Ekonomi
( 40460 )2025, Pemerintah Buka Peluang Perpanjangan Relaksasi Izin Ekspor Konsentrat Tembaga
Group Astra Mengguyur Pasar Modal dengan Pembagian Dividen Interim
Group Astra bakal mengguyur pasar modal dengan pembagian dividen interim tahun buku 2024. PT Astra Agro Lestari Tbl (AALI) menjadi yang pertama dalam mengumumkan pembagian diividen interim, dan diyakini segera diikuti perusahaan Group Astra lainnya seperti PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), serta PT Astra Graphia Tbk (ASGR). "Pembagian dividen ini menunjukkan implementasi good corporate governance (GC) yang bagus dari grup Astra. Aksi ini juga menunjukkan bahwa mereka memperhatikan kepentingan pemegang saham kecil," kata Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe kepada Investor Daily.
Kiswoyo meyakini, semua emiten Grup Astra akan membagikan dividen interim tahun buku 2024, sama seperti yang telah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Emiten Group Astra seperti ASII, UNTR, AALI, AUTO, dan ASGR tercatat rutin membagikan dividen interim setiap tahunnya, bahkan saat pandemi Covid-19. "Selama mencatatkan profit, mereka selalu konsisten membagikan dividen. Dan dividen yang dibagikan dividen," ujar Kiswoyo. Menurut Kiswoyo, pembagian dividen interim saat ini menjadi pemanis bagi saham Grup Astra, untuk selanjutnya bakal dilanjutkan pembagian dividen final pada penutupan kinerja keuangan full year 2024. (Yetede)
Investor Asing Semakin Tertarik pada Proyek IKN
Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara mendapatkan dorongan signifikan dengan masuknya investasi asing, yang menunjukkan kepercayaan global terhadap proyek ini. Dalam acara groundbreaking, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan proyek investasi dari Delonix Group asal China senilai Rp500 miliar, serta proyek dari Australia dan Rusia, menjadikan total investasi yang diumumkan mencapai Rp1,07 triliun. Jokowi menegaskan bahwa kehadiran investor asing di IKN akan menarik lebih banyak investor lainnya dan menciptakan ekosistem yang positif.
Untuk mendukung percepatan investasi, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Investasi IKN, yang bertugas merealisasikan target investasi sebesar Rp100 triliun sepanjang tahun ini. Optimisme terhadap sektor properti juga disampaikan oleh Bambang Eka Jaya, Wakil Ketua Umum DPP REI, yang melihat komitmen asing sebagai sinyal positif bagi prospek pembangunan IKN. Selain itu, Budihardjo Iduansjah dari Hippindo menekankan pentingnya pembangunan sarana retail untuk menarik populasi ke Nusantara.
Secara keseluruhan, masuknya investor asing dan domestik di IKN menunjukkan bahwa Nusantara sudah menjadi tempat yang menarik untuk investasi, dengan dukungan dari berbagai regulasi dan keringanan yang dijanjikan pemerintah untuk memfasilitasi para investor.
Transformasi SPMT dalam Jelajah Pelabuhan & Logistik 2024
Mengenai transformasi pelabuhan nonpetikemas yang dilakukan oleh PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) menunjukkan bahwa meskipun menghadapi berbagai tantangan, upaya transformasi ini terus berjalan dengan baik. Transformasi ini dipimpin oleh Indra Hidayat Sani, Direktur Utama PTP Nonpetikemas, yang menjelaskan penerapan enam pilar transformasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional di pelabuhan, seperti digitalisasi melalui sistem PTOS-M.
Sejak bergabung dengan PT Pelabuhan Indonesia pada Januari 2024, SPMT berhasil mencatat volume bongkar muat yang signifikan, dengan Budi Utoyo dari PTP Nonpetikemas Cabang Tanjung Priok mengungkapkan bahwa volume bongkar muat mencapai 9,5 juta ton per Agustus 2024. Transformasi ini juga memberikan dampak positif bagi mitra seperti Dimas Adi Putra dari PT FKS Group, yang mencatat peningkatan produktivitas pembongkaran. Sementara itu, Khoiruddin Lubis dari SPMT Branch Belawan melaporkan penurunan signifikan dalam dwelling time, sehingga proses bongkar muat lebih efisien.
Secara keseluruhan, transformasi ini bertujuan untuk membuat operasional pelabuhan nonpetikemas lebih kompetitif dan responsif terhadap kebutuhan pasar, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan meningkatkan pelayanan kepada pelanggan.
Investasi Jawa Barat 2024: Fokus pada Dampak Tenaga Kerja
Jawa Barat terus memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi nasional, dengan dampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. West Java Investment Summit (WJIS) 2024 mempromosikan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kolaborasi sektor publik dan swasta. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Muhamad Nur, menekankan pentingnya akselerasi dalam menyiapkan SDM yang kompeten, khususnya di sektor industri teknologi dan pariwisata. Hyundai juga terlibat dalam pelatihan SDM melalui Hyundai Academy Course, yang akan melibatkan 1.000 siswa dari 25 SMK di Jawa Barat.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, berharap investasi yang masuk akan membantu mengatasi pengangguran dan memberdayakan tenaga kerja lokal. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doni Primanto Joewono, menyoroti tiga peran penting Bank Indonesia dalam mendorong investasi, termasuk promosi, integrasi hubungan investor, dan Local Currency Transaction (LCT). Proyek investasi juga melibatkan BUMD seperti PT Migas Utama Jabar dan PT Tirta Gemah Ripah, yang bekerja sama dengan mitra strategis untuk penyediaan air bersih dan pengembangan infrastruktur energi.
