Dampak Ekonomi Perang Rusia-Ukraina
Lebih dari setengah ekspor global minyak bunga matahari berasal dari Rusia dan Ukraina, membuat harga minyak bunga matahari meningkat, diikuti harga minyak nabati lainnya, seperti CPO. Harga CPO naik 60 % dari awal 2022 dan meningkat 15 % setelah invasi, dari 5.982 ringgit per ton menjadi 7.074 ringgit per ton. Rusia memasok 40 % gas di Eropa sehingga harga gas alam naik 10 % dari 4,56 USD ke 5,01 USD per juta metrik british thermal unit (MMBTU). Harga batubara melonjak 130 % dari 193 USD perton mencapai rekor 446 USD per ton, Maret 2022. Harga nikel melambung dari 24.695 USD ke 100.000 USD per ton, memaksa London Metal Exchange (LME) menutup perdagangan sementara 8 Maret 2022 karena kekhawatiran gagal bayar dari pelaku pasar. Rusia dan Ukraina juga pengekspor gandum terbesar nomor 1 dan 5. Harga gandum meningkat 40 % mencapai 12,8 USD per bushel.
Pada situasi ini, investor mengamankan nilai asetnya ke safe haven sehingga harga emas meningkat 1% dalam 1 bulan terakhir, hingga 2.150 USD per troy ounce pada Maret 2022. Berdasarkan data Eurostat Februari 2022, tingkat inflasi bulanan di Eropa lebih tinggi dari ekspektasi pasar, mencapai rekor tertinggi 5,8 %, naik dari 5,1 persen pada Januari. Setelah sanksi pembatasan akses pembayaran bank internasional (SWIFT), saham bank besar Eropa rontok karena mempunyai transaksi dengan perbankan Rusia. Harga saham Deutsche Bank turun 20 % dan SocGen Bank jatuh 30 %. (Yoga)
Harga Pangan, Dering Alarm FAO
Konflik Rusia-Ukraina berlanjut. Alarm Organisasi Pangan dan Pertanian atau FAO berdering. Jika konflik berkepanjangan, diperkirakan muncul risiko perdagangan, harga, logistik, produksi, kemanusiaan, energi, serta makro-ekonomi, yakni mencakup kurs mata uang, utang, dan produk domestik bruto. Peringatan itu dilontarkan FAO dalam laporan ”Pentingnya Ukraina dan Rusia bagi Pasar Pertanian Global dan Risiko Konfliknya” yang dipublikasikan di Roma, Italia, 10 Maret 2022, bersamaan Konferensi Regional Asia dan Pasifik (APRC) FAO ke-36 di Dhaka, Bangladesh, 10-11 Maret 2022. Khusus di sektor pangan, FAO memperkirakan, dalam skenario jangka pendek (2022-2023), harga pangan dan pakan internasional yang saat ini sudah tinggi akan meningkat 8-22 %. Harga gandum, misalnya, naik 8,7 % untuk kategori risiko moderat/sedang, sementara kategori berat, lonjakan harganya mencapai 21,5 %.
Pada 4 Maret 2022, FAO menyebutkan, harga pangan dunia terus melambung tinggi. Indeks Harga Pangan FAO (FFPI) Februari 2022 mencapai 140,7 naik 3,9 % secara bulanan dan 20,7 % secara tahunan. Minyak nabati, sereal, susu, dan daging mendominasi lonjakan harga. Indeks harga minyak nabati menembus level 201,7 naik 26,87 % secara tahunan dan mencapai rekor tertinggi baru sepanjang masa. FAO meminta setiap negara menjaga perdagangan pangan dan pupuk agar tetap terbuka serta mengatasi hambatan rantai pasok perdagangan global. Setiap negara yang bergantung pada impor pangan dari Rusia dan Ukraina perlu mendiversifikasi pasokan dari negara lain serta membangun ketahanan pangan domestik. (Yoga)
Optimalkan Tambak Udang
Pemerintah menargetkan peningkatan produksi udang dari 850.000 ton - 900.000 ton secara tahunan menjadi 2 juta ton hingga 2024. Peningkatan produksi udang bertujuan mendorong nilai ekspor udang menjadi 4,25 miliar USD, tumbuh 250 % hingga 2024. Pada 2022, produksi udang nasional ditargetkan 1,2 juta ton. Ketua Forum Udang Indonesia (FUI) Budhi Wibowo mengatakan, pembangunan tambak tradisional plus perlu didorong di sejumlah sentra produksi udang Indonesia. Hingga saat ini, pengembangan tambak tradisional plus sudah berlangsung di beberapa provinsi, seperti di Sulsel,
