The Fed Hantui Pasar Global
Hingga beberapa bulan ke depan, pasar uang dan pasar modal global akan tetap dihantui perkembangan suku bunga inti di AS. Meski sesekali terjadi kenaikan indeks saham global, hal itu hanya merupakan reaksi musiman yang berlangsung sementara. Setelah sempat meningkat berhari-hari pekan lalu, indeks saham di Asia kembali berjatuhan. Pola serupa terjadi di AS dan Eropa. Pada perdagangan Senin (25/7), IHSG Jakarta turun 0,41 % atau 28,55 poin ke 6.858,41. Indeks Nikkei anjlok 0,9 % menjadi 27.676,97 poin, indeks Kospi (Seoul) anjlok 0,6 % menjadi 2.406.98 poin. Indeks Hang Seng (Hong Kong) dan Shanghai juga mengalami penurunan.
Pekan lalu, Steve Sosnick, analis Interactive Brokers, mengatakan,” Jangan tertipu kenaikan temporer indeks.” Gejolak pasar masih akan jadi warna pasar beberapa waktu ke depan. Jika indeks saham naik, bukan pertanda perbaikan fundamental ekonomi global. Gambaran ke depan secara global cenderung suram, terutama di AS dan Eropa. Bahkan, diperkirakan resesi berpotensi terjadi. ”Penurunan besar indeks dimungkinkan,” kata Robert Kiyosaki, penulis buku ”Rich Dad Poor Dad”. Kenaikan inflasi, kenaikan suku bunga, dan perlambatan pertumbuhan sektor perumahan di AS terus memberi kegamangan seantero pasar global. Pasar AS menjadi inti persoalan dan hampir selalu menghantui bursa dunia.
Yang terjadi sekarang adalah potensi kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi, termasuk di AS. Gubernur Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell mengatakan, peredaman inflasi kini menjadi tugas utama. ”Kegagalan meredam inflasi akan menjadi kesalahan lebih besar,” kata Powell pada 4 Juli. Ini menandakan Bank Sentral AS akan menaikkan lagi suku bunga 0,75 % setelah kenaikan serupa pada Juni lalu. Persoalan yang muncul akibat kenaikan suku bunga adalah efeknya pada pertumbuhan ekonomi yang bisa merembet ke seluruh dunia. (Yoga)
Subsidi Energi Dinilai Belum Efektif
RAPBN 2023 didesain lebih efektif dan tepat sasaran terutama terkait subsidi energi. Pasalnya, mulai tahun depan, pemerintah akan lebih ketat dalam menggunakan anggaran belanja negara guna mengejar target defisit fiskal di bawah 3 % PDB. Direktur Penyusunan APBN Ditjen Anggaran Kemenkeu Rofyanto Kurniawan pada ”Konsultasi Publik RUU APBN Tahun Anggaran 2023”, Senin (25/7), menilai pemberian subsidi, seperti BBM dan listrik, belum efisien karena banyak masyarakat mampu yang ikut menikmati subsidi tersebut. Pemerintah, secara bertahap akan mengembalikan harga BBM dan listrik ke harga keekonomiannya. Dengan demikian, belanja negara bisa lebih produktif dan subsidi energi bisa lebih tepat sasaran.
Sementara dari sisi belanja, pemerintah saat ini tengah memperbaiki efektivitas dan efisiensi belanja negara. Tahun ini, pemerintah secara total menggelontorkan dana untuk subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp 520,4 triliun. Anggaran itu digunakan untuk menyubsidi BBM, listrik, dan elpiji bersubsidi (kemasan 3 kg). Dalam RAPBN 2022, anggaran belanja untuk subsidi dan kompensasi energi telah ditetapkan Rp 152,5 triliun sebelum akhirnya alokasi anggaran subsidi dan kompensasi energi ditambah sebanyak Rp 349,9 triliun. (Yoga)
OTORITAS JASA KEUANGAN, Tantangan dan Harapan
Mulai Rabu (20/7), tampuk kepemimpinan OJK resmi dipegang para pemimpin baru. Para anggota dewan komisioner yang baru akan menakhodai OJK hingga lima tahun ke depan. Mereka adalah Mahendra Siregar sebagai Ketua Dewan Komisioner, Mirza Adityaswara sebagai Wakil Ketua Dewan Komisioner, Dian Ediana Rae sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Inarno Djajadi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, dan Ogi Prastomiyono sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Nonbank (IKNB). Selain itu, ada Sophia Issabela Watimena sebagai Ketua Dewan Audit, Friderica Widyasari Dewi sebagai anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen.
Berbagai tantangan dan pekerjaan rumah sudah langsung menyambut mereka, yakni tantangan di level internal kelembagaan OJK, di level industri jasa keuangan, dan di tingkat ekonomi makro secara lebih luas. Mengenai persoalan internal kelembagaan, kinerja pengawasan jasa keuangan oleh OJK selama ini dinilai masih belum optimal. Seperti diketahui, di dalam tubuh OJK ada tiga sektor pengawasan, yakni perbankan, IKNB, dan pasar modal. Pengawasan di tiga sektor itu selama ini masih terkotak-kotak sehingga pengawasan tidak optimal. Padahal, mereka bertugas memelototi jalannya sistem keuangan dengan total aset Rp 19.418 triliun yang tersebar di sektor perbankan, IKNB, dan pasar modal.
