PPKM Darurat, Pengusaha Hotel Beralih Fokus ke Bisnis Catering
Corporate Director of Marketing at Waringin Hospitality Metty S. Yan Harahap mengatakan pelaku usaha hotel harus mengubah model bisnis agar tetap bertahan di tengah wacana perpanjangan PPKM Darurat.
Metty menjelaskan jaringan hotel berfokus mengembangkan produk-produk catering untuk warga yang tengah menjalani isolasi mandiri Layanan catering ini juga membuka akses kepada masyarakat yang ingin mengirimkan bantuan berbentuk makanan kepada kolega atau keluarganya yang tengah terpapar Covid-19.
Selain berfokus menjajaki layanan catering hotel menawarkan promo yang memungkinkan masyarakat memesan paket untuk rapat atau pernikahan yang penyelenggaraannya bisa dilakukan dalam jangka panjang.
Dari sisi strategi pemasarannya, Metty pun mengungkapkan hotel lebih banyak memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pelanggannya selama PPKM Darurat. Melalui media sosial maupun market place, hotel memaksimalkan penjualan dengan saluran daring.
Eropa Setop Produksi Mobil Diesel dan Bensin Mulai 2035
Berencana untuk mengurangi emisi gas karbon, Uni Eropa telah mengumumkan bahwa mereka akan segera mengakhiri produksi dan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel, Rencana ini ditargetkan oleh Uni Eropa untuk dapat terealisasi pada tahun 2035 mendatang.
Komisi Eropa (badan eksekutif Uni Eropa) mengatakan bahwa mereka telah meminta kepada perusahaan-perusahaan di industri otomotif untuk memangkas emisi rata-rata mobil baru mereka sebesar 55% pada tahun 2030. Target 2030 yang baru akan menjadi lompatan signifikan dari target UE saat ini untuk mengurangi emisi dari mobil baru sebesar 37,5%.
Setelahnya, pada tahun 2035, setiap perusahaan otomotif di Eropa diminta untuk hanya memproduksi mobil/kendaraan yang tidak mengeluarkan emisi gas sama sekali. Dengan kata lain, pada 2035 mendatang, Uni Eropa hanya akan memproduksi mobil listrik.
Timbang-menimbang Opsi Penyelamatan Garuda
Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah belum satu pendapat mengenai opsi penyelamatan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Ketua Komisi Badan Usaha Milik Negara DPR, Faisol Riza, mengatakan lembaganya masih menimbang semua keuntungan dan risiko setiap usul strategi penyelamatan maskapai flag carrier yang terpuruk pada masa pandemi Covid-19 ini.
Riza sebelumnya menyebutkan DPR menghindari opsi likuidasi atau pembubaran Garuda. Opsi yang sempat mengemuka adalah pemanfaatan celah hukum untuk menekan beban akibat kontrak sewa pesawat. Artinya, emiten berkode saham GIAA itu memakai hukum perlindungan kebangkrutan untuk restrukturisasi kewajiban, dari utang, leasing atau sewa pesawat, hingga kontrak kerja dengan mitra. Instrumen yurisdiksi untuk strategi ini adalah penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).
Opsi lain yang belum didengungkan pihak mana pun adalah rencana pendirian maskapai penerbangan baru sambil memperkuat kinerja maskapai swasta. Namun konsekuensinya adalah menghilangkan maskapai flag carrier dan membutuhkan modal US$ 1,2 miliar. Maskapai anyar diproyeksikan mengambil alih sebagian besar rute domestik Garuda. Cara ini diterapkan pemerintah Belgia untuk Sabena Airlines dan oleh pemerintah Swiss untuk Swiss Air.
Neraca Perdagangan Juni Terimbas Normalisasi
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan periode Juni 2021 sebesar US$ 1,32 miliar. Angka itu lebih rendah dibanding surplus pada Mei 2021 yang sebesar US$ 2,7 miliar. BPS juga melaporkan nilai ekspor pada Juni 2021 sebesar US$ 18,55 miliar atau naik 9,52 persen dibanding pada Mei. Sementara itu, jika dibanding pada Juni 2020, nilai ekspor naik 54,46 persen.
Adapun nilai impor pada Juni naik 21,03 persen dari Mei lalu menjadi US$ 17,23 miliar. Sedangkan jika dibanding pada Juni 2020, nilai impor naik 60,12 persen. Berdasarkan penggunaan barang, semua kategori barang impor meningkat pada Juni, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, maupun barang modal.
