Korporasi
( 1557 )HRTA Optimistis Capai Target 2023
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) berhasil melanjutkan peningkatan kinerja
all time high
di kuartal II 2023. Manajemen HRTA optimistis kinerjanya akan terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan bisnis ritel di pasar domestik dan pengembangan pasar ekspor.
Director Investor Relations
Hartadinata Abadi, Thendra Crisnanda mengatakan, pendapatan perseroan bertumbuh sebesar 91,96% menjadi Rp 6,17 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu.
Tak hanya itu, hingga kuartal II-2023, HRTA juga telah membuka total 76 gerai milik sendiri. Tahun ini, perusahaan juga menargetkan penambahan toko emas milik sendiri menjadi 100 toko. HRTA menargetkan, ekspansi gerai di wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
Lebih lanjut, hingga kuartal II-2023, HRTA juga telah merealisasikan belanja modal atawa
capital expenditure
(capex) 45% dari total alokasi di tahun ini yang sebesar Rp 50 miliar.
Tahun ini, HRTA menargetkan pendapatan di kisaran Rp 9,5 triliun hingga Rp 10 triliun. Perusahaan ini juga membidik perolehan laba bersih di angka Rp 360 miliar hingga sebesar Rp 400 miliar di tahun ini.
HRTA juga terus memperluas pasar ekspor perhiasan. Pada akhir Juni lalu (28/6), HRTA telah menandatangani
memorandum of understanding
(MOU) ekspor perhiasan emas dengan Bright Metal Refiners (BMR).
Menurut Thendra, HRTA sejauh ini telah menggaet tiga partner ekspor dari India untuk diajak bekerjasama. Mereka adalah Kundan Care Product LTD (Kundan), BMR dan LP Commodities.
Bisnis Jadi Efisien, Laba Bisa Terkerek
Restrukturisasi bisnis PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) akan mempercepat implementasi bisnis fixed mobile convergence (FMC). Kondisi ini akan membuat kinerja TLKM bisa makin bertumbuh di masa depan.
Salah satu upaya TLKM yang dilakukan untuk mempercepat implementasi FMC adalah spin-off segmen usaha IndiHome ke PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Ini akan memperkuat dominasi TLKM, baik di bisnis seluler dan fixed broadband.
Dengan lancarnya implementasi produk FMC TLKM, Deputy Head of Research Sucor Sekuritas Paulus Jimmy dalam riset 7 Juli 2023 memperkirakan margin TLKM akan menggemuk karena pendapatan yang lebih tinggi dan biaya yang lebih efisien. Hal ini akan membuat rasio belanja modal TLKM lebih rendah, yakni 22% dari pendapatan pada tahun 2025. Sebelumnya belanja modal TLKM sebesar 25% dari pendapatan.
Analis BCA Sekuritas Mohammad Fakhrul Arifin dalam riset 3 Juli 2023 pun sepakat mengatakan, jika spin-off IndiHome ke Telkomsel akan membuat Telkomsel fokus pada segmen B2C. Sedangkan TLKM akan berkonsentrasi pada B2B.
Rencana restrukturisasi TLKM yang lain adalah divestasi unit bisnis teknologi finansial (tekfin) solusi pembayaran Finnet Indonesia (Finnet). Paulus menilai, hal ini merupakan bagian dari five bold moves TLKM untuk memperbesar bisnis digital dan meningkatkan sinergi dalam ekosistem. Meski detail tentang rencana transaksi ini belum dirilis,
Selain restrukturisasi bisnis, Cheril Tanuwijaya, Head of Research Investasiku, produk Mega Capital Sekuritas, menyebutkan, TLKM akan menuai untung dari kampanye politik menjelang pemilihan umum (pemilu). Dia mengatakan, secara historis, saham telekomunikasi bergerak positif jelang pemilu. "Di masa kampanye, konsumsi data akan meningkat," kata dia.
