Korporasi
( 1584 )MOMEN HARBOLNAS 8.8 : LOKAPASAR PANTIK EMITEN TEKNOLOGI
Momen belanja online yang makin semarak pada semester kedua berpotensi mendongkrak kontribusi segmen marketplace terhadap kinerja pendapatan emiten-emiten teknologi, seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA), dan PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) atau Blibli.
Deputy Head of Research Sucor Sekuritas Paulus Jimmy mengatakan bahwa kontribusi segmen bisnis lokapasar ke pendapatan emiten-emiten teknologi berpotensi makin meningkat pada semester II/2023. “Hal itu didorong oleh proses monetisasi bisnis yang terus berjalan,” kata Jimmy kepada Bisnis, Selasa (8/8). Jimmy menuturkan performa keuangan BUKA pada semester I/2023 cukup baik. Realisasi itu membuka peluang bagi BUKA untuk mencapai target EBITDA yang disesuaikan pada kuartal IV/2023 sudah bisa mencapai titik impas atau breakevent.
Berdasarkan laporan keuangan semester I/2023, pendapatan bersih BUKA meningkat 28,97% secara tahunan menjadi Rp2,18 triliun dari Rp1,69 triliun pada semester I/2022. Berdasarkan segmennya, pendapatan BUKA ditopang oleh segmen marketplace yang berkontribusi Rp1,2 triliun, diikuti segmen online to offline sebesar Rp1,03 triliun, dan pengadaan sebesar Rp10,56 miliar. Sementara itu, BELI membukukan peningkatan pendapatan bersih menjadi Rp7,77 triliun. Pendapatan ini naik 15,85% year-on-year (YoY) dari Rp6,71 triliun.
CFO BELI Ronald Winardi menuturkan sepanjang kuartal II/2023, pihaknya berfokus pada penyelarasan bauran kategori produk di segmen Ritel 1P & Ritel 3P untuk mempercepat optimalisasi perolehan laba bruto BELI.
Direktur Utama Sinar Eka Selaras Djohan Sutanto mengatakan ERAL atau Erajaya Active Lifestyle (EAL) selalu berpartisipasi dalam program-program yang ditawarkan platform e-commerce. Keikutsertaan ini sekaligus melengkapi strategi ERAL di kanal daring.
DIVESTASI INCO : Semua Pihak Harus Diuntungkan
Pemerintah bersikap jauh lebih hati-hati dalam menyelesaikan proses divestasi PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menjelang berakhirnya kontrak karya perusahaan pada Desember 2025. Tidak ingin kebijakan yang dihasilkan merugikan salah satu pihak, pembicaraan alih saham perusahaan itu mendapatkan tenggat yang cukup longgar. Presiden Joko Widodo memastikan proses divestasi INCO tidak akan rampung dalam bulan ini, karena masih banyak persoalan yang membutuhkan pembicaraan mendalam. Tujuannya, proses divestasi perusahaan yang saat ini terafiliasi dengan Vale Canada Limited itu tidak merugikan pihak manapun. Kepala Negara sebelumnya memang sempat melontarkan proses divestasi INCO bakal diputuskan pada bulan lalu. Pemerintah pun terus bekerja untuk menyelesaikan salah satu bagian dari proses perpanjangan operasi INCO melalui izin usaha pertambangan khusus. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyampaikan bahwa proses negosiasi terkait dengan divestasi saham INCO sudah dalam tahap penyelesaian. Pihaknya telah membahas finalisasi divestasi INCO dengan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Saat ini, proses negosiasi divestasi saham INCO telah masuk ke dalam pembahasan antara perseroan dengan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID yang mendapat mandat untuk menyerap saham dalam proses divestasi tersebut. Kementerian ESDM juga diketahui telah menyetujui rencana pengembangan seluruh wilayah (RPSW) yang diajukan oleh INCO sejak April 2023. RPSW tersebut menjadi dokumen penting untuk perpanjangan izin konsesi tambang INCO yang akan berakhir pada 2025. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan persetujuan RPSW oleh Kementerian ESDM itu tidak otomatis memuluskan perpanjangan izin tambang INCO. Rizal menyebut bahwa penerbitan RPSW merupakan hal yang biasa. Sebab, pemerintah harus mengetahui luas wilayah perusahaan guna mendukung operasional. Di sisi lain, MIND ID sebagai badan usaha milik negara (BUMN) holding pertambangan mengaku masih menunggu hasil keputusan pemerintah. Corporate Secretary MIND ID Heri Yusuf mengatakan pihaknya percaya bahwa hasil dari keputusan pemerintah nantinya untuk kepentingan negara.
