Bisnis
( 689 )Mengubah Peta Persaingan Bisnis Seluler
Merger atau penggabungan PT Indosat Tbk dengan PT Hutchison 3 Indonesia mengubah peta penguasaan pasar telekomunikasi seluler. Founder IndoTelkom Forum, Doni Ismanto Darwin, menyatakan perusahaan gabungan tersebut mampu mengeser PT XL Axiata Tbk dari sisi pelanggan meski masih sulit,untuk melibas dominasi PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Doni menuturkan, jika entitas hasil merger bernama PT Indosat Oredoo Hutchison Tbk mampu mengontrol harga, perang tarif bisa dihindari. Dampaknya, perusahaan-perusahaan penyedia jasa telekomunikasi bisa berfokus menggunakan dana untuk investasi peningkatan layanan. Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, mengatakan konsolidasi kedua pemain bisa mendorong pemain lain untuk melakukan hal yang sama. Dengan begitu, industri bisa lebih sehat.
Biaya Jumbo Penurunan Emisi Karbon
Jakarta - Menteri Keuangan menyatakan target penurunan emisi karbon dioksida yang dicanangkan pemerintah membutuhkan dukungan pembiayaan dari berbagai sumber. Indonesia harus mengurangi emisi karbon sebesar 29 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen melalui dukungan internasional pada 2030 setelah meratifikasi Perjanjian Paris. Pemerintah sudah menandai belanja negara (budget tagging) lewat anggaran kementrian dan lembaga untuk memenuhi mitigasi perubahan iklim sejak 2016. Namun, hingga 2020, totalnya 4,1 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ke depan, upaya budget tagging untuk mengatasi perubahan iklim akan diterapkan pula di pemerintah daerah. Pada 2019, pemerintah sudah membina 11 pemerintah daerah untuk memulai program tersebut. Targetnya, akan ada tambahan enam daerah percontohan lain yang mampu mengalokasikan anggaran perubahan iklim dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Xi Jinping: China Bakal Setop Pendanaan Proyek Batu Bara
Presiden China Xi Jinping mengumumkan China tidak akan lagi mendanai pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga batu bara baru di luar negeri. China berada di bawah tekanan diplomatik yang berat untuk mengakhiri pembiayaan guna membantu dunia memenuhi tujuan-tujuan perjanjian iklim Paris untuk mengurangi emisi karbon. China merupakan salah satu negara yang mendukung proyek-proyek batu bara di negara-negara berkembang termasuk Indonesia dan Bangladesh.
Janji Jinping datang beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengumumkan rencana untuk menggandakan bantuan keuangan kepada negara-negara miskin menjadi US$11,4 miliar pada 2024. Dana ini untuk membantu negara-negara tersebut beralih ke energi yang lebih bersih dan mengatasi dampak pemanasan global yang memburuk.Meskipun pidato Jinping tidak terlalu detail, inisiatif tersebut dapat memberikan beberapa momentum menuju COP26, pembicaraan iklim global utama yang akan dimulai di kota Glasgow, Skotlandia pada akhir Oktober."Ini adalah momen yang sangat penting," kata Xinyue Ma, pakar keuangan pengembangan energi di Pusat Kebijakan Pengembangan Global Universitas Boston. Menjelang kesepakatan iklim Paris 2015 yang bersejarah, kesepakatan bersama AS-China memulai negosiasi yang berhasil.Dari 2013 hingga 2019, data menunjukkan bahwa China mendanai 13 persen dari kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara yang dibangun di luar China.Gerakan advokasi iklim 350.org menyebut pengumuman Jinping sangat besar dan bisa mengubah 'permainan'.
