Neraca Perdagangan
( 104 )Surplus Kembar Belum Tambah Likuiditas Valas
Surplus kembar yang diperkirakan terjadi tahun ini nampaknya belum akan sepenuhnya membawa keberuntungan bagi Indonesia. Sebab surplus kembar tak juga membuat likuiditas valas Indonesia melimpah.
Surplus kembar yang dimaksud,
pertama, surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sebelumnya memperkirakan, NPI tahun ini surplus US$ 2,6 miliar, meski menurun dibanding surplus tahun lalu yang tercatat US$ 3,5 miliar.
Kedua, surplus neraca transaksi berjalan yang diperkirakan Perry akan berada pada kisaran 0,4% produk domestik bruto (PDB) hingga 1,2% PDB. Ini sejalan dengan permintaan eksternal dan harga komoditas yang masih tetap tinggi. Lalu, kinerja transaksi berjalan juga turut mendorong surplus NPI.
Bahkan, nilai tukar rupiah sempat melemah dan menyentuh level Rp 15.700 per dollar AS beberapa waktu lalu. Cadangan devisa pun tergerus pada akhir September dan Oktober lalu ke posisi US$ 130,2 miliar. Meski bangkit lagi di November ke level US$ 134 miliar.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyebut, surplus neraca perdagangan atau surplus transaksi berjalan selama ini belum sepenuhnya terefleksi terhadap cadangan devisa. Penyebabnya, devisa hasil ekspor (DHE) yang masuk, tak bertahan lama.
Sementara, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Teuku Riefky optimistis, surplus kembar pada tahun ini akan mendorong kecukupan likuiditas valas di Indonesia. Namun, otoritas tetap perlu menambah likuiditas valas.
Tren Penurunan Surplus Neraca Dagang Dimulai
Tren penurunan surplus neraca dagang Indonesia sepertinya mulai terjadi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan pada November 2022 sebesar US$ 5,16 miliar. Surplus tersebut terpangkas US$ 0,51 miliar dari bulan Oktober 2022 yang sebesar US$ 5,67 miliar.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah mencatat, neraca dagang Indonesia selalu surplus selama 31 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus neraca perdagangan tersebut terjadi, lantaran nilai ekspor masih lebih tinggi dari nilai impor. Adapun nilai ekspor tercatat US$ 24,12 miliar, turun 2,4% month-to-month (mtm). Sedang impor senilai US$ 18,96 miliar, turun 0,91% mtm.
Febrio Kacabiru, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan tak menampik kinerja ekspor-impor Indonesia sedikit melambat di bulan November lalu. Namun, ia melihat, secara keseluruhan, neraca perdagangan telah mengakumulasi surplus hingga US$ 50,59 miliar di periode tersebut.
Neraca Dagang Surplus, Rupiah Masih Pupus
Kinerja ekspor Indonesia diramal masih moncer menjelang akhir tahun 2022. Neraca perdagangan diproyeksi kembali mencetak surplus bernilai jumbo.
Sejumlah ekonom yang dihubungi KONTAN memperkirakan, neraca perdagangan November 2022 kembali mencetak surplus. Meski angkanya lebih rendah daripada bulan Oktober yang surplus bernilai US$ 5,67 miliar.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, surplus neraca perdagangan November sebesar US$ 5,18 miliar. Ia memperkirakan, pertumbuhan ekspor bisa lebih tinggi, yakni mencapai 10,37%
year on year
(yoy), dibanding kinerja impor yang diramal tumbuh 3,65% yoy.
Ekonom BNI Sekuritas Damhuri Nasution memperkirakan, surpus neraca perdagangan bulan lalu sebesar US$ 4,51 miliar. Kepala Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk Banjaran Surya Indratomo juga memperkirakan, neraca perdagangan November surplus US$ 4,25 miliar.
Sementara Ekonom BCA David Sumual lebih optimistis, bahwa neraca perdagangan bakal mencetak surplus lebih besar pada bulan lalu, Proyeksinya, surplus mencapai US$ 5,24 miliar.
Impor Meningkat, Surplus Dagang Turun
Surplus neraca perdagangan bisa menyusut lantaran nilai ekspor yang melandai seiring menurunnya harga komoditas. Ditambah lagi, nilai impor mulai meningkat menjelang akhir tahun.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan, surplus neraca perdagangan Oktober 2022 sebesar US$ 4,47 miliar. Angka ini menyusut dari surplus bulan sebelumnya yang sebesar US$ 4,99 miliar.