Berdasarkan data KKP, luas tambak udang tradisional saat ini 247.803 ha, 82,4 % total luas tambak 300.501 ha. KKP berencana merevitalisasi tambak udang di 15 kabupaten dan kota di Indonesia dengan dukungan pengelolaan irigasi perikanan partisipatif; penyaluran sarana revitalisasi tambak, seperti kincir, pengujian hama penyakit udang dan kualitas air; serta sosialisasi dan bimbingan teknis budidaya udang. Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menyebut ada tiga program peningkatan produksi komoditas udang, yakni evaluasi tambak udang eksisting di seluruh Indonesia, revitalisasi tambak udang tradisional agar produktivitas meningkat dari 0,6 ton per ha per tahun menjadi 2 ton per ha per tahun, dan membangun proyek percontohan tambak udang terintegrasi. (Yoga)
Pendapatan Premi dari Jalur Keagenan Menurun
Jumlah agen asuransi jiwa dan pendapatan premi dari jalur keagenan cenderung berkurang, karena menurunnya aktivitas pemasaran tatap muka selama pandemi Covid-19 dan kian berkembangnya penggunaan aplikasi layanan asuransi digital. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), jumlah agen asuransi berlisensi seluruh Indonesia hingga akhir 2021 sekitar 574.000 orang, turun 5,5 % dibandingkan 2020 yang sebanyak 607.000 orang. Pada 2021, pendapatan premi industri asuransi jiwa dari agen Rp 58,8 triliun, turun 9,7 % dibandingkan 2020 yang sebesar Rp 65,11 triliun. Porsi pendapatan premi dari jalur keagenan terhadap total pendapatan premi asuransi jiwa 2021 sekitar 29 %. Adapun porsi terbesar disumbangkan oleh saluran pemasaran asuransi melalui perbankan sebesar 48,1 %.
Duta Perhimpunan Agen Asuransi Indonesia (PAAI) Deddy Karyanto mengakui, selama pandemi,jumlah agen berkurang lantaran kesulitan memasarkan produk asuransi secara tatap muka. Selain itu, tekanan ekonomi, khususnya beberapa bulan awal pandemi, membuat para agen kesulitan mencari nasabah, yang berdampak minimnya pendapatan komisi, ini membuat sebagian agen berhenti mencari nasabah baru. Pendiri PAAI Wong Sandy Surya menjelaskan, pihaknya mengapresiasi langkah OJK mengeluarkan Surat Edaran No 19 Tahun 2020 tentang saluran pemasaran produk asuransi, dimana OJK mengizinkan pemasaran asuransi dengan metode tanpa tatap muka. (Yoga)
Timah Kembali Meraih Laba pada 2021
Emiten pertambangan, PT Timah (Persero) Tbk, membukukan laba bersih Rp 1,3 triliun tahun 2021 setelah merugi Rp 340,5 miliar di 2020. Dari laporan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, Senin (14/3), pendapatan PT Timah turun dari Rp 15,21 triliun jadi Rp 14,6 triliun selama kurun tersebut. Namun, beban pokok pendapatan turun dari Rp 14,09 triliun di 2020 jadi Rp 11,17 triliun di 2021. (Yoga)
Petani Lampung Didorong Ekspor Rempah
Dalam situasi pandemi Covid-19, permintaan ekspor komoditas rempah dari Lampung terus meningkat. Pemerintah mendorong petani membudidayakan rempah dan melirik potensi ekspor. ”Pada 2020, cabai jawa asal Lampung menembus pasar ekspor sebelas negara,” kata Kepala Balai Karantina Kelas IA Bandar Lampung M Jumadh, di Lampung, Senin (14/3). (Yoga)
Pelaporan SPT Masih Lebih Rendah dari Tahun 2020
Realisasi penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan pajak penghasilan (PPh) tahun pajak 2021 hingga Senin (14/3), telah mencapai 6,1 juta. Namun, angka ini lebih rendah 265.500 atau turun 4,16% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemkeu), realisasi tersebut terdiri dari 5,92 juta SPT yang disampaikan wajib pajak orang pribadi dan 183.267 SPT yang disampaikan wajib pajak badan. Dengan perkembangan tersebut, rasio kepatuhan formal wajib pajak baru mencapai 32,12%, dari target yang dipatok sebesar 80% pada tahun ini. Sebagai catatan kepatuhan pembayaran pajak pada tahun pajak 2020 mencapai 77,63%.
