Pasar
( 72 )Kisah Solidaritas Mama Pasar Papua
Di tengah terik siang hiruk-pikuk aktivitas Pasar Youtefa,
Kota Jayapura, Papua, Sabtu (4/11) sedikit surut. Namun, puluhan hingga ratusan
pedagang tidak beranjak dari lapak-lapaknya. Sejumlah perempuan peda- gang,
orang asli Papua, atau biasa dipanggil ”mama-mama Papua”, berdampingan dengan pedagang
pendatang. Biasanya para mama Papua cukup mudah ditemui dengan lapak sederhana
beralas karung goni di emperan atau sisi luar pasar. Komoditas yang dijual
ialah sejumlah jenis sayuran, buah-buahan lokal, serta pinang dan sirih.
Kebanyakan petak kios di blok dalam pasar lebih banyak dihuni pedagang
pendatang. Barang yang dijual di dalam pasar lebih banyak kebutuhan sekunder
dan tersier.
”Di dalam sepi, lebih baik di sini. Ya, karena kalau orang mau
cari sayur pasti cari ke sekitar sini,” kata Agustina Demetow (59) atau biasa
disapa Mama Tina, sembari memamah pinang. Mama Tina merupakan pedagang dari Kampung
Lereh, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura. Untuk menuju Pasar Youtefa dari kampungnya,
Mama Tina naik bus Damri selama 8 jam. Ketimbang bolak-balik dari kampung ke
Pasar Youtefa, ia memilih menyewa dan menginap indekos di sekitar pasar yang
juga digunakan anak-anaknya menginap saat bersekolah di Kota Jayapura. Biasanya
Mama Tina berjualan 2-3 hari, sebelum pulang ke rumah untuk mengambil kembali
sayuran dan barang dagangan lainnya.”Kalau pinang ini, mereka (pedagang
non-Papua) kurang tahu membedakan mana yang baik (layak dikonsumsi). Makanya,
beli sama kami sekaligus kami pilihkan. Nanti kalau salah pilih justru pinangnya
bikin muntah atau mabuk,” tuturnya.
Relasi antarpedagang di pasar itu terjaga baik. Mereka saling
membutuhkan, satu sama lain. Mama Tina dan pedagang lainnya menunjukkan
solidaritas sosial antarsesama, termasuk dengan pedagang non-Papua. Mereka
mengesampingkan stigma yang kadang membuat jurang pemisah di antara keduanya. Pedagang
lainnya, Wenina Mandikmbo (42) atau Mama Wen memiliki komoditas jualan yang
serupa dengan Mama Tina. Mama Wen berasal dari Wamena, Papua Pegunungan, Ia biasanya
bolak-balik dengan waktu tempuh 2-3 jam menuju Pasar Youtefa membawa sayuran
dalam jumlah banyak. Tidak hanya untuk berjualan sendiri, Mama Wen juga
mendistribusikan dagangannya kepada pedagang lainnya. ”Meskipun harus dijual dengan
harga turun (lebih murah), itu lebih baik daripada ditahan dan bisa saja
tidak laku dan sayurnya rusak,” katanya. Bagi Mama Wen, menjaga solidaritas
dengan pedagang lainnya menjadi penting. Apalagi, bertahun-tahun berjualan di
pasar belum mampu memperbaiki perekonomian keluarga atau mendatangkan
kesejahteraan bagi mereka. (Yoga)
Pembangunan Pasar UMKM di Lampung
Instrumen Baru Memperdalam 'Danau' Pasar Keuangan Domestik
Dampak Fragmentasi Pasar Komoditas Dunia
Pasar komoditas dunia terfragmentasi pasca perang
Rusia-Ukraina. Banyak negara yang membatasi perdagangan komoditas, terutama
pangan dan mineral sehingga harganya melonjak tinggi. Jika tidak segera
diatasi, ketahanan pangan dan transisi hijau bisa terancam. Ketahanan pangan
bahkan semakin tertekan akibat dampak cuaca ekstrem. Hal itu mengemuka dalam laporan
Dana Moneter Internasional (IMF) tentang Fragmentasi Geoekonomi Mengancam
Ketahanan Pangan dan Transisi Energi Bersih. Laporan itu merupakan salah satu bagian
dari Tinjauan Ekonomi Dunia IMF Oktober 2023 yang dirilis, Selasa (3/10) di Washington,
AS, waktu setempat. IMF menyebutkan, pada 2022, kerugian ekonomi dunia akibat
fragmentasi komoditas sebesar 0,3 % dari PDB global yang senilai 101,003
triliun USD.
