Pertamina
( 174 )Pemerintah Putuskan Relokasi Depo BBM Plumpang
JAKARTA, ID – Pemerintah memutuskan untuk merelokasi Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) atau Depo Plumpang, Jakarta milik Pertamina ke lahan milik PT Pelindo (Persero). Pembangunan depo baru direncanakan pada akhir 2024 mendatang, dengan estimasi waktu pembangunan sektar 2-2,5 tahun. Keputusan pemindahan lokasi Depo Plumpang merupakanhasil rapat antara Kementerian BUMN dengan PT Pertamina (Persero) di Jakarta, Senin (6/3). Rapat tersebut merupakan tindaklanjut dari arahan Presiden Joko Widodo kepada Menteri BUMN Erick Thohir dan Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono agar segera menetapkan solusi terkait insiden kebakaran tersebut. Presiden menyampaikan instruksi tersebut kepada awak media usai menyambangi posko korban kebakaran di RPTRA Rasela Rawabadak Selatan, Koja, Jakarta Utara, Minggu (5/3). “Nomer satu tentu arahan Bapak Presiden, solusi melayani, melindungi rakyat. Karena itu Pertamina memastikan perlindungan kepada rakyat sekitarnya kita jaga,” kata Erick usai rapat. Relokasi dilakukan menyusul terjadinya insiden kebakaran pipa penerima BBM dan menjalar ke pemukiman warga yang berada tidak jauh dari Depo. (Yetede)
Presiden Jokowi Minta Solusi Depo Plumpang Segera Diatasi
JAKARTA, ID – Presiden Joko Widodo menginstruksikan segera ditetapkan solusi terkait insiden kebakaran yang terjadi di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) atau Depo Plumpang, Jakarta. Alternatif solusinya dengan merelokasi depo terminal atau rumah penduduk yang direlokasi. “Ini akan segera diputuskan sehari dua hari ini oleh Pertamina, Gubernur DKI sehingga solusinya menjadi jelas,” kata Jokowi saat meninjau salah satu posko korban kebakaran di RPTRA Rasela Rawabadak Selatan, Koja, Jakarta Utara, Minggu (5/3). Menurut Jokowi, bisa saja Depo Plumpangnya digeser atau penduduknya yang digeser ke relokasi. Dia menegaskan area pemukiman warga di Plumpang termasuk zona berbahaya. Tak hanya Depo Plumpang, Jokowi pun memerintahkan agar seluruh zona yang berbahaya diaudit dan dievaluasi. “Semuanya memang harus zona-zona berbahaya, tidak hanya di sini saja, harus diaudit harus dievaluasi semuanya karena menyangkut nyawa,” tegas Jokowi. Sebelumnya Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin berharap Depo BBM Pertamina Plumpang, Jakarta utara bisa direlokasi ke area pelabuhan. Alasan keamanan menjadi salah satu pertimbangan. “Selanjutnya penataan daerah ini saya berharap supaya depo ini supaya lebih aman, itu bisa direlokasi di pelabuhan di daerah Pelindo,” katanya di Tanah Merah Plumpang, Jakarta Utara pada Sabtu (4/3).
Relokasi Jadi Solusi Jangka Panjang
Pemerintah mengkaji dua opsi relokasi sebagai solusi agar tragedi kebakaran Terminal Integrated BBM milik PT Pertamina (Persero) di Plumpang, Jakut, yang banyak menelan korban, tidak terulang. Opsi ini sempat mengemuka dalam insiden serupa pada 2009, tetapi tak pernah terealisasi hingga tragedi lebih parah terjadi lagi pada Jumat (3/3) malam. Saat mengunjungi korban kebakaran Depo Pertamina Plumpang yang mengungsi ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Rasela, Jakut, Minggu (5/3), Presiden Jokowi memerintahkan agar segera ditemukan solusi. Ada dua opsi yang bisa diambil, yakni menggeser lokasi depo atau memindahkan penduduk ke tempat relokasi. Prinsipnya, zona berbahaya tidak dapat lagi ditinggali penduduk.
