Tags
Unicorn
( 64 )Astra dan Go-Jek Bersinergi
ayu.dewi
05 Mar 2019 Kompas
PT Astra International Tbk dan Go-Jek membentuk perusahaan patungan. Nantinya, perusahaan patungan ini menyediakan kendaraan roda empat yang akan dilibatkan dalam sistem aplikasi transportasi Go-Car. Selain itu grup Astra telah menempatkan investasi sekitar Rp 2 triliun ke Go-Jek. Saat itu dana investasi dari Astra digunakan Go-Jek untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas teknologi sehingga menambah nilai tambahan layanan bagi mitra dan pelanggan.
Presiden Direktur Astra Indonesia Prijono Sugiarto, keikutsertaan Astra dalam putaran pertama pendanaan seri F maka total investasi Astra ke Gojek 250 juta dollar AS. Pendiri dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim menjelaskan perusahaan patungan itu menyediakan angkutan sewa khusus dari pintu ke pintu menggunakan fitur Go-Car. Calon mitra pengemudi Go-Car berkesempatan mendapatkan akses terhadap aset kendaraan berkualitas prima. Terkait dana segar dari Astra, Nadiem menyebutkan akan digunakan untuk memperdalam penetrasi pasar dan memperkuat posisi Go-Jek sebagai platform layanan bergerak dan pembayaran digital. Dana itu akan dimanfaatkan untuk membantu ekspansi di pasar regional.
Mengutip crunchbase.com, Go-Jek telah mengumpulkan total pendanaan sekitar 3 miliar dollar AS selama delapan putaran. Pada akhir Oktober 201, putaran pendanaan pada tahap seri F diperoleh dari Tencent Holdings, Google dan JD.com dengan jumlah dana yang terkumpul 920 juta AS. Pada akhir 2018, Go-Jek membukukan total transaksi kotor (GTV) lebih dari 9 miliar dollar AS dengan jumlah transaksi mencapai 2 miliar. GTV Go-Pay sebesar 6,3 miliar dollar AS dan GTV Go-Food tercatat 2 miliar dollar AS.
Presiden Direktur Astra Indonesia Prijono Sugiarto, keikutsertaan Astra dalam putaran pertama pendanaan seri F maka total investasi Astra ke Gojek 250 juta dollar AS. Pendiri dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim menjelaskan perusahaan patungan itu menyediakan angkutan sewa khusus dari pintu ke pintu menggunakan fitur Go-Car. Calon mitra pengemudi Go-Car berkesempatan mendapatkan akses terhadap aset kendaraan berkualitas prima. Terkait dana segar dari Astra, Nadiem menyebutkan akan digunakan untuk memperdalam penetrasi pasar dan memperkuat posisi Go-Jek sebagai platform layanan bergerak dan pembayaran digital. Dana itu akan dimanfaatkan untuk membantu ekspansi di pasar regional.
Mengutip crunchbase.com, Go-Jek telah mengumpulkan total pendanaan sekitar 3 miliar dollar AS selama delapan putaran. Pada akhir Oktober 201, putaran pendanaan pada tahap seri F diperoleh dari Tencent Holdings, Google dan JD.com dengan jumlah dana yang terkumpul 920 juta AS. Pada akhir 2018, Go-Jek membukukan total transaksi kotor (GTV) lebih dari 9 miliar dollar AS dengan jumlah transaksi mencapai 2 miliar. GTV Go-Pay sebesar 6,3 miliar dollar AS dan GTV Go-Food tercatat 2 miliar dollar AS.
Industri Digital : Ekspansi Go-Jek di ASEAN Semakin Meluas
ayu.dewi
28 Feb 2019 Kompas
Ekspansi Go-Jek kian meluas di ASEAN, aplikasi transportasi itu masuk ke Bangkok, Thailand melalui GET. Pada September 2018, Presiden Joko Widodo menghadiri peluncuran Go-Viet di Hanoi, Vietnam. Pasar Bangkok dinilai belum akrab dengan platform multi-layanan. Selama dua bulan uji coba versi beta, GET telah bermitra dengan 10.000 pengemudi , diunduh 100.000 pengguna dan menyelesaikan dua juta transaksi.
