Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )RI Dukung Langkah-Langkah Efisiensi Energi Asean
JAKARTA,ID- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan, negara-negara Asean berkomitmen untuk meningkatkan efisiensi energi diberbabagi sektor permintaan dibawah pengawasan Asean Plan of Actian for Energy Cooperatian (APAEC). Bahkan, negara-negara dikawasan Asia Tenggara ini telah menetapkan target penurunan intensitas energi sebesar 32% pada tahun 2025. "Kita telah mencapai (penurunan intensitas energi) 23,8% pada 2020 dan menyoroti perlunya upaya lebih lanjut untuk mencapai target pada 2025 nanti," ujar Direktur Jenderal Energi Barum Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) ESDM Dadan Kusdiana pada pembukaan Asean Energy Eficiency merupakan platform untuk meningkatkan kerja sama negara-negara Asean di bawah APAEC 2016-2025. Workshop ini juga bertujuan untuk memprioritaskan langkah-langkah efisiensi energi yang akan diwujudkan melalui aksi nyata. Dalam sambutannya Dadan menyampaikan, sektor energi menyumbang permintaan energi terbesar di Asean,yakni sebesar 146,2 juta ToE atau 38,6% dari total konsumsi energi final Asean pada tahun 2020. (Yetede)
PEMBUNUHAN BERANTAI BANJARNEGARA Tak Masuk Akal, tetapi Kasus Penggandaan Uang Berulang
Kasus pembunuhan yang dilakukan Slamet Tohari (45) di Kabupaten Banjarnegara, Jateng, mengejutkan banyak pihak. Sebanyak 12 korban dibunuh dan dikubur di lahan perkebunan di Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara. Jenazah korban ditemukan pada Senin (3/4). Pembunuhan yang dilakukan Slamet berawal dari penipuan dengan modus penggandaan harta. Para korban mengenal Slamet sebagai dukun yang bisa menggandakan uang. Korban dibunuh setelah berkali-kali menagih hasil penggandaan hartanya. Penipuan penggandaan uang, termasuk yang berujung pembunuhan, terjadi sejak lama. Pemberitaan Kompas pada Februari 1986 mengangkat sidang kasus penipuan penggandaan harta. Sumar Suryadilaga dan Eddy Saputra, dua petani asal Brebes, Jateng, menggaet uang Rp 50 juta dari enam korbannya. Keduanya mengaku bisa menggandakan kekayaan dengan perantaraan jin gundul (Kompas, 5/2/1986).
Pada pertengahan tahun 2007, delapan mayat korban pembunuhan dukun penggandaan uang ditemukan di Desa Cikareo, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, Banten. Enam tersangka ditangkap dalam kasus pembunuhan berencana tersebut (Kompas, 25/7/2007). Kapolrs Lebak saat itu, Ajun Komisaris Besar Dwi Gunawan berkata, ”Pada ritual terakhir, korban disuruh berkeliling lubang dan diberi minum racun. Setelah roboh, mereka dipendam bersama dalam satu lubang,” ujar Gunawan. Pada April 2012. Asep (42), pelaku pembunuhan terhadap satu keluarga, dibekuk (Kompas, 5/5/2012). Kasus serupa terjadi di Desa Ngemplak, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jateng, Juli 2013. Kasus terungkap setelah ditemukan tiga mayat tak dikenal di lereng Gunung Sumbing, Magelang. Mereka merupakan korban penggandaan uang yang dibunuh tersangka Munjaroh (Kompas, 29/7/2013).
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Derajad Susilo Widhyarto, berpendapat, penipuan bermodus penggandaan uang terus berulang karena sebagian masyarakat Indonesia masih memiliki kepercayaan terhadap hal-hal klenik. Kondisi itulah yang menyebabkan sebagian warga percaya bahwa ada orang tertentu yang memiliki kekuatan untuk menggandakan uang tanpa bekerja, kata Derajad saat dihubungi pada Selasa (4/4). Selain kepercayaan terhadap hal-hal klenik, sifat tamak juga menjadi faktor lain yang mendorong orang untuk percaya terhadap dukun penggandaan uang. Ketamakan itu mendorong sebagian orang ingin menjadi kaya tanpa bekerja keras sehingga mereka akhirnya menjadi korban penipuan. (Yoga)
Kemenkeu Perkuat Lini Pencegahan dan Pengawasan
Setelah penahanan bekas pejabat eselon III DJP Kemenkeu, Rafael Alun Trisambodo, Kemenkeu menarik pelajaran dengan melakukan perbaikan dan penguatan menyeluruh, baik pencegahan maupun pengawasan. Langkah perbaikan dimulai dari penguatan sistem pencegahan melalui tiga lini pertahanan, yakni manajemen, satgas sistem pengendalian intern pemerintah dan apparat pengawasan intern pemerintah, juga memperkuat saluran pengaduan.
