;

Industri Film Bakal Makin Atraktif

Ekonomi Yoga 07 Feb 2024 Kompas
Industri Film Bakal Makin Atraktif

Industri film Tanah Air berangsur-angsur pulih pascapandemi Covid-19. Setelah berhasil menarik 55 juta penonton pada 2023, industri film diperkirakan menyedot makin banyak pencinta perfilman Tanah Air pada 2024. Guna mencapai sukses maksimal, sejumlah tantangan mesti dibereskan. Pengamat sekaligus peneliti film Hikmat Darmawan menilai, pemulihan performa film Indonesia setelah pandemi Covid-19 cukup bagus. Tidak hanya ditopang film-film kuat, seperti Pengabdi Setan 2: Communion dan KKN di Desa Penari, tetapi juga pola penonton di bioskop telah kembali. ”Kalau dari tahun ke tahun, (saya) selalu mengasumsikan potential market penonton bioskop itu, 80 juta penonton. Kita belum bisa ke sana,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Selasa (6/2).

Pada tahun ini, Hikmat memperkirakan, industri film Tanah Air bisa menarik 50-60 juta penonton. Namun, ia belum dapat memastikan apakah angkanya dapat tumbuh lebih banyak lagi karena kapasitas bioskop dalam negeri belum memadai. Mengutip data Badan Perfilman Indonesia, industri film nasional berhasil menarik 51,2 juta penonton pada 2019. Akibat pandemi Covid-19, jumlah penonton anjlok ke 19 juta penonton pada 2020. Setahun setelahnya, angkanya turun ke 4,5 juta penonton. Baru pada 2022, industri perfilman mulai menggeliat dengan sukses menarik lebih dari 24 juta penonton. Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf Dessy Ruhati menyebut, 55 juta penonton bioskop yang tercapai pada 2023, memberi sentimen positif bagi investor di pasar modal untuk meningkatkan nilai subsektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

”Ini rekor juga untuk 20 judul film Indonesia yang mencapai rekor 1 juta penonton per film. Daya tarik subsektor ini sangat menarik. Kita harap tenaga kerja di animasi, film, dan video terus bertumbuh,” kata Dessy. Genre film yang popular pada tahun lalu masih berkisar pada horor, melodrama, dan komedi. Namun, genrenya diperkirakan meluas pada 2024. Dirut PT Produksi Film Negara (Persero) Dwi Heriyanto memproyeksikan, bila perfilman Indonesia bisa menarik hingga 60 juta penonton pada 2024, perputaran uang pun akan mengalir deras. Jika harga per tiket Rp 40.000 per orang, omzet sepanjang tahun mencapai Rp 2,4 triliun. Angka ini belum termasuk pendapatan dari kanal media over the top (OTT), layanan berbasis internet yang berperan sebagai distributor konten.

Dalam satu kali produksi film, butuh biaya Rp 5 miliar hingga Rp 20 miliar. Dengan demikian, keuntungan setiap film bervariasi, bergantung pada biaya produksi dan jumlah penonton. ”Menurut saya, kalau mau mengembangkan film-film distribusi channel, di daerah itu masih sangat terbuka karena belum ada bioskop,” kata Dwi. Penyangga bisnis industri film tak melulu dari penjualan tiket film. Justru pendapatan besar dari bioskop berasal dari penjualan makanan dan minuman. Meski tak setiap penonton membeli makanan dan minuman ketika menonton, konsumen rela merogoh kocek berkali lipat dari harga tiket. Nilai ekonomi yang dihasilkan dari konsumsi tersebut bahkan mencapai empat kali dari harga tiket. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :