Berkah Saham Bank Lapis Dua Bervaluasi Murah
Pembaca yang rajin membaca KONTAN mungkin hafal, banyak analis menilai fundamental saham bank big caps kuat dan sahamnya menarik. Kendati begitu, valuasinya sudah cukup tinggi. Tapi investor penggemar saham bank tak perlu bingung. Saham bank lapis dua juga menarik dicermati.
Dari sisi valuasi, saham bank di jajaran tier dua masih murah meriah. Ini tercermin dari
price to book value
(PBV) yang masih bertengger di bawah 1 kali. Hanya nilai buku per saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang tercatat cukup tinggi, yakni mencapai 2,23 kali.
Dari sisi kinerja, realisasi kinerja bank lapis dua memang cukup beragam. Tidak seluruhnya positif, namun masih ada beberapa yang sukses melanjutkan pertumbuhan solid hingga kuartal I-2023. Bank Syariah Indonesia atau lebih dikenal dengan singkatan BSI misalnya, menorehkan pertumbuhan laba bersih 47,6% secara tahunan selama tiga bulan pertama tahun ini. Labanya tercatat mencapai Rp 1,46 triliun.
Performa saham bank-bank di kelas ini sepanjang 2023 terlihat sejalan dengan realisasi kinerjanya. Artinya, untuk menerawang prospek sahamnya ke depan, investor bisa mencermati perkembangan kinerja keuangan mereka.
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani memandang valuasi saham bank lapis kedua murah alias undervalued. Fundamental juga cukup solid karena kinerja beberapa bank masih positif, dengan kualitas aset dan likuiditas yang terjaga. Ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau
non performing loan
(NPL) serta rasio kredit dibanding deposito atau
loan to deposit ratio
(LDR).
Kinerja bank lapis kedua ke depan juga diperkirakan bagus karena ekspektasi pertumbuhan kredit tahun ini masih lumayan tinggi. Arjun menilai ekspansi kredit bank lapis dua di tiga bulan pertama tumbuh dengan baik.
Senior Faculty LPPI Trioksa Siahaan juga menilai saham bank lapis kedua akan menarik seiring dengan kinerja yang juga turut meningkat. Menurut dia, kinerja keuangan merupakan faktor penopang saham bank lapis dua.
Menanti Aksi Korporasi BRIS
Kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dalam tiga bulan pertama di tahun 2023 cukup solid. Laba bersih BRIS meningkat 47,6% secara tahunan atau
year on year
(yoy) menjadi Rp 1,5 triliun. Kenaikan ini berasal dari pertumbuhan pembiayaan dan kemampuan bank dalam mempertahankan margin.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Eka Savitri dalam riset 28 April 2023 menjelaskan, selama kuartal I-2023, pertumbuhan kredit BRIS mencapai 20,2% secara tahunan dengan
net interest margin
(NIM) di 6%. Sementara biaya pembiayaan menurun 50 vos menjadi 143 bps. "Pertumbuhan pembiayaan berasal dari segmen konsumer yang memiliki risiko lebih rendah ketimbang segmen korporasi," jelas dia.
Bank Syariah Indonesia diuntungkan karena memiliki 1.000 outlet dengan 1.031 cabang per Maret 2023 di seluruh Indonesia. Dalam waktu dekat, BSI juga akan sepenuhnya beroperasi digital dari saat ini hanya 47%. "Melalui digitalisasi, BSI berharap rasio kepemilikan produk menjadi meningkat," tutur Eka.
Analis MNC Sekuritas Tirta Citradi dalam riset 15 Februari 2023 menambahkan, BRIS semakin unggul pasca merger. "Dengan menetapkan strategi empat pilar utama yakni pertumbuhan, efisiensi biaya, transformasi digital dan ekosistem Islam membuat BRIS makin unggul," ujar dia.
Sejak mergerBRIS berhasil mengerek pembiayaan segmen konsumer meningkat lebih dari 50%. Sementara porsi dana murah (CASA) menjadi berkisar 62% dari sebelum merger 59%. Biaya dana juga lebih rendah.
Tirta percaya, target laba bersih manajemen BRIS Rp 5 triliun hingga Rp 5,5 triliun di 2023 bisa tercapai. "Hitungan kami laba bersih BRIS bisa mencapai Rp 5,46 triliun di tahun ini," kata dia. Ini dengan pertimbangan efisiensi biaya dan pendekatan BRIS ke segmen konsumer.
Asuransi Jiwa Pilih Instrumen Minim Risiko
Dalam kondisi ekonomi global yang serba tak pasti, industri asuransi jiwa lebih banyak memindahkan penempatan investasinya di Surat Berharga Negara (SBN). Secara keseluruhan, aset investasi secara industri juga masih turun.