Staf Khusus Menkeu Yustinus Prastowo mengatakan, langkah selanjutnya adalah memperkuat pengawasan lini pertama, yaitu pengawasan oleh atasan langsung. Kemenkeu juga melakukan pemutakhiran sistem profiling (identifikasi orang) dengan memanfaatkan data pihak ketiga dan media sosial. Penguatan koordinasi kelembagaan dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan apparat penegak hukum merupakan langkat berikutnya. ”Terakhir, tentu proses penegakan aturan disiplin dan kode etik pegawai,” ujar Yustinus, saat dihubungi, Selasa (4/4). (Yoga)
Kalah Saing dengan Pakaian Impor Bekas
Nanang Mihrazan (35) sengaja datang dari Baubau, Sultra, untuk berdialog bersama menteri. Ia berharap mendapat solusi soal penjualan pakaian bekas impor yang dilarang oleh pemerintah. Namun, dia harus kecewa. Jangankan berdialog, untuk masuk ke ruangan diskusi saja dia tidak bisa. Kamis (30/3) sore, ratusan pedagang pakaian bekas impor datang ke Jakarta, dari Bandung (Jabar), Bukit tinggi (Sumbar), Manado (Sulut), hingga Manokwari (Papua Barat). Mereka ingin berdialog langsung dengan Mendag Zulkifli Hasan serta Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Teten mengatakan, pemerintah akan memberi kesempatan bagi penjual pakaian bekas impor untuk menghabiskan stok barang dagangannya.
”Pemerintah sudah memikirkan kalau nanti Bapak, Ibu, tidak bisa lagi jualan pakaian bekas. Kita pikirkan bisa jualan produk lokal,” ujar Teten kepada ratusan pedagang pakaian bekas yang hadir di lantai 4 Blok III, Pasar Senen, Jakpus, sore itu. Pernyataan Teten ini langsung direspons riuh sorakan para pedagang yang menolak opsi itu. ”Huuu, huuu, huuu.” Pedagang lainnya menyahuti, ”Produk lokal mahal!” Ratusan pedagang pun kecewa karena tidak berkesempatan berdialog langsung dengan Zulkifli dan Teten. Nanang menjelaskan lebih lanjut. Ia sulit menjual produk local karena kualitas pakaian bekas impor yang ia jual lebih baik daripada produk lokal. Selain kalah kualitas, produk lokal juga dirasa mahal bagi mayoritas warga Baubau yang termasuk kelas menengah ke bawah. (Yoga)
Kinerja BUMN Farmasi Loyo
Dua emiten milik negara yang bergerak di bidang farmasi membukukan kinerja kurang baik sepanjang 2022. PT Indofarma Tbk membukukan penjualan bersih yang melorot hingga 60,5 %, sementara PT Kimia Farma Tbk merugi hingga Rp 170 miliar. Direktur Utama Kimia Farma David Utama, Selasa (4/4/2023), mengatakan, pandemi Covid-19 memberikan kesempatan sekaligus tantangan terhadap industri kesehatan, termasuk Kimia Farma. (Yoga)
Semangat Kemandirian Dipertanyakan
Cadangan pangan pemerintah (CPP) berupa 11 pangan pokok mulai terisi. Namun, sebagian cadangan pangan itu masih bersumber dari impor. Ke depan, pemerintah diharapkan bisa lepas dari ketergantungan impor. Sebelas CPP itu adalah beras, jagung, kedelai, bawang, cabai, daging unggas,telur unggas, daging ruminansia, gula konsumsi, minyak goreng, dan ikan. Cadangan beras, sudah terisi 245.370 ton per 31 Maret 2023. Sementara cadangan kedelai mencapai 775,77 ton, gula pasir 223.573,05 ton, serta daging sapi dan kerbau yang masing-masing 8.095,89 ton dan 241,03 ton. Kepala Bapanas (NFA) Arief Prasetyo Adi, Senin (3/4) menjamin kebutuhan pangan pokok pada Ramadhan dan Lebaran 2023 tercukupi. Setiap cadangan pangan itu mulai terisi, baik dari pengadaan dalam negeri maupun luar negeri.
