Ekonomi
( 40487 )Tak Semata Perkara Roda Aus
Timang-timang Perpanjangan Izin Freeport
Gusar Peretail Terkena Dampak Aksi Boikot
AS Dukung Israel, Dunia Gagal Hentikan Serangan ke Gaza
Dunia gagal mendesak Israel menghentikan serangan ke Gaza.
Pada Rabu (15/11) Israel malah mengaku telah menyerbu rumah sakit di Gaza.
Apalagi, serbuan itu mendapat dukungan dari AS. Jubir Dewan Keamanan Nasional
AS, John Kirby, menyebut ada informasi intelijen soal kegiatan Hamas di bawah
sejumlah rumah sakit di Gaza. Hamas dan aneka kelompok perlawanan Gaza disebutnya
membuat jaringan terowongan di bawah sejumlah rumah sakit. Terowongan menjadi
pusat komando dan penyimpanan senjata. Pernyataan itu dianggap Hamas sebagai
izin AS bagi Israel menyerbu Rumah Sakit Al-Shifa. Pasukan militer Israel, IDF,
menyerbu rumah sakit itu pada Rabu dini hari. Serangan itu melanjutkan pengepungan
IDF terhadap RS Al-Shifa. Selama pengepungan, tank-tank IDF berulang kali
menembak rumah sakit itu. Penembak runduk Israel juga menyerang berbagai orang
di rumah sakit itu.
Dirjen Kementerian Kesehatan Gaza Munir al-Bursh mengatakan,
Israel memulai serangan dari sayap barat rumah sakit. Bagian bedah dan ruang
gawat darurat RS Al-Shifa menjadi tempat pertama yang diserbu pasukan IDF. Staf
ruangan gawat darurat RS Al-Shifa, Omer Zaqout, menyebut bahwa pasukan IDF
menyerang dan menangkap sejumlah pengungsi di rumah sakit. IDF menelanjangi
lalu menutup mata orang-orang yang ditangkap. Dalam pernyataan terpisah, Hamas
menyebut ada 650 pasien dan 7.000 pengungsi di Al-Shifa. Mereka ketakutan oleh
serangan IDF. Zaqout menyangkal pernyataan IDF bahwa IDF membawa bantuan ke
rumah sakit. ”Mereka (IDF) hanya membawa teror,” katanya kepada Al Jazeera. Akibat
serangan itu, ratusan orang tewas di halaman rumah sakit. Pegawai rumah sakit
tidak berani mengevakuasi mereka karena khawatir ditembak IDF. (Yoga)
Jam Kerja Fleksibel Paling Dibutuhkan Pekerja
Cuti melahirkan, cuti menemani istri melahirkan, dan
pengaturan jam kerja fleksibel merupakan program yang paling banyak dibutuhkan
pekerja. Ketiga program ini dianggap mampu mendukung keseimbangan bekerja dan
memenuhi tanggung jawab mereka dalam keluarga. Jika ketiga program tersebut
disediakan tempat kerja, dampak akan dirasakan pada produktivitas kerja pekerja
dan perusahaan. Laporan survei ”Persepsi terhadap Pekerjaan Perawatan,
Pandangan Publik dalam Kerangka 5R” oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO)
dan Katadata Insight Center menyatakan, 42,6 % dari 2.217 responden menyebut
cuti melahirkan adalah layanan paling dibutuhkan. Lalu, 17,9 % menyebut cuti menemani
istri melahirkan paling dibutuhkan. Selanjutnya, 8,5 % menyebut pengaturan jam
kerja fleksibel sebagai program perawatan yang paling dibutuhkan.
Dari sisi pekerja formal, program perawatan yang paling banyak
dibutuhkan adalah cuti melahirkan, diikuti cuti menemani istri melahirkan, dan pengaturan
jam kerja yang fleksibel. Adapun bagi kalangan pekerja informal, program perawatan
yang paling banyak di butuhkan adalah cuti melahirkan, cuti menemani istri melahirkan,
dan pojok laktasi. Survei dilakukan secara daring selama kurun 15 September-3
November 2023. Dari 2.217 responden yang disurvei, 67,5 % berjenis kelamin
perempuan dan 67,4 % bekerja di sektor informal. Responden tersebar di 34
provinsi. Sebanyak 58,2 % berusia 27-42 tahun, kelompok usia 18-26 tahun
sebanyak 27,5 %. Sebanyak 73,7 % responden berstatus sudah menikah dan 1.597
responden berdomisili di Jawa.
Latar belakang profesi responden beragam, seperti pegawai
negeri sipil, karyawan industri garmen, karyawan BUMN/BUMD, karyawan UMKM,
pengojek daring, kreator konten, pekerja rumah tangga, dan buruh harian lepas. ”Ketika
keseimbangan bekerja dan tanggung jawab keluarga terpenuhi, karyawan bisa berkontribusi
optimal terhadap pekerjaan yang pada akhirnya berdampak positif ke perusahaan
dan perekonomian nasional,” ujar Koordinator Program ILO Indonesia untuk Ekonomi
Perawatan Early Dewi Nuriana dalam diskusi ”Pekerjaan Perawatan, Tanggung Jawab
Perempuan atau Bersama”, Rabu (15/11) di Jakarta. (Yoga)
Meraup Cuan dari Ingar Bingar Konser Musik
Ingar bingar konser musik Coldplay terasa sejak beberapa hari
sebelum band asal Inggris itu tampil di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Rabu
(15/11) malam. Gaungnya menggema di seantero media sosial. Hari yang di tunggu-tunggu
telah tiba. Keriuhan penonton berbanding lurus dengan potensi ekonomi dan
dampak berganda (multiplier effect) dari helatan festival musik semacam ini.