Jika mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2023, aset industri asuransi jiwa turun tipis 0,48% secara tahunan menjadi Rp 517,84 triliun. Aset saham masih menjadi yang terbesar, dengan nilai Rp 153,77 triliun.
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu menyadari, saat ini yang terjadi adalah banyak perusahaan asuransi jiwa memilih aset SBN. Bahkan, ada fenomena peralihan investasi dari aset saham ke SBN.
Pengalihan aset tersebut dinilai menjadi antisipasi perusahaan asuransi dalam berinvestasi. Saat ini, aset saham secara nominal masih yang paling tinggi.
Direktur Keuangan BNI Life Eben Eser Nainggolan mengungkapkan, saat ini total dana kelolaan investasi, termasuk syariah, sebesar Rp 21,9 triliun. Angka tersebut tumbuh sekitar 1,4% bila dihitung sepanjang 2023 berjalan ini.
Direktur MNC Life Johannes mengungkapkan, di kuartal I-2023, pihaknya lebih banyak menempatkan dana pada instrumen saham. “Karena dana kelolaan terbesar kami berasal dari sub dana dengan strategi penempatan investasi pada instrumen saham,” kata Johannes.
TUAH SINERGI KELOLA INFLASI
Strategi otoritas moneter dan otoritas fiskal dalam pengendalian inflasi rupanya masih bertaji. Buktinya, impitan inflasi indeks harga konsumen (IHK) terus mengendur. Dus, ekonomi nasional pun digadang-gadang bakal melaju di jalur mulus. Kemarin, Selasa (2/5), Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada April 2023 sebesar 4,33% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih rendah dibandingkan dengan Maret 2023 sebesar 4,97% (YoY). Realisasi tersebut juga berada di bawah konsensus ekonom Bloomberg, yang mengestimasi inflasi secara rata-rata sebesar 4,4% pada bulan lalu. Data terbaru itu memperpanjang tren penurunan inflasi selama tiga bulan berturut-turut. Kondisi ini pun terbilang positif mengingat pada bulan lalu terdapat faktor musiman yang memiliki daya kerek besar terhadap permintaan, yakni Ramadan dan Idulfitri. Kepala BPS Margo Yuwono, mengatakan berlanjutnya tren penurunan inflasi bahkan ketika Ramadan dan Lebaran disebabkan oleh efektivitas manajemen rantai pasok serta kebijakan pemerintah terutama dari sisi bantalan sosial. "Pasokan mampu memenuhi lonjakan permintaan, sehingga pengeluaran pun sejalan dengan kondisi pergerakan masyarakat," katanya, Rabu (2/5). Terkendalinya inflasi juga akan memberikan ruang gerak leluasa bagi Bank Indonesia (BI) dalam mengelola instrumen moneter, terutama suku bunga acuan. Dengan kata lain, inflasi yang terus menurun memberikan pijakan kuat bagi otoritas moneter untuk tidak lagi mengutak-atik suku bunga acuan BI 7-day (Reverse) Repo Rate, meski Bank Sentral Amerika Serikat (AS) memberikan sinyal untuk mengerek suku bunga 25 basis poin pada pekan ini.
Terlebih, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan sebesar 225 basis poin yang dieksekusi sejak Agustus 2022 mampu menjangkar ekspektasi inflasi. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan perkembangan inflasi ini tidak terlepas dari respons kebijakan moneter yang preemptive dan forward looking, serta sinergi antara BI dan pemerintah. Dia meyakini ke depan inflasi tetap terkendali di kisaran 3% dalam waktu dekat. "BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi," katanya. Sementara itu, kalangan ekonom memandang inflasi belum sepenuhnya aman, karena masih dihadapkan pada tingginya volatilitas barang bergejolak yang berisiko memberikan tekanan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan inflasi harga bergejolak berpeluang meningkat pada paruh kedua tahun ini karena faktor cuaca. "Itu karena adanya potensi El Nino pada semester II/2023," katanya.
INDEKS BISNIS UMKM BRI : Ekspansi Bisnis UMKM Berlanjut dengan Optimisme yang Meningkat
Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia terus bergeliat memasuki kuartal II 2023. Hal tersebut tercermin dari hasil Indeks Bisnis UMKM Q1-2023 dan Ekspektasi Q2-2023 yang dilakukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Research Institute, di mana Indeks Bisnis UMKM Q1-2023 tercatat pada level 105,1 yang berarti ekspansi bisnis UMKM terus berlanjut.Adapun faktor-faktor yang mendorong ekspansi tersebut di antaranya yakni kehidupan yang semakin normal pasca pandemi dan daya beli masyarakat semakin menguat yang berdampak pada permintaan terhadap barang dan jasa yang juga semakin meningkat. Faktor lainnya, yakni panen raya tanaman bahan makanan di beberapa sentra produksi mulai berlangsung, dengan harga jual hasil panen yang tetap menarik serta selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yaitu Idul Fitri yang mendorong harga jual barang dan jasa meningkat.Sementara itu, menyambut Q2-2023 pelaku UMKM tetap optimis aktivitas usahanya akan terus meningkat, hal tersebut digambarkan dari peningkatan ekspektasi indeks bisnis UMKM 3 bulan mendatang yang meningkat menjadi 131,9 dari ekspektasi indeks pada periode sebelumnya sebesar 130,1. Peningkatan ekspektasi tersebut ditopang oleh perayaan Idul Fitri, mendorong permintaan dan harga barang dan jasa meningkat, puncak panen raya tanaman bahan makanan yang akan terjadi pada Q2-2023 dan kondisi cuaca yang semakin kondusif bagi sektor pertambangan, konstruksi, pertanian, dan perikanan laut.
