Harga Pangan Dunia Cenderung Turun
Harga sejumlah komoditas pangan dunia, kecuali beras, terus turun seiring membaiknya prospek pasokan global. Namun, sejumlah risiko masih ada, seperti dampak perubahan cuaca, pembatasan perdagangan, dan hambatan distribusi. Hal ini terungkap dalam hasil pemantauan pasar Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bersama lembaga pengelola Sistem Informasi Pasar Pertanian (AMIS) G20 pada 5 Februari 2024 serta analisis pangan Bank Dunia pada akhir Januari 2024. Ketiga lembaga dunia itu menyebutkan, pasar komoditas pangan pada awal tahun relatif tenang atau tidak terlalu bergejolak. Harga gandum, jagung, dan kedelai berada di titik terendah dibandingkan dua tahun terakhir.
Harga gandum,, per Januari 2024 rata-rata 283,9 USD per ton, lebih rendah dibandingkan harga rerata gandum pada 2022 dan 2023, masing-masing senilai 430 USD per ton dan 340,4 USD per ton. Demikian juga kedelai. Per Januari 2024, harga rata-rata kedelai 547 USD per ton, turun dibandingkan harga rerata kedelai pada 2022 dan 2024 yang masing-masing 675 USD per ton dan 598 USD per ton. Tren penurunan harga gandum dan kedelai pada tahun ini tidak terlepas dari sentimen positif pasar atas pembaruan proyeksi produksi kedua komoditas itu. Produksi gandum yang semula diperkirakan 787,1 juta ton direvisi menjadi 788,5 juta ton lantaran panen gandum di Kanada meningkat. Kedelai, produksinya berubah tipis dari 395,2 juta ton menjadi 395,5 juta ton. Gangguan produksi kedelai di Brasil mampu dikompensasi oleh sedikit peningkatan produksi di Argentina dan AS.
Khusus beras, harganya cenderung tinggi. Per Januari 2024, harga rerata beras Thailand dengan kadar pecah 5 % mencapai 660 USD per ton. Harga tersebut jauh di atas harga rerata beras pada 2022 dan 2023 yang masing-masing 436,8 USD per ton dan 553,7 USD per ton. Kenaikan harga beras dunia terjadi lantaran produksi beras dunia turun akibat dampak El Nino. FAO dan AMIS memangkas proyeksi produksi beras 2023/2024 dari 524,9 juta ton menjadi 524,6 juta ton. Kenaikan harga beras juga dipicu pengetatan kebijakan ekspor beras India yang membatasi ekspor beras putih non-basmati, mengenakan bea masuk beras pratanak sebesar 20 %, dan menetapkan harga ekspor minimum beras basmati 950 USD per ton. (Yoga)
Pantai-pantai yang Mengubah Gunungkidul
Hingga setahun lalu, Digo (20) masih buram menatap masa
depannya setelah lulus SMK. Pemuda di pelosok Gunungkidul, DI Yogyakarta, itu
bahkan telah bersiap merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Namun,
kehadiran sebuah sanggraloka mengubah jalan hidupnya. ”Alhamdulillah, saya
tidak perlu jauh-jauh mencari kerja. Bekerja dekat dengan rumah jelas lebih
enak,” ujar warga Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul, saat ditemui di
tempat kerjanya, Rabu (24/1). Digo bekerja sebagai koordinator public area di
Jungwok Blue Ocean, sanggraloka tepi laut yang beroperasi sejak Mei 2023 di
Desa Jepitu, Girisubo yang bertetangga dengan desa tempat tinggal Digo.
Dengan gaji Rp 2,05 juta, sesuai upah minimum kabupaten, Digo
bisa menghidupi dirinya yang masih lajang, juga membantu perekonomian
orangtuanya yang bekerja sebagai petani di wilayah ujung timur Gunungkidul
tersebut. Digo hanyalah satu dari ribuan warga yang menikmati dampak langsung
dari pesatnya pertumbuhan sanggraloka, hotel, dan vila di Gunungkidul 10 tahun
terakhir, seiring kian populernya kabupaten itu di mata wisatawan, terutama
perihal kemolekan pantai-pantainya. Gunungkidul kini menjadi primadona
pariwisata di DIY. Pintu-pintu ekonomi baru pun terbuka lebar bagi warga di
daerah yang sebelumnya lekat dengan imaji kemiskinan, kekeringan, dan
keterpencilan tersebut.