Emiten Mengebut Serapan Belanja Modal
Penyerapan belanja modal alias
capital expenditure
(capex) sejumlah emiten LQ45 masih bernilai minim. Meski demikian, emiten masih meyakini belanja modal dapat terserap di sisa tahun ini. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) misalnya, baru menyerap capex sebesar Rp 363 miliar per akhir Juni 2023. Nilai itu belum sampai separuh dari target capex yang dianggarkan tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun.
Sekretaris Perusahaan INTP Dani Handajani mengatakan, penggunaan capex akan digenjot pada semester kedua, terutama untuk perbaikan dan pemeliharaan operasional bisnis INTP.
Sedangkan emiten pertambangan, menyiapkan capex lebih jumbo tahun ini. PT Indika Energy Tbk (INDY) mencatat realisasi belanja modal sebesar US$ 70,9 juta. Rinciannya, US$ 5,7 juta digunakan untuk Indika Indonesia Resources, lalu US$ 3,4 juta untuk Kideco Jaya Agung.
Vice President Director
dan Group CEO INDY Azis Armand mengatakan, selain mendorong ESG, INDY juga memperkuat diversifikasi di sektor nonbatubara , termasuk bisnis energi baru dan terbarukan, kendaraan listrik, dan
nature-based solutions. Tahun ini, INDY menganggarkan belanja modal US$ 302,4 juta.
Sedangkan PT United Tractors Tbk (UNTR) berhasil menyerap capex sebesar US$ 600 juta. Realisasi ini setara dengan 50% dari anggaran capex 2023 sebesar US$ 1,2 miliar.
Sementara untuk
growth capital, sebagian besar belanja modal adalah untuk keperluan akuisisi lahan dan sebagian lagi untuk pengerjaan awal proyek pabrik smelter.
Emiten Konglomerasi Mulai Unjuk Gigi
Emiten saham milik para taipan dalam negeri masih menangguk laba besar. Berdasarkan laporan keuangan emiten sepanjang separuh pertama 2023, grup konglomerat yang memiliki bisnis sektor barang konsumsi baik primer atau non-primer menuai untung paling tebal.
Misalnya, kinerja Grup Salim yang punya bisnis utama sektor konsumer berhasil tumbuh subur. Contohnya, emiten duo Indofood mencetak pertumbuhan laba bersih dua kali lipat dibandingkan semester I tahun lalu. Sayang, kinerja Grup Salim masih tertekan oleh perusahaan dari sektor perkebunan yang kompak anjlok dua digit.
Senasib, kinerja Grup Astra juga mengalami tekanan dari sektor kelapa sawit. Maklum, harga komoditas crude palm oil (CPO) memang turun cukup dalam sepanjang semester I 2023 lalu. Untungnya, kinerja emiten Astra yang lain masih tumbuh bertumbuh. Salah satunya kinerja dari bisnis otomotif.
Sedangkan kinerja Grup Djarum masih disokong oleh Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil mencetak laba bersih Rp 24,19 triliun atau naik 34,02% secara tahunan. Sayangnya, lini bisnis Grup Djarum lainnya masih tertekan, bahkan merugi.
Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo mengatakan, kinerja emiten konglomerasi itu sangat didominasi oleh isu sektoral. Hal ini sejalan dengan fase pemulihan ekonomi.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, hasil kinerja para grup konglomerasi ini menunjukkan kegiatan ekonomi belum sepenuhnya pulih.
Dari berbagai grup konglomerasi yang ada di bursa, pilihan Nico jatuh pada Grup Salim dan Grup Djarum, Untuk Grup Salim, saham pilihan dia pada INDF dan ICBP, sementara di Grup Djarum ada di BBCA.
Di samping itu, Grup Salim juga bisa dicermati karena bermain di sektor konsumer primer sehingga sahamnya tergolong defensif. Dari grup ini saham pilihan Praska jatuh pada INDF. Praska juga menilai, saham BBCA dan TOWR masih menarik dicermati.