Konglomerat Semakin Agresif Bisnis Keuangan
Konglomerasi di Indonesia semakin memperkokoh posisinya di industri keuangan, terutama dalam industri keuangan non bank (IKNB). Terbaru, PT Astra International Tbk (ASII) memutuskan untuk merambah layanan keuangan berbasis teknologi dengan meluncurkan AstraPay. Astra sendiri sebelumnya telah memiliki banyak anak usaha di sektor keuangan, seperti asuransi dan multifinance. Bahkan, beberapa anak usahanya termasuk pemain yang memiliki kontribusi besar di tiap industrinya. Misalnya saja, Asuransi Astra Buana yang hingga semester I-2021 mencatatkan aset sebesar Rp 14,34 triliun. Perusahaan pun mencatat peningkatan laba bersih sebesar 15% menjadi Rp 597 miliar yang didorong hasil investasi yang tinggi. Tak hanya itu, bisnis pembiayaan konsumen yang dimiliki juga memiliki kinerja yang positif. Laba bersih PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor juga meningkat sebesar 3% menjadi Rp 949 miliar di semester pertama kemarin dengan total aset yang dimiliki Rp32,59 triliun.
Direktur Sinarmas Multiartha, Dani Lihardja pun menyebutkan bahwa sektor asuransi menjadi yang memiliki kontribusi kinerja yang paling besar. Menurutnya, hal ini dikarenakan situasi pandemi mengubah perilaku konsumen yang mementingkan produk asuransi.
Bappenas: Baru 22,4% Korporasi Jalankan Beneficial Ownership
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapennas) menyatakan, hingga Agustus 2021 baru 22,36% perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan transparansi soal pemilik manfaat (beneficial ownership/BO) dari perusahaan. Penerapan BO ini masih belum dipahami dan menjadi tantangan bukan hanya di Indonesia, tetapi juga diseluruh dunia. "Sayangnya baru 22,36% korporasi (di Indonesia) yang melakukan transparansi data (beneficial ownership), ini karena terdapat perbedaan pemahaman," ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam Webinar Stranas PK Transparansi Benefial Ownership, Bangun Iklim Usaha Yang Transparansi pada Kamis (16/9). Menurut dia, pemerintah sudah memberikan dukungan regulasi tetapi masih terjadi kendali saat pelaksanaan di lapangan. Selain dari pemerintah, implementasi keterbukaan BO ini juga perlu dukungan pemangku kepentingan lain termasuk perusahaan agar ikut aktif dalam menjalankan kebijakan beneficial ownership.
Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan, pihaknya sangat mendukung kalangan pengusaha untuk menerapkan tranparansi beneficial ownership. Dia mengatakan, ada sejumlah keuntungan bagi korporasi yang menjalankan kebijakan tersebut. "Kadin Indonesia sebagai rumah dari pengusaha mikro, kecil, menengah sampai besar melihat, beneficial ownership ini adalah yang sangat penting bagi komitmen kita sebagai bangsa," ujar Arsjad pada kesempatan yang sama. Sejumlah keuntungan itu adalah pertama, langkah itu akan menjadi bukti yang menunjukkan komitmen transparan dari korporasi. Menurut Arsjad korporasi yang mengungkapkan beneficial ownership akan dipandang propemberantasan terorisme. Selain itu, ada suatu nilai positif yang akan didapatkan oleh perusahaan, contohnya yield yang lebih menggantungkan saat menerbitkan obligasi. "Ini sangat korporasi apalagi kalau kita bicara soal investor," ucap Arsjad. (yetede)
Bisnis Logistik Terpacu Efek Pandemi Covid-19
Bisnis jasa kurir dan logistik semakin riuh. Pemain lawas PT Pos Indonesia mulai melakukan terobosan menyiasati persaingan bisnis yang sangat ketat. Di sisi lain, saat ini pemain jasa kurir dan logistik telah dikuasai para konglomerat nasional. Sekretaris Perusahaan PT Pos Indonesia, Tata Sugiarta mengungkapkan, sektor logistik adalah salah satu bisnis yang tumbuh hingga 30% secara nasional akibat pandemi Covid-19. “Jadi bisa kami katakan, pemain bisnis logistik termasuk Pos Indonesia “menikmati” dampak dari pertumbuhan ini, bahkan kami bisa survive,” ungkap dia kepada KONTAN, Selasa (14/9). “Keunggulan kami, pengiriman tak hanya di dalam kota, tapi juga antar kota bahkan ke luar negeri, di mana sudah mencakup ke 230 negara lewat platform kami. Kami menargetkan pendapatan bisa tumbuh 22,3% di sepanjang tahun 2021," ujar Tata.