CEO Go-Jek Nadiem Makarim mengatakan tahap awal peluncuranya GET menyediakan tiga layanan, yakni : GET Win (antar jemput penumpang), GET Food (pesan-antar makanan) dan GET Delivery (layanan pengiriman). CEO GET Pinya Nittayakasetwat mengatakan, mereka membangun GET dengan sejumlah penyesuaian terhadap kebutuhan Bangkok. Penyesuaian itu misalnya: hanya merekrut pengemudi berlisensi karena sepeda motor merupakan angkutan umum resmi di Bangkok. Menurut Pinya, GET dibangun dengan teknologi dan pendanaan dari Go-Jek.
Pemerintah Indonesia menyambut baik langkah Go-Jek memperluas pasar di ASEAN. Hanya empat tahun Go-Jek sudah menjadi unicorn dan perusahaan multinasional.
CEO Go-Jek Nadiem Makarim mengatakan tahap awal peluncuranya GET menyediakan tiga layanan, yakni : GET Win (antar jemput penumpang), GET Food (pesan-antar makanan) dan GET Delivery (layanan pengiriman). CEO GET Pinya Nittayakasetwat mengatakan, mereka membangun GET dengan sejumlah penyesuaian terhadap kebutuhan Bangkok. Penyesuaian itu misalnya: hanya merekrut pengemudi berlisensi karena sepeda motor merupakan angkutan umum resmi di Bangkok. Menurut Pinya, GET dibangun dengan teknologi dan pendanaan dari Go-Jek.
Pemerintah Indonesia menyambut baik langkah Go-Jek memperluas pasar di ASEAN. Hanya empat tahun Go-Jek sudah menjadi unicorn dan perusahaan multinasional.
Investasi <em>Startup</em>, Tekfin & Dagang-el Jadi Primadona
tuankacan
26 Feb 2019 Bisnis Indonesia
Sektor teknologi finansial , pembayaran, dan perdagangan elektronik digadang-gadang masih akan menjadi magnet banyak pendanaan startup pada tahun ini. Selain teknologi finansial dan perdagangan elektronik, sektor lain yang diproyeksi bakal menarik banyak investasi pada tahun ini adalah teknologi kesehatan dan teknologi pendidikan. Perusahaan rintisan di bidang teknologi finansial lebih memikat investor karena memiliki diversifikasi produk yang cukup beragam, mulai dari pembayaran digital, peer-to-peer lending, hingga investasi. Indonesia berpeluang mndapatkan dua hingga tiga unicorn baru dalam 2 tahun mendatang. Bahkan bisa menciptakan satu decacorn baru, atau perusahaan teknologi dengan valuasi lebih dari US$10 miliar. Yang berpeluang menjadi decacorn yaitu Tokopedia.
Benarkah Unicorn Indonesia Dikendalikan Investor Asing?
budi6271
20 Feb 2019 Bisnis Indonesia
Di balik rasa percara diri dan ambisi para founder dan ratusan generasi milenial yang bekerja di start up, pasti ada rasa waswas menghadapi perusahaan "tradisional" yang bisnisnya mereka ganggu. Dengan kekuatan jaringan dan modal masing-masing, setiap korporasi yang diganggu bisa dengan mudah mengakhiri mimpi mereka di tengah jalan. Empat unicorn bisa tumbuh secepat sekarang, salah satunya, karena dipandang sebelah mata. Untungnya, sebelah mata lain masih memandang mereka. Pemilik sebelah mata yang lain adalah ratusan pemodal ventura yang berkeliaran berkeliling dunia mencari target. Mereka bukan untuk dimangsa, melainkan untuk didukung.
