Ekonomi
( 40460 )Corona Makin Ganas, Petani Sawit Sumut Makin Kaya
Sikap Malaysia yang menyatakan darurat corona justru menjadi berkah bagi petani sawit di Indonesia, khususnya Sumut saat ini. Dari acuan harga TBS di tingkat petani hingga 12 Januari, tercatat kenaikan harga hingga mendekati Rp 2.300 per Kg. Padahal harga tersebut dipantau di Desember masih di posisi Rp 2.100 per Kg. Artinya memang petani sawit kita lagi berbahagia saat ini.
Petani sawit tetap harus bersyukur dengan kenaikan harga tersebut. Karena harga TBS saat ini sudah mendekati 100% lebih tinggi dibandingkan dengan harga BEP (harga modal) di tingkat petani yang berkisar 1.200 rupiah per Kg.
Harga Cabai Melonjak Hampir di Seluruh Indonesia
Harga cabai terpantau melonjak nyaris di semua daerah. Pusat Informasi Harga Pangan Nasional mencatat, harga cabai rawit merah rata-rata di 19 provinsi sempat tembus hingga Rp 79.250/kg. Bahkan, di beberapa daerah seperti Bandung, Jawa Barat harganya bisa mencapai Rp 100 ribu/kg.
Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Prishasto Setyanto ada beberapa faktor yang membuat harga cabai rawit merah makin pedas. Pertama, karena sedang musim hujan yang terdampak fenomena La Nina. Kedua, dipengaruhi oleh serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang sedang meningkat. Ketiga, lonjakan harga cabai terpengaruh oleh libur panjang Natal dan Tahun Baru.
UMKM RI Diajak Buka Lapak di Arab Saudi
Pemerintah sedang berupaya menggenjot ekspor non migas ke Arab Saudi dengan mengajak UMKM berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan para Jemaah Haji dan Umroh Indonesia, misalnya dengan mengekspor produk makanan hingga pakaian.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, dengan mendorong ekspor produk UMKM ke Arab Saudi, kesempatan untuk UMKM menjadi pemain global sangatlah besar. Apalagi, jumlah Jemaah Haji dan Umroh Indonesia sangatlah besar.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan, pada tahun 2019 saja Jemaah Haji Indonesia tembus 221.000 orang, dan Jemaah Umroh sebanyak 1 juta orang per tahun.
Khususnya untuk kegiatan Haji, Kemenag mencatat kebutuhan makan Jemaah Indonesia sangatlah besar. Oleh sebab itu, menurutnya hal ini menjadi peluang bagi pelaku UMKM memasok kebutuhan Jemaah Haji Indonesia ke Arab Saudi.
Kementan Naikkan HET Pupuk Subsidi untuk Meminimalkan Penyimpangan
Sebagaimana diketahui, baru-baru ini terbit Peraturan Menteri Pertanian (Permentan} 49/2020 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2021.
Harga pupuk urea yang semula Rp 1.800/kg, naik Rp 450 menjadi Rp 2.250/kg, lalu pupuk SP-36 dari HET Rp 2.000/kg naik Rp 400 sehingga menjadi Rp 2.400/kg.
Menurutnya, ada usulan dari Ketua KTNA (Kelompok Tani Nelayan Andalan) kepada Menteri Keuangan tanggal 20 Maret 2020 yang meminta pemerintah untuk menaikkan HET antara Rp 300-Rp 500 per Kg untuk mengatasi kekurangan pupuk waktu itu di 2020.
Kenaikan HET pupuk bersubsidi pun dinilai penting demi meminimalkan kesenjangan harga antara pupuk bersubsidi dan non subsidi untuk meminimalkan penyimpangan.
Sequoia Capital Pimpin Pendanaan Seri A untuk BukuKas US$ 10 Juta
BukuKas, platform dan aplikasi digital untuk
digitalisasi usaha mikro, kecil,
dan menengah (UMKM) di Indonesia, memperoleh pendanaan
Seri A sebesar US$ 10 juta yang
dipimpin oleh Sequoia Capital India. Dengan putaran pendanaan
itu, BukuKas telah menghimpun
dana senilai total US$ 22 juta.
CEO dan Co-Founder BukuKas Krishnan Menon mengatakan, investor-investor yang
sudah ada sebelumnya, yaitu
Saison Capital, January Capital,
Founderbank Capital, Cambium
Grove, Endeavor Catalyst, dan
Amrish Rau juga turut berpartisipasi dalam putaran pendanaan
kali ini.
BukuKas juga akan memperluas jangkauan layanan yang
ditawarkan kepada pedagangpedagang agar sejalan dengan
visi perusahaan untuk menyediakan software yang menyeluruh
bagi pelaku usaha kecil dan
menengah.
Adapun BukuKas diluncurkan pada Desember 2019 dan
diinkubasi oleh Whiteboard
Capital. Sejak itu, BukuKas
terus mengusung visi untuk
memberdayakan bisnis kecil
dalam tingkat visibilitas, kontrol,
dan kenyamanan serba ada yang
belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam kurun waktu hanya
satu tahun sejak diluncurkan,
BukuKas telah menjadi platform terdepan dalam mengelola
keuangan dan bisnis para pelaku
UMKM di Indonesia.
