;
Tags

Ekonomi Internasional

( 642 )

Indonesia di Era De-Risking

KT1 22 May 2025 Investor Daily (H)
Indonesia saat ini berada di di persimpangan jalan di mana berlangsung pergeseran peta perekonomian global. Dunia pasca-pandemi, yang disusul dengan penataan ulang peta geopolitik dan gelombang kebijakan industri baru di negara-negara besar, telah mengubah aturan permainan  perdagangan dunia. Di tengah dinamika ini, perusahaan global mempertimbangkan kembali di mana dan bagaimana mereka memproduksi barang. Ini membuka peluang langka bagi Indonesia untuk memposisikan diri sebagai simpul kunci dalam jaringan manufaktur global. Sudah beberapa dekade ini Indonesia bercita-cita untuk menjadi lebih dari sekedar negara pengekspor komoditas. Kita memiliki populasi, lokasi geografis, dan kelas menengah yang berkembang untuk mendukung basis manufaktur yang kuat. Namun, kinerja industri kita tertinggal dari negara lain di kawasan ini. Sementara Vietnam, Thailand, dan Malaysia telah melangkah pesat untuk berintegrasi ke dalam rantai nilai global, kontribusi sektor manufaktur Indonesia terhadap PDB justru terus menurun dari sekitar 30% pada awal 2000-an menjadi di bawah 19% saat ini. Tren ini menimbulkan pertanyaan yang mengusik: apakah kita kehilangan momentum. (Yetede)

Konflik India-Pakistan Dapat Mempengaruhi Ekspor Sawit Indonesia

KT1 21 May 2025 Investor Daily
Eskalasi konflik antara India dan Pakistan dapat berdampak terhadap kinerja ekspor komoditas minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia. Dua negara  itu salah satu mitra ekspor utama, dengan India menyumbang 14,8% dan Pakistan 10,5% dari total ekspor CPO Indonesia, sehingga memburuknya konflik tersebut dapat mempengaruhi kestabilan permintaan dari kedua negara. "Jadi ada 20%, hampir 25% dari CPO kita ekspor ke dua negara itu. Tentu saja, kalau konfliknya kian memburuk akan berdampak pada permintaan dari kedua negara tersebut terhadap ekspor CPO Indonesia," papar Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro. Karena itu kedua negara diharapkan bisa rekonsiliasi dalam waktu dekat, sehaingga tidak menambah geopolitik yang dapat memperburuk kondisi perekonomian global. "Kalau kita lihat dalam beberapa hari terakhir  perkembangannya juga cukup positif karena kedua negara itu melakukan gencatan senjata dan saya akan lihat terjadi rekonsiliasi juga di sini," ujar Andry. Selain dampak dari ketegangan India-Pakistan Pemerintah RI juga harus tetao mewaspadai dampak penerapan tarif resiprokal oleh AS serta perang dagang antara AS dan China yang mengakibatkan banyak negara mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi di triwulan 1-2025. (Yetede)

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2026 yang Ditargetkan 5,2%-5,8%

KT1 21 May 2025 Investor Daily (H)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 yang ditargetkan 5,2%-5,8% dinilai sebagai langkah yang terlalu kecil dan tidak mencerminkan ambisi yang cukup kuat untuk  mendorong lopmatan pembangunan, termasuk untuk mengapai pertumbuhan ekonomi 8%. Padahal, Indonesia memerlukan lebih dari sekedar pertumbuhan yang moderat bila  ingin lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) sebagai syarat untuk menjadi negara maju. Target pertumbuhan ekonomi tahun depan yang kurang "berani" itu ditengarai karena masih mengandalkan formula  lama yakni konsumsi rumah tangga sebagai motor utama. Sementara ketergantungan berlebih terhadap konsumsi domestik menyimpan risiko sendiri.

Saat kenaikan harga menekan dan pendapatan melemah, daya beli masyarakat akan cepat tergerus. Selain itu, ekonomi berbasis konsumsi tanpa disertai transformasi produksi, hanya menciptakan pertumbuhan semu. Melalui reformasi struktural yang berani dan konsisten, pertumbuhan ekonomi tinggi bukanlah hal yang dibuktikan oleh sejumlah negara. Melalui reformasi struktural, pemerintah perlu membalik strategi dengan memperkuat sektor tradable (sektor yang output-nya adalah barang dan jasa yang diperdagangkan  secara internasional) dan memperluas industrialisasi bernilai tambah tinggi yang mampu menciptakan pekerjaan formal secara masif dan berkelanjutan. (Yetede)