Para kapitalis ini tentunya bukan amatiran. Mereka adalah investor yang berpengalaman puluhan tahun mendampingi para pengusaha pemula di Silicon Valley, Shenzhen, dan Tokyo sehingga menjelma menjadi industrialis dunia maya. Polanya sebetulnya sederhana. Pendiri memulai perusahaan. Investor menyokong mereka dengan pendanaan dengan peluang keberhasilan 50–50. Perusahaan yang mereka danai bisa tumbuh atau bangkrut.
Agar bisa cuan, para pemodal ventura mendistribusikan risiko. Mereka mendanai sebanyak mungkin perusahaan rintisan agar peluang makin banyak serta berinvestasi pada tahap awal supaya hemat. Namun, mereka tidak bisa menangani puluhan hingga ratusan entrepeneur secara bersamaan. Artinya, para kapitalis berkantong tebal itu sangat bergantung kepada para pendiri. Dengan kata lain, dalam investasi start up, besarnya modal yang ditumpahkan belum tentu mengindikasikan penguasaan.
Kuncinya ada pada sistem dwi-kepemilikan atau dual-share. Contoh paling ekstrem dan terkenal adalah Mark Zuckenberg dan Facebook. Facebook memiliki dua saham, saham A dan saham B. Saham A memiliki 1 suara, sedangkan saham B setara 10 suara. Zuckerberg punya 60% hak suara sehingga apa saja yang terucap dari mulut Zuckerberg bisa membuat pasar meriang. Pola ini juga lazim diterapkan oleh perusahaan rintisan di Indonesia, termasuk Do-Jek. Dengan pola seperti itu, kendali Go-Jek tidak berpindah ke luar Jakarta. Begitupun dengan Tokopedia.
Masuknya modal asing ke Indonesia merupakan sinyal positif. Tidak hanya dana yang mereka bawa, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan dari seluruh dunia. Lalu apa manfaatnya bagi Indonesia?
Menteri PPN/Bappenas mengatakan bahwa unicorn adalah magnet investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Berbeda dengan investasi di pasar finansial, uang yang masuk dari luar negeri sebagai FDI menjelma menjadi aset. Selain itu, modal yang mengucur deras mendorong Indonesia melompat. Banyak bisnis kecil yang bisa menjangkau pasar yang luas.
Pertanyaannya kini selayaknya dilontarkan kepada pemilik modal besar di dalam negeri. Beranikah bertarung berebut saham di startup-startup asli Indonesia? Beberapa konglomerat sudah mulai berinvestasi di perusahaan rintisan seperti Grup Djarum, Sinarmas, dan Emtek. Mereka sudah berdiversifikasi, mulai berinvestasi di teknologi dan tidak lagi hanya berkutat di kebun dan tambang.
Para kapitalis ini tentunya bukan amatiran. Mereka adalah investor yang berpengalaman puluhan tahun mendampingi para pengusaha pemula di Silicon Valley, Shenzhen, dan Tokyo sehingga menjelma menjadi industrialis dunia maya. Polanya sebetulnya sederhana. Pendiri memulai perusahaan. Investor menyokong mereka dengan pendanaan dengan peluang keberhasilan 50–50. Perusahaan yang mereka danai bisa tumbuh atau bangkrut.
Agar bisa cuan, para pemodal ventura mendistribusikan risiko. Mereka mendanai sebanyak mungkin perusahaan rintisan agar peluang makin banyak serta berinvestasi pada tahap awal supaya hemat. Namun, mereka tidak bisa menangani puluhan hingga ratusan entrepeneur secara bersamaan. Artinya, para kapitalis berkantong tebal itu sangat bergantung kepada para pendiri. Dengan kata lain, dalam investasi start up, besarnya modal yang ditumpahkan belum tentu mengindikasikan penguasaan.