Dengan usaha yang masih ekspansif, pelaku UMKM tetap memberikan penilaian yang tinggi terhadap kemampuan pemerintah dalam menjalankan tugas-tugas utamanya, dengan indeks 137,4, tapi turun tipis dari kuartal sebelumnya 138,3. Pelaku UMKM memberikan penilaian tertinggi terhadap kemampuan pemerintah menciptakan rasa aman dan tenteram serta menyediakan dan merawat infrastruktur.
Kolaborasi Melapangkan Ekonomi
Para praktisi dan cerdik cendekia negeri ini paham bahwa Indonesia sudah terkepung oleh gejolak ekonomi global dan tingginya inflasi di berbagai belahan dunia. Kita juga cukup mengerti bahwa aneka kebijakan yang dirilis oleh The Fed kerap membuat panas dingin perekonomian kita. Namun, kegiatan ekonomi Indonesia masih berjalan baik-baik saja. Kondisi fundamental ekonomi nasional dari sisi pengendalian inflasi, masih berada dalam jalur yang benar, setidaknya sampai detik ini. Keadaan di atas setidaknya tergambar dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa inflasi nasional masih sangat terkendali. Secara tahunan (year-on-year/YoY), berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi April 2023 ternyata hanya 4,33%. Angka tersebut menurun dibandingkan dengan inflasi pada Maret yaitu 4,97% dan inflasi Februari yang masih bertengger di 5,47%. Secara bulanan (month-to-month/MtM), inflasi IHK pada April 2023 juga hanya 0,33%. Adapun secara tahun berjalan (year-to-date/YtD), inflasi pada periode ini mencapai 1,01%. Meski demikian, secara umum, kontribusi inflasinya hanya 0,84% dan andilnya ke inflasi April 2023 sebesar 0,11%. Inflasi ini jika dibandingkan dengan inflasi pada periode Ramadan dan Lebaran 2022, yaitu pada Mei 2022, yang tercatat sebesar 0,40%, maka inflasi pada April 2023 cenderung melambat. Bos BPS Margo Yuwono menerangkan perlambatan laju inflasi pada April 2023 dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Pertama, terjaganya pasokan komoditas hortikultura yang ditopang oleh aktivitas panen raya sepanjang Maret dan April 2023. Di sini, harga-harga relatif terkendali. Kedua, andil inflasi pada beberapa komoditas pangan lebih rendah dibandingkan dengan periode Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya, kecuali tarif angkutan udara, darat, emas, ayam ras, dan rokok. Dengan inflasi yang terus menurun, tentu ini menandakan bahwa di satu sisi, fundamental ekonomi Indonesia terjaga dengan baik. Keadaan tersebut akan memantik harapan bahwa transaksi berjalan bisa menuju ke titik keseimbangan, neraca pembayaran akan surplus dan aliran modal yang masuk akan lebih banyak lagi. Harapannya tak hanya modal asing, tetapi juga investasi di portofolio.
PMI MANUFAKTUR : Pelaku Usaha Makin Percaya Diri
S&P Global dalam keterangannya menyebut, PMI Manufaktur pada bulan lalu melanjutkan ekspansi yang sudah terjadi selama 20 bulan berturut-turut. Pekerjaan baru yang datang pun berhasil naik pada laju paling tajam selama 7 bulan terakhir. “Perbaikan kuat pada volume pesanan sebagian besar menggambarkan permintaan domestik yang kuat, karena penjualan ekspor turun pada April,” tulis S&P Global dalam risetnya, Selasa (2/5). Tim Moore, Economics Director S&P Global Market Intelligence, mengatakan sektor manufaktur terus mendapatkan momentum setelah awal yang kurang baik pada tahun ini. Kondisi bisnis yang membaik juga menggambarkan permintaan domestik yang menguat, serta berhasil mendorong kenaikan tercepat pada permintaan baru dan volume produksi selama 7 bulan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, tren positif PMI Manufaktur dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencerminkan optimisme pelaku industri dan investor di Indonesia dalam menjalankan usahanya. Dia membeberkan, hingga kini sektor industri di sebagian negara maju masih mengalami kontraksi, seperti Jerman yang PMI Manufakturnya ada di level 44,0, Prancis 45,5, Inggris 46,6, Korea Selatan 48,1, dan Jepang 49,5.