Minat Investor ke SBN Makin Tinggi

KT1 20 May 2025 Investor Daily
Kepala Badan kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febri Kacaribu mengatakan, minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) makin tinggi di tengah gejolak perekonomian global. Hal itu mencerminkan investor makin percaya terhadap fiskal dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. "Dibandingkan awal tahun, imbal hasil (yield) SBN 10 tahun kita masih rendah. Ini banyak terjadi khususnya dalam satu bulan terakhir," kata Febrio. Adapun Yield SBN 10 tahun turun 2 basis poin (bps) menjadi 7,00% secara tahun berjalan  (year-to-year/ytd) pada kuartal 1-2025. Meski sempat naik setelah pengumuman tarif resiprokal AS, yield kembali turun sebesar 4,5 bps ke level 6,98% pada 22 April 2025. Mengingat hubungan terbaik antara harga SUN dan yield, maka penurunan yield menunjukkan minat investor yang tetap tinggi terhadap obligasi Pemerintah Indonesia. Febrio optimistis kepercayaan investor terhadap intrusmen utang pemerintah Indonesia didorong oleh perbaikan kinerja fiskal dan ekonomi. Dari segi fiskal, pendapatan negara menunjukkan pemulihan utamanya melalui penerimaan pajak, pendapatan negara menunjukkan pemuliha  utamanya melalui penerangan pajak. (Yetede)

Perdagangan Global Melambat

KT1 20 May 2025 Investor Daily (H)
Setelah bertahun-tahun diguncang pendemi, gangguan karena perang, dan kalibrasi ulang perekonomian dunia, perdagangan global sekali lagi berada di persimpangan jalan. Tapi, kali ini sinyalnya lebih keras: 2025 bukan waktunya bisnis seperti biasa. Badan -badan internasional terkemuka dan WTO hingga IMF membunyikan alarm. WTO memperkirakan perdagangan barang global akan menyusut sebesar 0,2% pada tahun 2025. Jika gesekan geopolitik saat ini memburuk, penurunan itu bisa makin dalam menjadi 1,5%. IMF sedikit lebih optimistis, memperoyeksikan  pertumbuhan perdagangan besar 1,7%- ini semua merupakan angka-angka yang demikian rendah dibanding tahun-tahun 'booming' perdagangan yang dahulu mendorong proses globasilisasi. Pesannya jelas: perdagangan global sedang melambat, dan pilihan kebijakan saat ini akan menentukan apakah kita akan tersandung-sandung untuk sementara waktu atau berantakan dalam jangka panjang. Kita menyaksikan perubahan bersejarah. Ideologi pasar terbuka dan perdagangan multilateral yang pernah dominan kini memberikan jalan bagi nasionalisme ekonomi, aleniasi strategis, dan kebijakan yang semakin intervensionis. (Yetede)

RI Gaet Modal Thailand untuk Proyek Strategis

HR1 20 May 2025 Bisnis Indonesia

Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk mempererat hubungan strategis Indonesia-Thailand melalui sektor energi dan investasi. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra di Government House, Prabowo secara terbuka mengundang entitas asal Thailand untuk berpartisipasi dalam pengembangan sektor energi di Indonesia, termasuk transisi ke energi bersih dan energi terbarukan.

Sebagai langkah nyata, Indonesia akan mengaktifkan kembali Indonesia-Thailand Energy Forum tahun ini, yang menjadi wadah penting untuk dialog dan kerja sama strategis di bidang energi antara kedua negara. Di sisi lain, kerja sama investasi juga diperkuat melalui pemanfaatan platform sovereign wealth fund (SWF), di mana Indonesia akan menggunakan Danantara sebagai kendaraan utama investasi lintas negara.

Menurut Menteri Luar Negeri Sugiono, kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari diplomasi ekonomi kedua negara dan menunjukkan kesiapan Danantara sebagai superholding yang memiliki mandat mengelola investasi strategis. Ia juga menyoroti peran penting Thaksin Shinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand sekaligus ayah PM Paetongtarn, yang kini menjadi bagian dari Dewan Pengawas Danantara, sebagai simbol kedekatan dan kepercayaan antara kedua negara.

Secara keseluruhan, langkah Presiden Prabowo ini mencerminkan arah kebijakan luar negeri yang pro-investasi dan memperkuat ketahanan energi nasional melalui kemitraan regional yang inklusif, strategis, dan berkelanjutan.


Tarif Trump Bagian dari Agenda Strategi yang Mahal

KT1 19 May 2025 Investor Daily (H)
Para mitra dagang AS di seluruh dunia mungkin bisa sedikit berharap setelah pejabat tinggi negara itu dan China mencapai kepepahaman sementara untuk memangkas tarif atas produk-produk  tertentu. Langkah ini bisa menjadi sinyal positif di tengah kekhawatiran bahwa ekonomi global akan mengalami perlambatan paling parah sejak pandemi Covid-19. Namun apa sebenarnya landasan dari kebijakan tarif Trump? kebijakan tarif yang diumumkan pada 2 April 2025 ini mencerminkan pendekatan strategis besar, bukan sekedar kayakinan bawah tarif tinggi akan menyelesaikan defisit perdagangan AS. Kebijakan yang diberikan label hari Pembebasan tersebut menetapkan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor (kecuali dari Kanada dan Mexico), serta tambahan tarif resiprokal terhadap sekitar 60 negara berdasarkan tuduhan praktik dagang yang tidak adil. Strategi ini dibingkai sebagai deklarasi kemandirian ekonomi untuk mengoreksi hubungan dagang yang menurut Trump selama ini merugikan manufaktur dan pekerja AS. Berdasarkan pernyataan dan kebijakan Trump sejak menjabat, tampak jelas bahwa tarif ini merupakan bagian dari agenda nasionalisme ekonomi dan geopolitik yang lebih luas. (Yetede) 