STRATEGI KORPORASI : PGAS Fokus Garap Penyaluran Gas
PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) memastikan bakal fokus membenahi portofolio bisnisnya di sektor midstream dan hilir gas, sehingga tidak akan mengakuisisi wilayah kerja minyak dan gas bumi baru untuk memastikan pasokan. Arief Setiawan, Direktur Utama PGAS, mengatakan bahwa perusahaan hanya akan meningkatkan investasi di sektor midstream dan hilir gas. Hal itu dilakukan setelah perusahaan mendapat mandat untuk fokus menggarap bisnis penyaluran gas di dalam negeri. Aksi akuisisi sejumlah lapangan gas yang dilakukan perusahaan sebelumnya, kata dia, dilakukan untuk memastikan pasokan gas yang akan disalurkan kepada pelanggan. Dengan mengoperasikan lapangan gas sendiri, harapannya PGAS tidak terlalu bergantung kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) terkait dengan pasokan gas ke pelanggan. Pembatalan sejumlah proyek itu disebabkan oleh minimnya permintaan LNG di sisi hilir, kendati produksi gas di beberapa lapangan cenderung mengalami pertumbuhan yang signifikan beberapa tahun terakhir.
Melesat 139%, laba Siloam Tembus Rp 503 Miliar
JAKARTA,ID-PT Siloam Internasional Hospital Tbk (SILO) membukukan performa yang meyakinkan pada semester I-2023 dengan mencetak laba Rp503,36 miliar, naik 139,52% dibanding periode sama 2022 (yoy) sebesar Rp210,30 miliar. Sejalan dengan itu, pendapatan perseroan naik 18% atau bertambah sekitar Rp 800 miliar dibandingkan periode enam bulan pertama tahun lalu, dari Rp4,4 triliun menjadi Rp 5,2 triliun. Merujuk pada laporan keuangan konsolidasi interim, komposisi pendapatan emiten rumah sakit group Lippo ini dikontribusi segmen spesialis sebesar Rp1,1 triliun, tumbuh 18,2% dari pendapatan sebelumnya Rp977 miliar. "Kontribusi lainnya berasal dari pendapatan dari nonspesialis yang meningkat 16% menjadi Rp 4 triliun dari tahun sebelumnya Rp 3,4 triliun," jelas manajemen Siloam International Hospitals dalam keterangannya, Selasa (25/07/2023). Menurut manajemen Siloam bisnis rawat inap menyumbang pendapatan Rp3 triliun, naik 18% dari sebelumnya Rp 2,4 triliun. Kemudian pendapatan dari sisi bisnis rawat jalan tumbuh 13,5% menjadi Rp2,2 triliun dari periode Juni 2022 sebesar Rp 1,9 triliun. (Yetede)
Margin Bunga Meningkat, Laba BCA Meleset
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) masih melanjutkan pertumbuhan kinerja solid. Sepanjang semester pertama 2023, bank ini berhasil meraup laba bersih senilai Rp 24,19 triliun. Capaian ini tumbuh 34% secara tahunan. Pertumbuhan pesat keuntungan BCA terutama ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat 24,6% secara tahunan menjadi sebesar Rp 37,1 triliun. Padahal pada paruh pertama tahun lalu, pendapatan bunga bersih BCA hanya tumbuh 5,3%.
Secara total, pendapatan bunga BCA di enam bulan pertama 2023 tembus Rp 42,7 triliun. Sedangkan beban bunganya hanya Rp 5,66 triliun.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyampaikan, pertumbuhan laba di paruh pertama tahun ini didorong kenaikan volume kredit, perbaikan kualitas kredit, serta peningkatan volume transaksi dan pendanaan.
Dari sisi intermediasi, kredit BCA hingga Juni 2023 naik 9% secara tahunan. "Kredit konsumer menjadi segmen dengan pertumbuhan kredit tertinggi, diikuti oleh kredit komersial dan UKM," kata Jahja, Senin (24/7).
Pertumbuhan kredit BCA disertai dengan perbaikan kualitas aset. Non performing loan (NPL) turun ke level 1,9% dari 2,2% pada Juni 2022.
Laba Unilever Merosot 19,55%
Kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) masih lesu. Sepanjang semester pertama 2023, emiten barang konsumsi ini mencatatkan penurunan laba sebesar 19,55% secara tahunan atau
year on year (yoy) menjadi Rp 2,75 triliun.
