Korporasi
( 1584 )Tarik Menarik Properti Hijau Dengan Pengembang
Pengembangan proyek-proyek properti
hijau di Tanah Air masih cenderung lamban. Meski pasar semakin mencari properti
yang ramah lingkungan dan lestari, masih ada tarik-menarik dalam mendorong
proyek properti hijau di Tanah Air. Konsil Bangunan Hijau Indonesia (GBCI)
mencatat, komitmen pengembang membangun
properti hijau masih sebatas pada bangunan komersial. Dari data GBCI, tercatat
lebih dari 100 bangunan gedung memperoleh sertifikasi greenship dari GBCI,
sedangkan gedung yang memperoleh sertifikasi edge untuk efisiensi energi
sekitar 240 bangunan. Sementara proyek residensial masih sangat sedikit.
Ketua Umum GBCI Ignesjz Kemalawarta
mengungkapkan, konsep properti hijau sudah cukup banyak diterapkan
gedung-gedung pemerintah dan BUMN. Sebaliknya, penerapan properti hijau pada
gedung yang dibangun pengembang swasta masih minim. Saat ini, baru ada lima
grup pengembang besar yang gencar menerapkan prinsip ramah lingkungan pada
property, seperti PT Intiland Development Tbk, Sinar Mas Land, Kota Baru Parahyangan,
dan Grup Ciputra. ”Kami ingin mendorong kesadaran developer agar bangunannya
green dari hulu-hilir, mulai dari konsultan, kontraktor, hingga bahan
bangunannya. Kalau materialnya hijau, kontraktornya pasti menerapkan prinsip
hijau. Kesadaran bangunan hijau bukan hanya kepentingan saat ini, tetapi generasi
mendatang,” kata Ignesjz di Tangerang, Kamis (20/3).
Menurut
Ignesjz, pemicu keengganan developer swasta untuk menggencarkan proyek properti
hijau adalah biaya konstruksi lebih mahal sehingga harga jual menjadi lebih
mahal. Padahal, dari hasil kajian GBCI, biaya pembangunan gedung berkonsep
hijau hanya 4 % lebih tinggi dibanding gedung konvensional. Dalam 5 tahun,
penambahan biaya itu dinilai sudah kembali, yang terkonversi dari penghematan
energi dan air. Dalam jangka panjang atau setara usia bangunan 40 tahun, pemilik
gedung atau property hijau juga akan menikmati biaya operasional bangunan lebih
rendah 15 %. (Yoga)
Pekan Depan Struktur Kepengurusan Danantara akan Diumumkan
Susunan lengkap kepengurusan Badan Pengelola
Investasi Danantara dijadwalkan akan diumumkan pada Senin (24/3/2025) pekan
depan. Pengumuman struktur tim inti operasional ini diperkirakan akan berdampak
signifikan terhadap persepsi publik, termasuk sentimen investor di pasar modal.
Hal itu disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga CEO
BPI Danantara, Rosan Roeslani. ”Ya, tunggu saja hari Senin pukul 12.00,”
ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/3). Sejak pukul 14.30 hingga
sekitar pukul 16.00, Presiden Prabowo mengadakan pertemuan tertutup dengan sejumlah
menteri, kepala lembaga, dan direktur utama bank pemerintah di Istana
Kepresidenan, Jakarta, Jumat.
Menko Bidang Perekonomian Airlangga
Hartarto memberi sinyal, PP yang mengatur inbreng atau pengalihan saham BUMN ke
BPI Danantara diupayakan terbit sesuai waktu yang sudah dijadwalkan, yakni pada
pekan ini. Wakil Menteri BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) BPI
Danantara, Dony Oskaria mengatakan, target inbreng seluruh BUMN ke Danantara
selesai akhir Maret 2025. Pelaksanaan inbreng ini, menurut rencana, dilakukan
sebelum rapat umum pemegang saham (RUPS) sejumlah BUMN yang akan bergabung
dengan Danantara.