Namun tidak semua komoditas berjaya. Harga minyak sawit mentah (CPO) pada Juni turun 11,98 persen secara bulanan dan merosot 54,99 persen secara tahunan. Penurunan itu diikuti oleh pelemahan harga minyak kernel sebesar 7,26 persen secara bulanan.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani, berujar bahwa penyusutan surplus neraca perdagangan sangat wajar terjadi pada Juni. Sebab, selama ini surplus perdagangan terjadi karena industri nasional mengalami kontraksi produktivitas. Begitu produktivitas industri nasional mengalami normalisasi, Shinta mengungkapkan, impor juga akan mengalami normalisasi atau peningkatan, sehingga surplus perdagangan turun.
Menurut Shinta, peningkatan impor terjadi karena belum ada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro ataupun darurat, sehingga pemulihan ekonomi nasional hingga pertengahan Juni sangat kuat dan stabil. Bahkan Shinta melihat ada normalisasi permintaan global terhadap produk manufaktur nasional yang didukung oleh pemulihan daya beli dan peningkatan aktivitas ekonomi di pasar-pasar besar, seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Demam IPO Big Tech Melanda Investor RI
Pandemi Cavid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir meski terjadi sedikit penurunan dalam tiga hari terakhir. Ekonomi kembali slow down setelah sempat menggeliat pada semester pertama 2021. Tapi, di pasar modal, tetap ada kegairahan. Para investor milenial dilanda demam initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham big-tech. IPO saham PT Bukalapak Tbk sedang berjalan. Perusahaan Go-To yang lebih berencana masuk pasar modal sepertinya disalip oleh Bukalapak yang akan menawarkan 25,7 miliar lembar sahamnya di harga Rp 750- 850 pada 28-30 Juli 2021. Kendati demikian, Go-To, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia tetap melakukan penawaran umum tahun ini. Selain Bukalapak, ada tiga big-tech lain yang siap masuk bursa tahun ini, yakni Go-To, Traveloka, dan J&T Express. Yang disebut big-tech adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang informations and communication technology (ICT) atau teknologi informasi dan komunikasi.
Rencana IPO big-tech telah memicu harapan baru di pasar modal. Pertama, selama ini, dana asing masuk ke Indonesia langsung ke perusahaan rintisan. Dana disuntikkan ke startup oleh perusahaan asing hingga perusahaan rintisan itu menjadi big-tech, unicorn dan decacorn. Para investor pasar modal mengharapkan agar asing yang menyuntikkan dana ke startup itu kini beralih ke pasar modal dengan ikut membeli saham-saham big-tech, baik pada saat IPO maupun di pasar sekunder. Kedua, dana asing yang mencari lahan investasi di dunia sangat banyak. Paling tidak, ada US$ 40 miliar dana asing yang siap masuk ke pasar modal Indonesia. Jika dana ini bisa masuk ke pasar modal Indonesia, market cap di BEI yang baru sekitar Rp 7.000 triliun lebih akan menggelembung menembus Rp 8.000 triliun hingga akhir tahun. Agar dana asing ini masuk ke pasar modal Indonesia, big-tech Indonesia tidak boleh hanya listing di bursa di luar negeri, di AS atau Singapura. Kalau pun listing di luar energi, kita mengharapkan dual listing. Ketiga, IPO tiga big-tech tahun ini dan bakal puluhan hingga ratusan pada tahun-tahun akan datang meningkatkan daya tarik pasar saham Indonesia, baik daya tarik bagi pemodal asing maupun para investor lokal, khususnya para milenial. Jumlah investor di BEI per Juni 2021 sudah mencapai 5,6 juta, naik 56,5% dari 2,5 juta akhir Desember 2019.
Keempat, masuknya big-tech akan menambah alternatif investasi di BEI. Para investor kini bisa melihat peluang untuk meraih capital gain dari perusahaan teknologi.
Kelima, dengan masuknya big-tech di BEI, komposisi top ten berdasarkan market cap kemungkinan besar akan berubah. Hingga 16 Juli 2021, Bank Central Asia (BBCA) memimpin market cap di BEI dengan nilai Rp 745,7 triliun, disusul Bank BRI (BBRI) di urutan kedua sebesar Rp 468,9 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) Rop 314 triliun, Bank Mandiri (BMRI) Rp 271,4 triliun, Bank Jago (ARTO) Rp 218,1 triliun, Astra International (ASII) Rp 197,6 triliun, Unilever (UNVR) Rp 196,5 triliun, Chandra Asri (TPIA) Rp 170,8 triliun, Elang Mahkota (EMTK) Rp 153,6 triliun, dan DCI Indonesia (DCII) sebesar Rp 140,6 triliun.
(Oleh - HR1)
BPS: Sektor Industri Mulai Bergerak
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
nilai impor bahan baku/penolong pada Juni 2021
mencapai US$ 13,04 miliar, atau naik 19,15% dibandingkan Mei 2021 (month to month/mtm) atau naik
72,09% dibandingkan Juni 2020 (year on year/yoy).
