Bisnis
( 702 )Seribu Akal Bisnis Tes Usap
Bisnis pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) menjadi primadona di kala pandemi. Sebelum pemerintah menetapkan batas tarif tertinggi, pembentukan harga tes PCR dilakukan melalui mekanisme pasar atau ditentukan oleh pengusaha penyedia layanan tanpa aturan yang jelas.
Relawan LaporCovid-19, Amanda Tan, mengatakan komunitasnya menemukan klinik swasta yang menetapkan harga berlapis bergantung pada kecepatan hasil pemeriksaan, yaitu Rp 495 ribu untuk hasil tes PCR 24 jam, Rp 750 ribu untuk 16 jam, dan Rp 900 ribu untuk 10 jam.
Amanda berujar, LaporCovid-19 juga menemukan upaya penyedia layanan tes usap memangkas komponen biaya esensial demi memaksimalkan keuntungan dan menutup selisih harga yang harus ditanggung untuk pelayanan tes usap.
Peneliti dari Indonesia Corruption Watch, Wana Alamsyah, mengungkapkan, berdasarkan hitungan kasar lembaganya, bisnis tes usap telah menghasilkan perputaran uang yang fantastis. Dia menjelaskan, penghitungan biaya tes PCR dari periode Oktober 2020 hingga Agustus 2021 mencapai Rp 23,2 triliun. Jika dihitung hingga perubahan tarif, penyedia layanan tes PCR ditaksir telah mendapatkan keuntungan hingga Rp 10,46 triliun.
Penghitungan itu didasarkan pada dimulainya pemberlakuan tarif tes PCR tertinggi sebesar Rp 900 ribu pada Oktober 2020, hingga kemudian diberlakukannya tarif baru Rp 495-525 ribu pada Agustus 2021.
Disiapkan, IPO Empat Start-up MDI Ventures
Jakarta - MDI Ventures, anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), menargetkan tiga perusahaan portofolionya akan menyandang status unicorn atau memiliki valuasi di atas US$ 1 miliar pada tahun ini. Adapun sedikitnya empat start-up yang disponsori MDI Ventures akan melaksanakan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dalam rentang dua tahun ke depan. Sejauh ini sudah ada dua perusahaan start-up MDI Ventures yang menjadi unicorn, yakni Nium dan Kredivo. Sementara, satu perusahaan lagi akan menyusul menjadi unicorn pada tahun ini.
Adapun saat ini MDI Ventures memiliki lebih dari 50 portofolio dengan 15 di antaranya berstatus centaur atau memiliki valuasi di atas US$ 100 juta sampai di bawah US$ 1 miliar. Terhadap perusahaan itu, MDI Ventures sudah menggelontorkan investasi tak kurang dari US$ 100 juta. MDI Ventures telah mendapatkan dana segar senilai US$ 500 juta, yang berasal dari kas internal Telkom untuk beberapa tahun ke depan. Pendanaan tersebut diharapkan dapat mewujudkan ambisi menjadi perusahaan modal ventura pertama di Indonesia yang memiliki dana kelolaan investasi lebih dari US$ 1 miliar.
Dana tersebut akan difokuskan pada pendanaan perusahaan teknologi di beberapa sektor, yang pada prinsipnya bisa mendukung ekosistem digital Telkom. Langkah tersebut bisa memicu MDI Ventures meraih pendapatan US$ 5-10 juta per tahun. MDI Ventures telah berinvestasi di lebih dari 44 start-up dari 12 negara, Investasi ini dikelola di bawah beberapa perusahaan ventura seperti MDI Ventures, TMI, Centauri dan Arise dengan investor, yang berasal dari internal Telkom maupun eksternal investor. Di Indonesia, MDI Ventures berperan penting dalam pertumbuhan sejumlah perusahaan rintisan antara lain Kredivo, Cermati, Tanihub, Nium, Alodokter, Fabelio, Bahaso, dan Paxel.