Selain diserap industri akomodasi dan amenitas pariwisata,
seperti Digo, banyak warga yang mendulang rezeki wisata dari usaha sendiri
seperti Bahono Putro (56), warga Desa Jepitu, yang berjualan baju di Pantai
Jungwok lima tahun terakhir. ”Tadinya saya sopir travel. Coba-coba jualan baju pantai
karena melihat banyak wisatawan. Ternyata penghasilannya lumayan,” ujarnya. Bahono
bisa mengantongi omzet Rp1juta-Rp 1,5 juta setiap akhir pekan. Pada musim
liburan, seperti Lebaran, omzetnya melambung hingga Rp 5 juta per hari.
”Penghasilan bersih saya sekarang setidaknya Rp 3 juta sebulan. Waktu jadi
sopir travel, bawa pulang separuh jumlah itu saja susah,” katanya. Selain Girisubo,
rezeki pariwisata juga dirasakan wilayah lain yang berbatasan dengan laut. Di
Kecamatan Tepus, hotel, vila, rumah makan, hingga kios suvenir dan oleh-oleh dengan
mudah ditemui. Hal itu, terlihat di sepanjang Pantai Indrayanti hingga Pantai
Sundak Timur di Desa Tepus, salah satu yang menikmati booming pariwisata pantai
Gunungkidul sejak awal. (Yoga)
Minyak Sawit yang Menghidupi Pakistan
Pada tahun 2022, Pakistan, yang menggantungkan 95 % kebutuhan
minyak nabatinya dari impor, panik atas kebijakan mendadak Indonesia yang
menghentikan keran ekspor sawit karena 90 % sumber pasokan minyak sawit
Pakistan berasal dari Indonesia. ”Saya ingat betul, stok (minyak sawit) tinggal
21.000 ton. Hanya cukup untuk seminggu,” kata Rasheed Jan Mohammed, CEO
Konferensi Minyak Nabati Pakistan (PEOC) 2024, dalam pertemuan jejaring bisnis
yang digelar Konjen RI dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki),
Kamis (11/1) di Karachi, Pakistan. Pertemuan digelar sebelum penyelenggaraan
PEOC 2024 pada Sabtu (13/1) di Karachi.
Pakistan mengolah sebagian besar minyak sawit asal Indonesia
menjadi bermacam produk makanan, termasuk minyak goreng dan tentunya minyak
vanaspati ghee (minyak nabati dengan tekstur semipadat). Kuliner di Pakistan
yang serba berminyak menjadikan minyak sawit sebagai kebutuhan pokok, seperti
juga di Indonesia. ”Minyak sawit bagi Pakistan seperti darah yang mengaliri tubuh.
Sangat berdampak pada rasa di dapur dan di meja makan,” kata June Kuncoro
Hadiningrat, Konjen RI di Karachi. Bersamaan dengan kebijakan larangan ekspor
sawit Indonesia tersebut, di Pakistan terjadi ketidakstabilan politik akibat PM
Pakistan saat itu, Imran Khan, digulingkan dalam mosi tidak percaya parlemen.
Agar krisis itu tak menjadi petaka, Jan Mohamed bersama
pejabat negaranya bergegas ke Jakarta untuk melobi agar larangan ekspor minyak
sawit Indonesia dibuka kembali dan dikabulkan dikabulkan Pemerintah Indonesia. ”Ketika
sudah diperbolehkan ekspor, kapal kami yang harusnya membawa sawit ke negara
lain langsung diminta dialihkan ke Pakistan,” ujar pelaku industri sawit dari
Indonesia yang berpartisipasi dalam PEOC 2024 yang berlangsung Sabtu (13/1). Bagi
Indonesia, Pakistan nomor tiga terbesar negara tujuan ekspor sawit, hampir 3 juta
ton setiap tahun. Dari sisi perdagangan kedua negara, sawit menguasai neraca perdagangan
Indonesia. Dari 4,3 miliar USD ekspor Indonesia ke Pakistan, sebesar 3,1 miliar
USD berasal dari komoditas sawit. (Yoga)









