Internasional
( 1352 )Mengoptimal Sumber Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Agar Mencapai 5%
Kemenhub Dorong Maskapai Beli Boeing
Fiji Dapat Bantuan Hibah US$6 Juta dari RI
QRIS Jalan Terus
Masih ada China dan India yang Memiliki Potensi Ekspor yang Besar
Masih ada China dan India yang Memiliki Potensi Ekspor yang Besar
Tarik Ulur Tarif & Keadilan Perdagangan Global
Selamat Jalan, Sri Paus
Kabar duka datang dari Vatikan. Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, Senin (21/4), wafat dalam usia 88 tahun, sehari setelah menemui ribuan umat yang memadati Alun-alun Santo Petrus, Vatikan, di Minggu Paskah. Berkat untuk Kota dan Dunia atau Urbi et Orbi yang disampaikan Paus dari balkon Basilika Santo Petrus, di Minggu Paskah (20/4) adalah berkat terakhirnya untuk dunia. Dalam kesempatan itu, Paus kembali menegaskan pentingnya membangun dialog demi hadirnya perdamaian di dunia. Ketika menyapa umat dari balkon, Paus tampak terengah-engah. Pada Februari lalu, Paus mendapat perawatan khusus lantaran serangan pneumonia ganda.
”Dengan kesedihan yang mendalam, saya harus mengumumkan kematian Bapa Suci kita, Fransiskus,” kata Kardinal Kevin Farrell di saluran TV Vatikan. ”Pukul 07.35 ini, Uskup Roma, Fransiskus, kembali ke rumah Bapa”. Setelah dirawat selama 38 hari di rumah sakit sejak 14 Februari 2025, Paus tidak banyak muncul di publik. Dokter meminta Paus mengurangi kegiatannya demi pemulihan. Namun, dalam rangkaian Pekan Suci menjelang Paskah, Paus menyempatkan diri berkunjung ke penjara dan menyapa umat. ”Dengan rasa syukur tak terhingga atas keteladanannya, kami serahkan jiwa Paus Fransiskus kepada kasih Tuhan yang tak terbatas dan penuh belas kasihan,” tutur Farrell. Selamat jalan Sri Paus. (Yoga)
Dampak Perang Tarif dan Ketidakpastian Ekonomi Global
Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di posisi 5,75% untuk menjaga resiliensi perekonomian domestik di tengah tekanan akibat ketidakpastian perekonomian global. Langkah ini kian diperlukan menyusul penerapan tarif resiprokal oleh perintah AS teradap sejumlah negara, termasuk Indonesia. Peneliti center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menejelaskan bahwa BI masih akan memeprtahnalan suku bunga acuan pada April 2025. Dengan harapan perekonomian nasional terjaga dan ekpektasi investor yang menyimpan modal dalam pasar keuangan domestik tetap terjaga. Sehingga jumlah aliran modal asing tetap bertahan di pasar keuangan dalam negeri. BI akan memutuskan suku bunga acuan ini dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan berlangsung pada 22-23 April 2025.
"Ditengah ketidakpastian global yang terus meningkat, terutama akibat perang tarif antara negara-negara besar seperti AS dan China, keputusan untuk menahan suku bunga menjadi langkah kehati-hatian yang tepat. Menjaga suku bunga tetap di level saat ini menjadi langkah kompromi yang paling logis," jelas Yusuf kepada Investor Daily. Bila perang tarif masih berlanjut, maka tidak hanya menekan perdagangan global, tetapi juga memicu gelombang ketidakpastian pada arus investasi dan stabilitas pasar keuangan, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Ketegangan tersebut akan memberikan dampak pada melemahnya permintaan gloabal, yang berimbas pada ekspor Indonesia , serta memperburuk sentimen pelaku pasar terhadap risiko negara berkembang. (Yetede)
Penegakan HAKI Jadi Ujian Serius buat Indonesia
Pilihan Editor
-
Membuat QRIS Semakin Perkasa
09 Aug 2022 -
Peran Kematian Ferdy Sambo dalam Kematian Yosua
10 Aug 2022 -
Salurkan Kredit, Bank Digital Mulai Unjuk Gigi
29 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022








