Internasional
( 1369 )Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia
Jumlah Pemudik Menurun Disebabkan Daya Beli yang Melemah
Pemerintah Rancang Paket Diplomasi Ekonomi
Manfaatkan Momentum Tak Perlu Panik
Serangan tarif bea masuk (BM) Amerika Serikat (AS) memang akan menghantam kinerja industri yang banyak mengekspor barang ke negara tersebut, seperti tekstil, elektronik, dan mebel. Imbasnya, produksi dan utilitas pabrik tergerus yang bisa berujung ke pemutusan bunga kerja (PHK) massal di tiga sektor tersebut. Akan tetapi pemerintah diminta bersikap tenang dalam merespons kebijakan Presiden AS Donald Trump tersebut. Sebaliknya, jadikan ini sebagai momentum untuk memperkuat kebijakan ekonomi agar Indonesia bisa bertahan di tengah kemelut perang dagang. Bentuknya bisa mencabut kebijakan ekonomi yang propasar, perusahaan, dan investasi.
Sebab, rangkaian kebijakan negatif menjadi alasan AS mengenakan tarif BM 32% dari tadinya 10% untuk produk Indonesia. Sebagai gantinya pemerintah harus merilis regulasi yang mempermudah investasi dan merombak tarif yang merespons negatif oleh komunitas global, termasuk AS. Pemerintah juga harus memanfaatkan peluang di balik serangan tarif Trump. Contohnya, sektor pertanian dan kelautan memiliki potensi besar di pasar Timur Tengah dan Afrika yang selama ini terabaikan. Kemudian, kenaikan tarif kayu menjadikan momentum untuk mengembangkan industri furnitur bernilai tambah tinggi, bukan sekedar ekspor kayu gelondongan.
Penguatan pasar domestik juga mendesak dilakukan demi menjaga laju ekonomi. Saat pasar global melemah, pasar domestik menjadi tumpuan industri manufaktur. Sementara itu, pemerintah memastikan tidak akan melakukan tindakan balasan ke AS, seperti yang dilakukan China, Uni Eropa, dan Kanada. Pemerintah memilih jalur diplomasi. Di sisi lain, pasar keuangan diprediksi menghadaoi tekanan hebat pada pekan ini, mengikuti pergerakan bursa dunia. Diketahui wall street dan bursa Asia terempas begitu Trump mengumumkan tarif BM impor baru yan disebut sebagai bertanda dimulainya perang dagang. (Yetede)
Tentang Kebijakan Trump, Apakah yang Sebaiknya Dilakukan?
Pada tanggal 2 April 2025 Presiden Donald Trump akhirnya mengumumkan "Darurat Nasional" untuk menaikkan tingkat tarif kepada mitra dagangnya yang menikmati surplus perdagangan dengan AS. Sebagaimana tertuang dalam fact sheet Gedung Putih, "Darurat Nasional" ini ditujukan untuk meningkatkan kedaulatan dan memperkuat keamanan nasional dan ekonomi AS. Berbeda dengan kebijakan tarifnya di masa kepresidenan pertama dari 20 Januari 2017 hinga 20 Januri 2021, kali ini sejumlah mitra dagang AS menunjukkan sikap perlawanan secara nyata dan segera menyiapkan Langkah balasan. China segera menerapkan tariff counter-measures namun tetap membuka pintu periundingan dengan AS.
Presiden Uni Eropa mengumumkan bahwa Brussels sedang menyelesaikan paket pertama tindakan balasan terhadap kebijakan tarif Trump di sektor baja. Langkah ini ajan diusulkan dengan paket berikutnya, bila perundingan antara Washington, DC dan Brussels gagal mencapai kesepakatan. Meksiko, Kanada: counter measures tapi siap berunding. Di pihak lain, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam tidak serta merta menyiapkan counter-measures tetapi segera mengajak Trump untuk berunding. Bagaimana dengan Indonesia? Berbeda dengan tahun lalu, pemberitaan di sekitar Idul Fitri kali ini segera ditimpali dengan berita mengenai kebijakan tarif Trump dimana Indonesia dimana Indonesia menjadi salah satu targetnya. (Yetede)
12 Orang Meninggal Akibat Bentrokan di Puncak Jaya
Keterbatasan Spektrum Frekuensi untuk Mengembangkan Teknologi Jaringan 5G
Agentic AI Diprediksi Mengalami Perkembangan Signifikan
Bahkan Pulau Penguin Pun Terkena Tarif Trump
Trump mengenakan tarif impor atas
Pulau Heard dan Pulau Mc Donald yang tidak berpenghuni dan nyaris tak dikenal. Pulau
tak jauh dari Antartika di lingkar Kutub Selatan itu hanya dihuni penguin,
singa laut, dan burung liar. Pulau-pulau itu dikenai tarif impor 10 % oleh
Trump. Merujuk laporan The Guardian, wilayah tersebut memiliki potensi perikanan.
