;

Fitur Baru QRIS Bisa Transfer, Tarik dan Setor

Mohamad Sajili 17 Jul 2021 Kontan

Bank Indonesia (BI) melihat Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai game changer pada sistem pembayaran. Lihatlah salah satu keunggulan QRIS di masa pandemi ini: transaksi bisa dilakukan tanpa tatap muka. Maka, Asisten Gubernur, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta menyatakan akan menambah fitur tarik, transfer, dan setor pada layanan QRIS.

Ia menyebut fitur teranyar ini akan memperkuat dan mendukung transaksi masyarakat di tengah PPKM darurat. Terlebih, pada pekan pertama PPKM darurat ini, transaksi QRIS mencapai 8,37 juta kali naik 7,63% dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Adapun nominal transaksinya mencapai Rp 727,2 miliar atau meningkat 32,5% dalam satu pekan. Saat ini sudah ada 7,7 juta merchant mengadopsi QRIS, dari target 12 juta di tahun 2021.

Neraca Dagang RI Surplus Lagi, Juni Capai US$ 1,32 Miliar

Mohamad Sajili 16 Jul 2021 Sinar Indonesia Baru

Neraca perdagangan indonesia pada Juni 2021 USS 1,32 miliar. Surplus neraca perdagangan terjadi karena ekspor lebih tinggi daripada impor. Nilai ekspor indonesia pada Juni 2021 sebesar US$ 18,55 miliar. Angka ini naik 9,52% dan bulan sebelumnya dan naik 54,46% periode yang sama tahun lahu. Sedangkan nilai impor pada Juni 2021 sebesar USS 17,23 milliar. Angka ini naik 21.03% mtm dan naik 60,12% yoy.

Mengenai impor migasnya naik. Karena minyak mentah naik besar, hasil minyak turun 14,32%, sedangkan impor gas turun 23,57%. Sedangkan untuk impor non migasnya naik 22.66%. Jadi untuk empat migas naik 11,44% diantaranya minyak mentah.

Berikut data neraca perdagangan Indonesia 2021, Januari surplus US$ 2 millar, Februari surplus US$ 2,01 miliar, Maret surplus USS 1,57 miliar, April surplus US$ 2,19 miliar, Mei surplus USS 2,36 miliar dan Juni surplus US$ 1,23 miliar.


Sri Mulyani Bebaskan Pajak Impor Oksigen hingga Obat Covid -19

Mohamad Sajili 16 Jul 2021 Sinar Indonesia Baru

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati resmi membebaskan pajak impor untuk lima kelompok barang yang digunakan dalam keperluan penanganan pandemi Covid-19, Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan barang tersebut dan percepatan pelayanan atas impor barang.

Aturan itu tertuang dalarn Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 92/PMK.02/2021 tentang Perubahan Ketiga Atas PMK Nomor 34/PMK.04/2020 Tentang Pemberian Fasilitas Kepabeanan Dan/Atau Cukai Serta Perpajakan Atas Impor Barang Untuk Penanganan Covid-19.

Barang pertama yang pajak impornya dibebaskan terdiri dari test kit dan reagent laboratorium atau test Kedua, virus transter media. Ketiga, obat yang terdiri dari Tocilizumab, intravenous Imunoglobulin, Mesenchy mal Stem Cell, Low Molecular Weight Heparin, obat mengandung regdanwimab, Favipiravir, Oseltamivir, Remdesivir, Insulin serta Lopinavir dan Ritonavir.

Kemudian kelompok barang keempat yaitu peralatan medis dan kemasan oksigen yang terdiri dari oksigen, isotank, pressure regulator, humidifier, termometer, oksigen kansentrator, ventilator, thermal imaging hingga swab. Terakhir yaitu alat pelindung diri (APD) berupa masker N95.


PPKM Darurat, Pengusaha Hotel Beralih Fokus ke Bisnis Catering

Mohamad Sajili 16 Jul 2021 Sinar Indonesia Baru

Corporate Director of Marketing at Waringin Hospitality Metty S. Yan Harahap mengatakan pelaku usaha hotel harus mengubah model bisnis agar tetap bertahan di tengah wacana perpanjangan PPKM Darurat.

Metty menjelaskan jaringan hotel berfokus mengembangkan produk-produk catering untuk warga yang tengah menjalani isolasi mandiri Layanan catering ini juga membuka akses kepada masyarakat yang ingin mengirimkan bantuan berbentuk makanan kepada kolega atau keluarganya yang tengah terpapar Covid-19.