Bisnis Antar Cepat Buat Laba Melesat
Jakarta - Melihat prospek pertumbuhan kinerja PT Adi Sarana Armada (ASSA) yang cerah karena berkembangnya bisnis logistik saat pandemi. ASSA yang bergerak di bisnis mobilitas dan logistik, berhasil melanjutkan pertumbuhan kinerja positif di semester I-2021. Analis memproyeksikan segmen bisnis logistik Anteraja milik ASSA akan menyokong pertumbuhan kinerja ke depan. Segmen bisnis yang paling besar terhadap pendapatan ASSA adalah segmen logistik, melalui anak usaha PT Tri Adi Bersama (Anteraja).
Bisnis antar cepat alias delivery express tersebut mengalami pertumbuhan kinerja yang signifikan, yakni naik hingga 269,9%. Segmen ini menyumbang pendapatan sebesar Rp 982,3% miliar, 46,6% dari total pendapatan ASSA. Belum lama ini, ASSA juga resmi menggandeng platform transportasi online PT Grab Teknologi Indonesia (Grab). Kerjasama ini dilakukan untuk menjangkau lebih banyak masyarakat dengan memberikan layanan pengiriman ke seluruh cakupan wilayah Anteraja di seluruh Indonesia melalui aplikasi Grab.
Bisnis Esport Indonesia Pimpin Asia Tenggara
Di masa pandemi Covid-19, aktivitas berbasis digital semakin digandrungi, bahkan bisa mendatangkan keuntungan. Salah satunya adalah Esport alias olahraga elektronik. Saat ini, komunitas Esports Indonesia memimpin pasar dan menyumbang pendapatan hingga US$ 1,9 miliar atau senilai Rp 27 triliun. Angka tersebut setara dengan 32,42% pendapatan Esport Asia Tenggara yang mencapai US$ 5,86 miliar. Pertumbuhan dan perkembangan game di indonesia saat ini cukup stabil dan cenderung cepat. Pada tahun 2025 mendatang, Indonesia diproyeksikan memiliki 142 juta gamers. "Dari sisi penonton, Esports Indonesia tahun 2025 nanti akan memiliki 29 juta audiens", ungkap Michael dalam siaran pers virtual, kemarin.
(Oleh - HR1)
Tayangan Digital Marak Saat Pandemi OMG-Mediasmarts Kerja Sama
Tayangan digital berupa Connected TV (CTV) di tanah air semakin meningkat saat pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Laporan terbaru menyebut, 7 dari 10 konsumen di Indonesia memiliki akses ke CTV.
Karena hal itu, salah satu perusahaan media besar asal Amerika, Omnicom Media Group (OMG) mengumumkan kerjasama bisnis dengan platform Affle Mediasmart. Kerja sama ini bertujuan untuk menghadirkan iklan programmatic dan Connected TV (CTV) yang unik kepada para konsumennya di Indonesia.
Kerja sama ini juga akan memungkinkan OMG untuk menawarkan solusi periklanan baik untuk CTV maupun programmatic yang lebih terukur dengan dukungan teknologi Household Syne untuk para top kliennya.
Untuk diketahui bahwa konsumsi CTV di Indonesia mengalami peningkatan selama beberapa tahun terakhir. Pandemi saat ini semakin mempercepat perilaku konsumsi masyarakat Indonesia akan CTV.
Teknologi Mediasmart juga membuat iklan CTV lebih efektif karena menawarkan kelebihan ganda dari teknik storytelling menarik yang terkait dengan TV, dan bersamaan dengan itu juga ada penargetan dan interaktivitas yang terkait dengan iklan programmatic.
CEO Omnicom Media Group Indonesia, Rajat Basra mengatakan bahwa sebagai pasar yang dominan untuk CTV di Asia Tenggara, konsumen Indonesia menjadi semakin terbuka. Tidak hanya untuk streaming konten online tapi juga terlibat dengan iklan yang sesuai dengan ketertarikan atau minat mereka.