David melihat, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2022 didorong oleh kinerja ekspor, terutama sektor komoditas yang masih mengalami kenaikan, seperti crude palm oil (CPO) dan batubara. Ia memperkirakan, nilai ekspor Oktober 2022 mencapai US$ 24 miliar.
Chief Economist Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan, neraca perdagangan ke depan masih akan mencetak surplus. Namun, nilainya makin landai seiring tren penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia, seperti CPO dan batubara.
Antisipasi Risiko Global, Pemerintah Dorong Diversifikasi Pasar Ekspor
Pemerintah mendorong diversifikasi produk dan pasar ekspor untuk mengantisipasi risiko global. Sejauh ini, langkah itu mulai memperlihatkan hasil. “Ekspansi pasar ekspor, misalnya, ke Filipina dan Malaysia yang sudah menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang tahun berjalan,” ucap Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu, Selasa (18/10). Mengutip data BPS, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 4,99 miliar pada September 2022. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan sejak Januari hingga September 2022 mencapai US$ 39,87 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan puncak periode boom komoditas 2011 di US$ 22,2 miliar. “Hasil ini juga menandakan surplus yang telah terjadi selama 29 bulan berturut-turut. Secara kuartalan, kinerja net ekspor juga cukup baik, sehingga menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan PDB kuartal III-2022 dan 2022 secara keseluruhan,” kata Febrio.
Nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 24,8 miliar pada September 2022 atau tumbuh 20,28% dibandingkan September 2022. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-September 2022 mencapai US$ 219,35 miliar atau meningkat US$ 55 miliar dibanding periode sama tahun sebelumnya US$ 164,32 miliar. “Penguatan permintaan ekspor, terutama berasal dari beberapa negara mitra dagang utama Indonesia, seperti India, Jepang dan Korea Selatan,” papar Febrio. Sementara itu, dia menyatakan, peningkatan ekspor Januari-September 2022 didorong oleh ekspor migas yang masih tumbuh sangat tinggi mencapai 38,56% (year to date/ytd). Sementara itu, ekspor nonmigas mencatatkan pertumbuhan 33,21% (ytd). Dari sisi sektoral, sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 91,98% (ytd), disusul sektor manufaktur 22,23% (ytd) yang sejalan dengan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia yang tumbuh di zona ekspansif pada September, dan sektor pertanian yang tumbuh 15,38%. (Yoga)
Surplus Neraca Dagang Tahun Ini Bisa US$ 40 Miliar
Neraca perdagangan barang Indonesia berpotensi kembali mencetak surplus pada tahun 2022. Ini disebabkan oleh masih tingginya harga komoditas global yang menjadi berkah bagi kinerja ekspor. Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja memperkirakan, surplus neraca perdagangan pada tahun ini bisa mencapai US$ 40 miliar. Angka ini lebih tinggi ketimbang surplus di sepanjang tahun lalu yang sebesar US$ 35,34 miliar. Tahun ini surplus US$ 40 miliar, sangat mudah untuk didapat. Apalagi per Agustus 2022 saja sudah mencapai US$ 29 miliar atau mendekati total surplus pada tahun lalu," jelas Enrico, Kamis (29/9). Surplus tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), berasal dari nilai ekspor yang mencapai US$ 194,60 miliar dan nilai impor mencapai US$ 159,68 miliar.