Emiten Konstruksi Agresif Mengejar Kontrak Baru
Beberapa emiten yang bergerak di bidang konstruksi mampu membukukan kontrak baru di semester I-2023. Kontrak ini akan menjadi modal penting untuk melaksanakan produksi hingga beberapa tahun mendatang. Tak hanya penambahan jumlah, kontrak selama semester I-2023 dinilai banyak yang sesuai dengan target hingga dianggap
in-line
sampai akhir tahun 2023 ini.
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang hingga Juni 2023 telah berhasil menggenggam kontrak baru sebesar Rp 11,47 triliun atau turun dibandingkan periode yang sama yang sebesar Rp 13,8 triliun. Target kontrak WIKA sampai akhir tahun Rp 36 triliun.
Corporate Secretary
WIKA Mahendra Vijaya bilang sebagian besar proyek pada
order book
berasal dari segmen infrastruktur dan bangunan gedung, disusul dengan kontrak rekayasa, pengadaan, konstruksi dan
commissioning
(EPCC) dan industri.
Memasuki semester II-2023, WIKA optimistis nilai kontrak baru akan terus bertambah hingga akhir tahun sejalan dengan keikutsertaan perseroan pada berbagai tender proyek yang didominasi oleh segmen infrastruktur, bangunan gedung dan industri.
Tak hanya WIKA, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) hingga Juni 2023 juga memperoleh kontrak sesuai target. "ADHI mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp14 triliun atau tumbuh sebesar 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp11,7 triliun," jelas Corporate Secretary ADHI, Farid Budiyanto, kemarin.
Sementara PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) semakin dekat menggapai target kontrak baru untuk tahun 2023 yaitu Rp 2,6 triliun. "Per 31 Juli 2023 nilai kontrak baru yang telah diraih sekitar Rp 2,06 triliun," tutur Sekretaris Perusahaan TOTL, Anggie S. Sidharta, kemarin.
Ini berarti ada peningkatan kontrak baru di Juli. Mengingat, sampai akhir Juni 2023 nilai kontrak baru TOTL sebesar Rp 1,33 triliun. Anggie mengatakan, sejauh ini ada 13 proyek baru yang dikerjakan, ditambah beberapa proyek lain yang masih
on-going
di tahun 2023.
Emiten Konstruksi Agresif Mengejar Kontrak Baru
Beberapa emiten yang bergerak di bidang konstruksi mampu membukukan kontrak baru di semester I-2023. Kontrak ini akan menjadi modal penting untuk melaksanakan produksi hingga beberapa tahun mendatang. Tak hanya penambahan jumlah, kontrak selama semester I-2023 dinilai banyak yang sesuai dengan target hingga dianggap
in-line
sampai akhir tahun 2023 ini.
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang hingga Juni 2023 telah berhasil menggenggam kontrak baru sebesar Rp 11,47 triliun atau turun dibandingkan periode yang sama yang sebesar Rp 13,8 triliun. Target kontrak WIKA sampai akhir tahun Rp 36 triliun.
Corporate Secretary
WIKA Mahendra Vijaya bilang sebagian besar proyek pada
order book
berasal dari segmen infrastruktur dan bangunan gedung, disusul dengan kontrak rekayasa, pengadaan, konstruksi dan
commissioning
(EPCC) dan industri.
Memasuki semester II-2023, WIKA optimistis nilai kontrak baru akan terus bertambah hingga akhir tahun sejalan dengan keikutsertaan perseroan pada berbagai tender proyek yang didominasi oleh segmen infrastruktur, bangunan gedung dan industri.
Tak hanya WIKA, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) hingga Juni 2023 juga memperoleh kontrak sesuai target. "ADHI mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp14 triliun atau tumbuh sebesar 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp11,7 triliun," jelas Corporate Secretary ADHI, Farid Budiyanto, kemarin.
Sementara PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) semakin dekat menggapai target kontrak baru untuk tahun 2023 yaitu Rp 2,6 triliun. "Per 31 Juli 2023 nilai kontrak baru yang telah diraih sekitar Rp 2,06 triliun," tutur Sekretaris Perusahaan TOTL, Anggie S. Sidharta, kemarin.