“Informasi ini cukup menarik
karena impor bahan baku/penolong
dampaknya akan baik terhadap kinerja sektor riil. Kenaikan impor bahan
baku/penolong mengindikasikan
sektor industri mulai bergerak,” ucap
Kepala BPS Margo Yuwono dalam
telekonferensi pers, Kamis (15/7).
Sementara itu, nilai impor barang
modal mencapai US$ 2,55 miliar.
Angka ini menunjukkan kenaikan
35,02% mtm atau 43,42% yoy. Menurut Kepala BPS, peningkatan impor
barang modal ini akan bagus buat
Indonesia karena terkait peningkatan
kapasitas produksi. “Harapannya
kalau kapasitas produksi mulai meningkat, produksi juga meningkat,”
ucap Margo Yuwono.
Menurut sektor, ekspor nonmigas
hasil industri pengolahan Januari–
Juni 2021 naik 33,45% dibanding
periode yang sama 2020, demikian
juga ekspor hasil pertanian naik
14,05% serta ekspor hasil tambang
dan lainnya naik 41,21%.
“Kalau dilihat dari kinerja ekspor
menunjukkan indikator baik, karena
secara year on year ekspor meningkat
54,46%. Diantaranya karena industri
tambang dan pertanian meningkat,”
ucap Margo Yuwono.
Impor migas Juni 2021 senilai US$
2,30 miliar, naik 11,44% mtm atau naik
239,38% yoy. Impor nonmigas Juni
2021 senilai US$ 14,93 miliar, naik
22,66% mtm atau naik 48,08% yoy
(Oleh - HR1)
Unicorn-Decacor Berpeluang Mendominasi Indeks LQ45 dan MSCI
Sebanyak tiga unicorn dan decacorn akan mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI), menyusul PT Bukalapak.com Tbk
(BUKA) yang akan listing pada 6 Agustus 2021. Tiga perusahaan tersebut adalah Gojek-Tokopedia (GoTo), PT Global JET Express (J&T Express), dan PT
Tinusa Travelindo (Traveloka). Saham unicorn dan decacorn tersebut berpeluang mendominasi indeks LQ45 dan MSCI.
“Apabila semua perusahaan itu resmi
melantai, bukan tidak
mungkin indeks
LQ45 atau MSCI
akan didominasi oleh perusahaan
teknologi ke depannya,” kata
Komisaris BEI Pandu Patria Sjahrir
dalam acara Investor Daily Summit
2021, Kamis (15/7).
Berdasarkan data, GoTo menjadi
perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar yakni sebanyak
US$ 18 miliar atau setara dengan
Rp 261 triliun pada tahun lalu. Kemudian, nilai kapitalisasi pasar J&T
Express sebesar US$ 7,8 miliar
atau Rp 113,1 triliun. Bukalapak senilai US$ 6,05 miliar atau Rp 87,72
triliun dan Traveloka mencapai
US$ 2,75 miliar atau setara dengan
Rp 39,87 triliun.
Pada kesempatan yang sama,
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar
Modal Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), Hoesen mengungkapkan,
tiga perusahaan teknologi berstatus
unicorn dan decacorn dengan total
valuasi mencapai US$ 21 miliar atau
setara Rp 311,75 triliun berencana
melakukan IPO saham.
Beberapa karakteristik tersebut
berlaku bagi perusahaan financial
technology (fintech) atau unicorndecacorn, industri healthcare, dan
industri yang bergerak di bidang
renewable energy, food estate, dan beberapa industri baru yang mungkin
akan berkembang.
Salah satu bentuk penawaran
berbeda yang akan diterapkan OJK
kepada perusahaan unicorn dan
decaron adalah dengan memberlakukan dual class-shares dengan multiple
voting shares. Melalui pengaturan
seperti ini memungkinkan bagi para
pendiri unicorn atau decacorn menjadi para pengendalinya. Sehingga
dapat membangun dan mengembangkan bisnis sesuai visi dan misi
yang sudah direncanakan.
(Oleh - HR1)
Transaksi Sebulan Halodoc Bisa Naik 200%
CEO & CoFounder Halodoc Jonathan
Sudharta mengungkapkan, Halodoc merupakan
platform yang memudahkan
akses kesehatan untuk
masyarakat Indonesia dengan digital. Layanan yang
diberikan, mulai dari memudahkan pasien berkonsultasi
dengan dokter, test Covid-19,
sampai vaksinasi Covid-19.