”Terutama karena ini memang zona yang bahaya, tidak bisa lagi ditinggali, tetapi harus ada solusinya. Bisa saja (Depo) Plumpang digeser ke reklamasi atau penduduknya yang digeser, direlokasi,” kata Presiden. Terkait opsi itu, Presiden telah memerintahkan Menteri BUMN Erick Thohir dan Pj. Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono untuk segera mencari solusi. ”Semuanya memang harus, zona-zona berbahaya in tidak hanya di sini, harus diaudit,harus dievaluasi semuanya karena menyangkut nyawa. Tadi saya sudah perintahkan semuanya mengenai itu,” kata Presiden. Presiden Jokowi mengatakan, kejelasan solusi mengenai hal itu segera diputuskan dalam satu-dua hari ini oleh Pertamina dan Pj. Gubernur DKI Jakarta. (Yoga)
Tekanan Berlebih Diduga Picu Kebakaran Plumpang
Polisi memiliki dugaan sementara penyebab kebakaran di Terminal Integrated BBM milik PT Pertamina (Persero) di Plumpang, Kecamatan Koja, Jakut. Dari data dan keterangan sementara yang dihimpun polisi, kebakaran terjadi saat pengisian atau penerimaan minyak jenis pertamax dari Balongan, Indramayu, Jabar, di Depo Pertamina Plumpang, yang memicu tekanan berlebih pada tangki. Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo saat meninjau lokasi kebakaran di Plumpang, Sabtu (4/3) mengatakan, dalam pengisian tangki itu terjadi gangguan teknis yang mengakibatkan tekanan berlebih dan setelah itu terjadi kebakaran. Polisi masih menyelidiki sumber api dalam kebakaran pada Jumat (3/3) malam itu.
Polisi mengumpulkan bukti di lapangan dan rekaman kamera pemantau. ”Saat ini kami mengumpulkan saksi, CCTV, dan hal-hal yang diperlukan yang sifatnya teknis sehingga nanti bisa kami jelaskan secara scientific crime investigation tentang peristiwa yang sebenarnya. Khususnya terkait sumber api yang mengakibatkan terjadinya kebakaran,” kata Listyo. Terkait penyebab kebakaran, Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting mengungkapkan, Pertamina telah membentuk tim gabungan, fungsi terkait, dan aparat penegak hukum untuk melakukan investigasi. (Yoga)
MENANTI UAP PANAS GEOTERMAL
Kesuksesan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) melantai di Bursa Efek Indonesia menjadi angin segar bagi pengembangan EBT di Tanah Air yang menghadapi tantangan pendanaan. Pencapaian PGEO setidaknya tercatat dari kemampuan perseroan meraup dana segar Rp9,05 triliun dari pelepasan saham perdana atau initial public offering (IPO). Kendati harga saham turun pada perdagangan hari pertama listing, Jumat (24/2), PGEO optimistis saham akan membaik untuk jangka panjang karena fluktuasi di pasar saham bersifat temporer. Wakil Menteri BUMN I Pahala N. Mansury menyarankan agar publik melihat kinerja saham PGEO dari sisi fundamental, bukan secara jangka pendek. “Fundamental perusahaan ini kuat dengan EBITDA margin yang kuat. Balance sheet-nya pun sangat baik. Kami optimistis,” katanya dalam konferensi pers di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat. Dengan kemampuan meraup target penggalangan dana dari IPO, PGEO diharapkan bisa mempercepat peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi atau PLTP di dalam negeri. Maklum saja, hingga kini kapasitas terpasang geotermal di Indonesia masih tergolong minim.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yuniarto mengatakan dana yang diperoleh dari IPO siap untuk mendukung rencana perseroan mengembangkan kapasitas terpasang sebesar 600 MW hingga 2027. “Perseroan menargetkan untuk meningkatkan basis kapasitas terpasangnya yang dioperasikan sendiri, dari 672 MW saat ini menjadi 1.272 MW pada 2027,” katanya saat seremoni pencatatan saham perdana PGEO, Jumat (24/2). Kementerian BUMN juga berharap penambahan pasokan listrik dari PGEO dapat mendorong ketersediaan energi yang semakin efisien dan meluas. Selain itu, bersama mitra, PGEO dapat menerapkan perkembangan teknologi sehingga dapat menyediakan energi listrik dengan biaya yang lebih terjangkau. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pun menyebut peluang pengembangan panas bumi di Tanah Air masih terbuka lebar. Apalagi, pemerintah bakal terus mendorong pemanfaatan panas bumi untuk mendukung penyediaan energi bersih di Indonesia.
