Ekonomi
( 40487 )Perang Hambat Konsensus
Banyak usulan belum disetujui anggota APEC. Perang Ukraina
dan Gaza menjadi tantangan utama dalam KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik,
15-16 November 2023, di San Francisco, AS. Perang itu sebagian dari persoalan
geopolitik dan geoekonomi global saat ini. Korea Selatan mendesak Kerja Sama
Ekonomi Asia Pasifik (APEC) membahas penguatan hubungan Rusia dengan Korut.
Penguatan itu dinilai akan membawa perang Ukraina dan ketegangan di Semenanjung
Korea ke arah lebih berbahaya. Di sisi lain, Rusia meminta APEC tetap fokus
menjadi organisasi ekonomi. ”Kami akan melihat apakah pernyataannya (pernyataan
akhir para pemimpin APEC) tetap pada (isu) ekonomi,” ujar Wakil PM Rusia Alexey
Overchuk sebagaimana dilaporkan kantor berita Rusia, TASS, Kamis (16/11).
Pernyataan akhir pemimpin APEC dijadwalkan disepakati pada
Kamis sore waktu San Francisco atau Jumat pagi WIB. Sejauh ini, sebagaimana
dilaporkan Reuters dan kantor berita Kyodo, ada sejumlah perbedaan pendapat di
antara para delegasi. ”Terlalu banyak perbedaan pandangan soal kondisi dunia,”
kata Mendag Jepang Yasutoshi Nishimura. Pada Mei 2023, penolakan China dan
Rusia terhadap rancangan naskah pernyataan bersama membuat pertemuan Menkeu
APEC gagal menghasilkan kesepakatan. Pernyataan itu membahas perang Ukraina.
Para menkeu APEC juga gagal menyepakati pernyataan akhir dalam pertemuan peka ini.
Dalam pertemuan tersebut, perang Ukraina dibahas bersama perang Gaza. Menkeu AS
Janet Yellen menyebut, APEC sepakat berusaha sekuatnya mencegah dampak buruk
perang Gaza pada perekonomian kawasan dan global. Anggota APEC juga setuju perang Gaza jangan sampai meluas. (Yoga)
Transisi Energi Hadapi Tantangan Pendanaan
Alarm Ekspor Nonmigas
Ekspor nonmigas Indonesia terus menunjukkan tren penurunan
sejak Oktober 2022. Perlambatan ekonomi dan permintaan global juga masih berpotensi
menekan kinerja ekspor. Nilai ekspor nonmigas pada Oktober 2023, menurut BPS,
adalah 20,78 miliar USD, naik 7,42 % dibandingkan September 2023, tetapi
turun11,36 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ekspor
nonmigas yang menyumbang 72,37 % total ekspor ini menyebabkan nilai ekspor Indonesia
per Oktober 2023 turun 10,43 % dibandingkan periode sama 2022, menjadi 22,15
miliar USD, kendati meningkat 6,76 % dibandingkan September 2023. Secara
kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2023, yakni 214,41 miliar
USD, juga turun 12,15 % dibandingkan dengan periode yang sama pada 2022, dengan
ekspor nonmigas turun 12,74 %.
Penurunan nilai ekspor Indonesia yang lebih dipicu oleh penurunan
harga komoditas ketimbang volume ini tampaknya sejalan dengan fenomena
normalisasi harga komoditas global. Harga komoditas di pasar dunia sempat
melonjak ke rekor tertinggi pada 2022, terutama sebagai akibat disrupsi rantai pasok
global menyusul perang Rusia-Ukraina dan Covid-19. Berlanjutnya tekanan
terhadap ekspor masih harus terus kita waspadai, terutama dengan masih
tingginya ketidakpastian dan perlambatan ekonomi dunia karena bisa menekan pertumbuhan
ekonomi nasional. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,7 % di
triwulan II menjadi 4,94 % di triwulan III-2023 (terendah dalam dua tahun terakhir)
juga karena kontraksi ekspor, selain akibat melemahnya konsumsi rumah tangga. Melambatnya
pertumbuhan ekonomi global menyebabkan turunnya pula permintaan barang dan
jasa.
