Emas
( 192 )Sempat Catatkan Rekor, Harga Emas Melemah
Harga emas yang menjadi komoditas investasi favorit masyarakat Indonesia terjerembap setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu. Pengamat memprediksi penurunan harga akan terus berlanjut imbas perbaikan data ekonomi di AS. Harga emas di pasar spot pada Jumat (24/5) turun menjadi 2.330 USD per troy ons, mendekati posisi terendah dalam dua minggu terakhir. Pada Senin (20/5) harga emas batangan mencapai rekor tertinggi, di 2.449,89 USD per troy ons dan menyebabkan kenaikan 14 % sejak awal tahun. Perubahan harga emas ikut tertransmisi ke harga emas dalam negeri. Situs Logam Mulia, milik PT Aneka Tambang Tbk, Jumat, mencatatkan penurunan harga emas batangan satu gram sebesar Rp 20.000 menjadi Rp 1.325.000, kembali seperti harga di pertengahan Mei.
Ahli strategi komoditas di TD Securities, Daniel Ghali, mengatakan, penurunan harga terjadi karena aksi jual emas oleh para investor yang khawatir dengan data ekonomi AS terbaru. Pada Kamis (23/5), data awal S&P Global untuk manufaktur, jasa, dan Indeks Manajer Pembelian (PMI) komposit bulan Mei menunjukkan peningkatan aktivitas bisnis di AS. Pada saat yang sama, jumlah pengangguran di AS lebih sedikit daripada perkiraan sehingga menunjukkan kekuatan di pasar tenaga kerja. Situasi tersebut juga mengindikasikan kecenderungan kenaikan inflasi yang dapat disusul kenaikan suku bunga. Beberapa pejabat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), menyampaikan hal tersebut dalam risalah rapat bulanan mereka. Investor emas pun semakin khawatir dengan penurunan suku bunga AS akibat menguatnya aktivitas bisnis di sana. (Yoga)
STRATEGI INVESTASI : Kiat Beli Emas Batangan
Emas batangan bisa menjadi salah satu pilihan untuk investasi jangka panjang. Kadar emasnya yang tinggi membuat nilai emas batangan cenderung naik, terutama disimpan dalam jangka waktu yang lama. Lalu, apa yang harus diperhatikan saat membeli emas batangan untuk investasi?Dilansir dari Dataindonesia.id, berikut cara memilih emas batangan untuk investasi. Pertama, Tetapkan tujuan investasi, apakah dana tersebut akan dipakai dalam jangka waktu dekat atau 1—2 tahun, atau jangka menengah dan panjang lebih dari 3 tahun. Kedua, tentukan ukuran emas yang akan dibeli. Ketiga, pertimbangkan ketersediaan dan Keempat, cek tingkat kemurnian emas dengan kandungan 24 karat, 18 karat, dan 12 karat.
Kelima, pertimbangkan tempat penyimpanan. Jika ingin menyimpan di rumah, kotak brankas dapat menjadi pilihan untuk penyimpanan. Namun, jika ingin menyimpan di lembaga keuangan, maka layanan Safe Deposite Box dengan biaya tahunan yang sudah ditentukan juga dapat dipertimbangkan. Keenam, tempat tepercaya. Beli lah emas di tempat tepercaya agar terhindar dari investasi bodong atau barang yang palsu. Cek kredibilitas tempat penjualan emas batangan di lembaga resmi atau lembaga keuangan yang diawasi OJK.
Kemilau Emas Bikin HRTA Cemerlang
Permintaan dan harga emas yang semakin berkilau menyebabkan kinerja PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) cemerlang selama tiga bulan pertama 2024. Top line dan bottom line emiten perdagangan emas ini kompak tumbuh. Merujuk laporan keuangan, HRTA meraih laba bersih sebesar Rp 102,69 miliar pada kuartal I-2024. Keuntungan ini melonjak 47,05% dibandingkan hasil di periode yang sama tahun lalu. Kala itu sebesar Rp 69,83 miliar. Penjualan HRTA pada kuartal I-2024 hampir seluruhnya dari segmen perhiasan dan logam mulia senilai Rp 4 triliun, melonjak 90,47% secara tahunan.
