Pariwisata Nantikan Peta Jalan Jakarta Tanpa Status Ibu Kota Negara
Kalangan dunia usaha pariwisata masih mencermati langkah pemerintah terkait pemindahan ibu kota negara ke Nusantara dan Jakarta menuju kota global. Mereka membutuhkan kepastian arah atau peta jalan pemindahan dan perubahan Jakarta untuk keberlanjutan usaha yang mulai pulih setelah dua tahun dihantam pandemi Covid-19. Hal itu tergambar dalam laporan BPS DKI Jakarta tentang Perkembangan Pariwisata DKI Jakarta April 2024, Selasa (4/6). Hotel bintang dua paling banyak dipilih (50,70 %), disusul hotel bintang empat dan bintang tiga, masing-masing 47,05 % dan 44,23 %, serta hotel bintang lima (33,03 %). Dari keterisian kamar itu, rata-rata lama menginap di hotel berbintang mencapai 1,71 hari.
Lama menginap di hotel non bintang 1,28 hari. ”Dibandingkan tahun 2020-2022 sudah ada kenaikan, tetapi tidak merata,” ujar Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia DKI Jakarta Sutrisno Iwantono, Selasa (4/6). Selama ini banyak ASN datang ke Jakarta untuk urusan pemerintahan. Begitu juga pebisnis yang datang karena banyak kantor pusat terletak di Jakarta. Mereka ini paling banyak menginap di hotel bintang tiga ke bawah dan non-bintang. Menurut Iwantono, semenjak pandemi Covid-19, banyak hotel banting harga dan kegiatan berlangsung secara daring (online) sehingga ASN dan pebisnis tidak perlu ke Jakarta.
Alhasil, keterisian hotel bintang tiga ke bawah dan non-bintang berkurang dalam kondisi harga belum kembali normal, ditambah pindahnya ibu kota ke Nusantara pasti terdampak karena tadinya Jakarta pusat pemerintahan dan bisnis. Iwantono dan pelaku usaha masih menanti langkah konkret pemerintah terkait pindahnya ibu kota negara ke Nusantara di Kalimantan Timur dan Jakarta menuju kota global yang memberikan kepastian tentang masa depan Jakarta. (Yoga)
Didik Iswandi Wayang Porong untuk Semua
Dalang Ki Didik Iswandi bersantai bersama keluarga di rumahnya, Desa Candipari, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Kamis (7/3) sore. Beberapa hari sebelumnya, aktivitas dalang wayang gagrak Porong ini padat karena banyak permintaan pentas dari sejumlah desa di Sidoarjo. Pementasan wayang kulit gaya Porongan terkait erat dengan acara bersih desa atau ruwatan. Sebagian besar pemerintah desa di Kota Delta, julukan Sidoarjo karena berada di delta Sungai Brantas, masih mempertahankan tradisi ruwat untuk membersihkan energi negatif dan memperbarui keselarasan dengan alam. Juga sebagai wujud syukur atas limpahan rezeki yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Wayang gagrak Porong termasuk kiblat wayang khas Jawa Timur. Wujudnya berbeda dengan wayang kulit gaya Jawa Tengah (Mataraman). Mulai dari susunan acara, irama musik, pengucapan, hingga ekspresi dalangnya. Nuansa wayangnya lebih dinamis dengan dominasi permainan kendang. Warna cerah mendominasi dan memiliki aspek mistis yang lebih kuat. Seiring berjalannya waktu, wayang gagrak Porong justru kalah terkenal dibanding wayang gaya Yogyakarta dan Solo. Selain kalah dalam hal promosi, wayang Porongan juga kalah pamor karena identik dengan kesenian rakyat yang berkembang pada masyarakat pesisir.
Adapun wayang Jawa Tengah lebih identik dengan kalangan priayi dan elite birokrasi. Kondisi itu memantik keprihatinan Didik dan para dalang wayang jawa timuran lainnya. Dia khawatir keberlangsungan wayang Porongan yang digelutinya sejak 1984, akan terancam apabila tidak bisa diterima oleh semua kalangan. Bersama para seniman wayang, Didik yang juga anggota Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian Sidoarjo ini meminta Pemkab Sidoarjo agar memberikan kesempatan kepada wayang gagrak Porong. Melalui Surat Edaran Bupati Sidoarjo No 100.3/1056/448.1.1.3/2024, tertanggal 21 Januari 2024, camat dan kepala desa/lurah seluruh Sidoarjo dihimbau agar dalam kegiatan bersih desa/ruwat menampilkan budaya lokal, termasuk wayang Porongan.
Kebijakan itu disambut antusias para dalang yang menggeluti wayang gagrak Porong. Didik mengatakan, pementasan pada hajatan pemerintah desa hingga pemkab menjadi momentum mendongkrak martabat atau pamor wayang Porongan. Didik terus berupaya menyebarluaskan wayang gagrak Porong agar semakin dikenal di seluruh nusantara, bahkan mancanegara. Ia juga menyosialisasikan kepada generasi masa kini agar mereka tergugah untuk menjaga keberlangsungan wayang kulit, khususnya wayang gagrak Porong hingga masa nanti. (Yoga)
Kawal Pengelolaan Dana Tapera
Program Makanan Bergizi Gratis Intrusmen untuk Indonesia Maju
Program makanan Bergizi Gratis Intrumen untuk Indonesia Maju
Berkolaborasi Dengan Kementerian Perdagangan, Bank Mandiri Sukseskan Trade Expo Indonesia 2024
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
Kuartal I, Perbankan Kantongi Laba Rp 61,87 Triliun
Utilitasi Industri Semen hanya 58%
Baru Lima Bulan, Impor Beras RI Hampir 2 Juta Ton
Indonesia telah mendatangkan 1,78 juta ton beras impor dari berbagai negara sepanjang 1 Januari-2 Juni tahun ini, atau sekitar 44% dari rencana yang ditetapkan pemerintah dalam Sistem Nasional Neraca Komoditas (Sinar-NK) Beras 2024 sebesar 4,04 juta ton. Hampir seluruh beras dari luar negeri tersebut digunakan untuk keperluan umum dalam rangka peningkatan cadangan beras pemerintah (SBP) yang dikelola oleh Perum Bulog. Sementara ini, Indonesia pada 2023 merealisasikan pemasukan beras impor sebanyak 3,06 juta ton.
Laporan Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA) menyebutkan, penetapan impor beras NK 2024 sebesar 4.045.761 ton. Kementerian Perdagangan telah menerbitkan persetujuan impor (PI) 4.045.761 ton, tereralisasi 1.779.257 ton (43,98%) dan belum terealisasi 2.266.504 ton (56.02%). Setara rinci, penetapan impor beras di NK 2024 untuk keperluan umum 3,6 juta ton, PI diterbitkan 3,6 juta ton bagi satu pelaku usaha (importir), yakin Perum Bulog, dan merealisasikan per 2 Juni 2024 sekitar 1,7 juta ton. (Yetede)









