Dana Kompensasi Pertalite Bisa Bengkak Rp34 Triliun
Dana kompensasi pertalite tahun ini bisa membengkak Rp 34 triliun menjadi Rp148,7 triliun dari anggaran Rp114,7 triliun, seiring normalisasi mobilitas masyarakat dan peralihan (shifting) dari Pertamax ke Pertalite. Ini merupakan salah satu risiko yang mengintai APBN 2022. Mandiri Sekuritas (Mansek) mecatat, kompensasi Pertalite Rp114,7 triliun berdasarkan kouta sebanyak 23 juta kilo liter (kl). Adapun realisasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) ini sudah mencapai 6,5 juta kl selama kuartal I-2022 atau 28% dari target. Di luar itu, demikian Mansek, ada selisih harga yang sangat besar antara Pertalite dan Pertamax. Saat ini, Pertalite dibanderol Rp 7.650 per liter, sedangkan Pertamax Rp 12.500 per liter. Tak ayal lagi, gelombang migrasi dari Pertamax ke Pertalite bakal terjadi. "Atas dasar itu, kami memprediksi konsumsi Pertalite tahun ini mencapai 30 juta, di atas proyeksi pemerintah. Imbasnya akan ada biaya tambahan fiskal Rp 34 triliun," tulis Mansek dalam catatan harian belum lama ini. (Yetede)
Melesat 80% Dividen BUMN dan Anak Usaha Capai Rp 76 Triliun
Nilai dividen yang dibagikkan emiten BUMN dan anak usaha untuk 2021 mencapai Rp76,21 triliun, melesat 80,04% dibanding tahun sebelumnya Rp42,33 triliun. Sebanyak Rp32,82 triliun diantaranya disetor langsung ke pemerintah sebagai pemegang saham pengendali. Dari total Rp 76,21 triliun, dividen terbanyak diberikan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp26,4 triliun, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) senilai Rp16,82 triliun, dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) atau Telkom sebesar Rp14,85 triliun. Dividen yang cukup besar juga diberikan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp2,72 triliun,dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN sebesar Rp237 triliun. Sementara itu, emiten anak usaha BUMN juga turut menyisihkan laba bersh 2021 untuk dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham. Tercatat, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang merupakaN subholding gas PT Pertamina (Persero) membagikan dividEN terbesar sebesar Rp3,01 triliun. (Yetede)
Ketika BSI Konsisten Lakukan Transformasi
Cita-cita Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjadi bagian dari Top 10 Global Islamic Bank semakin mendekat. Transformasi yang konsisten dilakukan oleh seluruh komponen BSI menorehkan kinerja yang membanggakan dan memberikan nilai tambah yang baik bagi Negara, Pemegang Saham maupun Umat. Seperti yang ditunjukkan dari Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BSI untuk Tahun Buku 2021. Pemegang saham bersepakat untuk membagikan dividen tunai sebesar 25% dari laba bersih perseroan atau sekitar Rp757 miliar. Tak hanya itu, Pemegang Saham pun memberikan persetujuan terhadap perubahan Anggaran Dasar Perseroan seiring dengan kepemilikan saham seri A Dwiwarna di perseroan oleh NKRI. Saham Seri A Dwiwarna ini merupakan saham khusus NKRI yang memberikan hak istimewa seperti persetujuan rapat umum pemegang saham serta menyetujui perubahan permodalan perusahaan. (Yetede)
Dividen Emiten Pelat Merah Lebih Merekah
Pemegang saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) boleh bergembira. Setoran dividen emiten pelat merah tahun buku 2021 lebih gemuk. Tahun sebelumnya, sejumlah emiten BUMN sempat puasa membagi dividen akibat kinerjanya terpukul pandemi Covid-19.
Setoran dividen yang cukup besar berasal dari emiten pertambangan yang tergabung dalam Holding Pertambangan Mining Industry Indonesia atau Mind Id. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), misalnya, membagikan seluruh laba bersih 2021 lalu sebagai dividen. Lonjakan dividen emiten pelat merah ini memicu kekhawatiran akan mengganggu rencana ekspansi. Apabila seluruh laba dibagikan sebagai dividen.
Era Bakar Duit Usai, Investor Startup Mulai Selektif
Era bakar duit di bisnis startup berakhir. Investor mulai selektif mengucurkan dana. Jadi, pengelola startup harus kreatif mempertahankan bisnisnya.