Nilai kerugian itu masih relatif kecil karena ada efek
penyeimbang di negara-negara produsen dan konsumen kendati beban terbesarnya
ditanggung negara-negara berpenghasilan rendah dan rentan. Namun, negara-negara
berpenghasilan rendah dan rentan dapat mengalami kerugian ekonomi jangka
panjang rata-rata 1,2 % PDB. Bagi beberapa negara, kerugiannya bisa mencapai 2
% PDB. Faktor penyebab yang paling dominan adalah gangguan impor pangan karena
negara-negara tersebut sangat bergantung pada pangan yang didatangkan dari
negara lain. Fragmentasi pasar komoditas global menjadi dua blok geopolitik itu
mencuat sejak perang Rusia-Ukraina. Hal itu dapat menyebabkan perbedaan harga
yang besar antar blok pendukung Rusia, termasuk China, dan pendukung Ukraina,
seperti AS dan Uni Eropa, khususnya komoditas pertanian dan mineral. (Yoga)
Pasar Santa, Eksis di Tengah Sepi
Bau harum aroma kopi menyapa pengunjung saat memasuki area
lantai basemen Pasar Santa, yang diresmikan pada 1971. Sampai 2013, hanya 312
kios yang aktif dari total 1.151 kios. Tak dinyana, pasar di Jalan Cipaku I dan
Jalan Cisanggiri II itu tiba-tiba booming. Puncak keramaian Pasar Santa terjadi
pada September 2014 hingga pertengahan 2015. Tempat ini pernah menjadi ikon
wisata Jaksel, terutama bagi pencinta seni, musik, dan kuliner. Kala itu,
beberapa anak muda membuka kedai kekinian, seperti kedai kopi dan tempat makan,
di pasar yang tengah kehilangan pelanggan ataupun penyewa. Upaya itu berhasil
dan menarik penyewa baru dengan beragam usaha yang menjadikan Pasar Santa
tempat nongkrong asyik, murah, meriah, dan berjiwa muda. Catatan Kompas, kabar
baik itu tak berumur panjang. Kenaikan harga sewa dan harga jual kios
menyurutkan perkembangan Pasar Santa.
Data akhir Mei 2016 menyebutkan, 546 kios atau separuh total
kios di sana tutup karena tidak mampu membayar sewa kios. Pada Rabu (20/9) pukul
12.00, hanya ada lima pengunjung di lantai 3 Pasar Santa. Mereka menikmati
hidangan maka siang. Selain itu, dua pengojek daring duduk dan bercengkerama di
depan salah satu kedai, menunggu pesanan pelanggan. Beberapa pedagang lama
masih setia berjualan di sana. Chandra Dewi, pemilik kedai Dimsum Santa
Vegetarian itu masih berjualan karena sudah mengontrak kios selama 12 tahun. Dalam
satu hari, ia hanya mendapatkan Rp 100.000 hingga Rp 200.000. Menurut Dewi,
kebanyakan pengunjung yang datang adalah pegawai kantor sekitar pasar yang menjadi
pelanggan tetapnya. Dewi menuturkan, beberapa pedagang masih ingin membuka
kiosnya karena biaya sewa relatif murah. Pandemi membuat harga sewa kios
kembali normal di kisaran Rp 7 juta-Rp 10 juta per tahun.
Hal senada diutarakan penjaga kedai kopi bernama Kopi Dari
Akuh di lantai 3 Pasar Santa, Rizky (20). Saat sepi pembeli, ia hanya bisa menjual
lima gelas kopi. Saat ramai, penjualan hanya 10 gelas kopi. Senin pekan lalu,
ia tidak mendapatkan pelanggan sama sekali. Untuk menggaet banyak pengunjung,
Rizky berharap pihak pengelola pasar dapat membuat kegiatan rutin setiap tahun,
seperti mengadakan Santa Fest. Selain itu, kondisi kebersihan dan penerangan di
lantai 3 juga menjadi perhatian para pedagang. Di tengah kondisi yang tak memuaskan
itu, pada Juni 2023, Pasar Santa kembali viral. Video mengenai suasana pasar,
kuliner lezat, serta barang-barang unik menyebar dengan cepat. Gelombang baru pengunjung menyerbu. Akan tetapi, hanya
beberapa pedagang yang merasakannya. Salah satu kios yang menjadi magnet baru
di Pasar Santa ialah kedai kopi milik kakek berusia 75 tahun, yakni Augustinus
Sollohin alias Solihin. Salah satu menu andalan di kedai Senior Coffee Stall
itu ialah puding karamel seharga Rp 9.500 per porsi. (Yoga)
Kolaborasi Perluas Pasar Kosmetik Lokal
Kolaborasi antarpihak perlu dilakukan untuk mendorong perluasan pasar kosmetik lokal lewat ritel. ”Menggunakan toko (ritel) sebagai etalase untuk produk kosmetik penting sebagai strategi bisnis,” kata Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK) Solihin dalam siaran pers yang diterima, Selasa (5/9/2023). (Yoga)
Jangan Cuma Jadi Pasar
