Ekonomi Internasional
( 635 )AS Membujuk Korea Selatan Ikut Memboikot Huawei
AS mencoba terus mencari sekutu dalam memusuhi Huawei Technologies Inc. Setelah gagal di banyak negara Eropa, AS tampaknya mencoba mendekati Korea Selatan agar ikut menghentikan penggunaan produk-produk dari Huawei. Kantor resmi AS sudah meminta LG Uplus, perusahaan manufaktur di Korea Selatan, agar menghentikan pasokan dari Huawei. Namun, meskipun menjadi sekutu AS, kemungkinan Korea Selatan menolak produk Huawei sulit terwujud. Soalnya hampir 25% ekspor Korea Selatan pada empat bulan awal tahun 2019 menuju ke China.
OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi
Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Perang dagang AS-China yang kembali memanas menjadi alasannya. OECD memproyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2019 menjadi 3,2% dari sebelumnya 3,3%. Meski memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi, lembaga itu memperkirakan ada peluang pertumbuhan lebih baik menjadi 3,4% pada tahun 2020. OECD meminta AS-China segera menyelesaikan persoalan yang menghambat negosiasi dagang.
AS Kembali Memblokir Perusahaan China
Setelah Huawei Technologies, AS sedang mempertimbangkan sanksi untuk perusahaan pengawas video China Hikvision. Sanksi ini akan membatasi Hikvision membeli teknologi AS. Sebaliknya, perusahaan AS harus mendapat izin pemerintah untuk memasok komponen ke Hikvision. Sama seperti dengan Huawei, Hikvision tak gentar dengan sanksi dari negeri Paman Sam itu. Sebagai informasi, sekitar 42% saham Hikvision dimiliki negara.
Korporasi AS Blokade Huawei
Lima perusahaan AS mengambil sikap atas kian memanasnya perang dagang AS-China. Kelima perusahaan itu terpaksa menangguhkan bisnis mereka dengan Huawei setelah Presiden Trump memasukkan perusahaan China itu ke dalam daftar hitam urusan perdagangan. Perusahaan yang menghentikan kerja sama dengan Huawei Technologies Co Ltd antara lain Alphabet, induk usaha Google, Intel Corp, Qualcomm Inc, Xilinx Inc dan Broadcom Inc.
Namun, Huawei kabarnya sudah mengantisipasi hal ini dengan menimbun cukup banyak cip dan komponen vital lain sejak pertengahan tahun lalu. Persediaannya diperkirakan cukup untuk bisnisnya selama tiga bulan. Selain itu, Huawei dikabarkan telah merancang chip sendiri.
Huawei dan 70 Afiliasi Masuk Daftar Hitam
AS melarang Huawei
dan afiliasinya membeli komponen dari perusahaan Amerika. Keputusan ini
diambil untuk mencegah teknologi Amerika digunakan oleh entitas asing yang
berpotensi merusak keamanan nasional atau kepentingan kebijakan luar negeri
AS. ZTE juga pernah terkena sanksi serupa. Tapi sanksi itu hanya berlaku
dalam jangka pendek.
Ekonomi China Mulai Kronis
Secara mengejutkan pertumbuhan penjualan ritel dan produk industri China merosot pada bulan April 2019. Meskipun masih naik 7,2% dari tahun sebelumnya, namun ini merupakan pertumbuhan terendah sejak Mei 2003. Data menunjukkan, konsumen sekarang mulai mengurangi pengeluaran untuk produk sehari-hari seperti perawatan pribadi dan kosmetik, sambil terus menghindari barang-barang yang lebih mahal seperti mobil. Ekspor China juga menyusut pada bulan April 2019.
The Fed Khawatir Efek Perang Dagang
Bank sentral AS, The Fed, mewaspadai kondisi ekonomi global yang terjadi beberapa pekan terakhir. Gejala yang patut diwaspadai adalah kian panasnya hubungan dagang AS-China dan penurunan prospek inflasi konsumen. Kondisi ini akan menciptakan volatilitas pasar baru dan serangkaian risiko baru. Jika tensi perang dagang meningkat terus, sangat mungkin The Fed memangkas bunga beberapa bulan lagi.
Perdamaian Dagang AS-China Berada di Ambang Kegagalan
Kemesraan AS-China tampaknya segera berakhir. Setelah berunding selama tiga bulan, negosiasi tarif kedua negara jauh dari sepakat. Sumber Reuters menyebutkan dari tujuh bab rancangan perjanjian dagang, China telah menghapus komitmennya mengubah Undang-Undang untuk menyelesaikan keluhan inti AS, yakni terkait pencurian kekayaan intelektual dan rahasia dagang, transfer teknologi paksa, kebijakan persaingan, akses layanan keuangan, dan manipulasi mata uang. Tak heran, Presiden Trump langsung merespon dengan ancaman untuk menaikkan tarif barang-barang impor China menjadi 25% dari sebelumnya 10%.
Perang Dagang, Arah Negosiasi AS-China Kian Tak Pasti
Pada saat pasar optimistis dengan gagasan bahwa perundingan dagang antara Amerika Serikat dan China sudah mendekati kesepakatan, muncul ancaman baru yang mengembalikan keadaan ke titik nol. Presiden AS Donald Trump secara dramatis meningkatkan tekanan kepada Beijing untuk segera mencapai kesepakatan dagang dengan mengancam akan menaikkan tarif atas barang asal China senilai US$200 miliar pada pekan ini dan akan menargetkan tarif pada produk tamabahan senilai miliaran dolar dalam waktu dekat.
Cuitan Trump di Twitter "Kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok berlanjut, tetapi terlalu lambat, karena mereka berusaha untuk melakukan negosiasai ulang kembali. Tidak!". Langkah ini menandai peningkatan besar dalam ketegangan antara ekonomi terbesar di dunia dan pergeseran sikap Trump, padahal belum lama ini dia menyampaikan proses perundingan dagang telah mengalami kemajuan. Alhasil, pasar saham merosot dan harga minyak jatuh karena negosiasi makin diliputi keraguan.
Pasar keuangan global, yang sebagian besar telah memperkirakan ekspektasi kesepakatan perdagangan, mengalami kejatuhan. Trump mengatakan, tarif barang US$200 miliar akan meningkat menjadi 25% dari 10%, membalikkan keputusan yang dibuat pada Februari untuk mempertahankan tarif pada level 10% setelah melihat kemajuan antara kedua belah pihak. Trump juga mengatakan akan menargetkan tambahan produk China senilai US$325 miliar dengan tarif 25% dalam waktu dekat. Kebijakan ini pada dasarnya menargetkan semua produk yang diimpor ke Amerika Serikat dari China.
Ekonomi Korea Selatan Melambat
Kabar tak sedap dari Negeri Ginseng Korea Selatan. Ekonomi Korea Selatan melambat pada kuartal I 2019 ini. Kondisi ini akan berdampak bagi negara lain karena Korea Selatan merupakan importir yang menopang pertumbuhan ekonomi dunia. Tak cuma Korea Selatan, perlambatan ekonomi di sejumlah negara importir lain di kawasan Asia Pasifik juga perlu diwaspadai. Hanya indikasi perlambatan masih sulit dibaca penyebabnya, apakah penurunan terjadi karena siklus ekonomi atau akibat adanya ketegangan perdagangan.
Pilihan Editor
-
Menkeu Terbitkan Aturan Jamin Pelaksanaan PSN
06 Apr 2021 -
Membangun Ekosistem Keuangan Digital
05 Apr 2021 -
Hegemoni Bank BUMN
19 Mar 2021 -
Crypto Art Jadi Peluang Usaha Seni di Indonesia
29 Mar 2021