Ini berarti ada peningkatan kontrak baru di Juli. Mengingat, sampai akhir Juni 2023 nilai kontrak baru TOTL sebesar Rp 1,33 triliun. Anggie mengatakan, sejauh ini ada 13 proyek baru yang dikerjakan, ditambah beberapa proyek lain yang masih
on-going
di tahun 2023.
Pemulihan Ekonomi Topang Kinerja Ritel
Meski ekonomi bergulir, emiten ritel membukukan kinerja bervariasi sepanjang semester I-2023.
Misal PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengalami penurunan laba bersih. Keuntungan LPPF merosot 25,53%
year on year
(YoY) menjadi Rp 683,87 miliar. Hasil ini terjadi ketika pendapatan LPPF masih bisa tumbuh 2,39% menjadi Rp 3,85 triliun.
Begitu juga PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Pendapatan MAPI menanjak 27,37% secara tahunan (yoy) ke posisi Rp 15,59 triliun. Tapi laba bersihnya terpangkas 5,45% menjadi Rp 1,04 triliun.
Serupa dengan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Laba bersih ERAA melorot 9,62% menjadi Rp 458,66 miliar ketika penjualan neto melonjak 23,50% ke level
Rp 28,90 triliun.
Nasib lebih baik dialami Grup Alfamart & Alfamidi, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI). Kinerja mereka tumbuh.
Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey menilai, secara umum kinerja emiten ritel setengah tahun ini sesuai dengan ekspektasi.
Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menjagokan saham ACES dan MAPI dengan strategi
buy on support.
Menanti Pemulihan Permintaan CPO
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kinerja kurang memuaskan di separuh pertama tahun 2023. Pendapatan dan laba emiten perkebunan kelapa sawit ini negatif karena mengalami penurunan penjualan crude palm oil (CPO). Analis Ciptadana Sekuritas, Yasmin Soulisa mencermati, penghasilan AALI yang mengecewakan karena biaya tinggi dan penjualan yang lebih rendah. Penjualan CPO alias minyak sawit mentah lesu karena harga CPO global tidak mendukung.
Pendapatan AALI secara kumulatif di semester pertama 2023 turun 14,4% YoY menjadi Rp 9,39 triliun. Sementara, laba merosot 54,6% yoy menjadi Rp 368 miliar karena semua segmen mengalami pertumbuhan negatif.
Pendapatan AALI yang melesu terutama karena harga CPO dunia yang lebih rendah dari perkiraan di semester I-2023. Rata-rata, harga CPO dunia turun 4,4% secara kuartalan menjadi RM 3.840 per ton di kuartal kedua 2023. Sehingga, harga rata-rata CPO global menjadi RM 3.929 per ton untuk periode semester I-2023, atau turun 37,8% secara tahunan.
Dari segi produksi, produksi Tandan Buah Segar (TBS) dan CPO AALI masih relatif sejalan dengan estimasi Ciptadana Sekuritas. Produksi TBS menjadi 2,11 juta ton pada semester I-2023, atau meningkat 7,9% secara tahunan. Sedangkan produksi CPO mencapai 619.000 ton atau sedikit turun 3,1% secara tahunan karena rata-rata utilisasi pabrik yang lebih rendah.
Sisi baiknya, program pencampuran biodiesel yang lebih tinggi sebesar 35% dari 30% di tahun lalu diharapkan mendukung permintaan minyak sawit dalam negeri. Peningkatan kebutuhan biodiosel dari B30 ke B35 tersebut artinya porsi CPO yang dibutuhkan juga turut meningkat. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji menyebutkan, sentimen positif untuk meningkatkan permintaan CPO adalah kehadiran China dan India untuk menyerap ketersediaan minyak sawit mentah. Prospek perekonomian yang lebih baik dari kedua negara importir terbesar CPO tersebut akan membantu penyerapan.
Dari domestik, pemilu bisa menjadi momentum untuk mengangkat permintaan minyak sawit mentah yang memiliki produk turunan salah satunya minyak goreng.
