;

Valuasi Mega-IPO Unicorn US$ 100 M

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 10 May 2021 Investor Daily, 10 Mei 2021
Valuasi Mega-IPO Unicorn US$ 100 M

JAKARTA – Rencana raksasa unicorn dan decacorn Indonesia untuk go public akan dipercepat. Beberapa unicorn-decacorn yang berniat menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sudah menyerahkan dokumen ke PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kini masih diproses.

Unicorn atau decacorn terutama yang berniat melantai di bursa domestik dan luar negeri (dual listing), harus menyelesaikan sejumlah prosedur dan administrasi yang diperlukan. Sejauh ini, mega-IPO empat unicorn dan decacorn yang menggelar dual listing berpotensi menghasilkan valuasi sekitar US$ 100 miliar. Di lain sisi, BEI harus merevisi peraturan pencatatan agar dapat mengakomodasi IPO perusahaan new economy yang berbeda dengan perusahaan konvensional. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan, sampai saat ini terdapat tiga perusahaan unicorn dan decacorn yang telah menyerahkan dokumennya untuk mempersiapkan diri menggelar IPO. Namun demikian, Inarno belum bisa menjelaskan secara detail siapa saja yang telah menyerahkan dokumen tersebut.

Untuk investor domestik, PT Astra International menginjeksikan total dana senilai US$ 250 juta dalam dua tahap, yakni US$ 150 juta pada 2018 dan US$ 100 juta pada 2019. Selain itu, PT Telkomsel mengalirkan dana US$ 150 juta ke Gojek. Ada juga Northstar Pacific milik pengusaha kondang Patrick Waluyo. Beberapa nama investor besar luar negeri yang berada di belakang Gojek adalah Facebook, Google, Sofbank,Temasek (Anderson Investment Pte Ltd), Tencent Holdings, Paypal, Sequoia Capital, Allianz Strategic Investments SARL, Asean China Investment Fund (US) III LP, London Residential II SARL,PT Asuransi Jiwa Sequis Life, PT Union Sampoerna. Sedangkan investor besar penyuntik dana Tokopedia adalah Softbank, Alibaba (Taobao Cina Holdings), Temasek (Anderson Investments Pte), Google, Masayoshi Son, Sequoia Capital, East Venture, Radiant Pioneer Limited, Radiant Trinity Limited. Temasek dan Google pada Oktober 2020 dikabarkan menyuntikkan dana ke Tokopedia senilai US$ 350 juta.

Bukalapak dan Traveloka 

Bukalapak dan Traveloka juga berniat dual listing, yakni di BEI dan di Nasdaq, AS. Traveloka tengah dalam pembicaraan lanjutan dengan SPAC Bridgetown Holdings Ltd untuk memuluskan jalan ke bursa AS. Keduanya berencana merger dan perusahaan gabungan itu berpotensi menaikkan valuasi Traveloka yang dinakhodai oleh Ferry Unardi ini menjadi  sekitar US$ 5 miliar. Transaksi tersebut berpotensi menggalang dana sekitar US$ 500-750 juta melalui skema investasi swasta di ekuitas publik (private investment in public equity/PIPE).

Sebagai salah satu perusahaan teknologi terdepan di Asia Tenggara, kata Reza, pencatatan saham Traveloka di Wall Street akan menempatkan perseroan pada liga yang sama dengan perusahaan teknologi kelas dunia lainnya yang juga tercatat di bursa AS tersebut. Demikian pula Bukalapak berniat listing di bursa AS melalui skema SPAC. Aksi merger dengan SPAC itu diperkirakan akan menghasilkan valuasi sekitar US$ 4-5 miliar. Bukalapak baru saja mengantongi pendanaan baru hingga US$ 234 juta yang dipimpin oleh Microsoft, GIC Singapura, dan Emtek. Untuk IPO di BEI, Bukalapak menunjuk Mandiri Sekuritas sebagai penjamin emisi.

IPO Grab-Altimeter

Selain tiga unicorn tersebut, decacorn Grab sudah melangkah lebih maju dalam rencana untuk menggelar IPO di Nasdaq, AS . Grab Holdings Inc menggandeng SPAC Altimeter Growth Corp. Aksi IPO tersebut menargetkan perolehan dana segar hingga US$ 4,5 miliar. Aksi ini berpotensi menjadi penawaran saham terbesar yang pernah ada oleh perusahaan Asia Tenggara di Bursa AS. Altimeter Growth dan Grab akan menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan induk baru. Perusahaan gabungan tersebut diharapkan memiliki valuasi ekuitas secara proforma sekitar US$ 39,6 miliar serta investasi swasta pada ekuitas publik (private investment in public equity/PIPE) senilai US$ 4 miliar. Altimeter telah memberikan komitmen hingga US$ 500 juta sebagai bentuk contingent investments.

Berdampak Positif 

Founder & CEO Digital Enterprise Indonesia Bari Arijono menyatakan bahwa mega-merger Gojek dan Tokopedia dan langkah IPO dapat dipandang dari tiga sisi. Pertama, merger dan IPO ini akan sangat menguntungkan investor penyandang dana. IPO yang akan melibatkan SPAC merupakan kepentingan investor, yang kurang memberikan manfaat bagi ekonomi digital di Indonesia dan dampaknya ke masyarakat. Startegi meraih dana global dengan menggandeng SPAC ini sukses dijalankan di AS, Hongkong, Jepang, dan Tiongkok. Kedua, merger ini bukan dalam rangka meningkatkan skala ekonomi perusahaan. Ketiga, merger ini cenderung menghilangkan kesempatan bagi milenial untuk berinovasi. Visi misi awal yang diusung Gojek dan Tokopedia bisa jadi kehilangan arah dan marwahnya, karena disetir oleh investor.

Sedangkan Direktur Panin Asset Management Rudiyanto berpendapat, rencana IPO sejumlah unicorn-decacorn akan memperkaya pilihan por tofolio saham bagi investor, khususnya saham teknologi dengan kapitalisasi besar yang selama ini belum ada. Hal ini tentunya akan sangat menarik lebih banyak dana asing yang masuk ke bursa domestik. Dia yakin IPO unicorn akan disambut positif pelaku pasar dan investor. “Dengan kapitalisasi pasar yang besar, manajer investasi juga akan mempertimbangkan sebagai bagian dari portofolio reksa dana,” katanya kepada Investor Daily. Hal senada dikemukakan Presiden Direktur Shinhan Asset Management Indonesia Tjiong Toni. Menurut dia, bursa akan menjadi lebih menarik buat investor asing maupun domestik, karena menambah pilihan emiten berkapitalisasi besar kategori new economy. “Yang ada sekarang hanya ada lima saham sekelas super bluechip seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII. Mereka adalah perusahaan old era economy,” ujarnya.

(Oleh - HR1)

Tags :
#Unicorn
Download Aplikasi Labirin :