Prospek IPO Saham Emiten Pelat Merah Tak Meriah
Debut perdana saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) kurang menggigit. Alih-alih menguat, saham anak usaha PT Pertamina ini malah ditutup stagnan di harga
initial public offering
(IPO), yakni di Rp 875 per saham.
Saham PGEO sebenarnya mengalami kelebihan permintaan alias
oversubscribed
hingga 3,81 kali dari porsi
pooling. Namun, pada debut kemarin, saham PGEO hanya menguat di menit awal lalu bergerak di zona merah sepanjang perdagangan. Saham PGEO bahkan melemah sampai menyentuh Rp 815.
Ahmad Yuniarto, Direktur Utama PGEO mengatakan, investor institusi dan asing berpartisipasi dalam IPO PGEO. Salah satunya, Indonesia Investment Authority (INA) dan Masdar, perusahaan energi hijau asal United Arab Emirates (UAE). Sayang, masuknya investor asing dalam IPO PGEO belum berhasil mengangkat harga saham emiten ini.
Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat mencermati, dalam beberapa tahun ini, saham BUMN dan anak usahanya yang melakukan IPO memang kurang berkinerja baik. Kalaupun tidak langsung jeblok di hari pertama, pada akhirnya saham-saham pelat merah ini menukik di bawah harga perdananya.
Di sisi lain, valuasi saham IPO BUMN cenderung premium. Sehingga, pasar melakukan penyesuaian yang membuat harganya melemah.
PASAR SAHAM, Pertamina Geothermal Targetkan 600 Megawatt
Pada Jumat (24/2) PT Pertamina Geothermal Energy Tbk secara resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia atau BEI dengan kode saham PGEO. Pelepasan saham perdana anak usaha milik PT Pertamina (Persero) ini ditujukan untuk mengembangkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi perseroan sebesar 600 megawatt hingga 2027. Pertamina Geothermal Energy menawarkan 10,35 miliar sahamnya ke publik yang mewakili 25 % modal yang ditempatkan. Adapun harga penawaran adalah Rp 875 per lembar. Sejak penawaran umum saham pada periode 20-22 Februari 2023, perseroan berhasil meraih dana Rp 9,056 triliun.
”Pelepasan saham perdana ini untuk mengembangkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi perseroan sebesar 600 megawatt (MW) hingga 2027 nanti,” ujar Dirut Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yuniarto lewat siaran pers. Dengan demikian, ujar Yuniarto, diharapkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi yang dikelola Pertamina Geo thermal Energy bisa menjadi 1.272 MW pada 2027. Saat ini kapasitas terpasang tenaga panas bumi yang dikelola sendiri sebesar 672 MW. Dalam peresmian pencatatan perdana saham Pertamina Geothermal Energy di BEI, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi panas bumi ini untuk bisa mendukung ketersediaan energi bersih di Indonesia agar dapat bersaing di pasar internasional. Untuk itu, Pertamina Geothermal Energy tidak hanya melirik panas bumi, tapi juga memanfaatkan sumber energi terbarukan lainnya. (Yoga)
Pertamina Tambah 10% PI di Irak
JAKARTA, ID – PT Pertamina Internasional EP (PIEP) melalui anak perusahaan langsung yaitu - PT Pertamina Irak EP telah melakukan pembelian 10% Participating Interest (PI) dari ExxonMobil Iraq Limited’s (EMIL). Lapangan yang dioperasikan oleh EMIL selaku Lead Contractor berada di bagian Selatan Irak, dekat dengan kota Basra yang berjarak 400 km sebelah tenggara ibukota Baghdad. Sejak mendapatkan kontrak kerja sama di beberapa negara, PIEP melaksanakan komitmennya sebagai mitra yang memiliki nilai tambah lebih di berbagai aspek operasi dan selalu mengedepankan kolaborasi aktif dengan berbagai mitra di seluruh operasinya. Dalam operasinya di West Qurna 1, PIREP sebagai anak perusahaan langsung PIEP bermitra dengan sangat harmonis dengan EMIL, ITOCHU, Petrochina dan Oil Exploration Company (OEC) Iraq. Hal ini terbukti dengan diselesaikannya pembelian 10% PI di akhir tahun 2022. Wiko Migantoro, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi selaku Subholding Upstream Pertamina, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pemangku kepentingan yang telah membantu. “Semua pemangku kepentingan utama di Irak terus memberikan kepercayaan kepada Pertamina untuk melanjutkan eksistensinya sebagai mitra penting dalam pengelolaan lapangan operasi West Qurna 1,” ujar Wiko. (Yetede)