Batu Loncatan Pemain Baru Bisnis Aplikasi
Peluncuran AirAsia Ride, layanan pemesanan kendaraan online (ride hailing) milik grup AirAsia, bakal memanaskan persaingan bisnis digital di Asia Tenggara. Sebab, selain menyediakan layanan ride hailing, AirAsia bermain di bisnis super-app atau ekosistem aplikasi digital yang menyediakan banyak layanan, dari logistik, sistem pembayaran, e-commerce, hingga pesan-antar makanan (food delivery) yang sedang booming pada masa pandemi Covid-19. Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebutkan pertumbuhan segmen pesan-antar makanan tak akan terbendung karena perubahan perilaku masyarakat, dari makan di tempat (dine in) menjadi beli bungkus (take away). Karena itu, kata dia, pemain baru di bisnis super-app harus bisa menguasai segmen layanan ini. Selain food delivery, lini bisnis super-app yang harus diperkuat adalah segmen e-commerce dan sistem pembayaran. "Jika AirAsia mau berkompetisi, harus bisa memastikan di ekosistem aplikasinya ada layanan e-commerce atau dompet digital," ucapnya.
Grup AirAsia memiliki fitur pembayaran digital bernama BigPay. Produk yang juga melayani pinjaman ini bersifat multikurs karena perusahaan tersebut akan beroperasi di banyak negara. Di Indonesia, BigPay akan menjadi pesaing penyedia dompet digital lain, seperti GoPay dan OVO yang masing-masing terintegrasi dengan Gojek dan Grab. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyarankan AirAsia menumbuhkan pasar pengguna aplikasi dari segmen yang belum dioptimalkan super-app lain, seperti akomodasi. Sebagai maskapai penerbangan, kata dia, AirAsia lebih unggul menyiapkan jasa pemesanan hotel yang biasanya sepaket dengan pemesanan tiket penerbangan. "Celah ini menjadi modal awal menuju pasar layanan lain," kata dia.
Pandemi Covid Angkat Pamor Rumah Sakit
Pandemi Covid-19 turut mengangkat pamor bisnis rumah sakit. Sejumlah pengelola rumah sakit terus menambah jaringan, baik dengan membangun sendiri maupun melalui akuisisi. Kabar terbaru, pengelola jaringan Omni Hospital PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) berniat mengakuisisi 66% saham PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK), pemilik RS Grha Kedoya dan RS Grha MM2100. Rencana ekspansi SAME turut meramaikan persaingan bisnis layanan kesehatan. Sejumlah rumah sakit memang rutin menggelar ekspansi usaha dengan menambah kapasitas tempat tidur saban tahun. Mereka antara lain RS Hermina, RS Siloam, RS Mitra Keluarga, Mayapada Hospital hingga Pertamedika, yang merupakan Holding BUMN Rumah Sakit. Peluang bisnis rumah sakit nyatanya masih sehat. Bed to population ratio di Indonesia hanya 1,2:1.000. Artinya, hanya ada 1,2 tempat tidur di rumah sakit untuk setiap 1.000 penduduk Indonesia.
Indosat dan Hutchison 3 Merger, Nilai Transaksi Rp 85,5 Triliun
Ooredoo QPSC dan CK Hutchison Holdings Limited menandatangani kesepakatan transaksi definitif untuk menggabungkan bisnis telekomunikasi di Indonesia, yaitu PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Hutchison 3 Indonesia. Nilai transaksi merger yang menghasilkan perusahaan gabungan bernama PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk ini mencapai US$ 6 miliar atau setara Rp 85,5 triliun. Ooredoo Group saat ini memiliki 65% saham dan kendali atas Indosat Ooredoo Asia. Penggabungan Indosat dan Hutchison 3 akan menyebabkan HC Hutchison memperoleh saham baru di Indosat Ooredoo hingga 21,8% dari Indosat Ooredoo Hutchison. Pada saat yang sama, PT Tiga Telekomunikasi akan menerima saham baru Indosat Ooredoo hingga 10,8% dari Indosat Ooredoo Hutchison.