”Sebelum RUPS, sudah kita lakukan
inbreng. Beberapa RUPS akan mulai pada akhir bulan ini (Maret 2025),” ujar Dony
seusai rapat konsultasi secara tertutup dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR,
Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/3). Terkait dengan struktur
organisasi Danantara, nama sejumlah tokoh yang akan mengisi struktur kepengurusan
BPI Danantara dilaporkan oleh Rosan Roeslani, Dony Oskaria, dan Chief
Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir kepada Presiden di Istana
Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/3) sore. Tokoh-tokoh dimaksud tidak hanya berasal
dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri. (Yoga)
Langkah Baru Setelah Melepas Bisnis Supermarket
Di Tengah Tantangan Global dan Domestik, Bank OCBC Tumbuh Positif
Bank OCBC NISP Tbk mencatatkan pertumbuhan
kuat dan kinerja yang solid. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST),
OCBC membagikan dividen tunai Rp 106 per saham atau Rp 2,43 triliun yang merupakan
50 % dari laba tahun buku 2024. Sepanjang tahun 2024, OCBC NISP membukukan laba
Rp 4,9 triliun atau naik 19 % secara tahunan. Dana sebesar Rp 100 juta juga disisihkan
untuk cadangan umum, sedangkan sisa laba bersih ditetapkan sebagai laba
ditahan. RUPST yang digelar pada Kamis (20/3) juga memberi persetujuan untuk pembelian
kembali saham perseroan (share buyback) dari pemegang saham publik sebesar 390.000
saham atau 0,002 % dari total modal yang telah dikeluarkan dan disetor penuh dalam
perseroan. Presdir OCBC, Parwati Surjaudaja menambahkan, akuisisi dan merger PT
Bank Commonwealth telah diselesaikan pada 2024.
Akuisisi tersebut sekaligus menjadi komplementer
dalam memperkuat pertumbuhan ke depan. Direktur OCBC Hartati menyebut, return
on equity (ROE) atau imbal hasil atas ekuitas juga naik menjadi 13 %. Total
kredit yang disalurkan bank pun tumbuh 11 % mencapai Rp 170,5 triliun dengan
kualitas yang terjaga di mana rasio NPL bruto terhitung sebesar 1,6 %, lebih
rendah dari rata-rata industri perbankan. Total simpanan nasabah atau dana
pihak ketiga (DPK) juga meningkat 13 % menjadi Rp 205,9 triliun. Bank juga memiliki
modal yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ke depan yang tecermin pada rasio
kecukupan modal (CAR) sebesar 23,6 persen. Sementara margin bunga bersih
sebesar 4,4 %. Pendapatan bunga bersih bank meningkat 11,4 %, seiring pertumbuhan
kredit yang diberikan dan juga peningkatan pasar. (Yoga)
Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan
Strategi Ekspansi dan Harga Jadi Kunci Pertumbuhan
Perlu Rute Alternatif untuk Truk
Pembatasan angkutan barang sumbu tiga
atau lebih untuk melintas di ruas tol dan arteri selama arus mudik Lebaran 2025
akan berlangsung 16 hari, yakni 24 Maret hingga 8 April 2025. Pembatasan ini diperkirakan
memicu kerugian bisnis truk dan depo kontainer sehingga perlu ditinjau kembali.
Salah satunya, pemerintah bisa mempertimbangkan membuka rute alternatif. Senior
Consultant Supply Chain Indonesia, Sugi Purnoto, Rabu (19/3) di Jakarta,
berpendapat, sejumlah jalan tol dapat digunakan untuk angkutan barang, terutama
di jalan tol yang jarang dilalui pemudik. Contohnya, Jalan Tol Lingkar
Pelabuhan (CTP) dan Cibitung-Cimanggis, Jalan Tol Pelabuhan dan JORR
II-Balaraja, serta Jalan Tol Serpong-Cinere-Cimanggis yang bukan jalur tol pemudik.
Sugi memperkirakan kerugian ekonomi
akibat kebijakan pembatasan itu bisa mencapai Rp 1 triliun. Perhitungan ini didasarkan
pada terhambatnya angkutan barang yang banyak mengalir ke kawasan industri di
Pulau Jawa. ”Untuk aliran kontainer, terutama domestik dari Jakarta ke arah
timur, memberi proporsi 60-70 % total pergerakan kontainer di Tanjung Priok.
Jadi, efeknya besar sekali,” tutur Sugi. Ketua Asosiasi Depo Kontainer Indonesia
(Asdeki) Mustofa Kamal Hamka mengatakan, bisnis depo kontainer di pelabuhan dirugikan
atas kebijakan tersebut. Pengusaha harus menanggung biaya sewa lebih tinggi
karena ada potensi pengembalian peminjaman kontainer ke perusahaan pelayaran lebih
lama dari yang diperjanjikan. (Yoga)
Upaya Ekstra Dongkrak IHSG
Properti CTRA Tertekan Daya Beli Lemah
Buyback Saham, Harapan Baru Investor
Pilihan Editor
-
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Ikhtiar Mengejar Pengemplang BLBI
29 Jan 2022