Dari sisi fundamental, kinerja ekspor Indonesia selama ini menunjukkan
rapuhnya posisi kita karena masih sangat tingginya ketergantungan kita pada
ekspor komoditas sehingga rentan terhadap fluktuasi dan gejolak harga komoditas
global. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya diversifikasi ekspor, hal yang
sudah lama kita sadari, tetapi belum sepenuhnya berhasil kita lakukan hingga
sekarang. Alarm lain yang perlu kita perhatikan adalah pertumbuhan ekonomi kita
yang semakin didominasi sektor jasa, sedangkan sektor industri pengolahan terus
menurun, sejalan dengan tren deindustrialisasi yang terjadi sejak 2002. (Yoga)
Investasi Tahun Depan Serba Tidak Pasti
Laju investasi tahun 2024 diliputi ketidakpastian tinggi
akibat gejolak politik yang sulit ditebak menjelang pemilihan umum di dalam
negeri serta berlanjutnya kebijakan pengetatan moneter AS. Pelemahan investasi
itu patut diwaspadai mengingat komponen tersebut menyumbangkan dampak multiplier
yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketidakpastian tahun depan diperkirakan
bisa terjadi pada segala jenis investasi, baik investasi langsung (direct
investment) di sektor riil maupun investasi portofolio di pasar modal.
Menurut praktisi pasar modal dan pengajar Magister Ekonomi
Terapan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Yohanis Hans Kwee, Kamis (16/11/2023),
nasib pertumbuhan ekonomi tahun 2024 masih akan menghadapi ketidakpastian
tinggi. Faktor utamanya adalah risiko politik akibat perhelatan pemilihan umum
yang bisa melambatkan laju investasi. Ia memperkirakan ekonomi tahun depan
hanya akan tumbuh di kisaran 4,8 % sampai 5 % secara tahunan (year on year).
”Ekonomi kita akan melambat karena politik. Memang, biasanya yang
pertumbuhannya bagus saat pemilu itu belanja pemerintah dan konsumsi, tetapi
investasi justru tertahan,” kata Yohanis dalam diskusi ”Economic and Financial
Market Outlook 2024” yang digelar daring.
Perlambatan investasi diduga kuat akan terjadi akibat fragmentasi
politik nasional yang sulit ditebak dengan akrobat politik yang tinggi, mulai dari
majunya putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, yang dipasangkan dengan
Prabowo Subianto sampai dinamika terbaru yang membuat saudara ipar Jokowi,
mantan Ketua MK, Anwar Usman, diturunkan dari jabatannya. ”Hal-hal yang sulit
ditebak seperti itu membuat pasar sulit menghitung siapa pemenang pemilu tahun
depan. Sebab, pasar saham itu takut pada perubahan ekstrem dan ketidakpastian.
Kalau ada yang ”belok kanan” secara tiba-tiba, pengusaha akan wait and see lebih
lama dan investasi akan menurun,” ujarnya. (Yoga)
PERDAGANGAN RITEL, Antara Solidaritas dan Dampak Ekonomi Lokal
Sejak eskalasi konflik antara Hamas dan Israel di wilayah Gaza
menjelma menjadi tragedi kemanusiaan, seruan boikot dari konsumen dalam negeri
terhadap produk atau merek yang terafiliasi dengan negara Israel semakin
mengemuka. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan telah mengeluarkan Fatwa MUI No
28 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina, dimana MUI
mengimbau masyarakat Muslim untuk menghindari transaksi dan penggunaan produk
pendukung Israel. Fatwa MUI sejalan dengan fenomena gerakan sosial global
bernama Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) yang bermakna boikot,
divestasi, dan sanksi yang muncul sejak 2005. Gerakan ini tidak hanya mengarah
pada produk barang atau jasa, tetapi juga ranah budaya dengan tujuan menekan
Israel dari sisi ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Lambat laun, gerakan
sosial BDS menyebar dan menarik simpati beragam pihak dari sejumlah negara.
Pada konflik Israel-Hamas kali ini, para aktivis BDS dari sejumlah negara, termasuk
Indonesia, kembali menghidupkan kampanye boikot melalui kanal-kanal media
sosial.