Kuncinya ada pada sistem dwi-kepemilikan atau dual-share. Contoh paling ekstrem dan terkenal adalah Mark Zuckenberg dan Facebook. Facebook memiliki dua saham, saham A dan saham B. Saham A memiliki 1 suara, sedangkan saham B setara 10 suara. Zuckerberg punya 60% hak suara sehingga apa saja yang terucap dari mulut Zuckerberg bisa membuat pasar meriang. Pola ini juga lazim diterapkan oleh perusahaan rintisan di Indonesia, termasuk Do-Jek. Dengan pola seperti itu, kendali Go-Jek tidak berpindah ke luar Jakarta. Begitupun dengan Tokopedia.
Masuknya modal asing ke Indonesia merupakan sinyal positif. Tidak hanya dana yang mereka bawa, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan dari seluruh dunia. Lalu apa manfaatnya bagi Indonesia?
Menteri PPN/Bappenas mengatakan bahwa unicorn adalah magnet investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Berbeda dengan investasi di pasar finansial, uang yang masuk dari luar negeri sebagai FDI menjelma menjadi aset. Selain itu, modal yang mengucur deras mendorong Indonesia melompat. Banyak bisnis kecil yang bisa menjangkau pasar yang luas.
Pertanyaannya kini selayaknya dilontarkan kepada pemilik modal besar di dalam negeri. Beranikah bertarung berebut saham di startup-startup asli Indonesia? Beberapa konglomerat sudah mulai berinvestasi di perusahaan rintisan seperti Grup Djarum, Sinarmas, dan Emtek. Mereka sudah berdiversifikasi, mulai berinvestasi di teknologi dan tidak lagi hanya berkutat di kebun dan tambang.
E-Commerce dan Start Up Bermanfaat Menggerakkan Ekonomi Lokal
budi6271
20 Feb 2019 Kontan
Kritik yang dilontarkan calon presiden Prabowo Subianto mengenai dampak negatif perusahaan start up yang sahamnya dimiliki pemodal asing membuka perdebatan soal manfaat industi ini. Prabowo menilai, kepemilikan asing bisa menyebabkan dana ke luar negeri (outflow). Akibatnya Indonesia hanya menjadi pasar dan tidak menikmati hasil.
Menteri PPN/Bappenas mengatakan pertumbuhan industri e-commerce bahkan sampai tingkat unicorn bisa mendorong investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Meski begitu, ia mengakui masuknya investasi asing membuat kewajiban membayar dividen. Ia ingin para start up fokus meningkatkan daya saing. Selain itu, ia berharap start up khususnya bidang e-commerce bisa membawa produk dalam negeri bisa berjaya dan menembus pasar internasional. Pada saat itulah e-commerce ini bisa menggerakkan ekonomi dalam negeri.
Menteri PPN/Bappenas mengatakan pertumbuhan industri e-commerce bahkan sampai tingkat unicorn bisa mendorong investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Meski begitu, ia mengakui masuknya investasi asing membuat kewajiban membayar dividen. Ia ingin para start up fokus meningkatkan daya saing. Selain itu, ia berharap start up khususnya bidang e-commerce bisa membawa produk dalam negeri bisa berjaya dan menembus pasar internasional. Pada saat itulah e-commerce ini bisa menggerakkan ekonomi dalam negeri.
Pendiri Tetap Menjadi Pemegang Kendali
budi6271
06 Feb 2019 Kontan
Go-Jek kembali memperoleh pendanaan. Nilainya disebut-sebut mencapai Rp 14 triliun. Seperti diketahui sebelumnya, banyak perusahaan menyuntikkan dana ke Go-Jek, seperti Google, Tencent, dan JD.com, Grup Astra, dan Grup Djarum. Lalu siapa pemilik Go-Jek saat ini?
Ibarat pemilik rumah, Go-Jek punya hak penuh siapa tamu yang boleh datang. Go-Jek juga berhak mengatur tata krama selama si tamu bertandang. Data Dirjen AHU per Oktober 2018 mengungkapkan, salah satu pengurusnya adalah Nadiem Makarim. Dia memegang saham seri D, E, dan I. Totalnya sekitar 58.416 saham atau hanya setara 5% modal ditempatkan.