Aset Kripto Dijadikan Barang Bukti Kasus Pencucian Uang
Aset kripto dapat digunakan sebagai alat bukti dalam kasus tindak pidana, termasuk pencucian uang dan kejahatan ekonomi lainnya, meskipun nilainya yang fluktuatif menimbulkan tantangan. Wakil Jaksa Agung, Feri Wibisono, menyoroti bahwa permasalahan utama dalam penanganan aset kripto adalah perubahan nilai yang signifikan, sehingga diperlukan pendekatan yang komprehensif. Untuk mengatasi tantangan ini, kerja sama antara Kejaksaan Agung (Kejagung), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah dibentuk. Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Kejagung, Asep Mulyana, menyatakan bahwa perjanjian kerja sama ini bertujuan untuk menjamin penanganan aset kripto secara transparan dan akuntabel, terutama dalam memastikan kuantitas dan kualitas barang bukti.
Peluang Window Dressing Muncul Usai September Suram
Setelah bergerak fluktuatif dan berada di area sepanjang bulan September ini, pasar saham kemungkinan bakal lebih sumringah di kuartal terakhir pengujung tahun. Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat window dressing masih terbuka. Tak cuma itu, pasar juga bakal diramaikan sentimen kebijakan suku bunga hingga dinamika politik akibat pergantian pemerintahan. Data Bloomberg menunjukkan, dalam sepuluh tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rata-rata menguat di kuartal keempat. Misalnya, rata-rata return IHSG pada bulan Oktober mencapai 1,7%, 0,27% pada November, dan return di bulan Desember sebesar 2,6%. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas memproyeksikan, dalam skenario awal, IHSG bisa menuju support di kisaran 7.454-7.562 pada kuartal keempat tahun ini. Jika mampu bertahan, IHSG akan cenderung sideways. Meski demikian, Head of Investment Information Team Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina memprediksikan, potensi window dressing dalam dua bulan ke depan tidak terlalu besar, mengingat kenaikan IHSG yang sudah cukup signifikan.
"Kenaikan IHSG yang sudah cukup tinggi membuat ruang
window dressing
menjadi terbatas," ujarnya, Selasa (24/9). Mirae Asset Sekuritas juga mencermati perkembangan pasar pada Oktober dan November, yang akan dipengaruhi oleh dinamika politik di dalam negeri maupun di Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, investor sebaiknya tetap berinvestasi pada bulan-bulan ini, karena prospek tahun depan diperkirakan lebih positif. Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, dengan berbagai sentimen positif di kuartal terakhir mendatang, Nico optimistis IHSG akan bergerak dalam rentang 7.730-7.910, untuk mencapai target akhir tahun di level 7.920-8.080.
"Sebaba secara historis pasar akan kembali positif di kuartal empat," ujar
Senior Market Chartist
Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta. Pada akhir tahun ini, Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan, IHSG berpeluang mencapai level 7.915.
Saham Emiten Besar Mengalami Perubahan Bobot
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan kembali bobot emiten terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan indeks lain. Dalam evaluasi minor terbaru yang berlaku Oktober 2024, ada sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar ( big cap ) yang mengalami perubahan bobot terhadap IHSG. Kebanyakan emiten big cap mengalami penurunan bobot terhadap IHSG. Termasuk saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang belakangan ini bergerak fluktuatif dan menyetir pergerakan IHSG. Bobot saham BREN terhadap IHSG turun dari 4,3% menjadi 4,25% setelah evaluasi. BREN tercatat memiliki saham free float sebanyak 11,73%. Bobot emiten big cap lainnya termasuk empat perbankan terbesar juga turun. Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana melihat, evaluasi bobot merupakan sesuatu yang secara reguler dilakukan BEI. Fokus utama yang dilihat BEI dalam menentukan bobot terhadap IHSG adalah dari rasio free float dan kapitalisasi pasar (market cap) emiten. "Untuk market cap, tidak seluruhnya dimasukkan, agar tidak ada emiten yang terlalu dominan terhadap IHSG. Free float dilihat faktor likuiditas," kata Wawan kepada KONTAN, Rabu (25/9). Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menilai, evaluasi berkala yang dilakukan BEI terhadap indeks, baik evaluasi mayor seperti perubahan konstituen maupun evaluasi minor, bertujuan untuk memastikan bahwa indeks-indeks tersebut tetap relevan terhadap kondisi pasar yang sebenarnya.
Di sisi lain, bobot BREN di Indeks sektor infrastruktur atau IDXINFRA juga mengalami perubahan. Bobot BREN meningkat dari 8,74% menjadi 9%. Hal ini merupakan indikasi meningkatnya peran penting BREN di sektor infrastruktur, terutama di sektor energi terbarukan (EBT). Meningkatnya bobot BREN di IDXInfra ini berdampak netral atau bahkan positif terhadap kinerja saham perseroan itu.