Pada akhir transaksi, Indosat Ooredoo Hutchison akan dikendalikan secara bersama-sama oleh Ooredo Group dan CK Hutchison. Perusahaan gabungan akan tetap terdaftar di Bursa Efek Indoensia, dengan pemerintah Indonesia memiliki 9,6% saham. PT Tiga Telekomunikasi Indonesia memilki 10,8% saham, dan pemegang saham publik lainnya memiliki kira-kira 14% saham. Penyelesaian transaksi ini bergantung pada persetujuan dari pemegang saham Ooredoo Group, CK Hutchison, Indosat Ooredoo, persetujuan reguler, serta berbagai syarat dan ketentuan. Jika semua persetujuan berhasil didapatkan, penggabungan ini diperkirakan selesai pada akhir maret 2021.
Aziz Aluthman Fakhroo, managing director of Ooredoo Group mengatakan, kesepakatan ini adalah suatu langkah besar untuk melahirkan perusahaan nomor dua yang lebih kuat di Indonesia. "Kami sekarang bisa fokus untuk menyelesaikan transaksi dan bekerja sama dengan CK Hutchison untuk membangun perusahaan telekomunikasi digital kelas dunia di Indonesia," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (16/9). Sementara itu, Canning Fok, group co-managing director of CK Hutchison Holdings, mengatakan bahwa kesepakatan ini adalah kesempatan besar untuk membangun perusahaan telekomunikasi yang lebih kuat dan inovatif di Indonesia. (yetede)
Harga Aluminium Tembus US$ 3.000 Per Ton
Harga aluminium mencapai tepat US$3.000 per ton dalam perdagangan Senin (13/9) Ini adalah level harga tertinggi logam tersebut dalam 13 tahun terakhir. Persediaan yang ketat dan menipis diperburuk oleh kudeta militer baru-baru ini di Guenia, Afrika Barat. Negara Afrika tersebut kaya akan batuan bauksit, dari mana aluminium di proses. Harga aluminium telah melonjak sebelum kudeta terjadi pada awal bulan, naik sekitar 40% sejak Januari 2021 karena aktivitas ekonomi global bangkit kembali dari palung Covid-19. Setelah mencapai level tertinggi sejak 2008, logam dasar yang digunakan dalam barang sehari-hari itu turun menjadi US$ 2.953 per ton dalam transaksi sesi yang di London Metal Exchange. "Ini semua tentang masalah pasokan yang mendorong harga aluminium semakin tinggi," jelas analis Commerzbank Daniel Briesemann kepada AFP, Senin (13/9) Penyebab kenaikan harga juga naiknya tarif listrik di Tiongkok, yang telah menyebabkan penuruan produksi peleburan di wilayah Barat Xinjiang. Adapun peleburan aluminium menghabiskan banyak energi.
Guenia memiliki cadangan bauksit terbesar di dunia, batuan kemerah-merahan atau abu-abu. Aluminium oksida yang terkandung didalamnya dilebur menjadi aluminium. Saat ini militer yang berkuasa di Guenia berada dibawah tekanan diplomatik yang meningkat. Sebelumnya, pasukan khusus yang dipimpin oleh Letnal Kolonel Mamady Doumbouya merebut kekuasaan dan menangkap presiden Alpha Conde. Kenaikan harga komoditas tersebut telah menaikkan inflasi yang melonjak, kekhawatiran yang pada gilirannya meningkatkan dolar karena para investor mengincar suku bunga yang lebih tinggi untuk menjinakkan harga yang tidak terkendali. "Melonjaknya harga komoditas menunjukan sedikit tanda akan berhenti," kata Joshua Mahony, analisis pasar senior di kelompok perdagangan IG. (YTD)
Pilihan Editor
-
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022 -
Pusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan
04 Jan 2022