Kendati begitu, ada sejumlah bahan pokok yang impornya perlu dipercepat, yakni daging ruminansia, gula konsumsi, dan bawang putih. Selain itu, peran Bulog perlu lebih dioptimalkan lagi dalam penyerapan gabah atau beras untuk cadangan beras pemerintah (CBP). ”Ke depan, pemerintah diharapkan memiliki 5-10 % stok dari kebutuhan nasional untuk tiap cadangan pangan itu,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat di Komisi IV DPR secara hibrida di Jakarta. Anggota Komisi IV DPR, Firman Soebagyo, mengaku kecewa karena pemerintah memutuskan impor sejumlah pangan pokok sebegitu mudahnya. Hal itu kurang sejalan dengan semangat UU No 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang mengedepankan peningkatan produksi dan pengadaan cadangan pangan dari dalam negeri. ”Semangat UU Pangan adalah kemandirian dan kedaulatan pangan, bukan impor. Kalau dalam negeri cukup, kenapa harus impor?” kata Firman. (Yoga)
Trik Pengungkit Daya Beli
Langkah gesit Bank Indonesia (BI) dalam merespons gerak liar indeks harga konsumen (IHK) melalui instrumen suku bunga acuan memang terbukti efektif membikin tingkat inflasi melandai. Akan tetapi, melandainya tingkat inflasi bukanlah sepenuhnya kabar baik, apalagi jika menengok tingkat inflasi inti yang ikut menurun. Hal itu dapat mengindikasikan adanya keterbatasan daya beli masyarakat. Kemarin, Senin (3/4), Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi umum sebesar 4,97% (year-on-year/YoY) dan inflasi inti 2,94% (YoY). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Apalagi, Gubernur BI Perry Wajiyo dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa kenaikan suku bunga sebesar 225 bps cukup untuk menjangkar ekspektasi inflasi. Tak pelak, data terbaru itu memberikan ketenangan di kalangan pelaku usaha yang tak lagi waswas dengan langkah agresif pengetatan moneter. Kondisi ini tentu saja juga membuka peluang ekspansi. Namun, jika dicermati tingkat inflasi inti pada Maret 2023 merupakan yang terendah sejak Juli 2022 atau sebelum pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara Made Arya Wijaya, mengatakan program reguler berupa bantuan sosial tetap disalurkan sebagaimana amanat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023. Guna menebalkan proteksi daya beli, pemerintah juga menyediakan bantuan sosial tambahan selama tiga bulan untuk menjaga konsumsi rumah tangga. Dari sisi moneter, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan penurunan inflasi tidak terlepas dari respons kebijakan moneter serta sinergi antarlembaga.
Menjaga Status Quo Kebijakan Moneter
Angka inflasi nasional terus mencatatkan penurunan dari bulan ke bulan. Daya beli masyarakat pada awal Ramadan pun menyusut. Hal ini di luar kebiasaan masyarakat, belanja naik saat menyambut datangnya Bulan Suci. Badan Pusat Statistik mencatat angka inflasi pada Maret 2023 mencapai 4,97% secara tahunan (year-on-year/YoY). Lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 5,47% (YoY). Inflasi inti pun turun dari 3,09% (year-to-date/YtD) pada Februari 2023 menjadi 2,94% (YtD) pada Maret 2023. Secara bulanan angka inflasi sedikit naik, dari bulan sebelumnya 0,16% (month-to-month/MtM) menjadi sebesar 0,18% (MtM). Kenaikan inflasi ditopang oleh barang konsumsi sehari-hari. Mulai dari beras, cabai rawit hingga rokok kretek. Di luar itu, angkutan udara dan harga bensin turut mendorong kenaikan inflasi bulanan. Berdasarkan wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kota Kupang, NTT, yang mencapai 1,30%. Pada periode yang sama, Kota Bandung, Jawa Barat, melaporkan deflasi terdalam, yaitu sebesar -1,50%. Menurut BPS, komoditas utama pemicu kenaikan harga menjelang Lebaran adalah tarif angkutan udara, daging sapi, daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, dan lainnya. Kontribusi tarif angkutan dalam 3 tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Ekonom memproyeksikan inflasi pada Idulfitri atau April 2023 berpotensi menembus level 5% setelah pada Maret berhasil turun menjadi 4,97% (YoY). Secara historis, inflasi musiman pada hari raya umat Islam ini sekitar 0,5%—0,7%. Artinya, inflasi tahunan masih berada di level 5,47%—5,67%. Angka itu masih di bawah suku bunga acuan (BI-7DRR) 5,75%. Bank sentral dalam 3 bulan terakhir menahan suku bunga acuan berada di level tersebut. Ruang longgar kebijakan moneter diperlukan dalam situasi seperti ini. Terlebih lagi melihat tren belanja masyarakat yan cenderung melambat. Inflasi inti yang berada di kisaran 2%, terendah sejak Juni 2022, merupakan sinyal penurunan daya beli.