Mengutip paparan kinerja UNVR per 30 Juni 2023, penurunan laba bersih ini juga dipicu penurunan penjualan.
Secara kuartalan, laba bersih dan pendapatan UNVR juga turun. Pendapatan UNVR di kuartal II-2023 mencapai Rp 9,7 triliun, atau turun 8,8% secara tahunan.Sedangkan laba bersih kuartal II-2023 turun 2,9% secara tahunan menjadi Rp 1,4 triliun. Penjualan UNVR baik di segmen
home and personal care
(HPC) dan
food and refreshment
(FnR) terkoreksi secara kuartalan.
Presiden Direktur UNVR, Ira Noviarti mengatakan, penurunan kinerja UNVR disebabkan oleh sejumlah faktor eksternal. Salah satunya adalah, disrupsi
channel e-commerce
dan dampak penutupan layanan dari sejumlah kanal daring beberapa pemain B2B dan B2C
e-commerce pada akhir tahun lalu.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta masih optimistis kinerja UNVR membaik di sisa tahun ini. Dia menyarankan akumulasi UNVR dengan target harga Rp 4.920 per saham.
E-Commerce Angkut Bisnis GTRA
Permintaan jasa angkut menjadi penggerak roda bisnis PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk (GTRA). Emiten transportasi dan logistik ini menyambut peluang tersebut dengan menambah armadanya.
Direktur Utama Grahaprima Suksesmandiri, Ronny Senjaya, optimistis atas prospek industri transportasi dan logistik. Perusahaan ini menargetkan pendapatan tahun ini bisa tumbuh 40% dari realisasi di tahun lalu, yang senilai Rp 215,87 miliar.
Proyeksi pendapatan GTRA akan didukung ekspansi penambahan armada baru. Tahun ini, GTRA mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 36,82 miliar.
Secara total, GTRA memiliki lebih dari 1.000 unit truk. GTRA memiliki sejumlah armada yang terdiri dari bebagai tipe. Di antaranya colt diesel engkel (CDE-4 Ban), colt diesel double (CDD-6 Ban), fuso (6 Ban) dan tronton wing box (TWB- 10 Ban).
GTRA percaya diri truk miliknya akan menerima banyak order. Ini sejalan dengan perkembangan internet dan teknologi yang melahirkan booming e-commerce. Saat pandemi Covid-19 lalu pun menjadi berkah bagi jasa transportasi ataupun pengiriman barang seperti GTRA.
GTRA telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan e-commerce salah satunya Shopee Express. GTRA juga memiliki pelanggan di bidang fast moving consumer goods (FMCG) yang berproduksi dalam volume besar.
Direktur Operasional GTRA, Pittoyo Adi Kriswanto menambahkan, perusahaan ini akan mengutamakan kepuasan pelanggan untuk menjadi strategi peningkatan bisnis. GTRA berkomitmen untuk memastikan pengiriman barang dilakukan selalu tepat waktu (on-time).
Kejar Setoran, SMDR Beli 11 Kapal
Perusahaan pelayaran PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) menargetkan penambahan 11 armada kapal baru tahun ini. Ekspansi armada demi mengejar target kinerja yang lebih baik.
Direktur Utama SMDR Bani Maulana Mulia mengungkapkan, penambahan armada sejalan dengan rencana ekspansi yang dilakukan perusahaan."Ada 11 kapal baru yang akan bergabung tahun ini. Sejauh ini sudah diterima enam unit, sisa lima unit menyusul di semester II-2023," kata Bani ke KONTAN, Kamis (20/7).
Bani menjelaskan, dari 11 unit kapal baru yang direncanakan tersebut, sebanyak enam unit kapal berupa kapal pengangkut peti kemas, dua unit tanker dan tiga unit kapal curah. Adapun, estimasi biaya untuk pengadaan kapal ini mencapai US$ 15 juta hingga US$ 30 juta per unitnya.
Dalam catatan sebelumnya, SMDR berencana menambah tujuh sampai sembilan armada kapal peti kemas untuk mengopimalisasi kinerja operasional. Selain kapal peti kemas, SMDR juga berencana menambah kapal tanker pengangkut LPG yang saat ini masih dalam proses. Rencananya, kapal tanker ini akan diterima pada kuartal II-2023 mendatang.
