Unicorn
( 64 )GoTo IPO Tahun Ini, 4 Unicorn dann 5 Centaur bakal Menyusul
Satu-satunya decacorn Indonesia, GoTo, diperkirakan melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tahun ini. Selain itu, empat unicorn dan lima centaur bakal menyusul. Bursa Efek Indonesia (BEI) memproyeksikan kapitalisasi pasar (market cap) bursa bertambah Rp 553,9 triliun setelah lima unicorn dan satu decacorn melantai di bursa saham domestik.Satu dari lima unicorn, yaitu Bukalapak, sedang menggelar penawaran umum dan akan mencatatkan saham (listing) pada 6 Agustus mendatang. Sedangkan empat unicorn lainnya masih mempersiapkan diri. Market cap BEI akan meningkat lagi setelah lima centaur ikut menyemarakkan lantai bursa.Decacorn adalah perusahaan rintisan teknologi (startup) yang memiliki valuasi US$ 10-100 miliar. Sedangkan unicorn merupakan startup yang memiliki valuasi US$ 1-10 miliar. Adapun centaur adalah startup dengan valuasi US$ 100 juta sampai US$ 1 miliar.Di Indonesia, startup yang masuk kategori decacorn baru satu, yaitu GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dengan Tokopedia. Sedangkan di jajaran unicorn ada Traveloka, Bukalapak, JD.ID, J&T Express, dan OVO. Lalu di level centaur terdapat sekitar 27 perusahaan, antara lain Halodoc, Dana, Modalku, Ralali, Akulaku, Kredivo, dan Blibli.
(Oleh - HR1)Unicorn-Decacor Berpeluang Mendominasi Indeks LQ45 dan MSCI
Sebanyak tiga unicorn dan decacorn akan mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI), menyusul PT Bukalapak.com Tbk
(BUKA) yang akan listing pada 6 Agustus 2021. Tiga perusahaan tersebut adalah Gojek-Tokopedia (GoTo), PT Global JET Express (J&T Express), dan PT
Tinusa Travelindo (Traveloka). Saham unicorn dan decacorn tersebut berpeluang mendominasi indeks LQ45 dan MSCI.
“Apabila semua perusahaan itu resmi
melantai, bukan tidak
mungkin indeks
LQ45 atau MSCI
akan didominasi oleh perusahaan
teknologi ke depannya,” kata
Komisaris BEI Pandu Patria Sjahrir
dalam acara Investor Daily Summit
2021, Kamis (15/7).
Berdasarkan data, GoTo menjadi
perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar yakni sebanyak
US$ 18 miliar atau setara dengan
Rp 261 triliun pada tahun lalu. Kemudian, nilai kapitalisasi pasar J&T
Express sebesar US$ 7,8 miliar
atau Rp 113,1 triliun. Bukalapak senilai US$ 6,05 miliar atau Rp 87,72
triliun dan Traveloka mencapai
US$ 2,75 miliar atau setara dengan
Rp 39,87 triliun.
Pada kesempatan yang sama,
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar
Modal Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), Hoesen mengungkapkan,
tiga perusahaan teknologi berstatus
unicorn dan decacorn dengan total
valuasi mencapai US$ 21 miliar atau
setara Rp 311,75 triliun berencana
melakukan IPO saham.
Beberapa karakteristik tersebut
berlaku bagi perusahaan financial
technology (fintech) atau unicorndecacorn, industri healthcare, dan
industri yang bergerak di bidang
renewable energy, food estate, dan beberapa industri baru yang mungkin
akan berkembang.
Salah satu bentuk penawaran
berbeda yang akan diterapkan OJK
kepada perusahaan unicorn dan
decaron adalah dengan memberlakukan dual class-shares dengan multiple
voting shares. Melalui pengaturan
seperti ini memungkinkan bagi para
pendiri unicorn atau decacorn menjadi para pengendalinya. Sehingga
dapat membangun dan mengembangkan bisnis sesuai visi dan misi
yang sudah direncanakan.
(Oleh - HR1)
Valuasi Mega-IPO Unicorn US$ 100 M
JAKARTA – Rencana raksasa unicorn dan
decacorn Indonesia untuk go public akan
dipercepat. Beberapa unicorn-decacorn yang
berniat menggelar penawaran umum perdana
(initial public offering/IPO) sudah menyerahkan
dokumen ke PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kini
masih diproses.