JAKARTA,ID-Indonesia harus memetik manfaat sebanyak mungkin dari perjanjian kemitraan Ekonomi Konprehensif Regional (Regional Comprehensive Economi Partnership/RCEP). Jangan sampai Indonesia cuma jadi pasar negara-negara lain setelah pakta perdagangan terbesar di dunia ini di implementasikan. Jika berhasil memanfaatkan setiap peluang RCEP, Indonesia bisa meraup keuntungan berlipat ganda, baik dalam perdagangan, investasi, kemitraan ekonomi, maupun dalam percaturan geopolitik. Itu karena RCEP menawarkan berbagai fasilitas kepada negara anggota, dari mulai pengurangan atau penghapusan tarif bea masuk (BM), perluasan konektivitas ekonomi, hingga kemudahan invetasi. Agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar negara-negara lain, pemerintah mesti mempercepat reformasi struktual guna meningkatkan daya saing produk ekspor nasional. Pemerintah juga harus melanjutkan debirokrasi perizinan investasi untuk menarik lebih banyak investor. (Yetede)
Penjualan Industri Kimia Dasar Remuk
JAKARTA,ID-Lesunya permintaan di pasar global dan domestik, menjadi pukulan keras bagi industri kimia dasar Tanah Air. Penurunan kinerja yang telah terlihat sejak kuartal IV-2022, makin memburuk di semester I-2023 dengan penjualannya yang anjlok hingga 30%. Tragisnya, kondisi tersebut diperkirakan bertambah parah di semester II ini. "Rata-rata output industri kimia dasar menurun paling tidak 30% dibanding semester I-2022. Permintaan secara lokal dan global menurun, sehingga terjadi perang harga. Order juga terus menurun karena kita tidak bisa bersaing. Kalau dibandingkan dengan kuartal III tahun lalu, harga produk kimia dasar mungkin tinggal separuhnya. Turun drastis paling tidak 30-40%. Ini akan terus turun pada semester II-2023," kata Ketua Umum Asosiasi Kimia dasar Anorganik Indonesia (Akida) Halim Chandra kepada Investor Daily, baru-baru ini. Dia mengungkapkan, turunnya permintaan dalam negeri merupakan efek domino dari kondisi ekonomi dunia. industri tekstil yang menjadi salah satu penyerap terbesar produk kimia dasar mengurangi permintaan akibat order ekspor yang turun tajam. " Kedua, tren harga kimia dasar terlihat terus menurun. Kami perkirakan semester II harganya masih terus menurun. Oleh sebab itu, industri kimia hulu menahan pembelian bahan baku, dan baru ketika butuh," kata Halim. (Yetede)
Ungkit Ekonomi Daerah, 30 Pasar Tradisional Direvitalisasi
Sebanyak 30 pasar tradisional di Tanah Air ditargetkan rampung direvitalisasi tahun ini. Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 70 miliar sampai Rp 150 miliar per pasar untuk revitalisasi. Langkah ini diharapkan menjadi pengungkit ekonomi rakyat dan mendorong perekonomian daerah. Hal ini disampaikan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat mendampingi Presiden Jokowi mengunjungi Pasar Purwodadi, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, Jumat (21/7). Dalam kunjungan itu, Presiden menemui ribuan pedagang dan pengunjung pasar yang berdatangan untuk melihat Kepala Negara dari dekat. Basuki menuturkan, 30 pasar tradisional yang akan dibangun tersebar di sejumlah daerah, mulai dari Nias hingga ke Pulau Sulawesi. Pembangunan pasar ini didasari atas pengajuan pemda dan melihat kondisi pasar.
Revitalisasi ini bertujuan untuk mengangkat kembali marwah pasar tradisional agar lebih bersih dan sehat sehingga berdampak pada meningkatnya minat masyarakat bertransaksi di pasar. ”Kami tidak mengubah pasar menjadi mal, tetapi tetap sebagai pasar tradisional,” ujar Basuki. Untuk anggaran yang dialokasikan tergantung kondisi pasar, baik dari sisi luasan maupun jenis perbaikan yang akan diterapkan. Basuki mencontohkan revitalisasi Pasar Purwodadi di Bengkulu Utara, yang memperoleh alokasi dana sekitar Rp 110 miliar. Anggaran itu digunakan untuk membangun kembali pasar dari awal. Dengan jumlah pedagang 1.000 orang, diperkirakan proses pembangunan pasar membutuhkan waktu Sembilan bulan. ”Kita akan buat pasar ini menjadi bersih,” kata Basuki. (Yoga)
Pasar Kramatjati Kelola Sampah Organik
Pasar Induk Kramatjati di Jakarta Timur jadi proyek awal pengelolaan dan pemanfaatan sampah organik. Proyek digagas PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dan Perumda Pasar Jaya. ”Sampah di Pasar Induk Kramatjati akan diproses dan dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan, seperti bahan baku konversi energi dan pakan ternak,” ucap Syachrial Syarif, VP Corporate Secretary Jakpro, Minggu
(16/4/2023). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









