;

Mobilitas, Kunci Kinerja Emiten Tol

Hairul Rizal 16 Nov 2023 Kontan

Kinerja emiten jalan tol diproyeksi masih prospektif di periode kuartal IV 2023 ini. Meski, kinerja sejumlah emiten jalan tol terbilang beragam. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian menyatakan, secara umum, emiten jalan tol per Juni 2023 masih mencatatkan pertumbuhan kinerja. Sentimen penggeraknya terkait mobilitas masyarakat yang sudah semakin normal. Namun Fajar memperkirakan, kinerja emiten jalan tol pada kuartal IV 2023 dan tahun 2024 masih prospektif. Terlebih tahun depan konsumsi masyarakat diprediksi melonjak seiring dengan hajatan pemilu 2024. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto juga sependapat, melihat kinerja rata-rata emiten jalan tol sejauh ini positif dari sisi top line. Ini seiring semakin tingginya lalu lintas masyarakat. Maka Pandhu melihat prospek jalan tol cenderung positif seiring pembangunan yang terus berlanjut. Namun, Pandhu mengingatkan, proyek jalan tol adalah padat modal, sehingga sulit melakukan balik modal secara cepat. Sentimen utama positif dari kinerja emiten jalan tol tentu masih pada proyek infrastruktur yang akan dibangun oleh pemerintah. Berbeda, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana yang merekomendasikan buy if break untuk JSMR dengan target harga Rp 4.800 - Rp 5.000 per saham. Serta speculative buy untuk CMNP dengan target harga Rp 1.650 - Rp 1.700 per saham.

Disokong Laba yang Tumbuh Kuat

Hairul Rizal 16 Nov 2023 Kontan

Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dalam sembilan bulan pertama tahun ini ciamik. Pertumbuhan kinerja BBRI yang diprediksi terus berlanjut bakal memoles prospek saham emiten bank pelat merah ini. Hingga akhir kuartal III-2023, laba bersih BBRI tumbuh 12,4% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 43,9 triliun. Kenaikan laba bersih ini didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 4,9% yoy. Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi mengatakan, penyaluran kredit BBRI secara konsolidasi mencapai Rp 1.250,7 triliun, naik 12,5% yoy. Kredit BBRI masih bertumbuh di semua segmen. Total kredit di segmen mikro menjadi penyumbang utama, dengan pertumbuhan 11,6% yoy menjadi Rp 61,5 triliun. Porsi terbesar kredit mikro BBRI diisi oleh Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dalam riset 26 Oktober 2023, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handiman Soetoyo dan Abyan H. Yuntoharjo mengatakan, adanya perubahan substansial pada program KUR, membuat BBRI menggeser fokusnya dengan mengembangkan pinjaman Kupedes. Sedangkan net interest margin (NIM) secara konsolidasi terkerek lebih tinggi menjadi 8,05%, didukung oleh margin yang lumayan besar dari Permodalan Nasional Madani (PNM) dan Pegadaian. BBRI menjaga NIM secara konsolidasi berada di 7,7%-7,9% di akhir tahun 2023. Menurut Mirae Asset Sekuritas, sinergi yang tercipta dari holding ultra-mikro mulai membuahkan hasil. Pendapatan non bunga tumbuh cukup kuat, yakni 12,7% yoy. Mirae Asset menilai, sinergi dari perusahaan ultra-mikro terbukti penting dalam menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam aset, pendapatan, dan profitabilitas. Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya dan Ryan Santoso dalam riset 26 Oktober 2023 mengatakan, kredit BBRI yang direstrukturisasi akibat Covid-19 turun 15% yoy menjadi Rp 70,9 triliun per September 2023. BBRI kemungkinan lebih agresif menghapus pinjaman yang direstrukturisasi akibat Covid-19. Namun, BBRI sendiri meyakini berkeyakinan hal tersebut tidak akan meningkatkan cost of credt karena bank sudah mengalokasikan rasio cakupan NPL coverage yang besar mencapai 228% pada September. Dengan membaiknya situasi perekonomian, BBRI meyakini rasio cakupan NPL siap kembali ke level sebelum pandemi, yakni 175%-200%.

BCA Pencetak Cuan Tertinggi Bagi Investor

Hairul Rizal 16 Nov 2023 Kontan

Kinerja perbankan dalam sembilan bulan pertama tahun ini masih tampil memukau, terutama bank-bank besar. Laba bersih mereka berlanjut tumbuh tinggi. Kemampuan perbankan mengelola modal untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham juga meningkat. Hal itu tercermin dari rasio return one equity (RoE). Dalam sembilan bulan pertama 2023, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tampil sebagai bank pemberi cuan paling tinggi bagi pemilik saham perbankan di Tanah Air. Walau bukan pencetak laba tertinggi, namun BCA tampil sebagai bank paling menguntungkan bagi investor. RoE bank ini mampu bertengger di level 23,5% pada periode Januari-September 2023, naik dari level 20,6% pada periode yang sama 2022. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) jadi penghasil laba tertinggi di Indonesia. Hingga September 2023, BRI meraup untung Rp 43,9 triliun, naik 12,4%. Namun, dari sisi pencetak untung bagi pemodal, posisi bank ini masih kalah dari BCA dan Bank Mandiri. RoE BRI ada di level 19,7% dan Bank Mandiri 22,6%. Bank Mandiri ada di posisi kedua sebagai bank paling menguntungkan bagi pemilik modal. RoE bank ini naik 250 basis poin secara tahunan. Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Aturridha bilang pencapaian tersebut merupakan hasil dari implementasi strategi berkelanjutan yang dimiliki Bank Mandiri selama ini. Hal ini terlihat dari efektivitas biaya operasional. Rasio CIR yang turun 228 bps jadi 38,1%. Di sisi lain, biaya kredit juga turun 50 bps menjadi 0,96%. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menempati posisi kelima RoE tertinggi setelah BNI, naik 250 bps secara tahunan menjadi 15,4% per September 2023. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan optimistis RoE ini masih akan terus tumbuh hingga akhir tahun. Targetnya hingga 16%.

Multifinance Cari Pendanaan

Hairul Rizal 16 Nov 2023 Kontan

Menjelang tutup tahun 2023, sejumlah perusahaan pembiayaan (multifinance) sudah mengambil ancang-ancang mencari sumber pendanaan operasional tahun 2024. Terbaru, pekan lalu, PT Indomobil Finance Indonesia (Indomobil Finance) berhasil mendapatkan pendanaan sebesar US$ 400 juta atau setara Rp 6,2 triliun. Pendanaan itu diraih Indomobil Finance dari pinjaman sindikasi 33 bank di dalam dan luar negeri. Manajemen Indomobil Finance menyebut, dana pinjaman sindikasi itu akan digunakan untuk operasional satu tahun ke depan. Selain Indomobil Finance, PT BNI Multifinance atau BNI Finance juga gencar mencari pendanaan untuk tahun 2024. Anak usaha Bank BNI ini menargetkan pendanaan tahun depan Rp 5,25 triliun. Direktur Bisnis BNI Multifinance Albertus Hendi mengatakan, target pendanaan itu meningkat 75% dibandingkan prediksi pendanaan tahun ini Rp 3 triliun. PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) juga membidik pendanaan baru lebih dari Rp 4 triliun pada 2024. Direktur Keuangan WOM Finance Cincin Lisa bilang, target itu meningkat dibanding tahun ini. "Selain dari bank, kami juga berencana menerbitkan obligasi sebagai sumber pendanaan," katanya. Sementara itu, PT Federal International Finance (FIF) akan mengalokasikan penerimaan angsuran konsumen sebagai salah satu sumber pendanaan di 2024. "Selain itu, melakukan diversifikasi sumber pendanaan melalui pinjaman bank di dalam dan luar negeri negeri serta obligasi," kata Margono Tanuwijaya, Presiden Direktur FIF.

MEMACU MESIN MANUFAKTUR

Hairul Rizal 16 Nov 2023 Bisnis Indonesia (H)