Selain berfokus menjajaki layanan catering hotel menawarkan promo yang memungkinkan masyarakat memesan paket untuk rapat atau pernikahan yang penyelenggaraannya bisa dilakukan dalam jangka panjang.

Dari sisi strategi pemasarannya, Metty pun mengungkapkan hotel lebih banyak memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pelanggannya selama PPKM Darurat. Melalui media sosial maupun market place, hotel memaksimalkan penjualan dengan saluran daring.


Eropa Setop Produksi Mobil Diesel dan Bensin Mulai 2035

Mohamad Sajili 16 Jul 2021 Sinar Indonesia Baru

Berencana untuk mengurangi emisi gas karbon, Uni Eropa telah mengumumkan bahwa mereka akan segera mengakhiri produksi dan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel, Rencana ini ditargetkan oleh Uni Eropa untuk dapat terealisasi pada tahun 2035 mendatang.

Komisi Eropa (badan eksekutif Uni Eropa) mengatakan bahwa mereka telah meminta kepada perusahaan-perusahaan di industri otomotif untuk memangkas emisi rata-rata mobil baru mereka sebesar 55% pada tahun 2030. Target 2030 yang baru akan menjadi lompatan signifikan dari target UE saat ini untuk mengurangi emisi dari mobil baru sebesar 37,5%.

Setelahnya, pada tahun 2035, setiap perusahaan otomotif di Eropa diminta untuk hanya memproduksi mobil/kendaraan yang tidak mengeluarkan emisi gas sama sekali. Dengan kata lain, pada 2035 mendatang, Uni Eropa hanya akan memproduksi mobil listrik.


Timbang-menimbang Opsi Penyelamatan Garuda

Mohamad Sajili 16 Jul 2021 Koran Tempo

Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah belum satu pendapat mengenai opsi penyelamatan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Ketua Komisi Badan Usaha Milik Negara DPR, Faisol Riza, mengatakan lembaganya masih menimbang semua keuntungan dan risiko setiap usul strategi penyelamatan maskapai flag carrier yang terpuruk pada masa pandemi Covid-19 ini.

Riza sebelumnya menyebutkan DPR menghindari opsi likuidasi atau pembubaran Garuda. Opsi yang sempat mengemuka adalah pemanfaatan celah hukum untuk menekan beban akibat kontrak sewa pesawat. Artinya, emiten berkode saham GIAA itu memakai hukum perlindungan kebangkrutan untuk restrukturisasi kewajiban, dari utang, leasing atau sewa pesawat, hingga kontrak kerja dengan mitra. Instrumen yurisdiksi untuk strategi ini adalah penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Opsi lain yang belum didengungkan pihak mana pun adalah rencana pendirian maskapai penerbangan baru sambil memperkuat kinerja maskapai swasta. Namun konsekuensinya adalah menghilangkan maskapai flag carrier dan membutuhkan modal US$ 1,2 miliar. Maskapai anyar diproyeksikan mengambil alih sebagian besar rute domestik Garuda. Cara ini diterapkan pemerintah Belgia untuk Sabena Airlines dan oleh pemerintah Swiss untuk Swiss Air.


Neraca Perdagangan Juni Terimbas Normalisasi

Mohamad Sajili 16 Jul 2021 Koran Tempo

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan periode Juni 2021 sebesar US$ 1,32 miliar. Angka itu lebih rendah dibanding surplus pada Mei 2021 yang sebesar US$ 2,7 miliar. BPS juga melaporkan nilai ekspor pada Juni 2021 sebesar US$ 18,55 miliar atau naik 9,52 persen dibanding pada Mei. Sementara itu, jika dibanding pada Juni 2020, nilai ekspor naik 54,46 persen.

Adapun nilai impor pada Juni naik 21,03 persen dari Mei lalu menjadi US$ 17,23 miliar. Sedangkan jika dibanding pada Juni 2020, nilai impor naik 60,12 persen. Berdasarkan penggunaan barang, semua kategori barang impor meningkat pada Juni, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, maupun barang modal.