Kini, lanskap dunia startup di Indonesia berubah cepat. Bahkan sejumlah startup mulai realistis menghadapi persaingan bisnis, sehingga memangkas jumlah tenaga kerja. Dengan beragam alasan, Jd.Id, Tanihub, Zenius dan Link Aja, mulai mengurangi jumlah karyawan. Pengamat pasar modal Teguh Hidayat berpendapat, tren tumbangnya startup mirip fenomena gelembung dot-com di Amerika Serikat pada 1995-2000. Kala itu, banyak e-commerce tumbuh hingga akhirnya tumbang satu per satu dan tinggal menyisakan Amazon dan Ebay.
MENGULIK INSENTIF ‘PAJAK SUPER’
Kendati amat diharapkan dunia usaha, berbagai insentif yang dikucurkan pemerintah rupanya tak semua berjalan efektif. Contohnya super tax deduction (STD), yang ternyata tak banyak dimanfaatkan, khususnya oleh pelaku usaha manufaktur. Kendati amat diharapkan dunia usaha, berbagai insentif yang dikucurkan pemerintah rupanya tak semua berjalan efektif. Contohnya super tax deduction (STD), yang ternyata tak banyak dimanfaatkan, khususnya oleh pelaku usaha manufaktur. Alasannya, sejak kali pertama insentif tersebut digulirkan pada 2019, akselerasi mesin manufaktur masih terbatas. Apalagi setelah pandemi Covid-19 melanda, sebagian pelaku industri manufaktur tiarap karena berbagai tekanan. Hingga akhir tahun lalu, satuan kerja pendidikan telah bermitra dengan 1.687 Iduka dan telah melakukan coaching clinic STD kepada 464 Iduka. Akan tetapi hanya 38 yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Hal ini pun bermuara pada tidak maksimalnya penyerapan tenaga kerja di dunia usaha serta alokasi insentif yang mubazir.
Anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Kebijakan Moneter dan Jasa Keuangan Ajib Hamdani mengatakan, sejak pandemi Covid-19 pelaku bisnis banyak melakukan efisiensi. Secara terperinci, ada dua cakupan dalam kebijakan ini. Pertama, wajib pajak badan yang menyelenggarakan kegiatan praktik kerja, pemagangan, dan/atau pembelajaran dapat diberikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200% dari jumlah biaya yang dikeluarkan. Kedua, bagi wajib pajak badan yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia, dapat diberikan pengurangan penghasilan bruto maksimal 300% dari jumlah biaya yang dikeluarkan.Ketika BSI Konsisten Lakukan Transformasi Menuju Top 10 Global Islamic Bank
Cita-cita PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjadi bagian dari Top 10 Global Islamic Bank semakin dekat, seiring konsistensi torehan kinerja yang membanggakan bagi negara, pemegang saham maupun umat.Hal ini seperti ditunjukkan dalam hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BSI Tahun Buku 2021, yang mana pemegang saham sepakat membagikan dividen tunai 25% dari laba bersih (sekitar Rp757 miliar). Kemudian, 20% dari laba bersih 2021 disisihkan sebagai cadangan wajib dan 55% lainnya dialokasikan sebagai laba ditahan.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengemukakan, langkah tersebut semakin memperkuat BSI turut serta memajukan ekonomi nasional, serta menjadi motor ke-majuan industri keuangan syariah Indonesia. “BSI semakin siap menjadi energi baru untuk Indonesia. Sehingga, ke depannya perbankan syariah diharapkan mampu menjadi prioritas dan kompetitif, bukan lagi alternatif pilihan masyarakat,” tegasnya.
EMITEN TELEKOMUNIKASI : SENTIMEN POSITIF TERJAGA
Sejumlah emiten telekomunikasi royal membagi dividen setelah mengukir kinerja mengilap pada 2021. Kinerja positif diproyeksi berlanjut tahun ini kendati dibayangi berbagai tantangan. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai prospek emiten sektor telekomunikasi makin positif seiring dengan tren digitalisasi yang berlanjut. “Apalagi jumlah pengguna internet makin meningkat yang menyebabkan kebutuhan data dan internet turut naik. Dari sisi supply diperkirakan bertambah, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya,” katanya, Minggu (29/5). Kucuran dividen yang ditopang oleh peningkatan laba bersih emiten telekomunikasi cukup besar tercermin dari tata-rata dividend payout ratio berada di atas 50%.