Mesin perekonomian Indonesia terbukti masih solid selama lebih dari 3 tahun, salah satunya tecermin dari kinerja positif neraca perdagangan selama 42 bulan secara beruntun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Oktober 2023 mencetak surplus US$3,48 miliar. Surplus itu diperoleh dari nilai ekspor Oktober 2023 sebesar US$22,15 miliar, sedangkan nilai impor hanya US$18,67 miliar. Dengan pencapaian itu, kinerja dagang selama Januari-Oktober 2023 membukukan akumulasi surplus US$31,22 miliar, kendati lebih rendah US$14,22 miliar dibandingkan dengan periode yang sama 2022 sebesar US$45,44 miliar. Kendati demikian, surplus kinerja perdagangan Indonesia juga diiringi fakta bahwa terjadi penurunan impor bahan baku penolong. Padahal suplai bahan baku menjadi indikator geliat industri manufaktur. Jika berkepanjangan, amat mungkin produktivitas sektor manufaktur, yang selama ini menjadi pilar penting penyokong ekonomi nasional, akan tersendat. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan impor bahan baku/penolong dalam tren menurun selama 5 bulan terakhir.  Sejatinya, tren penurunan impor bahan baku/penolong sudah berlangsung sejak Januari 2022. Selama Januari-Oktober 2023, nilai impor bahan baku/penolong juga merosot sebesar US$19,32 miliar atau 12,65% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ada tiga besar golongan barang yang merosot nilai impornya selama periode 10 bulan pertama 2023, yaitu bahan bakar mineral, besi dan baja serta plastik dan bahan dari plastik. Saat dimintai tanggapan, Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan memprediksi total impor Indonesia sepanjang 2023 memang turun sebesar 7,7%. Untuk tahun depan, dia menyatakan Kemendag bakal memastikan ketersediaan input bagi industri manufaktur domestik, sejalan dengan kebijakan penghiliran.   Kasan juga mengatakan Kemendag fokus pada ekspor barang dan jasa bernilai tambah tinggi guna meningkatkan produktivitas perekonomian. Sebaliknya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menyampaikan catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2023 sebesar US$3,48 miliar bisa menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Sementara itu, Ketua Bidang Industri Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar menyatakan penurunan nilai impor bahan baku/penolong menunjukkan ada kontraksi di industri manufaktur. “Jadi banyak yang menahan produksi, melihat situasi, hitung-hitung market daya belinya gimana dengan produksi yang naik,” kata Bobby. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Indonesia Chandra Wahjudi juga sepakat dengan Bobby. Menurutnya, penurunan impor bahan baku/penolong dipicu antara lain penurunan permintaan. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz juga menegaskan Indonesia memasuki tren penurunan surplus neraca perdagangan.

PENERAPAN RUPIAH DIGITAL : RISIKO INSTABILITAS BIKIN WASWAS

Hairul Rizal 16 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Bank Indonesia tengah mengkaji adanya risiko dari penerapan mata uang digital bank sentral alias central bank digital currency yang menurut International Monetary Fund berpotensi menimbulkan instabilitas moneter. IMF dalam Implications of Central Bank Digital Currencies for Monetary Policy Transmission yang dipublikasikan kemarin, mencatat dampak central bank digital currency (CBDC) terhadap transmisi kebijakan moneter diperkirakan relatif kecil pada kondisi normal.Hanya saja, dampak itu bisa lebih signifikan di lingkungan dengan suku bunga rendah atau tekanan pasar keuangan. Atas dasar itu bank sentral perlu mempertimbangkan fitur desain yang bersifat kehati-hatian seperti batasan kepemilikan dan transaksi, serta menjaga stabilitas suku bunga acuan.Fitur-fitur tersebut akan membatasi potensi perpindahan simpanan ritel atau uang tunai ke CBDC dan dengan demikian akan memastikan bahwa CBDC tidak memiliki dampak signifi kan terhadap transmisi kebijakan moneter.“Kita assessment itu semuanya, masukan-masukan juga kita perhatikan,” kata Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Rabu (15/11). Consultative paper menjelaskan desain pengembangan Rupiah Digital tahap immediate state, yaitu wholesale Rupiah Digital cash ledger, yang meliputi pengenalan teknologi dan fungsi dasar, seperti penerbitan, pemusnahan, dan transfer dana. Dampak dari penerbitan Rupiah Digital pada sistem pembayaran, stabilitas keuangan, dan moneter juga dibahas di dalam consultative paper tersebut. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dalam Central Bank Digital Currency Virtual Handbook menyatakan bahwa tujuan kebijakan dan ukuran keberhasilan CBDC harus ditetapkan secara jelas. Pengkajian dan pengembangan CBDC membutuhkan keputusan yang kompleks dalam lingkungan digital yang berubah dengan cepat. Dalam laporan tersebut, IMF menyoroti beberapa dampak dari pengembangan CBDC. Perubahan lingkungan makro ekonomi yang disebabkan oleh CBDC diperkirakan bisa memperkuat saluran transmisi kebijakan moneter jika CBDC dirancang dengan tepat.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky menuturkan adanya CBDC berpotensi menjadikan transmisi kebijakan moneter lebih teramplifikasi. Menurut Teuku, hal yang perlu diperhatikan saat ini yakni desain dari CBDC agar dapat dikembangkan karena skema tersebut sangat beragam. “Ada CBDC retail, CBDC wholesale, ada CBDC yang menjangkau keseluruhan, jadi tidak dibedakan wholesale dan ritelnya,” katanya.