Meskipun persentase sahamnya kecil, Nadiem memegang golden share. Golden share adalah saham yang bisa mengalahkan semua saham lainnya. Ini mencegah adanya hak suara yang terlalu kuat dari investor dengan porsi kepemilikan besar. Skema serupa juga diterapkan oleh Mark Zuckerberg di Facebook dan Jack Ma di Alibaba. Golden share dapat diibaratkan seperti saham dwiwarna negara pada porsi kepemilikan BUMN.
Ibarat pemilik rumah, Go-Jek punya hak penuh siapa tamu yang boleh datang. Go-Jek juga berhak mengatur tata krama selama si tamu bertandang. Data Dirjen AHU per Oktober 2018 mengungkapkan, salah satu pengurusnya adalah Nadiem Makarim. Dia memegang saham seri D, E, dan I. Totalnya sekitar 58.416 saham atau hanya setara 5% modal ditempatkan.
Meskipun persentase sahamnya kecil, Nadiem memegang golden share. Golden share adalah saham yang bisa mengalahkan semua saham lainnya. Ini mencegah adanya hak suara yang terlalu kuat dari investor dengan porsi kepemilikan besar. Skema serupa juga diterapkan oleh Mark Zuckerberg di Facebook dan Jack Ma di Alibaba. Golden share dapat diibaratkan seperti saham dwiwarna negara pada porsi kepemilikan BUMN.
Gandeng Bukalapak, Mandiri Siapkan Kredit Rp 200 Miliar
ayu.dewi
29 Jan 2019 Investor Daily
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menggandeng PT Bukalapak.com untuk kredit modal kerja kepada ribuan usaha mikro,kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi mitra salah satu platform daring tersebut dalam membiayai ekspansi usaha. Untuk tahap awal kerjasama ini Bank Mandiri akan menyediakan total pembiayaan sebesar Rp 200 miliar. Co-Founder and President Bukalapak.com M Fajrin Rasyid mengatakan, pihaknya menyambut baik kerjasama dengan Bank Mandiri yang memiliki rekam jejak yang sangat baik dalam pembiayaan UMKM di Indonesia dan sangat fokus terhadap perkembangan perbankan digital. Saat ini ada lebih dari 4 juta pelapak tergabung di Bukalapak melalui teknologi dan kreativitas. Bukalapak terus berinovasi untuk menaikkelaskan para pelaku usaha di seluruh Indonesia, salah satunya melalui kolaborasi dengan Bank Mandiri.
Grup Telkom Dirikan Perusahaan Fintech Baru
leoputra
28 Jan 2019 Investor Daily
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk melalui anak usahanya, PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), mendirikan peruahaan finansial keuangan (Fintech) bernama PT Fintek Karya Nusantara (Finarya). Finarya sudah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia sejak 21 Januari 2019. Telkomsel mendirikan finarya sebagai bentuk strategi untuk mengembangkan ekosistem bisnis Fintech yang sudah ada di perusahaan.
Investasi Unicorns, Jaring Pemodal, Kompetisi Usaha Rintisan Makin Ketat
tuankacan
25 Jan 2019 Bisnis Indonesia
Dominasi perusahaan teknologi bervaluasi besar dalam menarik modal di Indonesia membuat perusahaan
rintisan yang tengah bertumbuh dituntut untuk meningkatkan kualitas dan daya saing usaha, guna mendapatkan porsi pendanaan pada tahap awal. Secara regional, pada 2018 diketahui lebih dari 70% pendanaan diraih oleh lima perusahaan teknologi berskala besar seperti Grab, Lazada, Gojek, Tokopedia,
dan Sea Group. Investor lebih memilih berinvestasi di perusahaan yang didirikan oleh tokoh yang berpengalaman di perusahaan teknologi bervaluasi besar, karena dinilai lebih aman.