Hal ini tampak dari banyaknya kasus terkait produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link yang dipasarkan melalui bank (bancassurance). Sejumlah nasabah yang tergabung dalam Komunitas Korban Asuransi mengungkapkan, mereka sebenarnya hanya ingin menabung di bank, tetapi ternyata uang mereka dibelikan PAYDI. Lantaran tidak memahami cara kerja PAYDI yang mengalokasikan dana untuk premi asuransi dan investasi, mereka merasa tertipu karena hasilnya tidak sesuai yang mereka harapkan.
Tantangan berikutnya adalah persoalan pada level industri sektor jasa keuangan. Dari tiga sektor pengawasan jasa keuangan, harus diakui sektor IKNB mempunyai tantangan paling berat, terkait industri teknologi finansial pinjaman antar pihak (peer to peer lending/P2P). Industri yang tengah naik daun ini perlu dikawal tata kelolanya agar bisa dioptimalkan untuk memperluas inklusi keuangan. Edukasi ke masyarakat perlu terus-menerus dilakukan agar masyarakat tidak terjerumus dan terjerat pinjaman online (pinjol) ilegal yang tidak terdaftar dan tak berizin OJK. (Yoga)
Era Harga Tinggi Komoditas Global Diprediksi Berakhir
Era harga tinggi sebagian besar komoditas global diperkirakan berakhir. Tren penurunan harga sedang terjadi. Ke depan, harga keseimbangan baru yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelum pandemi Covid-19 akan terbentuk. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku usaha terkait mulai mempersiapkan diri mengatasi dampak penurunan harga komoditas. Ke depan, pendapatan negara dan perusahaan diperkirakan berkurang karena fase ”durian runtuh” telah lewat. Di sektor energi, harga minyak mentah sudah mulai terkoreksi, sedang harga batubara dan gas alam masih tinggi. Di sektor pangan, mayoritas harga komoditas, terutama CPO, gula, kedelai, dan gandum, terkoreksi cukup signifikan.
Berdasarkan data Trading Economics, Senin (25/7) harga minyak mentah West Texas Intermediate 94,96 USD per barel, turun 10,89 % secara bulanan dan naik 31,89 % secara tahunan. Harga batubara 409,2 USD per ton, naik 3,59 % secara bulanan dan gas alam 8,35 USD per million metric British thermal units (MMBTU), naik 28,49 & secara bulanan. Harga CPO 3.720 ringgit Malaysia per ton, turun 24,62 % secara bulanan dan15,35 % secara tahunan.. Harga kedelai 14,45 USD per gantang, turun 5,4 % secara bulanan, gandum 7,85 USD per gantang, turun 14,36 % secara bulanan.
”Tren koreksi penurunan harga sebagian besar komoditas global tengah terjadi. Kendati masih bergejolak, harganya diperkirakan turun dan mencapai titik keseimbangan baru pada 2023. Harga keseimbangan yang terbentuk itu masih lebih tinggi daripada harga pada 2019 atau periode sebelum pandemi Covid-19,” kata Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani, Senin.(25/7). Tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan rata-rata harga minyak mentah pada 2023 sebesar 98 USD per barel, batubara 168,8 USD per ton, dan CPO 939,3 USD per ton. (Yoga)
PROPERTI, Transportasi Publik dan Akses Jalan Jadi Pilihan
Pengembangan permukiman perkotaan di Indonesia yang sangat potensial masih mempertimbangkan kedekatan dengan infrastruktur jalan raya dan akses ke transportasi publik. Kedua basis ini dipastikan sangat diminati banyak orang kendati tingkat keterjangkauan kepemilikannya masih menjadi pertimbangan utama konsumen. Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan, proyek Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodetabek dan kereta api cepat Jakarta-Bandung berpotensi memunculkan permukiman dan bangunan komersial baru. Ia mencontohkan stasiun LRT yang berpeluang bakal banyak dibangun properti hunian dan komersial di sekitarnya, sayangnya, banyak lokasi yang koefisien lantai bangunan atau KLB sangat rendah,” ujar Paulus dalam webinar bertajuk ”Private Participation and Land Value Capture for Urban Rail Development” di Jakarta, Senin (25/7).