Unicorn atau decacorn terutama
yang berniat melantai di bursa
domestik dan luar negeri (dual listing), harus menyelesaikan sejumlah
prosedur dan administrasi yang
diperlukan. Sejauh ini, mega-IPO
empat unicorn dan decacorn yang
menggelar dual listing berpotensi
menghasilkan valuasi sekitar US$
100 miliar.
Di lain sisi, BEI harus merevisi
peraturan pencatatan agar dapat
mengakomodasi IPO perusahaan
new economy yang berbeda dengan
perusahaan konvensional.
Direktur Utama Bursa Efek
Indonesia (BEI) Inarno Djajadi
mengatakan, sampai saat ini terdapat tiga perusahaan unicorn dan
decacorn yang telah menyerahkan
dokumennya untuk mempersiapkan diri menggelar IPO. Namun
demikian, Inarno belum bisa menjelaskan secara detail siapa saja
yang telah menyerahkan dokumen
tersebut.
Untuk investor domestik, PT Astra
International menginjeksikan total
dana senilai US$ 250 juta dalam dua
tahap, yakni US$ 150 juta pada 2018
dan US$ 100 juta pada 2019. Selain
itu, PT Telkomsel mengalirkan dana
US$ 150 juta ke Gojek. Ada juga
Northstar Pacific milik pengusaha
kondang Patrick Waluyo.
Beberapa nama investor besar
luar negeri yang berada di belakang
Gojek adalah Facebook, Google,
Sofbank,Temasek (Anderson Investment Pte Ltd), Tencent Holdings,
Paypal, Sequoia Capital, Allianz
Strategic Investments SARL, Asean
China Investment Fund (US) III
LP, London Residential II SARL,PT
Asuransi Jiwa Sequis Life, PT Union
Sampoerna.
Sedangkan investor besar penyuntik dana Tokopedia adalah Softbank,
Alibaba (Taobao Cina Holdings), Temasek (Anderson Investments Pte),
Google, Masayoshi Son, Sequoia
Capital, East Venture, Radiant Pioneer Limited, Radiant Trinity Limited.
Temasek dan Google pada Oktober
2020 dikabarkan menyuntikkan dana
ke Tokopedia senilai US$ 350 juta.
Bukalapak dan Traveloka
Bukalapak dan Traveloka juga
berniat dual listing, yakni di BEI
dan di Nasdaq, AS. Traveloka tengah
dalam pembicaraan lanjutan dengan
SPAC Bridgetown Holdings Ltd untuk memuluskan jalan ke bursa AS.
Keduanya berencana merger dan
perusahaan gabungan itu berpotensi
menaikkan valuasi Traveloka yang
dinakhodai oleh Ferry Unardi ini
menjadi sekitar US$ 5 miliar. Transaksi tersebut berpotensi menggalang
dana sekitar US$ 500-750 juta melalui
skema investasi swasta di ekuitas
publik (private investment in public
equity/PIPE).
Sebagai salah satu perusahaan
teknologi terdepan di Asia Tenggara,
kata Reza, pencatatan saham Traveloka di Wall Street akan menempatkan perseroan pada liga yang sama
dengan perusahaan teknologi kelas
dunia lainnya yang juga tercatat di
bursa AS tersebut.
Demikian pula Bukalapak berniat
listing di bursa AS melalui skema
SPAC. Aksi merger dengan SPAC
itu diperkirakan akan menghasilkan valuasi sekitar US$ 4-5 miliar.
Bukalapak baru saja mengantongi
pendanaan baru hingga US$ 234 juta
yang dipimpin oleh Microsoft, GIC
Singapura, dan Emtek. Untuk IPO di
BEI, Bukalapak menunjuk Mandiri
Sekuritas sebagai penjamin emisi.
IPO Grab-Altimeter
Selain tiga unicorn tersebut, decacorn Grab sudah melangkah lebih
maju dalam rencana untuk menggelar IPO di Nasdaq, AS . Grab
Holdings Inc menggandeng SPAC
Altimeter Growth Corp. Aksi IPO
tersebut menargetkan perolehan
dana segar hingga US$ 4,5 miliar.
Aksi ini berpotensi menjadi penawaran saham terbesar yang pernah
ada oleh perusahaan Asia Tenggara
di Bursa AS.