PROSPEK SEKTORAL : RESEP EMITEN KESEHATAN JAGA STAMINA
Mayoritas emiten sektor kesehatan mengantongi tekanan profitabilitas kendati pendapatannya mampu tumbuh positif pada semester I/2023. Di tengah sentimen itu, para emiten mengatur ulang strategi untuk menjaga performa hingga akhir tahun ini.nBerdasarkan data yang dihimpun Bisnis, 12 dari 18 emiten kesehatan mampu membukukan pertumbuhan pendapatan sepanjang Januari—Juni 2023. Pendapatan dua emiten rumah sakit, PT Sejahteraraja Anugerahjaya Tbk. (SRAJ) dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAME) kompak naik lebih dari 20% secara tahunan.nPendapatan SRAJ tercatat naik 24,94% year-on-year (YoY) menjadi Rp1,12 triliun, sedangkan SAME meraih pertumbuhan pendapatan 21,13% secara tahunan menjadi Rp772,71 miliar pada paruh pertama tahun ini.nKontras, pendapatan PT Indofarma Tbk. (INAF) merosot paling dalam dengan koreksi 36,42% YoY dari Rp574,05 miliar pada semester I/2022 menjadi Rp364,96 miliar dalam 6 bulan pertama 2023. nSejalan dengan raihan top line itu, emiten-emiten kesehatan mendulang profitabilitas yang bervariasi. Tiga emiten yang mampu mempertebal laba bersih ialah PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) melesat 139,36% YoY menjadi Rp503,37 miliar, PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) meningkat 82,87% YoY menjadi Rp692,84 miliar, dan PT Kedoya Adyaraya Tbk. (RSGK) naik 64,93% YoY menjadi Rp14,25 miliar. (Lihat infografis)nMeski melandai, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) masih menjadi emiten kesehatan yang mendulang laba paling tebal. Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas KLBF pada semester I/2023 terkontraksi 6,59% dari Rp1,63 triliun pada paruh pertama 2022 menjadi Rp1,52 triliun. Profitabilitas itu dikantongi dari penjualan neto yang tumbuh 9,4% YoY dari Rp13,87 triliun menjadi Rp15,17 triliun. nKartika Setiabudy, Chief Financial Officer Kalbe Farma, memaparkan kontribusi penjualan bersih dari divisi obat resep sebesar Rp3,87 triliun, divisi nutrisi Rp3,93 triliun, divisi distribusi dan logistik Rp5,31 triliun, divisi produk kesehatan Rp2,05 triliun.
Terpisah, Presiden Direktur Siloam Benny Haryanto mengatakan SILO akan terus mendorong efisiensi dan profitabilitas di seluruh cabang rumah sakit Siloam. Emiten Grup Lippo itu, lanjutnya, juga berkomitmen untuk membangun 1—2 rumah sakit baru per tahunnya dengan fokus pada pasar premium.nSementara itu, Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan capaian kinerja semester I/2023 menjadi bukti bahwa perseroan mampu menghasilkan kinerja yang positif meski status pandemi Covid-19 telah berakhir di Indonesia.
Laba Lima Emiten Semen Melesat 41% Saham Menggeliat
JAKARTA,ID-Laba bersih lima emiten semen melesat 41% menjadi Rp 2,05 triliun semester I-2023, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,45 triliun. Seiring dengan itu, saham semen menggeliat pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis (3/8/2023). Kelima emiten semen itu adalah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Indocement/Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT), PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), dan PT Semen Baturaja Tbk (SMBR). Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2023, laba bersih Semen Indonesia tumbuh 3% menjadi Rp866 miliar dari Rp 840 miliar semester I tahun lalu. Sementara itu, laba bersih Indocement meroket 139% menjadi Rp 698 miliar dari Rp 291 miliar. Lompatan laba bersih juga melanda Cemindo, yakni dari Rp50,07 miliar menjadi Rp223,24 miliar. Begitu juga dengan laba bersih Semen Baturaja yang naik dari Rp16,25 miliar menjadi Rp16,62 miliar. Adapun laba bersih SBI turun tipis dari Rp258,27 miliar menjadi Rp254 miliar. Sementara itu, kemarin, saham SMGR naik 5,8% ke level Rp7.225 INTP 4,9% menjadi Rp 935, SMCB 0,6% ke level Rp 1.630, dan SMBR 3,28% menjadi Rp378. (Yetede)