Jejaring Bisnis Grup Salim Semakin Membesar Lagi
Jakarta - Grup Salim terus mengepakkan sayap bisnisnya. Selain eksis di bisnis lama, Grup Salim kini ambil bagian di sejumlah sektor bisnis, mulai dari perbankan, energi, infrastruktur, data center hingga teknologi. Grup Salim memiliki 6,07% saham PT Bank Mega Tbk dan juga PT Medco Energi International Tbk (MEDC). Salim memiliki saham MEDC melalui Diamond Bridge Pte Ltd. Perusahaan ini merupakan holding company yang berbasis di Singapura serta dikendalikan oleh pemilik Grup Salim. Diamond Bridge menjadi pemilik saham MEDC sejak tahun 2019 lalu.
Grup Salim melalui Diamond Bridge disebut-sebut sudah memperbesar kepemilikan sahamnya di MEDC menajdi lebih dari 60% sehingga berstatus sebagai pemilik saham mayoritas. Hal ini terjadi lantaran perusahaan itu mendanai Medco Daya Abadi Lestari untuk mengakuisisi Ophir Energy Plc. Selain di Medco dan Bank Mega, Grup Salim juga mempunyai kepemilikan saham di PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK). Hingga kini, Salim masih setia memegang 9% saham Elang Mahkota Teknologi. EMTK terbuka bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendorong kolaborasi usaha.
Potensi Ekspor Tanaman Hias Sangat Besar tapi Minim yang Mau Garap
Permintaan tanaman hias secara internasional sangat besar. Namun, menurut Menteri Perdagangan M Lutfi potensi ini belum banyak digarap di Indonesia. Potensi nilai ekspor tanaman hias senilai US$ 7,8 juta di dunia atau sekitar Rp 113 trilliun Namun, indonesia cuma memiliki market share sekitar 0,08% saja di seluruh dunia.
Minaqu, menjadi salah satu UMKM yang melihat potensi tersebut. Menuruti lutfi, unit usaha ini jeli memanfaatkan peluang bisnis yang besar dan baru digarap secara minim di Indonesia.
Sebagai gambaran besarnya potensi ekspor tanaman hias, CEO Minaqu Home Nature Ade Wardhana Adinata mengatakan saat ini pihaknya sudah berhasil melakukan ekspor ke 6 negara di Eropa dan Amerika Serikat.
Dia mengatakan Minaqu berhasil bekerja sama dengan 7 distributor tanaman hias di 6 negara tersebut. Totalnya ada 15 juta tanaman hias yang akan diekspor selama dua tahun, dengan nilai kontrak mencapai Rp 2,3 triliun. Ade mengatakan Minaqu berhasil cuma dimulai dengan modal sebesar Rp 500 ribu di bulan November 2019, dan dalam 10 bulan awal usahanya ini, Minaqu menembus Rp 5 miliar sebulan.
Potensi Bisnis Berlimpah Limbah Medis
Pemerintah membuka peluang keterlibatan swasta dalam rencana pembangunan fasilitas pengolah limbah bahan berbahaya dan bercaun (B3) khususnya sampah medis. Sebab limbah medis kategori B3 semakin menggunung. Untuk itulah, pemerintah berupaya menambah fasilitas pengolah limbah medis tersebut di daerah-daerah. Alhasil, rencana tersebut juga bisa menciptakan peluang bagi pebisnis yang berminat. "Peluang untuk bisa diambil swasta tetap ada karena pada dasarnya bisnis recycle itu bersifat cost recovery," ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya kepada KONTAN, Kamis (29/7). Selain mengandalkan swasta, pemerintah juga menyiapkan anggaran sekitar Rp 1,3 triliun. Anggaran tersebut terdapat pada sejumlah kementerian dan lembaga, serta dana transfer ke daerah. Adapun di KLHK sendiri terdapat anggaran untuk pembangunan fasilitas pengolah limbah B3 totalnya Rp 53 miliar.