Trump Angkut Komitmen Investasi Ratusan dari UEA

KT1 17 May 2025 Investor Daily
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (16/5/2025) mengakhiri lawatan bisnisnya ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Ia membawa pulang kesepakatan antara lain dengan UEA, yang berjanji meningkatkan nilai investasi energinya di AS menjadi US$ 440 miliar dalam satu dekade mendatang. Trump juga mengatakan bahwa UEA dan AS telah menyetujui jalur bagi negara-negara di kawasan Teluk untuk membeli semikonduktor kecerdasan buatan (AI) canggih dari perusahaan-perusahaan AS. Hal ini sekaligus menandai kemenangan besar UEA untuk menjadi pusat AI global. Trump pulang ke Washington setelah mengadakan  pertemuan dengan para pemimpin negara-negara Teluk pada Jumat. Tujuan utama lawatan ke Timur Tengah adalah mendapatkan komitmen investasi dari para produsen yang kaya akan cadangan energi, guna meningkatkan ekonomi AS dan menciptakan lapangan kerja. Sebelumya pada Maret, UEA telah menyampaikan komitmennya satu pertemuan pejabat seniornya dengan Trump. Saat itu, UEA menjanjikan kerangka kerja investasi selama 10 tahun dengan nilai US$ 1,4 triliun untuk berbagai sektor termasuk energi, kecerdasan buatan, dan manufaktur guna memperdalam hubungan timbal balik. (Yetede)

Perekonomian Nasional Tetap Terjaga di Tengah Tekanan Global

KT1 17 May 2025 Investor Daily (H)
Pemerintah menegaskan, perekonomian nasional tetap terjaga di tengah tekanan global. Hal ini ditopang oleh stabilitas makroekonomi yang terus terjaga, pengendalian tingkat inflasi secara konsisten, serta berbagai langkah strategis lainnya yang terus diperkuat. Data BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2025 mencapai 4,87%. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran PDB atas dasar harga konstan mencapai  Rp5.695,9 triliun, dan atas dasar konstan mencapai  Rp3.264.5 triliun pada triwulan IV-2024 perekonomian Indonesia terkontraksi 0,98%. Adapun pencapaian pertumbuhan ekonomi pada triwulan 1-2025. Jika dibandingkan 5,02% pada kuartal sebelumnya, dan menjadi laju paling lambat sejak triwulan III-2021. Adapun data  ekonomi Jepang pada triwulan 1-2025 yang dirilis pada Jumat (16/5/2025) tercatat terkontraksi untuk pertama kalinya dalam setahun. Dari data awal pemerintah Jepang, produk domestik bruto (PDB) terkontraksi 0,2% secara kuartalan (qtq), karena ekspor menurun tajam. Pertumbuhan ekonomi AS juga melambat tajam pada triwulan 1-2025, seiring banyak pelaku bisnis yang berlomba-lomba menimbun barang mnejelang kenijakan tarif besar-besaran Presiden AS Donald Trump. PDB AS menyusut 0,3%, turun dari pertumbuhan 2,4% dalam tiga bulan terakhir pada 2024. (Yetede)

Australia Kian Serius Jadikan RI Mitra Strategis

HR1 16 May 2025 Bisnis Indonesia

Pertemuan bilateral antara Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen kuat kedua negara dalam mempererat hubungan strategis di kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik. PM Albanese menyatakan bahwa Indonesia merupakan mitra penting bagi Australia dalam mendorong kemakmuran, keamanan, dan stabilitas regional, sembari menekankan kunjungannya ke Indonesia sebagai bentuk nyata dari prioritas hubungan bilateral ini.

Presiden Prabowo menyambut baik dukungan Australia terhadap Indonesia, termasuk kemudahan visa bisnis lima tahun, fasilitas pendidikan bagi pelajar Indonesia di Australia, serta dukungan atas pencalonan Indonesia di CPTPP dan OECD. Ia juga mengapresiasi peran aktif Australia dalam mendorong keterlibatan Indonesia di kawasan Pasifik Selatan.

Kedua pemimpin menunjukkan tekad bersama untuk memperkuat kerja sama lintas bidang, menjadikan hubungan Indonesia-Australia semakin strategis dan saling menguntungkan di tengah dinamika geopolitik kawasan.