Namun tidak semua komoditas berjaya. Harga minyak sawit mentah (CPO) pada Juni turun 11,98 persen secara bulanan dan merosot 54,99 persen secara tahunan. Penurunan itu diikuti oleh pelemahan harga minyak kernel sebesar 7,26 persen secara bulanan.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani, berujar bahwa penyusutan surplus neraca perdagangan sangat wajar terjadi pada Juni. Sebab, selama ini surplus perdagangan terjadi karena industri nasional mengalami kontraksi produktivitas. Begitu produktivitas industri nasional mengalami normalisasi, Shinta mengungkapkan, impor juga akan mengalami normalisasi atau peningkatan, sehingga surplus perdagangan turun.

Menurut Shinta, peningkatan impor terjadi karena belum ada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro ataupun darurat, sehingga pemulihan ekonomi nasional hingga pertengahan Juni sangat kuat dan stabil. Bahkan Shinta melihat ada normalisasi permintaan global terhadap produk manufaktur nasional yang didukung oleh pemulihan daya beli dan peningkatan aktivitas ekonomi di pasar-pasar besar, seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat.


Demam IPO Big Tech Melanda Investor RI

R Hayuningtyas Putinda 16 Jul 2021 Investor Daily, 16 Juli 2021

Pandemi Cavid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir meski terjadi sedikit penurunan dalam tiga hari terakhir. Ekonomi kembali slow down setelah sempat menggeliat pada semester pertama 2021. Tapi, di pasar modal, tetap ada kegairahan. Para investor milenial dilanda demam initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham big-tech. IPO saham PT Bukalapak Tbk sedang berjalan. Perusahaan Go-To yang lebih berencana masuk pasar modal sepertinya disalip oleh Bukalapak yang akan menawarkan 25,7 miliar lembar sahamnya di harga Rp 750- 850 pada 28-30 Juli 2021. Kendati demikian, Go-To, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia tetap melakukan penawaran umum tahun ini. Selain Bukalapak, ada tiga big-tech lain yang siap masuk bursa tahun ini, yakni Go-To, Traveloka, dan J&T Express. Yang disebut big-tech adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang informations and communication technology (ICT) atau teknologi informasi dan komunikasi.

Rencana IPO big-tech telah memicu harapan baru di pasar modal. Pertama, selama ini, dana asing masuk ke Indonesia langsung ke perusahaan rintisan. Dana disuntikkan ke startup oleh perusahaan asing hingga perusahaan rintisan itu menjadi big-tech, unicorn dan decacorn. Para investor pasar modal mengharapkan agar asing yang menyuntikkan dana ke startup itu kini beralih ke pasar modal dengan ikut membeli saham-saham big-tech, baik pada saat IPO maupun di pasar sekunder. Kedua, dana asing yang mencari lahan investasi di dunia sangat banyak. Paling tidak, ada US$ 40 miliar dana asing yang siap masuk ke pasar modal Indonesia. Jika dana ini bisa masuk ke pasar modal Indonesia, market cap di BEI yang baru sekitar Rp 7.000 triliun lebih akan menggelembung menembus Rp 8.000 triliun hingga akhir tahun. Agar dana asing ini masuk ke pasar modal Indonesia, big-tech Indonesia tidak boleh hanya listing di bursa di luar negeri, di AS atau Singapura. Kalau pun listing di luar energi, kita mengharapkan dual listing. Ketiga, IPO tiga big-tech tahun ini dan bakal puluhan hingga ratusan pada tahun-tahun akan datang meningkatkan daya tarik pasar saham Indonesia, baik daya tarik bagi pemodal asing maupun para investor lokal, khususnya para milenial. Jumlah investor di BEI per Juni 2021 sudah mencapai 5,6 juta, naik 56,5% dari 2,5 juta akhir Desember 2019. Keempat, masuknya big-tech akan menambah alternatif investasi di BEI. Para investor kini bisa melihat peluang untuk meraih capital gain dari perusahaan teknologi. Kelima, dengan masuknya big-tech di BEI, komposisi top ten berdasarkan market cap kemungkinan besar akan berubah. Hingga 16 Juli 2021, Bank Central Asia (BBCA) memimpin market cap di BEI dengan nilai Rp 745,7 triliun, disusul Bank BRI (BBRI) di urutan kedua sebesar Rp 468,9 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) Rop 314 triliun, Bank Mandiri (BMRI) Rp 271,4 triliun, Bank Jago (ARTO) Rp 218,1 triliun, Astra International (ASII) Rp 197,6 triliun, Unilever (UNVR) Rp 196,5 triliun, Chandra Asri (TPIA) Rp 170,8 triliun, Elang Mahkota (EMTK) Rp 153,6 triliun, dan DCI Indonesia (DCII) sebesar Rp 140,6 triliun.