Namun, di pulau itu tidak ada aktivitas apa pun terkait industri perikanan. Tidak
ada bangunan atau tempat tinggal manusia di pulau yang ditetapkan menjadi suaka
bagi penguin itu. Meskipun demikian, merujuk data ekspor Bank Dunia, The
Guardian melaporkan, pada 2022, AS mengimpor produk senilai 1,4 juta USD dari
Pulau Heard dan Pulau McDonald. The Guardian juga menyebutkan, ada angka impor
dari pulau itu selama beberapa tahun sebelumnya, antara 15.000 USD dan 325.000 USD.
Produk yang diimpor dari pulau penguin itu mencakup mesin dan produk
elektrifikasi.
Wilayah terpencil lain yang
dihantam tarif oleh Trump adalah Pulau Norfolk, di bawah kontrol Australia,
yang dikenai tarif impor 29 %. Pulau Norfolk terletak di antara Kaledonia Baru
dan Pulau Utara, Selandia Baru, 1.600 kilometer timur laut kota Sydney,
Australia. Warga Norfolk adalah keturunan para pelaut yang memberontak di kapal
HMS Bounty tahun 1789. Mereka hidup dari industri pariwisata. Berbagai kapal
pesiar singgah ke pulau tanpa landasan pesawat udara itu. Kamar Dagang Norfolk
mengatakan, mereka berada di peringkat ke-223 dunia dalam ekspor pada 2019.
Nilai ekspor mereka sebesar 2,7 juta USD berupa penganan berbasis kedelai dan
aneka bibit tanaman. Richard Cottle, pemilik pabrik pembuatan beton di Pulau Norfolk,
heran dengan tarif Trump. ”Kemungkinan besar ada kesalahan. Norfolk hanyalah
titik merah kecil di dunia ini. Kami bukan negara eksportir,” katanya. (Yoga)
Investasi Emas Batangan
Emas menjadi salah satu pilihan
investasi yang evergreen, dari dulu hingga sekarang. Apalagi belakangan ketika
situasi perekonomian labil, nilai emas yang stabil naik semakin dilirik. Wajah
Abdul Rosad (34) dan istrinya Yenni Kristayanti (29) tampak semringah setelah
menyelesaikan transaksi pembelian emas di gerai PT Aneka Tambang Tbk (Antam),
Pondok Indah Mall (PIM) 1, Jaksel, Rabu (2/4).
Pasangan muda itu jadi bagian warga yang antre untuk membeli emas. Keduanya
mengantre hampir satu jam, tapi mereka puas karena akhirnya mendapatkan emas
dan menilai baik pelayanan petugas. Kedatangan mereka ke PIM, awalnya hanya sekadar
jalan-jalan dan mengisi waktu libur Lebaran. Saat turun dari lantai satu ke lantai
GF, Abdul dan Yenni melihat antrean pengunjung. Tanpa pikir panjang, Abdul dan
Yenni ikut mengantri.
”Ini pertama kali kami membeli
emas. Jadi, ini investasi emas pertama kami. Sebelumnya ada sih, tapi itu wujud
kayak perhiasan kalung dan gelang, tetapi itu bukan dari emas Antam,” kata
Yenni, yang menunjukkan enam keping emas yang masing-masing seberat satu gram.
Alasan membeli emas Antam karena melihat nilainya terus naik. Dengan demikian, instrument
itu akan menjadi investasi cerah dan menjanjikan untuk masa depan. Investasi
emas, menurut keduanya, juga akan sangat berguna untuk membiayai keperluan
mendesak di masa depan. Misalnya untuk keperluan persalinan dan biaya sekolah. Ronny
(58), pengunjung lainnya, juga menilai emas menjadi investasi menjanjikan untuk
masa depan. Ronny bersama istri dan anak perempuannya sengaja datang ke PIM 1
untuk membeli emas sembari menikmati masa libur Lebaran. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