Wawan menilai, untuk memilih mana saham yang berkinerja baik, tiga faktor utama yang biasanya dilihat langsung oleh investor adalah fundamental emiten, prospek bisnis ke depan, dan likuiditas.
Nah, ke depan Wawan melihat sektor perbankan masih menarik untuk dilirik investor. Hal ini berkaitan dengan penurunan suku bunga, sehingga permintaan kredit akan naik.
Diharapkan dengan tren menurunnya suku bunga acuan, emiten-emiten bank yang selama ini memiliki rasio
Current Account Saving Account
(CASA),
nonperforming loan
(NPL), dan
loan to deposit ratio
(LDR) yang lebih inferior dibanding rata-rata industrinya, akan memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.
Saham Batubara Berpotensi Naik dengan Implementasi MIP
Skema pungut salur dana kompensasi batubara melalui Mitra Instansi Pengelola (MIP) segera terealisasi. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan tidak ada kendala dalam rencana implementasi MIP batubara, yang diharapkan bisa dijalankan pada tahun ini. Emiten pertambangan batubara plat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) antusias menyambut kehadiran MIP. Sekretaris Perusahaan PTBA, Niko Chandra mengatakan pihaknya terus memonitor perkembangan mengenai skema ini, dan berharap Peraturan Presiden (Perpres) terkait MIP segera terbit. Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PTBA Farida Thamrin dalam paparan publik beberapa waktu lalu menjelaskan, dampak yang akan diterima PTBA akan bergantung kepada indeks harga batubara saat MIP diberlakukan. Pada prinsipnya, semakin besar selisih harga antara harga cap dengan indeks, maka akan berdampak kepada margin perseroan yang lebih tinggi. Begitupula sebaliknya. Sementara itu, Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), Febriati Nadira mengatakan, ADRO masih menunggu keputusan pemerintah terkait MIP. "Para pelaku industri menginginkan diterapkannya harga yang kompetitif demi konservasi cadangan batubara dan ketahanan energi nasional," kata Nadira.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan mengatakan, penerapan MIP akan memberikan efek penyesuaian terhadap industri batubara Indonesia. Skema ini memungkinkan perusahaan berorientasi domestik, khususnya yang memenuhi wajib pasok dalam negeri alias
Domestic Market Obligation
(DMO) mendapatkan insentif dari iuran yang nantinya dikelola oleh MIP.
Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki menambahkan, skema MIP bisa membawa dampak positif untuk menjaga ketersediaan batubara dalam negeri. Tapi di sisi lain, skema ini dapat menambah beban baru untuk produsen batubara yang dominan ekspor.
Investment Analyst
Stockbit, Hendriko Gani menyoroti, pembentukan MIP menjadi katalis positif bagi emiten yang banyak menjual ke pasar domestik seperti PTBA. Sebab, emiten kategori ini berpotensi mengalami kenaikan harga jual rata-rata setelah mengalami penyesuaian pasca subsidi dari MIP.
Konsumsi Tabungan Terus Meningkat, Tekan Pertumbuhan Simpanan
Laju pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan semakin melambat. Padahal, kredit tetap konsisten tumbuh dua digit hingga Agustus 2024. Ini pertanda likuiditas perbankan masih mengetat. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menunjukkan simpanan perbankan per Agustus hanya tumbuh 7% secara tahunan. Ini melambat dari Juli yang tumbuh 7,7%. Tren perlambatan terjadi setelah mencapai puncak pertumbuhan di Mei sebesar 8,5%. Jika dirinci, giro tumbuh 10,3% secara tahunan, tabungan meningkat 6,1% dan deposito naik 5%. Perlambatan pertumbuhan simpanan tidak hanya terjadi pada bank kecil dan menengah, tapi juga di bank-bank besar. DPK kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 hanya tumbuh 7,7% pada Agustus. Pertumbuhan melambat sejak mencapai pertumbuhan 11,1% di Mei. SVP Retail Deposit Products and Solution Bank Mandiri Evi Dempowati membenarkan, laju DPK mengalami perlambatan. Namun, ia melihat perlambatan masih dalam level wajar.
Sementara, Direktur
Distribution & Funding
BTN Jasmin menyebut ada perlambatan simpanan kelas menengah ke bawah di BTN, akibat turunnya daya beli masyarakat. DPK BTN per Agustus tercatat sebesar Rp 373,8 triliun. Angka ini tumbuh 16,4% secara tahunan, tapi secara bulanan kontraksi sebesar 0,21%.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkap beberapa faktor penyebab perlambatan DPK. Pertama, berlanjutnya fenomena makan tabungan dari masyarakat kelas menengah. Kedua, pendapatan masyarakat diperkirakan mengalami penurunan karena perlambatan ekonomi atau memburuknya kondisi di sektor-sektor tertentu. Ketiga, masyarakat mulai mengalihkan dananya dari produk bank ke instrumen investasi lain yang memberi imbal hasil lebih tinggi.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