(Oleh - HR1)




BPS: Sektor Industri Mulai Bergerak

R Hayuningtyas Putinda 16 Jul 2021 Investor Daily, 16 Juli 2021

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor bahan baku/penolong pada Juni 2021 mencapai US$ 13,04 miliar, atau naik 19,15% dibandingkan Mei 2021 (month to month/mtm) atau naik 72,09% dibandingkan Juni 2020 (year on year/yoy). “Informasi ini cukup menarik karena impor bahan baku/penolong dampaknya akan baik terhadap kinerja sektor riil. Kenaikan impor bahan baku/penolong mengindikasikan sektor industri mulai bergerak,” ucap Kepala BPS Margo Yuwono dalam telekonferensi pers, Kamis (15/7). Sementara itu, nilai impor barang modal mencapai US$ 2,55 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan 35,02% mtm atau 43,42% yoy. Menurut Kepala BPS, peningkatan impor barang modal ini akan bagus buat Indonesia karena terkait peningkatan kapasitas produksi. “Harapannya kalau kapasitas produksi mulai meningkat, produksi juga meningkat,” ucap Margo Yuwono.

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Juni 2021 naik 33,45% dibanding periode yang sama 2020, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 14,05% serta ekspor hasil tambang dan lainnya naik 41,21%. “Kalau dilihat dari kinerja ekspor menunjukkan indikator baik, karena secara year on year ekspor meningkat 54,46%. Diantaranya karena industri tambang dan pertanian meningkat,” ucap Margo Yuwono. Impor migas Juni 2021 senilai US$ 2,30 miliar, naik 11,44% mtm atau naik 239,38% yoy. Impor nonmigas Juni 2021 senilai US$ 14,93 miliar, naik 22,66% mtm atau naik 48,08% yoy

(Oleh - HR1)

Unicorn-Decacor Berpeluang Mendominasi Indeks LQ45 dan MSCI

R Hayuningtyas Putinda 16 Jul 2021 Investor Daily, 16 Juli 2021

Sebanyak tiga unicorn dan decacorn akan mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI), menyusul PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang akan listing pada 6 Agustus 2021. Tiga perusahaan tersebut adalah Gojek-Tokopedia (GoTo), PT Global JET Express (J&T Express), dan PT Tinusa Travelindo (Traveloka). Saham unicorn dan decacorn tersebut berpeluang mendominasi indeks LQ45 dan MSCI. “Apabila semua perusahaan itu resmi melantai, bukan tidak mungkin indeks LQ45 atau MSCI akan didominasi oleh perusahaan teknologi ke depannya,” kata Komisaris BEI Pandu Patria Sjahrir dalam acara Investor Daily Summit 2021, Kamis (15/7). Berdasarkan data, GoTo menjadi perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar yakni sebanyak US$ 18 miliar atau setara dengan Rp 261 triliun pada tahun lalu. Kemudian, nilai kapitalisasi pasar J&T Express sebesar US$ 7,8 miliar atau Rp 113,1 triliun. Bukalapak senilai US$ 6,05 miliar atau Rp 87,72 triliun dan Traveloka mencapai US$ 2,75 miliar atau setara dengan Rp 39,87 triliun. Pada kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen mengungkapkan, tiga perusahaan teknologi berstatus unicorn dan decacorn dengan total valuasi mencapai US$ 21 miliar atau setara Rp 311,75 triliun berencana melakukan IPO saham.

Beberapa karakteristik tersebut berlaku bagi perusahaan financial technology (fintech) atau unicorndecacorn, industri healthcare, dan industri yang bergerak di bidang renewable energy, food estate, dan beberapa industri baru yang mungkin akan berkembang. Salah satu bentuk penawaran berbeda yang akan diterapkan OJK kepada perusahaan unicorn dan decaron adalah dengan memberlakukan dual class-shares dengan multiple voting shares. Melalui pengaturan seperti ini memungkinkan bagi para pendiri unicorn atau decacorn menjadi para pengendalinya. Sehingga dapat membangun dan mengembangkan bisnis sesuai visi dan misi yang sudah direncanakan.

(Oleh - HR1)

Pilihan Editor