“Halodoc fokusnya di
last mile. Karena fokus kita
selalu memudahkan akses
kesehatan untuk pasien,”
ungkap Jonathan pada acara
Investor Daily Summit (IDS)
2021 hari ke-3 atau terakhir
pada Kamis (15/7).
“Ketika pandemi datang,
posisi kami sudah siap, dan
transaksi itu terjadi,” tutur
Jonathan. Bahkan, pada tahun ini, ia memprediksi nilai
transaksi akan mengalami
pertumbuhan yang ekstrim. Dia menyebut, dalam
sebulan saja, pertumbuhan
transaksi itu mencapai 200%.
“Jadi, kalau kita lihat ini,
orang dipacu dengan adanya
keterbukaan terhadap
teknologi, dan juga new
normal,” jelas Jonathan.
(Oleh - HR1)
Chiyoda Garap EPC Proyek Smelter Freeport
PT Chiyoda International Indonesia terpilih untuk menggarap kegiatan Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) proyek
Smelter Manyar milik PT Freeport
Indonesia (PTFI).
Hal ini ditandai dengan penandatanganan kontrak kerja sama yang
dilakukan PT Freeport Indonesia
(PTFI) dan PT Chiyoda International
Indonesia.
Kontrak tersebut mencakup pengerjaan proyek pembangunan smelter
berkapasitas 1,7 juta ton konsentrat
per tahun serta fasilitas Precious
Metal Refinery (PMR) di kawasan Java
Integrated Industrial and Ports Estate
(JIIPE), Gresik, Jawa Timur.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas
mengatakan penandatanganan kontrak
ini menegaskan komitmen PTFI untuk
membangun smelter, sesuai dengan
kesepakatan divestasi tahun 2018.
Penandatanganan kontrak kerja
sama dilakukan oleh Direktur PT
Chiyoda International Indonesia Naoto
Tachibana dan Presiden Direktur PTFI
Tony Wenas, disaksikan secara virtual
oleh Direktur
Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral Ridwan Djamaluddin, Chief
Executive Officer (CEO) MIND ID
Orias Petrus Moedak, President &
Chief Financial Officer (CFO) Freeport-McMoRan Kathleen Quirk, Chairman Chiyoda Corporation Masakazu
Sakakida, dan Chiyoda Corporation
President Masaji Santo.
Direktur PT Chiyoda International
Indonesia Naoto Tachibana juga menegaskan komitmennya untuk ikut
berkontribusi bagi Indonesia melalui
pembangunan Smelter Manyar. Nao to berharap, pengalaman dan kepe mimpinan Chiyoda sebagai salah
satu perusahaan terkemuka di dunia
akan membantu mewujudkan tujuan
optimalisasi hilirisasi nasional.
(Oleh - HR1)
Ekspansi Data Center, Etisalat-Telkom akan Gelontorkan Dana Rp 1,45 Triliun
Perusahaan telekomunikasi asal Uni Emirat Arab
(UEA), Etisalat, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berencana
menggelontorkan dana investasi hingga US$ 100 juta atau
setara Rp 1,45 triliun untuk membangun pusat data (data
center) di Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau.
Saat ini, Nongsa Digital Park
memiliki sekitar 160 perusahaan dengan
1.000 pekerja yang berasal dari perusahaan
lokal maupun perusahaan asing.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerangkan,
untuk mendukung teknologi digital agar
semakin berkembang di Kawasan BatamBintan-Karimun (BBK), pemerintah Indonesia telah meresmikan Nongsa Digital Park
pada Maret 2018. Lokasi ini adalah proyek
utama sebagai digital hub antara Indonesia
dan Singapura.
“Untuk Kawasan BBK, dipersiapkan menjadi hub logistik internasional untuk mendukung integrasi dan persaingan industri,
perdagangan, maritim, dan pariwisata,” ujar
Airlangga dalam rilisnya terkait hasil Pertemuan Tingkat Menteri Enam Kelompok Kerja
Bilateral Singapura-Indonesia.
Sementara itu, Telkom sendiri telah
meresmikan data center NeuCentrIX ketiga
di Meruya, Jakarta. Data center berstandardisasi tier-3 service level assurance ini
dijaminkan memiliki downtime kurang dari
1,6 jam dalam satu tahun (99,98% guaranteed
availability).
Direktur Wholesale & International Service Telkom Dian Rachmawan mengatakan,
langkah menghadirkan data center tersebut
untuk mengakselerasi bisnis paltform digital
sebagai salah satu fokus bisnis digital yang
tengah dijalankan oleh Telkom.
Saat ini, lanjut Dian, data center yang dimiliki oleh Telkom tersebar di 13 kota besar di
Indonesia, yaitu Medan, Batam, Pekanbaru,
Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta,
Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, dan Manado.
(Oleh - HR1)