KINERJA KONGLOMERASI : JALUR PERTUMBUHAN GRUP SINAR MAS
Lini-lini bisnis di bawah payung konglomerasi Grup Sinar Mas meracik strategi untuk memacu pertumbuhan pada tahun ini setelah mayoritas emiten mencetak kinerja yang moncer pada 2022.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sebanyak 11 dari 12 emiten yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas meraih kenaikan pendapatan pada tahun lalu. Lonjakan paling tinggi diraih oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang pendapatannya naik 175,12% year-on-year (YoY) dari US$2,16 miliar menjadi US$5,95 miliar.Selain itu, pendapatan emiten Grup Sinar Mas di sektor sawit dan properti juga tumbuh sekitar 30% pada 2022. Tingkat pertumbuhan pendapatan itu a.l. diraih oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) sebesar 33,71% YoY menjadi Rp10,23 triliun dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) sebesar 31,65% YoY menjadi Rp75,04 triliun. Moncernya pertumbuhan top line berimpak positif terhadap profitabilitas yang diraih oleh emiten Grup Sinar Mas. Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih DSSA melompat signifikan 395,76% dari US$120,07 juta pada 2021 menjadi US$595,26 juta pada 2022.Kontras, laba bersih PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) menyusut 10,92% YoY menjadi Rp844,56 miliar. Sementara itu, PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) berbalik laba Rp1,06 triliun berkat keuntungan dari investasi dalam saham sebesar Rp1,64 triliun. Keuntungan dari investasi saham itu termasuk dari saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA).Meski demikian, mesin laba Grup Sinar Mas masih bersumber dari lini bisnis perkebunan sawit dan kertas & pulp. Pada 2022, SMAR mengantongi laba bersih Rp5,5 triliun, sedangkan laba bersih INKP mencapai US$857,51 juta atau setara dengan Rp13,48 triliun.
Di sektor telekomunikasi, Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys menyampaikan FREN merupakan salah satu pilar Grup Sinar Mas yang bergerak di bidang telekomunikasi dan teknologi. Saat ini, FREN merupakan operator terbesar keempat di Indonesia.
Menurut Merza, keunggulan FREN ialah layanan 4G di seluruh Indonesia dan rencana ekspansi 5G. Pada 2022, pendapatan Smartfren tercatat menembus Rp11 triliun.
Grup Salim Kuasai Penjualan Mobil Premium Eropa
Lewat PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), Grup Salim nampaknya menjadi penguasa mobil Eropa. Akhir pekan lalu, IMAS mengakuisisi PT Mercedes Benz Indonesia, diler mobil Mercy di Tanah Air.
Tak sendirian, IMAS menggandeng Inchcape Motors Private Limited (Inchcape). Dalam akuisisi itu, Inchcape mengambil alih 70% saham Mercedes Benz Indonesia, dan IMAS sebesar 30%.
Tak menyebutkan besaran nilai akuisisi 30% saham itu, IMAS juga telah mengantongi izin untuk memasarkan Citroen, produsen otomotif asal Prancis. Dengan aksi tersebut, IMAS kini merajai pemasaran mobil-mobil premium asal Eropa. Pasalnya, IMAS juga memegang kendali atas pemasaran mobil-mobil Eropa lainnya seperti Volvo, Volkswagen, hingga Audi.
President Director
PT Indomobil Sukses Internasional Tbk Jusak Kertowidjojo kepada KONTAN, Minggu (2/4) mengatakan, IMAS melihat prospek pasar mobil premium asal Eropa sangat baik di Tanah Air. Seiring peningkatan daya beli, prospeknya sangat bagus, jelas dia kepada KONTAN, Minggu (2/4).
Head of Region Overseas
Mercedes-Benz Cars, Matthias Lhrs menambahkan, aksi korporasi ini dilakukan lantaran Mercedes melakukan restrukturisasi bisnis untuk menguatkan posisi di pasar Indonesia. Meski ada investor, tak mengubah kepegawaian dan layanan perusahaan.
Senior Research Analyst
PT Mirae Asset Sekuritas, Robertus Hardy menilai, akuisisi 30% saham perusahaan pemasaran Mercedes-Benz oleh IMAS karena pangsa pasar Mercy di Indonesia masih kecil, hanya 0,3% untuk penjualan ritel dan
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