Altimeter Growth dan Grab akan
menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan
induk baru. Perusahaan gabungan
tersebut diharapkan memiliki valuasi ekuitas secara proforma sekitar US$ 39,6 miliar serta investasi
swasta pada ekuitas publik (private
investment in public equity/PIPE)
senilai US$ 4 miliar. Altimeter telah
memberikan komitmen hingga US$
500 juta sebagai bentuk contingent
investments.
Berdampak Positif
Founder & CEO Digital Enterprise
Indonesia Bari Arijono menyatakan
bahwa mega-merger Gojek dan Tokopedia dan langkah IPO dapat dipandang dari tiga sisi. Pertama, merger
dan IPO ini akan sangat menguntungkan investor penyandang dana. IPO
yang akan melibatkan SPAC merupakan kepentingan investor, yang kurang
memberikan manfaat bagi ekonomi
digital di Indonesia dan dampaknya
ke masyarakat. Startegi meraih dana
global dengan menggandeng SPAC ini
sukses dijalankan di AS, Hongkong,
Jepang, dan Tiongkok.
Kedua, merger ini bukan dalam
rangka meningkatkan skala ekonomi
perusahaan. Ketiga, merger ini cenderung menghilangkan kesempatan
bagi milenial untuk berinovasi. Visi
misi awal yang diusung Gojek dan
Tokopedia bisa jadi kehilangan arah
dan marwahnya, karena disetir oleh
investor.
Sedangkan Direktur Panin Asset
Management Rudiyanto berpendapat, rencana IPO sejumlah unicorn-decacorn akan memperkaya pilihan
por tofolio saham bagi investor,
khususnya saham teknologi dengan
kapitalisasi besar yang selama ini belum ada. Hal ini tentunya akan sangat
menarik lebih banyak dana asing
yang masuk ke bursa domestik.
Dia yakin IPO unicorn akan disambut positif pelaku pasar dan
investor. “Dengan kapitalisasi pasar
yang besar, manajer investasi juga
akan mempertimbangkan sebagai
bagian dari portofolio reksa dana,”
katanya kepada Investor Daily.
Hal senada dikemukakan Presiden
Direktur Shinhan Asset Management Indonesia Tjiong Toni.
Menurut dia, bursa akan menjadi lebih menarik buat investor
asing maupun domestik, karena
menambah pilihan emiten berkapitalisasi besar kategori new economy.
“Yang ada sekarang hanya ada lima
saham sekelas super bluechip seperti
BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII.
Mereka adalah perusahaan old era
economy,” ujarnya.
(Oleh - HR1)
Setelah J&T, SiCepat Dinilai Berpeluang Jadi Unicorn Indonesia Ketujuh
J&T Express menjadi unicorn keenam Indonesia versi CB Insights. Startup logistik SiCepat dinilai berpeluang menjadi unicorn ketujuh Tanah Air.
Laporan CB Insights bertajuk ‘The Complete List of Unicorn Companies’ menunjukkan, J&T Express masuk dalam daftar unicorn keenam Indonesia. Startup logistik lain yang dinilai berpeluang menjadi unicorn yaitu SiCepat. Co-Founder sekaligus Managing Partner di Ideosource dan Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani mengatakan, SiCepat berpotensi memiliki valuasi lebih dari US$ 1 miliar atau berstatus unicorn, setelah disuntik modal Tokopedia.
Tahun lalu, DealStreetAsia melaporkan bahwa Tokopedia melakukan investasi strategis di SiCepat untuk meningkatkan kapabilitas layanan pengiriman. Jika ini benar, Edward menilai bahwa kekuatan finansial startup logistik itu mempercepat perubahan status menjadi unicorn.
Pada Maret, SiCepat juga merampungkan pendanaan Seri B US$ 170 juta atau sekitar Rp 2,44 triliun. Investor yang berpartisipasi yakni Falcon House Partners, Kejora Capital, lembaga keuangan pembangunan Jerman DEG , Asia Based Insurer, MDI Ventures, Indies Capital, anak usaha Temasek Holdings yakni Pavilion Capital, Tri Hill, dan Daiwa Securities. Di satu sisi, sektor logistik semakin moncer saat pandemi corona. CEO Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro mengatakan, perusahaan rintisan di sektor ini tumbuh pesat didorong oleh kondisi geografis Indonesia.