KUE LEZAT BERNAMA PANAS BUMI, PT PERTAMINA GEOTHERMAL ENERGY (PGE): PROSPEK BISNIS PANAS BUMI SANGAT BESAR
Potensi panas bumi di Tanah Air masih memiliki ruang lebar untuk dimanfaatkan. Pasalnya, dengan potensi sekitar 40% dari potensi panas bumi dunia, Indonesia baru memanfaatkan kurang dari 10% sumber daya panas bumi.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yuniarto mengatakan bahwa pemanfaatan panas bumi di Tanah Air saat ini baru sebatas untuk Pembangkitan Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). “Maka prospek bisnis panas bumi di Indonesia sangat besar. Value chain panas bumi juga belum dikembangkan secara optimal,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini. Ahmad menuturkan potensi pengembangan panas bumi ke depan makin kuat dengan arah pembangunan pemerintah yang mengarah pada keberlanjutan dengan pengembangan bisnis energi baru terbarukan (EBT).
Pemerintah, katanya, telah menargetkan bauran EBT menjadi 23% dari total kebutuhan energi nasional pada tahun 2025. Hal ini sejalan dengan ambisi mencapai net zero emission pada tahun 2026.Hal itu, katanya, sejalan dengan perkiraan Wood McKenzie salah satu konsultan energi terkemuka di dunia. Wood McKenzie memperkirakan bahwa pada 10 tahun ke depan, kapasitas listrik terpasang dari panas bumi Indonesia bertambah sebesar 3,4 GW, dengan rata-rata produksi tahunan listrik sekitar 46,08 TWh atau 9,6% dari produksi listrik nasional.
Dengan potensi dan peluang besar itu, PGE optimistis dapat menjadi salah satu pemain utama sektor EBT khususnya panas bumi. Tambah lagi, PGE telah memiliki pengalaman panjang merintis dan membangun bisnis geothermal.
Ahmad mengatakan sebagai bagian dari subholding Pertamina Power Indonesia atau Pertamina New and Renewable Energy, PGE mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari Pertamina sebagai perusahaan holding. PGE, katanya, menjadi ujung tombak dari upaya besar transisi energi di Pertamina. PGE berdiri sejak 12 Desember 2006, tetapi aktivitas bisnis geothermal sejatinya sudah dilakukan sejak 1974.
MyPertamina Berhasil Kendalikan Konsumsi BBM Bersubsidi
JAKARTA, ID – Platform MyPertamina berhasil menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi pada 2022. Alhasil, realisasi penyaluran BBM subsidi pada tahun lalu tidak melampaui kuota yang telah ditetapkan pemerintah. PT Pertamina (Persero) sebagai badan penyalur BBM subsidi membutuhkan payung hukum dari pemerintah dalam mengimplementasikan Program Subsidi BBM Tepat Sasaran. Revisi Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM, diperlukan untuk menentukan siapa yang berhak mengonsumsi BBM subsidi. Adapun penyaluran Pertalite hingga akhir 2022 mencapai 29,5 juta kilo liter (KL) lebih rendah dari kuota sebesar 29,91 juta KL. Kemudian realiasi konsumsi Solar subsidi sampai 31 Desember 2022 sebanyak 16,7 juta KL atau kurang dari kuota yang ditetapkan sebesar 16,86 juta KL. Begitu pula dengan penyaluran LPG kemasan 3 kilogram sebesar 13,91 juta KL atau setara dengan 7,8 juta metrik ton (MT). Realiasi konsumsi tabung melon itu lebih rendah dari kuota 14,22 juta KL atau setara dengan 8 juta MT. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