Pendanaan Perusahan Rintisan : Pemodal Global Berburu Saham Dagang-el
ayu.dewi
17 Jan 2019 Bisnis Indonesia
Investasi oleh Mirae Asset dan Naver asal Korea Selatan ke Bukalapak memperpanjang daftar investor dibalik perusahaan dagang-el Indonesia. Reuters mengutip Mirae Asset menyebut nilai investasi yang dikucurkan ke Bukalapak mencapai US$50 juta atau sekitar Rp 700 miliar. Presiden dan Co-Founder Bukalapak Fajrin Rasyid menjelaskan bahwa pendanaan dari Mirae Asset Naver Asia Growth Fund adalah investasi yang berdiri sendiri, bukan bagian dari ronde pendanaan.
Bukalapak, dalam siaran persnya menyebutkan tiga pemegang saham utama perusahaan, yaitu PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek), Ant Financial, dan GIC Singapura. Pesaing utama Bukalapak, Tokopedia juga didukung oleh sederet investor besar global. Alibaba Group yang secara tidak langsung terafiliasi dengan Bukalapak melalui Ant Financial, adalah investor utama dalam ronde pendanaan senilai US$ 1,1 miliar pada Agustus 2017.Perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma itu kembali terlibat pendanaan senilai US$ 1,1 miliar dengan Softbank Vison Fund sebagai sumber utama yang diumumkan Tokopedia pada Desember 2018. Investor utama lain Tokopedia adalah Sequoia Capital.
Para investor besar dibalik Tokopedia dan Bukalapak akan mendukung kedua perusahaan bertarung memperebutkan dominasi dalam bisnis penyediaan infrastruktur perdagangan bagi pedagang luring dan daring yang dikenal dengan nama online to offline. CEO dan founder Bukalapak Ahmad Zaky mengatakan bahwa Bukalapak akan menginvestasaikan dana senilai Rp 1 triliun untuk mengembangkan bisnis O2O yang diberi nama Mitra Bukalapak. Dia menjelaskan Bukalapak fokus membangun ekosistem bisnis daring, padahal pasar daring di Indonesia masih memiliki porsi yang sangat kecil dibandingkan dengan pasar luring. Jumlah masyarakat yang telah bertransaksi secara daring baru mencapai 3%-4% dari total penduduk Indonesia.
Bukalapak, dalam siaran persnya menyebutkan tiga pemegang saham utama perusahaan, yaitu PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek), Ant Financial, dan GIC Singapura. Pesaing utama Bukalapak, Tokopedia juga didukung oleh sederet investor besar global. Alibaba Group yang secara tidak langsung terafiliasi dengan Bukalapak melalui Ant Financial, adalah investor utama dalam ronde pendanaan senilai US$ 1,1 miliar pada Agustus 2017.Perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma itu kembali terlibat pendanaan senilai US$ 1,1 miliar dengan Softbank Vison Fund sebagai sumber utama yang diumumkan Tokopedia pada Desember 2018. Investor utama lain Tokopedia adalah Sequoia Capital.
Para investor besar dibalik Tokopedia dan Bukalapak akan mendukung kedua perusahaan bertarung memperebutkan dominasi dalam bisnis penyediaan infrastruktur perdagangan bagi pedagang luring dan daring yang dikenal dengan nama online to offline. CEO dan founder Bukalapak Ahmad Zaky mengatakan bahwa Bukalapak akan menginvestasaikan dana senilai Rp 1 triliun untuk mengembangkan bisnis O2O yang diberi nama Mitra Bukalapak. Dia menjelaskan Bukalapak fokus membangun ekosistem bisnis daring, padahal pasar daring di Indonesia masih memiliki porsi yang sangat kecil dibandingkan dengan pasar luring. Jumlah masyarakat yang telah bertransaksi secara daring baru mencapai 3%-4% dari total penduduk Indonesia.
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