(Oleh - HR1)
Pebisnis Outsourcing Pusing Tujuh Keliling
Bisnis alih daya atau outsourcing ikut terpukul pandemi korona (Covid-19). Permintaan terhadap tenaga outsourcing menyusut lantaran banyak pemberi kerja terkena efek pandemi. Ketua Umum Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI), Mira Sonia mengakui, saat kebijakan PPKM bergulir, banyak permintaan untuk merumahkan pekerja. "Anggota ABADI berusaha agar tenaga alih daya tetap dapat dibayarkan upahnya," ungkap dia kepada KONTAN, kemarin. Salah satu pemain outsourcing, ISS Indonesia, mengaku terkena dampak pandemi Covid-19. Presiden Direktur ISS Indonesia, Elisa Lumbantoruan mengatakan, sebelum pandemi Covid-19, jumlah karyawan ISS Indonesia berkisar 60.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Kini, seiring pandemi, terjadi penurunan jumlah karyawan menjadi sekitar 47.000 orang. Bisnis ISS tertekan lantaran terjadi penurunan kebutuhan pelanggan akibat pembatasan kegiatan bisnis selama pandemi. Ditambah lagi, banyak perusahaan yang menerapkan sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sehingga permintaan jasa outsourcing berkurang.
Ketua Umum Jaringan Usahawan Independen Indonesia (Jusindo) Sutrisno Iwantono mengatakan, permintaan terhadap tenaga kerja outsourcing menurun sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Terlebih, beberapa sektor seperti perhotelan dan restoran kini kesulitan beroperasi secara penuh. Dengan adanya pandemi, terlihat bahwa tantangan tenaga kerja outsourcing saat ini adalah sistem WFH yang mulai berpotensi terus berlanjut hingga pasca pandemi. Ditambah lagi, beberapa jenis pekerjaan mulai mengalami modifikasi dengan penggunaan teknologi yang lebih masif dan mengurangi mobilitas pekerjanya.Bisnis Merugi, Klaim Pajak Korporasi Mendaki
Penerimaan perpajakan pada paruh pertama tahun 2021 tumbuh positif. Kementerian Keuangan mencatat: setoran pajak pada semester I-2021 mencapai Rp 557,8 triliun, naik 4,89% dibanding periode sama 2020 sebesar Rp 531,77 triliun. Hanya, saat penerimaan pajak naik tipis, klaim pengembalian pajak atau restitusi sebaliknya, melesat tinggi. Realisasi restitusi pajak pada semester I-2021 mencapai Rp 110,79 triliun. Angka ini naik 18,86% ketimbang periode sama tahun lalu yang hanya Rp 93,21 triliun. Restitusi pajak terbesar berasal dari; Pertama, pajak pertambahan nilai (PPN) dalam negeri sebesar Rp 74,1 triliun, naik 8,65% year on year (yoy). Kedua, restitusi pajak penghasilan (PPh) Pasal 25/29 badan sebesar Rp 31,3 triliun, melonjak 31,28% yoy. Sisanya berasal dari jenis pajak lainnya.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kemkeu Neilmaldrin Noor menjelaskan naiknya restitusi PPN dalam negeri lantaran banyak barang yang dijual pengusaha, tapi tidak laku. Walhasil pajak konsumen berupa PPN yang telah dibayar pengusaha harus dikembalikan. Sementara, restitusi PPh badan naik karena wajib pajak banyak yang lebih bayar pada 2020 lalu. Neilmaldrin menyebut, kondisi ini mengindikasikan banyak wajib pajak yang merugi pada 2020 lalu. "Pertumbuhan restitusi PPh badan didominasi oleh pertumbuhan restitusi normal tahun pajak 2020 yang jatuh tempo pada bulan Mei 2021," tandas Neilmaldrin kepada KONTAN, Kamis (22/7).Pilihan Editor
-
Sistem Pangan Harus Berbasis Keberagaman Lokal
31 Dec 2021 -
Perkebunan Sawit Rakyat Tumbuh Berkelanjutan
31 Dec 2021 -
Transformasi Sistem Pangan
31 Dec 2021 -
Mengembangkan EBT harus Utamakan Komponen Lokal
30 Dec 2021