Seiring lonjakan penjualan, beban pokok pendapatan HRTA melejit 96,33% secara tahunan menjadi Rp 3,75 triliun. Walhasil, laba bruto HRTA Rp 258,6 miliar, tumbuh 26,05% dari Rp 205,15 miliar pada Maret 2023.
Direktur Hubungan Investor Hartadinata Abadi, Thendra Crisnanda menerangkan, lonjakan pendapatan HRTA didorong lonjakan volume penjualan emas murni. Yakni meningkat 73,92% dari sebelumnya 2,16 ton menjadi 3,76 ton pada kuartal I-2024.
"Sebanyak 82,96% dari penjualan dilakukan grosir, termasuk ekspor. Diikuti penjualan ritel 16,66% dan bisnis pegadaian 0,32%," terangnya ke KONTAN, Senin (6/5).
Melonjaknya Harga Emas dan 'Senjakalaning' Dolar
Emas telah kembali ke sistem moneter internasional. Labih dari 50 tahun yang lalu, Presiden AS Richard Nixon "menutup jendela emas" (mengakhiri konvertibilitas dolar AS dengan nilai tukar tetap terhadap emas), dan obsesi dunia terhadap logam mulia tersebut akhirnya surut. Era baru mata uang fiat telah dimulai. namun kini, uang kertas ditantang oleh kekhawatiran fiskal dan teknologi baru (blokchains/distributed ledgers), dan harga emas telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa di atas US$ 2.400 per ounce. Goldbugs tentu saja berpendapat bahwa logam mulia tetap merupakan investasi ideal untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Namun, salah jika kita percaya bahwa harga emas itu stabil secara unik. Sebaliknya, harga tersebut mengukur kurva tingkat keamanan global. kalau terjadi lonjakan harga emas, berarti dunia mengalami era ketidakamanan yang signifikan. (Yetede)
Peluang di Tengah Ketidakpastian
Dalam bahasa Mandarin, krisis disebut weiji, ’wei’ yang
artinya bahaya dan ’ji’ yang berarti peluang. Jadi, dalam setiap krisis, tak
hanya ada bahaya, tetapi juga peluang. Saat ini dunia dilanda ketidakpastian
yang tinggi. Dalam webinar yang digelar IDN Times pekan lalu, ekonom senior
Mari Elka Pangestu mengatakan, memanasnya konflik antara Israel dan Iran akan
meningkatkan tensi ketidakpastiaan ekonomi. Fenomena ini memicu serangkaian
tindakan yang makin menekan perekonomian. Hal ini akan membuat harga minyak
dunia terkerek naik. Sebab, Israel dan Iran adalah negara di jazirah Timur
Tengah, yang merupakan kawasan pemasok minyak dunia. Ketika terjadi ketegangan
di kawasan itu, pasokan akan berkurang, sementara permintaan minyak dunia
tetap. Harga pun segera naik, yang bakal memicu inflasi global, termasuk di
Indonesia. Hal ini akan menggerus daya beli masyarakat sehingga laju ekonomi
bakal melambat.
Selain ketegangan geopolitik, tekanan untuk perekonomian
Indonesia bertambah seiring depresiasi rupiah. Mengutip kurs Jakarta Interbank
Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah pada perdagangan Senin (22/4) ditutup di level
Rp 16.224 per USD. Ekonom Senior Bambang Brodjonegoro mengatakan, sebelum
konflik Iran dan Israel memanas, sejatinya kurs USD menguat dibandingkan mata
uang dunia lainnya, termasuk Indonesia dikarenakan bank sentral AS, The Federal
Reserve (The Fed), diprediksi belum akan menurunkan suku bunga acuannya dalam
waktu dekat. Karena suku bunga The Fed masih tinggi, investor menilai investasi
dalam aset berdenominasi USD lebih menguntungkan. Akhirnya, pemodal di seluruh
dunia menarik uangnya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk dipindah
ke AS. Dampaknya, terjadi arus modal keluar (capital outflow) dari Indonesia. Pasokan
dollar AS di dalam negeri pun menurun, yang membuat nilainya menguat terhadap
rupiah.