Fokus Pada Transformasi dan Profitabilitas, Operating Profit Telkom Tumbuh 7,7%
Mengawali tahun 2023, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mencatat kinerja yang cemerlang. Perseroan membukukan pendapatan Rp 36,1 triliun atau tumbuh 2,5% YoY dengan Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi (EBITDA) Rp 18,9 triliun. Tak hanya pendapatan, profitabilitas perseroan pun kian menguat dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 5,0% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 6,4 triliun. Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan "Tahun ini, Telkom akan semakin gencar mengimplementasikan strategi Five Bold Moves yakni FMC, Data Center Co, Infra Co, B2B Digital IT Service Co, DigiCo demi menciptakan value yang optimal dan keberlangsungan perusahaan yang semakin baik ke depannya, kinerja tiga bulan pertama tahun 2023 ini menjadi awal yang baik dan memotivasi bagi TelkomGroup untuk dapat terus memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan pelanggan, masyarakat dan negara". Dengan mengintegrasikan IndiHome dan Telkomsel maka Business to Consumers (B2C) di Telkom Group akan sepenuhnya dikelola olek Telkomsel. Sementara Telkom ke depannya akan fokus pada segmen Business to Business (B2B).
Izin Ekspor Freeport dan Amman Memantik Polemik
Keputusan pemerintah melonggarkan kebijakan larangan ekspor konsentrat tembaga memantik polemik.
Sejumlah pihak menilai, kebijakan ini memberikan kepastian investasi. Di sisi lain, pemerintah melunak dan mengabaikan amanat UU No. 3/2020 tentang Mineral dan Batubara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif beralasan, perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga Freeport Indonesia dan Amman Mineral Nusa Tenggara hingga Mei 2024 lantaran kedua perusahaan itu belum menyelesaikan smelter. Merujuk progresnya, perpanjangan ekspor berlaku hingga Mei 2024.
Ihwal relaksasi ekspor konsentrat tak semata-mata lantaran alasan smelter. Sumber KONTAN menyebut, ada lobi-agar pemerintah mengizinkan ekspor hingga 2023. Pasalnya, salah satu perusahaan akan masuk bursa saham. "Saat ekspor distop, investor tak tertarik," bisik sumber itu.
Incar Pabrikan Emas, Pajak Pangkas PPh & PPN
Pemerintah memangkas tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh) atas penjualan emas dan jasa yang terkait. Langkah ini dilakukan pemerintah agar semakin banyak pelaku usaha perhiasan emas masuk dalam sistem perpajakan.
Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 48 Tahun 2023. Beleid itu mengatur,
pertama
, pengusaha kena pajak (PKP) pabrikan emas perhiasan wajib memungut PPN 1,1% dari harga jual untuk penyerahan kepada pabrikan emas perhiasan lainnya dan pedagang emas perhiasan, atau 1,65% dari harga jual untuk penyerahan ke konsumen akhir.
Sementara PKP pedagang emas perhiasan wajib memungut PPN 1,1% dari harga jual jika memiliki faktur pajak atau dokumen lengkap atas perolehan/impor emas perhiasan, atau 1,65% dari harga jual jika tidak memilikinya.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak Dwi Astuti mengatakan, tarif tersebut turun jika dibandingkan aturan sebelumnya, yakni PMK No. 30 Tahun 2014. Sebelumnya, penyerahan emas perhiasan oleh PKP pabrikan dan PKP pedagang emas perhiasan terutang PPN 10% dikali dasar pengenaan pajak berupa nilai lain sebesar 20% dari harga jual atau penggantian. Dengan demikian, tarif efektifnya 2% dari harga jual.
Kedua, pabrikan dan pedagang emas perhiasan juga wajib memungut PPh Pasal 22 0,25% dari harga jual. Menurut Dwi, pengenaan PPh Pasal 22 dikecualikan untuk penjualan emas perhiasan ke konsumen akhir, wajib pajak (WP) yang dikenai PPh final cfm. PP-55/2022, atau WP yang memiliki Surat Keterangan Bebas (SKB) pemungutan PPh.
Ketiga, sama seperti emas perhiasan, pengusaha emas batangan juga wajib memungut PPh 22 sebesar 0,25% dari harga jual. Kebijakan ini dikecualikan untuk penjualan emas batangan kepada konsumen akhir, WP yang dikenai PPh final cfm. PP-55/2022, atau WP yang memiliki SKB pemungutan PPh.









