitas yang tinggi ini, Indonesia bisa lebih fokus pada peningkatan kualitas dan pengembangan produk baru.
Industri farmasi Indonesia berperan memberikan nilai tambah dalam pengembangan produk farmasi berbasis bahan baku alam, seperti fitofarmaka. Fitofarmaka merupakan obat bahan alam Indonesia dari bahan herbal yang telah terbukti secara ilmiah punya khasiat terapeutik. Pemanfaatan fitofarmaka tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan baku obat kimiawi impor, tetapi juga memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara berkelanjutan serta berkontribusi besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, mulai dari petani, produksi, distribusi, hingga penjualan. Dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas yang melimpah, Indonesia dapat mengembangkan produk-produk bioteknologi yang inovatif dan memiliki nilai tambah tinggi.
Misalnya, penelitian di bidang bioteknologi menghasilkan produk-produk baru seperti enzim, vaksin, dan antibiotik berbasis bahan alami. PP No 1010/2020 adalah salah satu regulasi penting yang mendukung pengembangan industri farmasi di Indonesia, yang menjadikan farmasi sebagai industri strategis. PP ini memberikan berbagai insentif dan dukungan ke perusahaan farmasi lokal, termasuk pembebasan bea masuk untuk bahan baku obat dan peralatan produksi, serta insentif pajak untuk investasi di sektor ini. Melalui berbagai langkah dan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat memastikan ketersediaan obat-obatan yang terjangkau dan berkualitas, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi. (Yoga)
PENINGKATAN KUALITAS JALAN : Kalla Group Ekspansi Pabrik Aspal Emulsi
Peningkatan kualitas jalan di sejumlah titik di Pulau Sulawesi mendorong Kalla Group untuk melakukan ekspansi dengan membuka dua pabrik aspal emulsi baru di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Pembukaan dua pabrik di Kota Palu dan Kota Parepare itu dilakukan oleh anak usaha Kalla Group, yakni Kalla Aspal. Langkah ini juga sekaligus merupakan upaya perusahaan dalam mengembangkan aspal yang dianggap lebih kuat dan ramah lingkungan. Aspal emulsi merupakan aspal yang didiversikan ke dalam air dengan bantuan emulgator atau bahan pengemulsi dalam bentuk butiran yang sangat halus. Aspal ini sangat encer lewat pencampuran bahan bakar minyak.
Chief Operation Officer (COO) Kalla Aspal Burhanuddin Lestim mengatakan bahwa dua pabrik baru itu telah mulai berproduksi pada tahun ini. Dia menjelaskan bahwa kapasitas masing-masing pabrik dapat menampung 3 ton aspal emulsi yang dapat menghasilkan 10 drum dari proses produksi selama kurang lebih 6 jam.
Marketing & Operation General Manager Kalla Aspal Muhammad Sadar menambahkan, setelah dua kota tersebut, pihaknya masih akan melakukan ekspansi dengan membangun pabrik di wilayah lainnya di Sulawesi Tenggara dan Gorontalo pada awal 2025.“Pembangunan jalan memang masih membutuhkan suplai aspal yang cukup besar,” katanya.
Siap Memperluas Pasar Luar Jawa
Kinerja emiten menara, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) diprediksi masih akan tumbuh positif pada 2024. Optimisme itu terbersit di saat hadir pemain baru di di bisnis telekomunikasi yakni Starlink. Pendapatan yang kuat dari bisnis menara dan non menara akan jadi amunisi TOWR ke depan. Laba bersih TOWR di kuartal I-2024 naik 6% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi Rp 797 miliar, didukung oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 6% yoy. Analis Sucor Sekuritas, Christofer Kojongian mengatakan, bisnis non-menara juga terus menjadi mesin pertumbuhan utama, yang tumbuh 19% yoy menjadi Rp 965 miliar. Pendorongnya adalah lonjakan yang signifikan dalam bisnis jaringan internet kabel optik (FTTH) menjadi Rp 118 miliar pada kuartal I-2024 dari Rp 11 miliar pada periode sama 2023.
Ditambah pertumbuhan bisnis jaringan fiber ke menara (FTTT) yang naik 13% yoy. Saat ini kontribusi pendapatan non-menara mencapai 31,7% dari total pendapatan. Potensi pertumbuhan bisnis menara juga terbuka dengan 500 pesanan menara baru di sisa tahun ini. Hal ini akan menghasilkan pertumbuhan pendapatan bisnis menara 5% yoy pada 2024 menjadi Rp 8,8 triliun. Sehingga dia memproyeksi laba bersih TOWR akan naik 12% yoy dan 6% yoy di 2024 dan 2025 menjadi masing-masing Rp 3,6 triliun dan Rp 3,9 triliun. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sentimen negatif di industri menara ke depan terkait persaingan yang ketat, fluktuasi nilai tukar rupiah dan kondisi suku bunga yang tinggi. Karena rasio utang cukup tinggi," kata Sukarno, kepada KONTAN, Selasa (4/6).
Sementara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan membuka kesempatan Starlink bisa bekerja sama dengan pemain lokal. Skemanya akan bergantung perizinan masing-masing pihak. Jadi sesuai perizinan masing-masing. Sementara soal kemampuan Starlink tersambung langsung ke ponsel warga Indonesia secara aturan diperbolehkan. Sebab, Starlink bisa langsung berjualan ke konsumen. Jadi akan ada persaingan di suatu wilayah dengan internet service provider (ISP), yang mungkin juga bekerja sama dengan Starlink. Analis Mirae Aset Sekuritas Indonesia Won Junghoon menilai kehadiran Starlink sejatinya untuk segmen business to business (B2B) bukan untuk ritel. Seperti di Malaysia dan Filipina, meskipun sudah ada Starlink tetapi operator di kedua negara tersebut tetap bisa menjaga pangsa pasar. "Justru, para emiten bisa menangkap peluang dengan bekerja sama dengan Starlink untuk menyasar daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) atau Ibu Kota Nusantara (IKN)," kata Junghoon.
RI Jadi Produsen Kaca Terbesar di Asean
Pilihan Editor
-
Transaksi BUMN via PaDi Capai Rp 11,4 Triliun
16 Feb 2021 -
Rasio Utang Luar Negeri RI Nyaris 40% dari PDB
16 Feb 2021 -
Tersangka Baru Kasus Asabri Bertambah Lagi
17 Feb 2021 -
UMKM di Pare-Pare Dapat Bantuan Rp 4 Miliar
15 Feb 2021 -
Sejak Pandemi Fokus Pasar Lokal
15 Feb 2021