Baik Bambang maupun Mari mengatakan, dalam kondisi seperti
ini akan muncul fenomena ”flight to safety” dari para pemodal dunia. Para pemodal
akan memindahkan asetnya ke instrumen yang risikonya lebih rendah. Investor
akan cenderung memindahkan dananya pada aset-aset berdenominasi USD, seperti US
Treasury Bond atau Obligasi Negara AS. Dengan suku bunga acuan The Fed yang
masih tinggi, ’memegang’ instrumen itu akan jadi keuntungan bagi investor. Selain
itu, instrumen yang selalu laris manis di kala dunia penuh ketidakpastian
adalah logam mulia atau emas. Mengutip Logammulia.com, harga emas pada Minggu
(21/4) Rp 1,34 juta per gram, meningkat Rp 37.000 per gram atau 2,82 %
dibanding harga pekan sebelumnya (Minggu, 14/4). Jika ditarik dari awal tahun, harga
emas sudah naik Rp 218.000 atau 19,30 %. (Yoga)
Saham Emiten Emas Bersinar
Menjual Perhiasan Pascalibur Lebaran
LOGAM MULIA : Saham Emiten Emas Unjuk Gigi
Harga emas global yang mengukir rekor harga di atas US$2.300 per ons menyulut apresiasi harga saham emiten-emiten yang memiliki portofolio bisnis emas. Pada perdagangan Selasa (16/4), mayoritas saham emiten-emiten pertambangan emas parkir di zona hijau. Hal itu tak terlepas dari sentimen harga emas global yang meroket di tengah perang Iran-Israel. Merujuk Bloomberg, harga emas spot bertengger di level US$2.372,88 per ons dan emas Comex dibanderol US$2.390 per ons pada perdagangan kemarin. Di lantai bursa, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menguat 8,38% ke level Rp1.810.
Selanjutnya, tambang emas PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) milik Garibaldi Thohir juga melesat 9,92% atau 260 poin ke level Rp2.880 per saham. Selain itu, saham PT Bumi Resources Mineral Tbk. (BRMS) milik Grup Bakrie menguat 6,25% ke Rp170 per saham. Saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) juga mendarat di teritori positif dengan penguatan 2,25% ke level Rp364. Senada, saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) memantul 3,96% ke level Rp26.250 per saham. Dari sisi emiten, Corporate Secretary Division Head Antam Syarif Faisal Alkadrie meyakini kenaikan harga emas merupakan berkah bagi ANTM. Dia menyebutkan sampai dengan saat ini, komoditas emas yang menjadi instrumen safe haven itu masih menjadi penyumbang 62% pendapatan ANTM.
Reli Harga Emas Tuntas pada April
Harga emas telah mengalami reli kenaikan lebih dari 6 % dlam
sebulan terakhir dan memecahkan rekor hingga saat ini. Analis memprediksi reli
ini akan selesai April ini, kemudian harga emas akan kembali turun pada Mei. Mengutip
situs Gold Price, harga emas pada perdagangan Senin (8/4) dini hari waktu New
York kembali menembus rekor tertinggi, 2.344,22 USD per troy ons. Level itu naik
31,56 poin atau 1,41 % dari harga emas pada penutupan perdagangan Jumat lalu
yang juga sempat memecahkan harga tertinggi di angka 2.329 USD per troy ons.
Catatan rekor ini meningkat lebih dari 6 % dari bulan lalu,
yakni 2.100-2.150 USD per troy ons. Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim
Assuaibi. Ia menyebutkan, pelaku pasar besar di Asia, Amerika, dan Eropa sudah
pasang posisi untuk ambil untung di level 2.350 USD per troy ons, yang diperkirakan
tercapai bulan ini. Setelah itu, harga emas kemungkinan akan mengalami bearish.
”Kemungkinan harga emas akan jatuh, sampai 2.100 USD per troy ons,” ungkap
Ibrahim kepada wartawan, Sabtu (6/4). (Yoga)
Toko Perhiasan Diserbu Pelanggan
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