Sejalan dengan perkembangan itu juga, CB Insights mencatat bahwa J&T telah menjadi unicorn. Valuasinya mencapai US$ 7,8 miliar atau mendekati skala decacorn US$ 10 miliar. Valuasinya mengalahkan Tokopedia (US$ 7 miliar), Bukalapak (US$ 3,5 miliar), Traveloka (US$ 3 miliar), dan OVO (US$ 2,9 miliar). Sejauh ini, baru Gojek yang berstatus decacorn di Indonesia
(Oleh - HR1)
J&T Express Tanggapi Kabar Jadi Unicorn Baru Indonesia
Berdasarkan laporan CB Insights bertajuk The Complete List of Unicorn Companies, J&T Express masuk dalam daftar unicorn. Namun CEO J&T Express Indonesia Robin Lo belum mengetahui status tersebut. “Kami belum update, karena biasanya penilaiannya dari pihak luar seperti modal ventura dan lainnya,” kata Robin kepada Katadata.co.id, Selasa (13/4).
Ia berharap, J&T bisa segera berstatus decacorn atau memiliki valuasi minimal US$ 10 miliar. Berdasarkan data CB Insights, valuasi perusahaan logistik ini mencapai US$ 7,8 miliar.
Valuasinya mengalahkan Tokopedia (US$ 7 miliar), Bukalapak (US$ 3,5 miliar), Traveloka (US$ 3 miliar), dan OVO (US$ 2,9 miliar). Sejauh ini, baru Gojek yang berstatus decacorn di Indonesia
Perkiraan itu merujuk pada riset bertajuk ‘Unlocking Next Wave of Digital Growth: Beyond Metropolitan Indonesia’. Ini berdasarkan survei terhadap 2.100 lebih konsumen akhir dan 1.100 retailer di 23 kota. Selain itu, wawancara dengan stakeholder di 13 kota di tingkat (tier) dua dan tiga.
(Oleh - HR1)
Traveloka Lirik IPO di Wall Street
Kabar initial public offering (IPO) unicorn dalam negeri kembali menghangat. Terbaru, Traveloka berencana menghelat IPO di bursa Amerika Serikat (AS).
Reza Amirul Juniarshah, Corporate Communication Traveloka, menyebut, pihaknya saat ini dalam tahap finalisasi perencanaan. Traveloka akan masuk melalui special purpose acquisition company (SAPC) tahun ini.
Dengan melakukan pencatatan di Wall Street, Traveloka akan sejajar dengan perusahaan teknologi dunia. Ini menjadikan Traveloka lebih kompetitif di level global. “Sehingga memungkinkan kami membawa sumber daya ke Indonesia dan Asia Tenggara, “ terang Reza.
Selain Traveloka, Tokopedia dan Gojek dikabarkan bakal IPO lewat SPAC. Kedua start up ini jika digabungkan memiliki valuasi USS 35 miliar-US$ 40 miliar.
Mengapa Unicorn Minim di Jepang?
Jepang tertinggal jauh dari Amerika Serikat dan China dalam “memproduksi” unicorn. Merujuk pada daftar terbaru yang disusun platform analitik asal AS, CB Insights, dan dikutip pada Selasa (13/10/2020), dari 100 unicorn hanya ada empat perusahaan rintisan asal Jepang yang nilai kapitalisasinya lebih dari 1 miliar dollar AS. Total terdapat 490 perusahaan unicorn di dunia saat ini dengan total valuasi mencapai 1.550 miliar dollar AS.
Di barisan lima terbesar unicorn, dua terbesar adalah perusahaan asal China dan menyusul tiga di bawahnya asal AS. Perusahaan rintisan Jepang yang masuk dalam daftar itu adalah Preferred Networks dengan kapitalisasi pasar 2 miliar dollar AS, lalu SmartNews (1,2 miliar dollar AS), dan dua lainnya adalah Liquid dan Playco dengan valuasi masing-masing 1 miliar dollar AS.
Untuk perbandingan, ada lima perusahaan Indonesia masuk daftar itu, yakni Gojek, Tokopedia, Traveloka, Ovo, dan Bukalapak. Nilai valuasi unicorn-unicorn Indonesia juga di atas unicorn Jepang. Valuasi masing-masing dari lima unicorn asal Indonesia berada dalam rentang 2,5-10 miliar dollar AS.
Nilai pasar modal ventura Jepang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan AS dan China. Sejumlah penelitian menunjukkan, besaran pasar modal ventura AS mencapai 137 miliar dollar AS. Adapun nilai pasar modal ventura China adalah 52 miliar dollar AS.
