Valuasi Mega-IPO Unicorn US$ 100 M
JAKARTA – Rencana raksasa unicorn dan
decacorn Indonesia untuk go public akan
dipercepat. Beberapa unicorn-decacorn yang
berniat menggelar penawaran umum perdana
(initial public offering/IPO) sudah menyerahkan
dokumen ke PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kini
masih diproses.
Unicorn atau decacorn terutama
yang berniat melantai di bursa
domestik dan luar negeri (dual listing), harus menyelesaikan sejumlah
prosedur dan administrasi yang
diperlukan. Sejauh ini, mega-IPO
empat unicorn dan decacorn yang
menggelar dual listing berpotensi
menghasilkan valuasi sekitar US$
100 miliar.
Di lain sisi, BEI harus merevisi
peraturan pencatatan agar dapat
mengakomodasi IPO perusahaan
new economy yang berbeda dengan
perusahaan konvensional.
Direktur Utama Bursa Efek
Indonesia (BEI) Inarno Djajadi
mengatakan, sampai saat ini terdapat tiga perusahaan unicorn dan
decacorn yang telah menyerahkan
dokumennya untuk mempersiapkan diri menggelar IPO. Namun
demikian, Inarno belum bisa menjelaskan secara detail siapa saja
yang telah menyerahkan dokumen
tersebut.
Untuk investor domestik, PT Astra
International menginjeksikan total
dana senilai US$ 250 juta dalam dua
tahap, yakni US$ 150 juta pada 2018
dan US$ 100 juta pada 2019. Selain
itu, PT Telkomsel mengalirkan dana
US$ 150 juta ke Gojek. Ada juga
Northstar Pacific milik pengusaha
kondang Patrick Waluyo.
Beberapa nama investor besar
luar negeri yang berada di belakang
Gojek adalah Facebook, Google,
Sofbank,Temasek (Anderson Investment Pte Ltd), Tencent Holdings,
Paypal, Sequoia Capital, Allianz
Strategic Investments SARL, Asean
China Investment Fund (US) III
LP, London Residential II SARL,PT
Asuransi Jiwa Sequis Life, PT Union
Sampoerna.
Sedangkan investor besar penyuntik dana Tokopedia adalah Softbank,
Alibaba (Taobao Cina Holdings), Temasek (Anderson Investments Pte),
Google, Masayoshi Son, Sequoia
Capital, East Venture, Radiant Pioneer Limited, Radiant Trinity Limited.
Temasek dan Google pada Oktober
2020 dikabarkan menyuntikkan dana
ke Tokopedia senilai US$ 350 juta.
Bukalapak dan Traveloka
Bukalapak dan Traveloka juga
berniat dual listing, yakni di BEI
dan di Nasdaq, AS. Traveloka tengah
dalam pembicaraan lanjutan dengan
SPAC Bridgetown Holdings Ltd untuk memuluskan jalan ke bursa AS.
Keduanya berencana merger dan
perusahaan gabungan itu berpotensi
menaikkan valuasi Traveloka yang
dinakhodai oleh Ferry Unardi ini
menjadi sekitar US$ 5 miliar. Transaksi tersebut berpotensi menggalang
dana sekitar US$ 500-750 juta melalui
skema investasi swasta di ekuitas
publik (private investment in public
equity/PIPE).
Sebagai salah satu perusahaan
teknologi terdepan di Asia Tenggara,
kata Reza, pencatatan saham Traveloka di Wall Street akan menempatkan perseroan pada liga yang sama
dengan perusahaan teknologi kelas
dunia lainnya yang juga tercatat di
bursa AS tersebut.
Demikian pula Bukalapak berniat
listing di bursa AS melalui skema
SPAC. Aksi merger dengan SPAC
itu diperkirakan akan menghasilkan valuasi sekitar US$ 4-5 miliar.
Bukalapak baru saja mengantongi
pendanaan baru hingga US$ 234 juta
yang dipimpin oleh Microsoft, GIC
Singapura, dan Emtek. Untuk IPO di
BEI, Bukalapak menunjuk Mandiri
Sekuritas sebagai penjamin emisi.
IPO Grab-Altimeter
Selain tiga unicorn tersebut, decacorn Grab sudah melangkah lebih
maju dalam rencana untuk menggelar IPO di Nasdaq, AS . Grab
Holdings Inc menggandeng SPAC
Altimeter Growth Corp. Aksi IPO
tersebut menargetkan perolehan
dana segar hingga US$ 4,5 miliar.
Aksi ini berpotensi menjadi penawaran saham terbesar yang pernah
ada oleh perusahaan Asia Tenggara
di Bursa AS.
Altimeter Growth dan Grab akan
menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan
induk baru. Perusahaan gabungan
tersebut diharapkan memiliki valuasi ekuitas secara proforma sekitar US$ 39,6 miliar serta investasi
swasta pada ekuitas publik (private
investment in public equity/PIPE)
senilai US$ 4 miliar. Altimeter telah
memberikan komitmen hingga US$
500 juta sebagai bentuk contingent
investments.
Berdampak Positif
Founder & CEO Digital Enterprise
Indonesia Bari Arijono menyatakan
bahwa mega-merger Gojek dan Tokopedia dan langkah IPO dapat dipandang dari tiga sisi. Pertama, merger
dan IPO ini akan sangat menguntungkan investor penyandang dana. IPO
yang akan melibatkan SPAC merupakan kepentingan investor, yang kurang
memberikan manfaat bagi ekonomi
digital di Indonesia dan dampaknya
ke masyarakat. Startegi meraih dana
global dengan menggandeng SPAC ini
sukses dijalankan di AS, Hongkong,
Jepang, dan Tiongkok.
Kedua, merger ini bukan dalam
rangka meningkatkan skala ekonomi
perusahaan. Ketiga, merger ini cenderung menghilangkan kesempatan
bagi milenial untuk berinovasi. Visi
misi awal yang diusung Gojek dan
Tokopedia bisa jadi kehilangan arah
dan marwahnya, karena disetir oleh
investor.
Sedangkan Direktur Panin Asset
Management Rudiyanto berpendapat, rencana IPO sejumlah unicorn-decacorn akan memperkaya pilihan
por tofolio saham bagi investor,
khususnya saham teknologi dengan
kapitalisasi besar yang selama ini belum ada. Hal ini tentunya akan sangat
menarik lebih banyak dana asing
yang masuk ke bursa domestik.
Dia yakin IPO unicorn akan disambut positif pelaku pasar dan
investor. “Dengan kapitalisasi pasar
yang besar, manajer investasi juga
akan mempertimbangkan sebagai
bagian dari portofolio reksa dana,”
katanya kepada Investor Daily.
Hal senada dikemukakan Presiden
Direktur Shinhan Asset Management Indonesia Tjiong Toni.
Menurut dia, bursa akan menjadi lebih menarik buat investor
asing maupun domestik, karena
menambah pilihan emiten berkapitalisasi besar kategori new economy.
“Yang ada sekarang hanya ada lima
saham sekelas super bluechip seperti
BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII.
Mereka adalah perusahaan old era
economy,” ujarnya.
(Oleh - HR1)
Tags :
#UnicornPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023