Sedang Dikaji, Bunga Fintech Bisa Naik Lagi
Kebijakan penurunan bunga pinjaman fintech menjadi 0,4% per hari ternyata memberatkan sejumlah pemain. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) pun berencana mengkaji ulang penerapan batas bunga 0,4% tersebut. Dalam rapat kerja nasional (Rakernas) AFPI 2022, isu soal bunga tersebut menjadi satu agenda pembahasan. "Penerapan biaya 0,4% yang akan direview secara berkala hingga pemberlakuan lending robo yang akan diupayakan,” ujar Direktur Eksekutif AFPI Kuseryansyah. Para pemain fintech pun mengapresiasi langkah AFPI untuk segera mengkaji kembali penerapan batas biaya pinjaman.
Kinerja Membiru, Saham Bank Digital Malah Merah
Bank-bank digital bermunculan sejak beberapa tahun terakhir. Kendati dipercaya memiliki prospek cerah, banyak bank-bank digital yang masih harus melakukan investasi untuk menggaet nasabah baru dan membangun infrastruktur layanan digital. Namun tren bakar duit itu bisa jadi segera berakhir. Ambil contoh Bank Jago Tbk (ARTO) yang mulai transformasi menjadi bank digital sejak 2020. Setelah mengalami rugi bertahun-tahun, Bank Jago mencetak laba setelah pajak senilai Rp 86,02 miliar di 2021. Di tahun 2020, ARTO rugi Rp 189,56 miliar. Perbaikan kinerja itu sejalan dengan pertumbuhan penyaluran kredit 491% year on year (yoy) menjadi Rp 5,37 triliun pada 2021. Pinjaman kemitraan dan pinjaman dari ekosistem menyumbang bagian terbesar kredit, dengan porsi sekitar 52%. Sementara bank-bank kecil digital lain, seperti Bank Neo Commerce (BBYB), Bank Raya (AGRO), Bank Aladin (BANK) dan Bank BCA Digital masih merugi. Bank digital memang membutuhkan ekosistim yang kuat untuk mencapai kinerja positif. Bahkan, Kakao Bank asal Korea Selatan yang punya ekosistem sangat besar membutuhkan waktu dua tahun untuk cuan.
Bisnis Properti Dihantui Kenaikan Harga Baja & Besi
Perang Rusia dan Ukraina juga menekan rantai pasok konstruksi global. Konflik di Eropa Timur itu mengerek harga bahan baku besi dan baja. Alhasil, tekanan ke sektor konstruksi dan properti semakin bertambah, setelah harga komoditas energi meningkat sekaligus memukul daya beli. Rusia merupakan eksportir baja keempat terbesar di dunia. Selama ini Rusia memasok baja ke lebih dari 150 negara. Industri konstruksi saat ini menyumbang lebih dari 50% permintaan baja dunia. Tahun 2021, Indonesia mengimpor 486.149 ton ingot besi baja (bahan baku baja) dari Rusia senilai US$ 326,63 juta. Mengacu data BPS, angka itu di posisi ketiga setelah impor dari India dan Oman. Para pebisnis properti juga mengakui, perang Rusia dan Ukraina memantik ketidakpastian. Real Estate Indonesia (REI) mengemukakan, potensi kenaikan harga besi dan baja di pasar global akan memukul bisnis konstruksi dan properti di dalam negeri.
Wakil Ketua Umum DPP REI Raymond Arfandy mengatakan, tak hanya besi dan baja, keadaan ini berpotensi menaikkan harga komponen konstruksi lainnya. Ketua Apindo Bidang Properti dan Kawasan Ekonomi, Sanny Iskandar mengungkapkan, jika kenaikan harga tidak diantisipasi lebih jauh maka memberatkan sektor properti dan kawasan industri. Menurut dia, pemerintah perlu memberikan kemudahan, salah satunya mendorong peningkatan volume produksi dalam negeri. Head of Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani menilai, kenaikan harga baja dan semen bisa mengerek harga properti. Hal ini menyebabkan sebagian konsumen menimbang ulang membeli properti.









