Ekonomi
( 40460 )Pelaku Usaha Berharap Kabinet Baru Bisa Mengatasi Perekonomian yang Lemah
OJK Menyebut Dua UUS Melakukan Spin Off
Hartono Bersaudara di Balik Sepak Terjang Aplikasi BliBli
Politik Balas Budi Kabinet Prabowo
Jejaring Bisnis Ikan Anak Menteri
Kabinet Prabowo Kabinet Gembul
Kekhawatiran pada Kinerja Investasi
Melalui Menteri Investasi Rosan Roeslani, menghadapi tantangan dalam mengakselerasi kinerja investasi, terutama di sektor manufaktur yang mengalami kontraksi. Meskipun realisasi investasi langsung pada kuartal III/2024 tercatat tumbuh 15,24% dibandingkan tahun lalu, pertumbuhan ini lebih lambat dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama pada penanaman modal dalam negeri.
Rosan menyatakan bahwa pertumbuhan tersebut tetap menunjukkan ketangguhan di tengah tantangan, didorong oleh sektor penghiliran, yang memanfaatkan potensi bahan baku seperti nikel dan bauksit. Sementara itu, Sekjen HIPMI Anggawira mencatat bahwa investor mulai beralih ke sektor non-manufaktur seperti infrastruktur dan energi terbarukan yang lebih stabil.
Namun, ada keprihatinan bahwa perlambatan di sektor manufaktur dapat mengurangi daya tarik investasi dalam jangka panjang. Untuk mencapai target investasi langsung yang ambisius pada 2025, beberapa langkah strategis perlu diambil, termasuk diversifikasi sektor dan perbaikan regulasi serta perizinan.
Percepatan Ekonomi Menjadi Misi Utama
Cita-cita Prabowo Subianto untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8% atau bahkan 9% dianggap ambisius, terutama mengingat pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun terakhir hanya berkisar 5%. Meski demikian, peluang untuk mencapai target tersebut tetap ada. Prabowo optimistis dan menggarisbawahi pentingnya kebijakan strategis untuk mendukung pertumbuhan tersebut.
Rosan Roeslani, sebagai Menteri Investasi, menekankan pentingnya menarik investasi berorientasi ekspor dan berkelanjutan, yang diharapkan dapat mengubah struktur ekonomi yang terlalu bergantung pada konsumsi rumah tangga. Selain itu, Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, berencana untuk mengoptimalkan produksi minyak guna mendongkrak kontribusi sektor energi terhadap penerimaan negara.
Dradjad Wibowo menyoroti bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran akan memerlukan tambahan anggaran sekitar Rp300 triliun untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih mendekati 6%, sebagai langkah awal menuju 8%. Namun, tantangan eksternal dan kebutuhan untuk memastikan bahwa kebijakan tidak bertentangan dengan kepentingan rakyat akan menjadi faktor kunci dalam mewujudkan cita-cita tersebut.
Optimisme Pasar dengan Menteri Ekonomi Prabowo-Gibran
Sentimen positif terkait calon menteri ekonomi yang dipanggil oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto tercermin dari kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menunjukkan penguatan sejak pemanggilan tersebut. Pada 14 dan 15 Oktober 2024, IHSG mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0,52% dan 0,89%, dipicu oleh respons positif pasar terhadap nama-nama menteri seperti Sri Mulyani.
Prabowo, yang memanggil calon menteri di kediamannya, berusaha memastikan transisi pemerintahan yang mulus dengan mempertahankan sejumlah menteri dari kabinet Jokowi. Analis menyebutkan bahwa pasar optimis terhadap potensi pertumbuhan ekonomi nasional meskipun masih ada ketidakpastian. Beberapa ekonom menekankan pentingnya keberlanjutan dalam kebijakan dan stabilitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Presiden Jokowi memberikan dukungan terhadap langkah Prabowo untuk mengajak menteri-menteri sebelumnya, menegaskan pentingnya keberlanjutan dalam pemerintahan. Prabowo sendiri mengungkapkan kepuasan terhadap calon menteri yang diundangnya, yang dianggap dapat bekerja sama dalam menghadapi tantangan global yang penuh ketidakpastian.
Pemerintah Pertahankan Surplus Perdagangan
Kinerja perdagangan Indonesia pada September 2024 mencatat surplus sebesar US$3,26 miliar, yang merupakan surplus ke-53 secara berturut-turut. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pentingnya mempertahankan surplus ini, dengan menekankan bahwa ekspor harus dijaga dan impor disesuaikan untuk mendukung kegiatan produksi.
Amalia Adininggar Widyasanti, Plt. Kepala BPS, mengungkapkan bahwa surplus ini didorong oleh ekspor yang mencapai US$22,08 miliar, sementara impor turun menjadi US$18,82 miliar. Komoditas utama yang menyumbang surplus antara lain bahan bakar mineral, lemak, dan minyak hewan nabati, dengan Amerika Serikat, India, dan Filipina sebagai tiga negara penyumbang surplus terbesar.
Meskipun surplus meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, angka ini lebih rendah dibandingkan September 2023. Di sisi lain, Indonesia juga mengalami defisit perdagangan dengan China, Australia, dan Thailand. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa pemerintah perlu terus berupaya menjaga dan meningkatkan kinerja perdagangan untuk mencapai target ekonomi yang lebih baik.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