Industri ini diprediksi masih akan terus tumbuh di masa mendatang. Data
Statista Market Insights (Agustus 2023) menunjukkan, industri pergelaran musik
secara global diproyeksikan menghasilkan pendapatan 30,14 miliar USD atau Rp
467,3 triliun dengan kurs Rp 15.503 per USD pada Rabu. Angkanya masih akan
terus meningkat, setidaknya hingga 2027 dengan nilai 36,71 miliar USD yang
setara Rp 569,1 triliun. Pertumbuhannya
pun sekitar 5 % per tahun.
Pengamat musik, Wendi Putranto, menilai, Indonesia berpotensi
besar menggelar konser-konser musik berkelas internasional. Sejauh ini, acara
musik yang diadakan di Indonesia sudah berjalan sesuai rencana, baik dalam
bentuk konser tunggal maupun festival dengan bintang tamu artis-artis
internasional ternama. ”Konser internasional, potensi perputaran uangnya bisa mencapai
puluhan miliar rupiah hingga ratusan miliar rupiah, bergantung popularitas
artis dan kapasitas venue-nya,” ujar Wendi saat dihubungi dari Jakarta, Rabu
(15/11). Ia memperkirakan, perputaran uang konser Coldplay di Jakarta hanya
dari penjualan tiket tembus Rp 200 miliar. Festival musik itu akan dinikmati
70.000 penonton secara langsung. Di luar penjualan tiket, penjualan suvenir
konser, makanan dan minuman, serta sponsorship mendongkrak perputaran uang
selama penyelenggaraan konser. Festival musik, apalagi bertaraf internasional,
memancarkan daya tarik bagi banyak orang. Pergelaran itu tak hanya mampu mendatangkan
wisatawan luar kota, tetapi juga wisatawan asing. (Yoga)
Kinerja Ekspor Nonmigas RI Terus Menurun
Kinerja ekspor nonmigas Indonesia terus turun sejak akhir
2022. Penurunan kinerja itu lebih dipengaruhi turunnya nilai ekspor ketimbang
volume.Halitu tidak terlepas dari tren penurunan harga komoditas ekspor unggulan
RI, terutama batubara dan CPO. Kendati demikian, Indonesia tetap perlu terus
menjaga kinerja ekspor di tengah perlambatan pertumbuhan perdagangan yang
diperkirakan terjadi hingga akhir tahun ini. Organisasi Kerja Sama Ekonomi Asia
Pasifik (APEC) menyebutkan, inflasi, konflik geopolitik, perubahan iklim, dan
restriksi dagang masih menjadi penghambat pertumbuhan perdagangan kawasan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji
Ismartini, Rabu (15/11) mengatakan, sejumlah lembaga dan organisasi
internasional memprediksi tren penurunan ekspor barang dan jasa bakal terjadi
di negara-negara berkembang. Hal ini sudah tergambar di Indonesia. Salah satu
indikasinya adalah tren penurunan ekspor barang nonmigas Indonesia yang terjadi
sejak akhir 2022. Pada Januari-Oktober 2023, total ekspor nonmigas Indonesia
senilai 201,25 miliar USD, turun 12,74 % dibandingkan periode sama 2022.
Komoditas penyumbang penurunan ekspor tersebut adalah bahan bakar mineral,
terutama batubara, serta lemak dan minyak hewani/nabati, terutama minyak sawit.
”Penurunan kinerja itu lebih dipengaruhi turunnya nilai ekspor ketimbang
volume. Nilai ekspor turun disebabkan penurunan harga batubara dan CPO,”
ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. (Yoga)
KELAUTAN DAN PERIKANAN, Kebijakan Minim Kajian Picu Masalah Baru
Persoalan data yang lemah dan minimnya kajian yang melandasi
sejumlah kebijakan di sektor kelautan dan perikanan berpotensi memicu bias kebijakan
dan persoalan baru. Sejumlah kalangan menyerukan pembenahan tata kelola di
tengah tantangan pangan masa depan. CEO dan Founder Ocean Solutions Indonesia
Zulficar Mochtar mengemukakan, perlu pembenahan data sebagai landasan
pemerintah dalam merumuskan kebijakan. Apalagi, Kementerian Kelautan dan Perikanan
(KKP) gencar mengusung isu perikanan berkelanjutan dan ekonomi biru. Data yang keliru
dinilai berpotensi memicu persoalan baru.
Ia menyoroti rencana kebijakan ekspor benih bening lobster
yang minim kajian dan akurasi data. Keberadaan data yang solid dinilai sangat
penting. Saat ini, rencana kebijakan itu juga menuai polemik di publik terkait
ancaman keberlangsungan stok sumber daya benih, dan nasib pengembangan budidaya
lobster di dalam negeri. ”Mengingat kebijakan (ekspor benih lobster) bisa
berdampak luas secara ekologis, sosial, dan ekonomi, KKP perlu disiplin dalam
menyiapkan kajian ilmiah agar nantinya (kebijakan) tidak bablas, serta
mengurangi potensi masalah di kemudian hari,” katanya, Rabu (15/11). (Yoga)
Prospek Bisnis Batu Akik
Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Masih Solid
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