SVP Corporate Communication & Investor Relation Telkom Ahmad Reza mengatakan dividen setara dengan 60% laba bersih 2021 senilai Rp24,76 triliun. Kucuran dividen juga datang dari PT XL Axiata Tbk. (EXCL) yang menyetujui pembagian dividen untuk pemegang saham senilai Rp522 miliar atau 50% dari keuntungan untuk tahun buku 2021. Emiten menara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) juga akan membagikan dividen total Rp800 miliar dari laba bersih 2021 atau meningkat dari dividen tahun sebelumnya Rp692 miliar. Di sisi lain, Nico menjelaskan bahwa emiten telekomunikasi juga ramai melakukan aksi korporasi penggabungan usaha untuk memperkuat bisnisnya. Hal ini tidak hanya akan mendorong kinerja emiten, tetapi juga mendukung prospek industri telekomunikasi.Pandemi Hilang, Jumlah Pasien Naik
Penyebaran Covid-19 mulai mereda. Bahkan, status pandemi Covid-19 akan diubah menjadi endemi. Ini jadi sentimen positif bagi emiten pengelola rumah sakit. Performa harga saham emiten rumah sakit pun tampak terus naik di tahun ini. Performa saham emiten rumah sakit yang apik ini, menurut analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya, justru merupakan efek dari melandainya kasus Covid-19 akhir-akhir ini. Pasalnya, tingkat kunjungan pasien rawat jalan maupun rawat inap kembali meningkat. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei menambahkan, beberapa emiten rumah sakit dalam pantauan Henan Putihrai Sekuritas, seperti MIKA, HEAL, dan SILO, sejak kuartal IV-2021 mencatatkan jumlah volume pasien melebihi level sebelum Covid. "Artinya, bisnis dasar rumah sakit mulai pulih, setelah permintaan perawatan atau operasi sempat tertunda selama pandemi," kata Jono kepada KONTAN, Jumat (27/5). Cheryl menyebut, dengan makin rendahnya kasus Covid-19 saat ini, tren berobat masyarakat akan terus berlanjut, sehingga mendorong volume kunjungan pasien pada tahun ini. Kondisi ini jadi katalis positif bagi emiten. Tapi, Analis CGS CIMB Sekuritas Patricia Gabriella, dalam risetnya menuliskan, pertumbuhan volume pasien industri rumah sakit pada tahun ini diprediksi cuma mencapai 16% secara year on year.
Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio meyakini, kesadaran masyarakat akan kesehatan menjadi faktor penting pertumbuhan kinerja emiten rumah sakit, serta ditunjang naiknya penjualan obat. "Jadi, saham rumah sakit tetap menarik. Terlebih jumlah pasien naik, begitu pula emiten rumah sakit kian ekspansif untuk layanan pengobatan dan teknologi kesehatannya," imbuh dia. Frankie menyebut, menariknya prospek emiten rumah sakit terlihat dari aksi korporasi Grup Lippo yang menambah kepemilikan saham SILO serta strategi grup Astra menyerap saham HEAL yang dilepas di private placement.
PENGHILIRAN PERTAMBANGAN : NTB Bidik Pengolahan Batu Mulia
Provinsi Nusa Tenggara Barat atau NTB mulai membidik pengolahan batu mulia dalam satu kawasan industri agar bisa mengoptimalkan nilai tambah dari sumber daya alam yang ada. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB Zainal Abidin menjelaskan bahwa potensi batu mulia di NTB sangat besar. Bahkan beberapa tempat di provinsi itu, seperti di Lombok Selatan dan Sumbawa Selatan memiliki kandungan batuan mineral dengan umur mencapai ratusan tahun. “Potensi ini jika dikembangkan maka bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Kami juga akan melibatkan pecinta batu mulia yang sudah terbentuk di NTB,” jelas Zainal, Jumat (27/5).
“NTB ini daerah mineralisasi, pasti batu mulianya berkualitas, sehingga NTB siap bersaing dengan daerah lain,” ujar Zainal. Zainal juga menjelaskan bahwa harga batu mulia yang variatif dan bisa melampaui harga emas dinilai menjadi potensi ekonomi luar biasa bagi NTB.