EMITEN BATU BARA : Produksi SMMT Menyusut

Hairul Rizal 16 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Emiten tambang batu bara, PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT) mencetak produksi batu bara sebesar 1,95 juta ton hingga 9 bulan 2023.Direktur Utama Golden Eagle Energy Budi Susanto mengatakan SMMT mencetak volume produksi hingga 1,95 juta ton, atau turun 20% secara tahunan dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 2,44 juta ton.SMMT mencetak volume penjualan yang turun menjadi sebesar 1,96 juta ton sampai kuartal III/2023. Volume penjualan ini turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,25 juta ton.Sementara itu, untuk proyeksi harga batu bara, Direktur SMMT Denny Kusmayadi menuturkan SMMT melihat memang terjadi penurunan harga batu bara pada 2023 dibanding 2022 dan 2021. Meski demikian, SMMT memperkirakan di akhir tahun ini akan terjadi peningkatan harga batu bara. Dia memerinci, harga batu bara pada sisa 2023 masih akan berada di atas US$60 per ton. Sementara itu, pada 2024, SMMT memperkirakan harga batu bara melandai dengan menyentuh level US$59,2 per ton, dan turun kembali ke level US$40 per ton sampai kuartal III/2024. Pada perkembangan lain, SMMT merombak susunan direksi dan komisaris setelah diakuisisi oleh PT Geo Energy Investama. Dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), pemegang saham SMMT menyetujui pengangkatan Ng See Young sebagai Komisaris Utama, Yanto Melati sebagai Komisaris, dan Komisaris Independen Richard Ong.Selain itu, Budi Susanto menjabat sebagai Direktur Utama SMMT menggantikan Roza Permana Putra. SMMT juga mengangkat dua direksi lainnya, yakni Yuliana, dan Denny Kusmayadi.

Overkapasitas, PLN Bayar Listrik Tak Terpakai Rp 21 Triliun

Yuniati Turjandini 16 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengalami kelebihan kapasitas (overkapasitas) listrik sebesar 7 gigawatt (GW). Akibatnya, PLN menghabiskan dana berkisar Rp 20-21 triliun per tahun untuk membayar listrik yang tak terpakai. "Overkapasitas PLN mencapai 7 GW, sehingga dana yang harus dibayar PLN untuk kontrak take  or pay berkisar Rp 20-21 triliun, dengan asumsi nilai pembayaran kontrak 1 GW Rp 3 triliun," ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno di jakarta, Rabu (15/11/2023). Dia mengungkapan, overkapasitas listrik juga menghambat transisi pembangkit listrik  tenaga fosil menuju energi baru terbarukan (EBT). Sebab, overkapasitas  akan bertambah jika PLN menerima pasokan listrik baru dari pembangkit EBT. "Pensiun dini PLTU batu bara berarti kita mengakhiri secara dini, kontrak yang sudah terjalin antara pelaku usaha yang membangun PLTU dan PLN. Pengakhiran kontrak itu tentu ada klausulnya yang tidak bisa dibatalkan, itu akan ada hitungan dan pinaltinya, sehingga itu perlu kita kaji dan hitung kembali," jelas Eddy. (Yetede)

Perbankan Didorong Percepat Penyaluran KUR

Yuniati Turjandini 16 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga akhir Oktober 2023 masih jauh dari target, atau baru sekitar 67,3% senilai Rp199,88 triliun. Untuk itu, perbankan nasional didorong untuk menggenjot penyaluran KUR agar bisa mencapai target diakhir bulan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sebagai bank dengan konstribusi terbesar telah mengucurkan KUR sebesar Rp123,51 triliun kepada 2,7 juta debitur sepanjang januari-Oktober 2023. Angka tersebut berkontribusi 61,79% dari realisasi KUR nasional per Oktober. "Terdapat penurunan target KUR 2023 yang diberikan oleh pemerintah kepada BRI dari sebelumnya Rp270 triliun menjadi Rp 194,4 triliun, sehingga sampai dengan akhir Oktober 2023 BRI telah menyalurkan  63% dari target," kata Direktur  Bisnis Mikro  BRI Supari kepada Investor Daily, Rabu (155/11/2023)

Polmatrix Kepuasan Publik Terhadap Jokowi Pengaruhi Dinamika Pilpres

Yuniati Turjandini 16 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Polmatrix Indonesia merilis hasil survei yang menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Jokowi menjelang Pilpres 2024 mencapai 81,8%. Tingginya angkat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi dan fakta bahwa putera sulung Gibran Rakabuming Raka, menjadi cawapres  akan turut berpengaruh  pada dinamika politik Tanah Air menjelang pilpres 2024. "Kepuasan publik terhadap Jokowi yang sangat tinggi mencapai 81,8% menjadikan faktor Jokowi sangat berpengaruh  dalam ninamika pilpres," kata Direktur Eksekutif Poltramix Indonesia Dendik Rulianto dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, (15/11/2023). Dendik mengatakan, apabila ditarik mundur, maka tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi bergerak diatas 75% sejak awal tahun 2023. Angka kepuasan  responden terus menanjak naik hingga menembus sekitar 80% sejak Mei 2023. (Yetede)

Pilihan Editor