Tidak hanya melalui penambahan armada kapal, Bani memastikan langkah ekspansi juga dilakukan dengan menyasar sejumlah proyek pelabuhan di Indonesia. Bani mengungkapkan, pada tahun ini perusahaan menargetkan pendapatan mencapai US$ 800 juta. Menurut dia, sejauh ini kinerja keuangan SMDR menunjukkan hasil yang cukup positif.
Namun, SMDR optimistis melihat prospek bisnis di tahun ini karena ada sejumlah katalis positif yang akan mendukung agenda perseroan. Bani menjelaskan, berdasarkan perkembangan terakhir mengenai kinerja perusahaan di kuartal I 2023, pendapatan SMDR senilai US$ 207,7 juta atau turun 17%
yoy
dari sebelumnya US$ 250 juta di kuartal I 2022. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan pada tahun ini antara lain; efisiensi dan produktivitas, serta kontrak pelanggan dan
freight rate.
Empat Raksasa Properti Kantongi Prapenjualan Rp 12 Triliun
JAKARTA,ID-Sebanyak empat raksasa properti nasional, yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Ciputra Development Tbk (CTRA) PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT pakuwon Jati Tbk (PWON), I-2023, naik 2,6% dibandingkan periode sama tahun lalu. berdasarkan risent Mandiri Sekuritas, Ciputra mencetak prapenjualan tertinggi, Rp 5 triliun, semester satu tahun ini, tumbuh 27% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 3,9 triliun. Sementara itu, prapenjualan BSD tumbuh 2,8% menjadi Rp 4,7 triliun dari Rp 4,6 triliun. Adapun prapenjualan Pakuwon ambles 25% menjadi Rp 600 miliar per Juni 2021 dari Rp802 miliar, sedangkan Summarecon turun 30% menjadi Rp1,6 triliun dari Rp 2,3 triliun. Analis Mandiri Sekuritas (mansek) Robin Sutanso menyebutkan, presales Ciputra per Juni 2023 mencapai 57% dari target Rp 1,5 triliun, dan Summarecon 34% dari target Rp 5 triliun. Dia menegaskan, Ciputra juga mencetak prapenjualan impresif kuartal kuartal I tahun ini, sehingga akumulasi semester I bisa tumbuh. Padahal kuartal II lalu, perseroan hanya merilis empat peluncuran proyek baru 2023. Dari jumlah itu, dua diantaranya menunjukkan penerimaan yang lemah. (Yetede)
WSKT Kantongi Proyek Rp 7,28 Triliun
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) berhasil mencatat perolehan kontrak baru (NKB) senilai Rp 7,82 triliun hingga Juni 2023. Mayoritas kontrak anyar ini nampaknya masih akan didominasi dari proyek pemerintah yang mencapai 66,24%.
SVP Corporate Secretary
PT Waskita Karya Tbk Ermy Puspa Yunita mengatakan, sampai saat ini, pemerintah masih percaya dengan menunjuk Waskita untuk mengerjakan proyek-proyek strategis nasional.
Menurut dia, selain proyek pemerintah, kontribusi proyek baru yang dikantongi perseroan dari badan usaha milik negara (BUMN) dan badan usaha milik daerah (BUMD) sebesar 13,62%, proyek swasta sebesar 1,29%, dan dari anak perusahaan sebesar 18,85%.
Sementara berdasarkan segmentasi proyek, total NKB tersebut bersumber dari infrastruktur sektor konektivitas sebesar 53,49%, infrastruktur sumber daya air (SDA) 15,70%, gedung 11,80%,
engineering procurement construction
(EPC) 1,25%, dan anak usaha sebesar 17,76%,
Adapun proyek IKN Nusantara yang digarap perseroan diantaranya, proyek jalan tol IKN Ruas 5A, jalan tol Lingkar Sepaku Segmen 4, Gedung Sekretariat Presiden dan Fasilitas Gedung Penunjang, pembangunan gedung dan kawasan Kementerian Koordinator (Kemenko) Paket 3.