Oswar Mungkasa, Wakil Ketua Dewan Pengurus Lembaga Pengkajian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan Indonesia, menambahkan, Pemprov DKI Jakarta sesungguhnya mempunyai skema transfer pengembangan. Para pengembang tahu persis tentang peningkatan KLB dengan memanfaatkan areal tersebut. ”Setelah ada konsep transit oriented development (TOD) bersama Menhub Ignasius Jonan, kemudian muncul konsep kota kompak, di mana kita mengurangi pergerakan perjalanan yang dilakukan dengan pengembangan TOD,” kata Oswar. Di wilayah Jakarta saja, imbuh Oswar, jumlah komuter mencapai 1,7 juta-2 juta orang per hari. (Yoga)
Laba Bersih Jamkrindo 2021 Rp 1,07 Triliun
Laba bersih PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) tahun 2021 mencapai Rp 1,07 triliun, naik dibandingkan tahun lalu yang senilai Rp 456,13 miliar. Kenaikan itu didorong kinerja penjaminan Jamkrindo yang mencapai Rp 247,61 triliun. Demikian dikatakan Dirut Jamkrindo Putrama Wahju Setyawan dalam keterangannya Senin (25/7). (Yoga)
Cabai Rawit di Papua Capai Rp 90.000 Per Kg
Meski turun dari bulan sebelumnya, harga cabai rawit di Papua masih tinggi, mencapai Rp 90.000 per kg. Normalnya, harga cabai rawit Rp 50.000 per kg. Pada Mei-Juni, harga cabai rawit tembus Rp 110.000 per kg. ”Produksi daerah sentra tidak terlalu optimal karena curah hujan yang tinggi,” kata Kabid Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Papua Luna Daimboa, Senin (25/7). Harga bawang merah juga cukup tinggi, Rp 75.000 per kg. Normalnya, harga bawang merah berkisar Rp 35.000 per kg. ”Kami berharap pemerintah bisa mendorong penurunan harga,” kata Marthen Tangalele, pedagang di Yalimo. (Yoga)
Siapkan Penangkal Resesi
Meski Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang relatif kokoh, pemerintah diminta menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menangkal ancaman resesi. Langkah yang perlu ditempuh pemerintah diantaranya memperkuat ketahanan pangan nasional untuk mencegah inflasi, mengintensifkan bansos untuk menjaga daya beli masyarakat golongan bawah, dan menjamin subsidi energi tepat sasaran. Sementara itu, para investor di pasar saham diminta tetap tenang dalam menghadapi volatilitas pasar seiring bakal digelarnya rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan rilis data-data ekonomi AS sepanjang pekan ini. Adapun data ekonomi AS yang akan dipublikasikan pekan ini antara lain pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 (Kamis, 28/7). Setelah minus 1,6% pada kuartal I-2022, ekonomi AS pada kuartal II diperkirakan kembali negatif. Sebagian ekonom menyimpulkan kontraksi dua kuartal berturut-turut sebagai resesi, namun sebagian lagi menyatakan resesi baru terjadi jika kontraksi dua kuartal beruntun diikuti lonjakan angka pengangguran yang tinggi, di atas 5%. (Yetede)
Makin Lengkap, Bank Mandiri Hadirkan Fitur Lifestyle Bertajuk Livin Sukha
Perkembangan sistem pembayaran yang seirama dengan akselerasi perbankan digital telah mendorong Bank Mandiri untuk menghadirkan solusi layanan finansial terlengkap bagi nasabah. Sebagai wujud komitmen perseroan dalam menjadi mitra finansial yang utama, Bank Mandiri telah menyempurnakan Super App Livin' Sukha. Melalui konsep one step solution for all your lifestyle, Livin' Sukha memungkinkan nasabah untuk memenuhi kebutuhan transaksi dalam satu aplikasi. Sekarang, nasabah pengguna Livin' by Mandiri dapat menikmati kemudahan transaksi seperti pembelian tiket pesawat, tiket kereta api, entertainment, pembelian voucher gim, pengajuan kredit, dan lain-lain tanpa berpindah aplikasi. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menjelaskan, fitur ini kian melengkapi Livin' by Mandiri yang tidak hanya menyajikan layanan perbankan yang lengkap namun juga menjangkau berbagai kebutuhan gaya hidup nasabah secara digital. (Yetede)
2021, Laba Jamkrindo Tumbuh 134%
PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) mencetak laba bersih sebesar Rp 1,07 triliun pada 2021, meningkat 134% dibandingkan pencapaian 2020 sebesar Rp456,13 miliar. Sementara itu, perseroan berupaya menjaga kepercayaan dan reputasi melalui komitmen membentuk pencadangan klaim yang kuat. Pertumbuhan 2,3 kali lipat dari laba bersih tersebut didongkrak volume penjaminan Jamkrindo yang mencapai Rp247,61 triliun sampai akhir 2021. Dengan volume penjaminan sebesar itu, perseroan mencatat cadangan klaim mencapai Rp5,66 triliun atau naik 41% dari tahun sebelumnya. Direktur Utama Jamkrindo Putrama Wahju Setyawan menyatakan, pertumbuhan pencadangan klaim tersebut merupakan strategi perusahaan untuk memitigasi risiko dan menjaga kinerja perusahaan di tahun berikutnya. jamkrindo juga membukukan pertumbuhan aset sebesar 33% (yoy) pada 2021, dari Rp 19,12 triliun menjadi Rp 25,35 triliun. Sedangkan ekuitas tercatat Rp 12,83 triliun naik 45% dari tahun sebelumnya Rp 8,86 triliun. (Yetede)