Kurangnya modal swasta untuk ekspansi dapat memaksa perusahaan baru Jepang untuk go public lebih cepat daripada perusahaan-perusahaan sejenis di negara lain. “Namun, jika go public (dengan ukuran) terlalu kecil, Anda tidak akan pernah bisa tumbuh,” kata Isayama.
Standar perusahaan tercatat juga menjadi sorotan. “ Di Jepang, standar pencatatan sangat rendah. Jadi, ada banyak perusahaan kecil dan banyak dari mereka puas dengan kondisi itu,” kata Takeshi Aida, pendiri dan CEO RevComm, perusahaan rintisan AI yang berbasis di Tokyo dan berharap dapat segera diluncurkan di Asia Tenggara.
Para pelaku industri juga merujuk pada faktor budaya di Negeri Sakura. Sistem pendidikan Jepang dinilai masih dirancang untuk menghasilkan calon pekerjaan yang stabil di perusahaan besar. “Dibutuhkan banyak nyali untuk mematahkan kebiasaan dalam masyarakat yang terkenal akan konformitasnya,” kata Isayama.
Mengapa Unicorn Minim di Jepang
Jepang tertinggal jauh dari AS dan China dalam memproduksi unicorn. Merujuk pada daftar terbaru yang disusun platform analitik asal AS, CB Insights, dari 100 unicorn hanya ada 4 (empat) perusahaan rintisan asal Jepang yang nilai kapitalisasiya lebih dari 1 miliar dollar AS. Total terdapat 490 perusahaan unicorn di dunia saat ini dengan total valuasi mencapai 1.550 miliar dollar AS.
Perusahaan rintisan Jepang yang masuk dalam daftar itu adalah preferred networks dengan kapitalisasi pasar 2 miliar dollar AS, lalu SmartNews (1,2 miliar dollar AS) dan dua lainnya adalah Liquid dan Playco dengan valuasi masing-masing 1 miliar dollar AS. Untuk perbandingan, ada lima perusahaan Indonesia masuk daftar unicorn antara lain Gojek, Tokopedia, Traveloka, Ovo dan Bukalapak. Nilai valuasi beberapa unicorn Indonesia juga diatas unicorn Jepang. Valuasi masing-masing dari lima unicorn asal Indonesia berada dalam rentang 2,5-10 miliar dollar AS.
Menurut Kepala World Inovation Lab Gen Isayama jika dikaitkan dengan PDB Jepang harus punta setidaknya 50 hingga 60 unicorn. Di Jepang upaya inovasi selalu dipimpin perusahaan besar. Kurangnya modal swasta untuk ekspansi dapat memaksa perusahaan baru Jepang untuk go public lebih cepat daripada perusahaan-perusahaan sejenis di negara lain.
Peluang Merger Gojek-Grab Dinilai Terbuka
Pandemi Covid-19 dinilai menjadi waktu yang tepat bagi dua perusahaan layanan transportasi berbasis teknologi di Indonesia yakni Gojek dan Grab, untuk merger. Selain meningkatkan valuasi, merger ini juga bisa meningkatkan kemampuan perusahaan memperoleh laba.
Wacana merger dua decacorn itu dikabarkan The Financial Times yang berbasis di Inggris. Namun pihak manajemen Gojek maupun Komisaris Gojek Pandu Sjahrir enggan menanggapinya. Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai, jika merger benar terwujud hal itu akan jalan meraup untung. Secara likuiditas tentu akan lebih baik. Prospek di mata investor juga semakin menarik karena valuasi semakin besar.
Traveloka Clean Topang Promosi dan Peningkatan Bisnis Wisata
Sejak meluncurkan kampanye Traveloka Clean Partners Juni 2020, penjualan produk layanan Traveloka meningkat hingga 200% meliputi hotel, transportasi antar jemput bandara dan rental, serta destinasi wisata berlabel traveloka clean.
CMO Traveloka dan CEO Traveloka Experince Christian Suwarna mengemukakan, Traveloka menggandeng 2.000 mitra di 240 kota di tanah air untuk berkomitmen memenuhi standar protokol kebersihan, kesehatan dan keamanan sesuai ketetapan pemerintah. Traveloka juga menawarkan harga paket wisata yang miring, fleksibilitas perjalanan (buy now stay later), pembayaran di belakang (buy now pay later) serta kemudahan pejadwalan ulang perjalanan.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









