Pasar Santa, Eksis di Tengah Sepi
Bau harum aroma kopi menyapa pengunjung saat memasuki area
lantai basemen Pasar Santa, yang diresmikan pada 1971. Sampai 2013, hanya 312
kios yang aktif dari total 1.151 kios. Tak dinyana, pasar di Jalan Cipaku I dan
Jalan Cisanggiri II itu tiba-tiba booming. Puncak keramaian Pasar Santa terjadi
pada September 2014 hingga pertengahan 2015. Tempat ini pernah menjadi ikon
wisata Jaksel, terutama bagi pencinta seni, musik, dan kuliner. Kala itu,
beberapa anak muda membuka kedai kekinian, seperti kedai kopi dan tempat makan,
di pasar yang tengah kehilangan pelanggan ataupun penyewa. Upaya itu berhasil
dan menarik penyewa baru dengan beragam usaha yang menjadikan Pasar Santa
tempat nongkrong asyik, murah, meriah, dan berjiwa muda. Catatan Kompas, kabar
baik itu tak berumur panjang. Kenaikan harga sewa dan harga jual kios
menyurutkan perkembangan Pasar Santa.
Data akhir Mei 2016 menyebutkan, 546 kios atau separuh total
kios di sana tutup karena tidak mampu membayar sewa kios. Pada Rabu (20/9) pukul
12.00, hanya ada lima pengunjung di lantai 3 Pasar Santa. Mereka menikmati
hidangan maka siang. Selain itu, dua pengojek daring duduk dan bercengkerama di
depan salah satu kedai, menunggu pesanan pelanggan. Beberapa pedagang lama
masih setia berjualan di sana. Chandra Dewi, pemilik kedai Dimsum Santa
Vegetarian itu masih berjualan karena sudah mengontrak kios selama 12 tahun. Dalam
satu hari, ia hanya mendapatkan Rp 100.000 hingga Rp 200.000. Menurut Dewi,
kebanyakan pengunjung yang datang adalah pegawai kantor sekitar pasar yang menjadi
pelanggan tetapnya. Dewi menuturkan, beberapa pedagang masih ingin membuka
kiosnya karena biaya sewa relatif murah. Pandemi membuat harga sewa kios
kembali normal di kisaran Rp 7 juta-Rp 10 juta per tahun.
Hal senada diutarakan penjaga kedai kopi bernama Kopi Dari
Akuh di lantai 3 Pasar Santa, Rizky (20). Saat sepi pembeli, ia hanya bisa menjual
lima gelas kopi. Saat ramai, penjualan hanya 10 gelas kopi. Senin pekan lalu,
ia tidak mendapatkan pelanggan sama sekali. Untuk menggaet banyak pengunjung,
Rizky berharap pihak pengelola pasar dapat membuat kegiatan rutin setiap tahun,
seperti mengadakan Santa Fest. Selain itu, kondisi kebersihan dan penerangan di
lantai 3 juga menjadi perhatian para pedagang. Di tengah kondisi yang tak memuaskan
itu, pada Juni 2023, Pasar Santa kembali viral. Video mengenai suasana pasar,
kuliner lezat, serta barang-barang unik menyebar dengan cepat. Gelombang baru pengunjung menyerbu. Akan tetapi, hanya
beberapa pedagang yang merasakannya. Salah satu kios yang menjadi magnet baru
di Pasar Santa ialah kedai kopi milik kakek berusia 75 tahun, yakni Augustinus
Sollohin alias Solihin. Salah satu menu andalan di kedai Senior Coffee Stall
itu ialah puding karamel seharga Rp 9.500 per porsi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023