Sekjen Asosiasi UMKM Indonesia Edy Misero memahami rasa solidaritas
dan kemanusiaan mendorong masyarakat Indonesia memboikot produk yang disinyalir
terafiliasi dengan Israel. Namun, aksi boikot perlu dilakukan secara proporsional
agar upaya menekan Pemerintah Israel tidak berdampak pada pelaku usaha lokal. Menurut
dia, aksi boikot akan berdampak secara efektif jika penolakan dilakukan
terhadap produk impor yang memang didatangkan langsung dari Israel. Namun, aksi
boikot yang dilakukan untuk sektor jasa atau restoran yang beroperasi di
Indonesia punya potensi menghambat pertumbuhan kinerja pengusaha lokal. ”UMKM
yang menyalurkan daging ayam, bubuk kopi, kentang, cabai, dan lain sebagainya
untuk merek restoran yang dianggap terafiliasi dengan Israel akan ikut terkena imbas
boikot. Artinya, dampak boikot juga dirasakan pelaku ekonomi lokal,” ujarnya, Rabu
(15/11). (Yoga)
Saham OCBC Naik Seusai Akuisisi
Kinerja Ekspor Manufaktur Melemah
Kinerja ekspor industri pengolahan atau manufaktur pada
periode Januari-Oktober 2023 menurun 10,30 % dibandingkan dengan periode yang
sama tahun lalu, dikarenakan pelemahan permintaan dunia dan melandainya
sejumlah harga komoditas global. Mengutip data BPS, nilai ekspor industri
pengolahan sesuai harga barang (free on board/FOB) Januari-Oktober 2023
mencapai 155,16 miliar USD, merosot 10,30 % ketimbang periode yang sama tahun
lalu yang sebesar 172,97 miliar USD. Penurunan terbesar dicatat oleh komoditas
produk lemak dan minyak hewani/nabati olahan yang pada periode Januari-Oktober
2023 merosot 19,52 % secara tahunan.
Komoditas besi dan baja juga mencatat penurunan kinerja ekspor.
Pada Januari-Oktober 2023, ekspor besi dan baja bernilai 22,13 miliar USD,
menurun 4,35 % secara tahunan. Komoditas lainnya yang mencatatkan penurunan ekspor
cukup dalam adalah alas kaki. Pada Januari-Oktober 2023 ekspor alas kaki
mencapai 5,33 miliar USD, menurun 18,86 % secara tahunan. Direktur Eksekutif
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri, Kamis
(16/11) menjelaskan, penurunan kinerja ekspor industri pengolahan itu disebabkan
gabungan dari permintaan ekspor yang melemah dan harga komoditas yang kian melandai.
Hal itu dipicu oleh melambatnya perekonomian negara-negara tujuan ekspor Indonesia.
(Yoga)
KELAUTAN DAN PERIKANAN, Pangan Biru Jadi Solusi Masa Depan
Transisi pangan konvensional ke pangan biru didorong menjadi
solusi pemenuhan kebutuhan pangan masa depan. Indonesia yang kaya potensi
makanan biru (blue food) dinilai belum mengoptimalkan potensi sumber daya yang
ada. Komoditas pangan biru, berupa ikan, alga, dan tumbuhan yang dihasilkan
dari budidaya ataupun perikanan darat dan laut, dipandang sebagai alternatif
sumber pangan berkelanjutan di masa depan.
Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Maritim
dan Investasi, M Firman Hidayat, mengemukakan, pangan biru merupakan alternatif
solusi ketahanan pangan yang kaya protein dan nutrisi. Selain itu, pangan biru
juga berperan untuk membantu mitigasi perubahan iklim. ”Pembenahan dan
peningkatan pangan biru juga akan mampu meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat
pesisir,” kata Firman dalam ”BlueFood Forum” yang digelar secara hibrida, Kamis
(16/11). (Yoga)
Perlindungan Konsumen Asuransi Syariah Penting
Lima Pulau Jadi Wisata Minat Khusus
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