Neraca Komoditas Penting untuk Data Kebutuhan Industri
JAKARTA, ID- Pemerintah akan menerapkan Neraca Komoditas pada 2023 dan akan disediakan dalam suatu sistem interface tunggal terintegrasi dengan Sistem Nasional Neraca Komoditas (Sinar NK). Neraca ini dipandang penting untuk mengetahui data kebutuhan industri dalam negeri. "Jadi butuhmu (industri) berapa? Barang yang ada di Indonesia berapa, misalnya baut yang diproduksi di Indonesia 20 juta, ternyata Indonesia butuh 50 juta, yang 30 juta itu bisa diimpor," kata Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian ((Kemenperin) Liliek Widodo di Jakarta International Expo. Dia menerangkan, Kemenperin terus menyiapkan sisi hilir atau industrinya, agar program hilirisasi dalam negeri bisa berjalan. Lembaga pembina sektor industri tersebut terus mendorong akselerasi hilirisasi industri di dalam negeri. Liliek memaparkan, di sektor logam, di besi baja, pihaknya akan mencoba untuk membuat produk-produk yang lebih hilir, yang bernilai tambah tinggi. (Yetede)
Instruktur Industri dan Ekpor Nasional Harus Diubah
JAKARTA, ID – Kerja keras harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk membalik catatan defisit neraca perdagangan Indonesia- Tiongkok yang telah berlangsung hampir 19 tahun terakhir, menjadi surplus. Struktur industri dan ekspor nasional harus diubah secara signifikan agar memiliki tingkat efisiensi yang tinggi, guna memastikan produk-produk Indonesia mempunyai daya saing yang baik dengan produk Tiongkok maupun produk negara lain yang diimpor oleh Negeri Tirai Bambu itu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok terus membukukan defisit selama 18 tahun berturut-turut yaitu antara 2004- 2021. Bahkan, neraca perdagangan nonmigas antara Indonesia dan Tiongkok sepanjang Januari-Agustus 2022 tercatat masih defisit US$ 5,51 miliar. Indonesia terakhir kali berhasil membukukan surplus neraca perdagangan dengan Tiongkok adalah pada tahun 2003 yaitu sebesar US$ 534,8 juta. (Yetede)
Risiko Perlambatan Ekspor Dimitigasi
Neraca perdagangan Indonesia hingga akhir tahun 2022 menghadapi sentimen penurunan volume ekspor seiring perlambatan ekonomi global. Perkembangan kebijakan perdagangan internasional mesti termonitor agar ditemukan langkah terbaik untuk memitigasi penurunan kinerja ekspor. Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan barang Indonesia masih surplus 5,76 miliar USD di tengah penurunan harga komoditas global. Dengan begitu, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus selama 28 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus tersebut didapat dari nilai ekspor migas serta nonmigas pada Agustus 2022 sebesar 27,91 miliar USD, tumbuh 9,17 % secara bulanan. Nilai impor juga meningkat 3,77 % dari bulan lalu menjadi 22,15 miliar USD, tetapi tetap lebih rendah dari volume ekspor.
Analis Makroekonomi PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, mengatakan, penurunan harga komoditas akibat perlambatan permintaan global berpotensi memperlambat kinerja ekspor. Jika perlambatan ekonomi global berlanjut, diperkirakan volume ekspor akan menurun di masa mendatang. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemkeu Febrio N Kacaribu optimistis volume ekspor pada bulan-bulan berikutnya masih akan positif, dengan catatan dampak risiko global terhadap penurunan kinerja ekspor terus diwaspadai agar risiko perlambatan ekspor dapat termitigasi secara optimal. ”Pemerintah akan terus memonitor perkembangan kebijakan perdagangan internasional terkait komoditas strategis Indonesia. APBN akan terus digunakan agar dapat menopang kinerja ekspor dalam konteks memperkuat pemulihan ekonomi pasca pandemi,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (18/9). (Yoga)
INSENTIF EFEKTIF PACU EKSPOR
Sejumlah insentif fiskal yang dikeluarkan pemerintah terbukti manjur mencegah penurunan kinerja ekspor di tengah tren penurunan harga komoditas unggulan di pasar global. Insentif yang paling berdampak berupa pengenaan pungutan ekspor sebesar nol rupiah terhadap minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya. Kebijakan itu menjadi booster peningkatan aktivitas ekspor komoditas. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor nasional pada Agustus 2022 mencapai US$27,91 miliar, sedangkan impor US$22,15 miliar sehingga tercatat surplus US$5,76 miliar. Nilai surplus itu naik 36,49% dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya yang hanya US$4,22 miliar sekaligus melanjutkan tren surplus neraca perdagangan selama 28 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan potensi lonjakan ekspor masih terbuka lebar ditilik dari tiga komoditas unggulan ekspor yaitu besi baja, CPO, dan batu bara. Menurutnya, CPO menjadi komoditas yang mengalami peningkatan ekspor tertinggi pada Agustus 2022 dibandingkan bulan sebelumnya.
Pilihan Editor
-
Startup Bukan Pilihan Utama
24 Jan 2023 -
Mendag Pastikan Minyak Kita Tetap Diproduksi
30 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023 -
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023









