Ekonomi
( 40447 )AI dan Digitalisasi Jadi Pendorong Pertumbuhan
Sektor telekomunikasi diproyeksi bisa memulihkan pertumbuhan kinerja pada tahun depan dengan sejumlah strategi bisnis. Ini termasuk fokus ke pita lebar tetap atau kerap dikenal dengan fixed broadband (BB). Analis BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margonis dalam riset 2 Desember 2024 mengatakan, para emiten telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Indosat Tbk (ISAT) dapat memanfaatkan pasar captive dan infrastruktur yang ada untuk mengamankan trafik pengguna. Dengan strategi ini Niko bilang para emiten tersebut dapat menghasilkan pendapatan tambahan, dan memperoleh kenaikan pendapatan hingga 6% secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara terkait penggabungan EXCL dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) diharapkan menciptakan situasi oligopoli yang dapat mendukung pertumbuhan ARPU seluler yang lebih baik. Sebab persaingan di sektor seluler menjadi lebih sempit. Niko memperkirakan penggunaan artificial intelligence (AI) juga akan semakin signifikan, sehingga memicu efek berantai seiring meningkatnya kesadaran terhadap produktivitas software as a service (SaaS) dari tahun anggaran 2024 hingga 2025. Saat ini ISAT mengambil posisi terdepan dalam teknologi AI. Emiten ini juga berkomitmen mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 2 miliar- US$ 3 miliar melalui kemitraan dengan BDx.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, tren kenaikan produk
fixed broadband
dan margin yang tinggi menjadi katalis pendorong kinerja di sektor ini.
Analis Ciptadana Sekuritas, Gani, dalam riset 19 November 2024 menjelaskan, sektor ini telah menghadapi tahun yang penuh tantangan pada 2024 dengan tren pendapatan seluler yang lemah di seluruh industri. "Karena daya beli yang lemah, dan persaingan yang lebih ketat," jelas Gani.
Namun tahun depan diperkirakan sektor ini bakal pulih dengan sejumlah strategi. TLKM misalnya, menaikkan tarif Telkomsel di T-Lite dengan peningkatan tarif rata-rata 5%-6%. EXCL dan ISAT juga telah menaikkan harga di awal September sekitar 5%.
Gani, Sukarno, dan Niko kompak mempertahankan peringkat
overweight
untuk sektor ini. Gani merekomendasikan ISAT sebagai pilihan utama dengan target harga Rp 2.240 per saham. Ia juga merekomendasikan EXCL dengan target harga Rp 2.150.
Bank-Bank Kecil Berhati-Hati Merancang Ekspansi
Tantangan perbankan dalam menyalurkan kredit di 2025 cukup berat. Tekanan likuiditas yang masih ketat hingga saat ini diprediksi bisa berlanjut ke tahun depan dan bisa membuat ekspansi kredit tersendat. Di sisi lain, laju pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) kian seret. Persaingan perebutan dana masyarakat dengan pemerintah juga kemungkinan bakal sengit. Tantangan dalam penyaluran kredit akan lebih dirasakan bank-bank kecil. Bank kecil harus menawarkan bunga lebih tinggi untuk bisa bersaing dengan bank-bank yang lebih besar. Akibatnya, biaya dana bakal meningkat. Sejumlah bank kecil mengakui tantangan tersebut. Oleh karena itu, target pertumbuhan yang mereka pasang tahun depan berada di bawah proyeksi Bank Indonesia (BI). Bank Oke Indonesia misalnya, hanya menargetkan kredit tumbuh sebesar 10% tahun depan. Bank ini melihat peluang permintaan kredit bakal besar. Namun bank dihadapkan dengan tantangan likuiditas untuk memenuhi permintaan.
"Tantangan likuiditas bisa saja terjadi, terutama jika dipengaruhi kondisi global," kata Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke, Jumat (6/12).
Kendati begitu, para bankir menilai bukan berarti ruang pertumbuhan kredit bagi bank kecil sama sekali tertutup. Efdinal menilai, pertumbuhan permintaan kredit tahun depan terutama akan datang dari sektor infrastruktur, energi baru dan terbarukan, manufakturdan pariwisata.
Untuk menghadapi tantangan penyaluran kredit, Bank Oke akan melakukan diversifikasi produk dan portofolio. Bank dengan kode saham DNAR ini juga akan lebih fokus ke sektor yang memiliki risiko lebih rendah agar kualitas aset tetap terjaga, serta fokus memperkuat penyaluran kredit ke UMKM.
Bank BJB juga melihat potensi permintaan kredit tahun depan masih besar. Kendati begitu, bank daerah ini memilih memasang target ekspansi konservatif di tengah tantangan likuiditas. Bank ini menargetkan penyaluran kredit tumbuh 7%-8%.
Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi yakin Bank BJB bisa menjaga pertumbuhan kinerja. Alasannya, bank ini memiliki
captive market
yang kuat, yakni ekosistem keuangan daerah.
Komitmen Mengakhiri Pandemi AIDS
Para pemimpin dunia berkomitmen mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan pada 2030. Untuk menuju eliminasi HIV-AIDS, target pengendalian penyakit ini mesti tercapai. Itu meliputi 95 % orang dengan HIV (ODHIV) tahu status HIV mereka, 95 % ODHIV mendapat terapi antiretroviral (ARV), dan 95 % ODHIV yang mendapat ARV mengalami supresi virus. Dunia berperang melawan HIV (human immunodeficiency virus), virus penyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga rentan terinfeksi penyakit lain. Infeksi HIV bisa menjadi AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) yang berakibat fatal. WHO menyebut angka HIV tinggi pada populasi kunci, di antaranya pengguna narkoba suntik, transpuan, pekerja seks, dan pria yang berhubungan seks dengan sesama lelaki.
Menurut Direktur Eksekutif Badan PBB untuk Penanggulangan AIDS (UNAIDS) Winnie Byanyima di laman UNAIDS, meski penanggulangan HIV membaik, pelanggaran HAM menghalangi dunia mengakhiri AIDS. Masih terjadi kriminalisasi karena jati diri mereka serta sejumlah faktor penghambat lain. Akibatnya, mereka sulit mengakses layanan HIV demi menyelamatkan jiwa dan mengakhiri pandemi AIDS. Kuatnya stigma di masyarakat pada perilaku berisiko oleh populasi kunci membuat populasi ini menghindari layanan kesehatan terkait HIV-AIDS. Data UNAIDS mencatat, dari 39,9 juta orang dengan HIV, 9,3 juta orang belum mengakses pengobatan. Pada 2023, sekitar 630.000 orang meninggal karena penyakit terkait AIDS dan 1,3 juta orang di seluruh dunia baru tertular HIV.
Di Indonesia, dalam rentang Januari-September 2024, Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 35.000 kasus baru HIVdan 12.000 kasus baru AIDS di Indonesia. Dari jumlah kasus yang ditemukan, hanya 64 % yang menerima terapi antiretroviral. Undang-undang dan kebijakan yang mengkriminalisasi kelompok rentan menjauhkan mereka dari bantuan guna mencegah penularan HIV, menjalani tes dan pengobatan HIV. Tak heran, prevalensi HIV pada populasi kunci amat tinggi. Stigma dan diskriminasi jadi tantangan terbesar pengen- dalian HIV-AIDS. Karena itu, pendekatan berbasis hak yang menghapus stigma dan diskriminasi mendesak diterapkan untuk memenuhi janji mengakhiri pandemi AIDS. (Yoga)
Daya Tarik Investasi Jatim Terus Meningkatkan Situasi Kondusif
Prospek Cerah Industri Asuransi di Tahun-Tahun Mendatang
Aksi Garuda Menghadapi Nataru
Dampak Kemenangan Trump dan Bagi Perekonomian Indonesia Kedepan
Momentum Kebangkitan Saham BUMN
Meskipun kinerja saham sejumlah emiten BUMN mengalami penurunan sepanjang tahun, ada potensi kebangkitan yang dapat terjadi hingga akhir tahun, didorong oleh sejumlah katalis positif. Sentimen yang dapat menjadi momentum bagi saham BUMN antara lain penggunaan sisa anggaran lebih (SAL) dalam APBN untuk pinjaman BUMN dan pembentukan Danantara, yang diharapkan dapat meningkatkan likuiditas BUMN. Sekretaris Perusahaan WIKA, Mahendra Vijaya, dan Associate Director BUMN Research UI, Toto Pranoto, mendukung kebijakan ini, namun menekankan pentingnya penggunaan SAL untuk kebutuhan modal kerja jangka pendek.
Tantangan tetap ada, terutama dengan arus modal asing yang belum stabil dan kinerja IHSG yang masih tertinggal dibandingkan indeks saham Asia Tenggara. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo, serta ekonom Aviliani menilai bahwa sentimen global dan ketidakpastian geopolitik masih berpengaruh. Namun, dengan adanya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), kehadiran infrastruktur publik dan jaminan investasi dapat menarik lebih banyak investor.
Pada akhirnya, momentum akhir tahun seperti Santa Claus rally dan window dressing diprediksi akan membantu meningkatkan harga saham BUMN besar. Analis Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan untuk membeli saham BUMN seperti BNI, BBRI, BMRI, TLKM, PGEO, PGAS, dan ANTM, yang diprediksi dapat menunjukkan pertumbuhan seiring dengan kebijakan moneter pro-growth dan pertumbuhan kredit.
Emas Tetap Primadona di Tengah Ketidakpastian
Pendanaan 3 Juta Rumah: Optimalkan Sumber Beragam
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