Aksi strategis perusahaan
dalam mengakuisisi aplikasi
Catatan Keuangan Harian juga
membuat BukuKas lebih gesit
lagi dalam memperluas pangsa
pasar sekaligus memperkuat
posisi kepemimpinan mereka
di Indonesia. Catatan Keuangan
Harian hingga saat ini memiliki
300 ribu pengguna aktif bulanan
(MAU). Dalam hal ketersediaan
di pasar aplikasi, BukuKas juga
telah hadir di Apple AppStore
sejak bulan September 2020 dan
berhasil masuk dalam daftar 10
besar aplikasi bisnis dalam dua
bulan berturut-turut.
Meskipun aplikasi pembukuan
digital merupakan sektor yang
tergolong kompetitif, BukuKas
telah meraih posisi kepemimpinan yang kuat di industri ini
hanya dalam waktu 12 bulan
sejak diluncurkan, baik dalam
skala pengguna maupun engagement. Hal itu didorong oleh
kesederhanaan aplikasi yang
memungkinkan pedagang untuk
memantau arus kas, keuntungan,
dan kredit mereka setiap hari
dengan mudah.
Managing Director Sequoia
Capital (India) Singapore Pte
Ltd Abheek Anand mengatakan,
bisnis kecil di seluruh dunia
beradaptasi secara cepat dengan
perangkat lunak untuk mendigitalisasikan bisnis mereka. BukuKas sebagai penggerak awal
dalam bidang ini di Indonesia,
telah melihat daya tarik pelanggan yang luar biasa dalam 12
bulan pertama sejak diluncurkan.
COO dan Co-Founder BukuKas
Lorenzo Peracchione mengungkapkan, pihaknya sangat senang
dengan adopsi besar-besaran
BukuKas oleh pedagang dan
pengecer di seluruh Indonesia.
Adopsi Ini semakin dipercepat
dengan berfokus kepada pengguna dan kemampuan eksekusi
guna memastikan bahwa kami
dapat tumbuh dengan pesat.
Peracchione menambahkan,
BukuKas akan mengeluarkan
fitur integrasi pembayaran digital
dalam aplikasi di Januari. Pedagang akan dapat mengumpulkan
uang dari pelanggan mereka
menggunakan berbagai opsi
pembayaran dengan cara yang
mudah
Prospek Kinerja 2021, Emiten Farmasi Tersuntik Vaksin
Segera berjalannya program vaksinasi Covid-19 secara nasional menjadi berkah bagi sejumlah emiten farmasi. Tak ayal, meski valuasi sudah mahal, saham-saham emiten farmasi masih menjadi incaran investor. Berdasarkan data Bloomberg, empat saham emiten farmasi melesat lebih dari 50% sepanjang tahun berjalan 2021. Saham PT Indofarma Tbk. (INAF) memimpin penguatan setelah meroket 73,08% secara year to date. Menyusul INAF, saham PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), PT Phapros Tbk. (PEHA), dan PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA) melesat masing-masing 64,12%, 55,75%, dan 51,79% sepanjang 4-12 Januari 2021. Melambungnya harga saham farmasi itu tidak terlepas dari perkembangan vaksin Covid-19 di Tanah Air. Seperti diberitakan Bisnis, vaksin Covid-19 dari Sinovac telah mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Izin tersebut menjadi lampu hijau bergulirnya program vaksinasi nasional yang akan dimulai oleh Presiden Joko Widodo yang dijadwalkan untuk mendapatkan suntikan vaksin CoronaVac pada Rabu (13/1). Dari kalangan emiten,
Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto mengatakan perseroan bersama Kimia Farma mendapat penugasan untuk meneruskan pengiriman vaksin dari PT Bio Farma (Persero) ke Dinas Kesehatan di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Arief menambahkan INAF juga menyediakan alat kesehatan lain untuk pendukung upaya vaksinasi, seperti jarum suntik, alkohol, hingga alat pelindung diri (APD).
Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno menuturkan KAEF tidak hanya terlibat untuk mendistribusikan vaksin, tetapi juga melanjutkan produksi obat-obatan untuk terapi Covid-19 yang didistribusikan oleh PT Kimia Farma Trading & Distribution.
Sementara itu, Direktur Utama PT Kalbe Farma Tbk. Vidjongtius menuturkan perseroan tengah menyiapkan uji klinis fase 2 calon vaksin yang diproduksi oleh perusahaan Korea Selatan, Genexine.
Analis PT Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami mengatakan price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) sejumlah saham farmasi sudah melambung tinggi dan di luar batas wajar. Berdasarkan data Bloomberg, INAF memiliki PER di level 909,63 kali dan IRRA diposisi 178,29 kali. Adapun, PBV saham KAEF dan PYFA mencapai 5,7 kali.
Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menyebut ada risiko gap antara ekspektasi yang dimiliki investor dengan realisasi kinerja keuangan emiten farmasi. Kendati demikian, potensi pertumbuhan kinerja KAEF, INAF, dan IRRA diakui cukup besar.
#R
Penjualan Mobil Turun 32%
Penjualan mobil penumpang dan niaga ringan di Sulsel selama 2020 terkerek cukup dalam. Data Police Register (Polreg) selama 2020, rerata penjualan mobil selama setahun mengalami penurunan hingga 32 persen.
Secara tahunan, penjualan rerata mobil penumpang dan niaga ringan pada 2020 di angka 2.144 unit. Angka itu menurun 32 persen bila dibandingkan pada 2019 lalu di angka 3.176 unit.
Kepala Bidang (Kabid) Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bapenda Sulsel, Dharmayani Mansyur tak menampik secara umum penjualan mobil penumpang dan niaga ringan memang mengalami penurunan.
Untuk segmen kendaraan niaga tipe Pickup (PU) Low, penjualan 4.252 unit atau 16,52 persen dari total penjualan. Sementara segmen Multi Purpose Vehicle (MPV) Low 3.996 unit atau 15,52 persen dari total penjualan.
Lalu Segmen Sport Utility Vehicle (SUV) Medium terjual 3.848 unit atau 14,95 persen dari total penjualan. Sedangkan pada segmen SUV High terjual 999 unit atau 3,88 persen dari total penjualan.
Keuangan Negara : Beban Berat untu Mengawali 2021
Kinerja APBN 2020 baru akan diumumkan pertengahan Januari 2021. Namun, Kementerian Keuangan memproyeksikan pendapatan negara 2020 turun 15 persen, lebih dalam dari perkiraan yang 10 persen. Penerimaan pajak per 30 November baru Rp 925,34 triliun, turun 18,55 persen dari periode sama tahun 2019, dan dampaknya signifikan karena kontribusinya 70 persen dari total pendapatan negara.
Merosotnya pendapatan membuat pemerintah tak punya banyak pilihan untuk membiayai penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi selain dengan berutang Akibatnya, rasio utang melonjak dari 29,8 persen pada Desember 2019 jadi 38.13 persen pada November 2020.
Bank Dunia merekomendasikan beberapa langkah reformasi pendapatan, Salah satunya meningkatkan Pajak Penghasilan (PPh) orang-orang berpenghasilan tinggi serta menaikkan cukai produk yang berdampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan, seperti tembakau, bahan bakar fosil, kantong plastik sekali pakai, dan mengurangi subsidi energi.
Pemerintah juga diminta mengoptimalkan penerimaan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) produk digital luar negeri. Sejauh ini tercatat 51 perusahaan asing yang sudah memungut PPN, di antaranya Netflix, Spotify, Microsoft, Linkedin, Skype, Zoom, dan Tik-Tok.
Harga Rekor, Permintaan Batubara China Menggunung
Permintaan batubara dari China mendorong batubara menyentuh rekor harga tertinggi sejak Mei 2019. Secara fundamental, analis memprediksi penguatan harga batubara akan berlanjut selama kuartal l-2021.
Senin (11/1), per pukul 16.38 WIB, harga batubara Newcastle kontrak pengiriman Maret 2021 naik 1,41% jadi USS 86,5 per metrik ton. Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, pembelian dari China masih bisa bertambah. “China masih memiliki sisa kuota impor, “ kata Wahyu, Selasa (12/1).
Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menambahkan, reformasi tambang di China juga mempengaruhi harga batubara. China mengurangi produksi batubara 50%. Padahal kebutuhan batubara di China naik, seiring pemulihan industri yang sudah lebih dulu terjadi, karena negara ini berhasil mengatasi pandemi lebih dulu dibanding negara lain. Kebutuhan batubara juga meningkat saat musim dingin.
Pertumbuhan Ekonomi 2020 : Masih Lebih Baik Meski Tumbuh Negatif
Pemerintah mengklaim meskipun pada tahun lalu mengalami pertumbuhan ekonomi negatif, namun kondisi ekonomi Indonesia masih lebih baik jika dibandingkan dengan mayoritas negara-negara di kawasan ASEAN.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Febrio Kacaribu menyebut, ekonomi Indonesia 2020 mengalami pertumbuhan ekonomi negatif di kisaran -1,7% year on year (yoy) hingga -2,2% yoy. Prediksi tersebut Ini lebih baik dibandingkan mayoritas negara ASEAN seperti Malaysia -6% yoy, Filipina -8,3% ?oy, Thailand -7,1% yoy, dan Singapura -6% yoy.
Tak hanya di tingkat ASEAN, Febrio juga mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu juga masih lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa negara G2O. Misalnya seperti Prancis yang -9,8% yoy, Jerman -6% yoy, serta India -10,3% yoy. Hanya saja, ekonomi Indonesia lebih buruk ketimbang proyeksi ekonomi China yang yang tumbuh positif 1,9% you.
World Bank dalam publikasinya yang berjudul Global Economics Prospects January 2021 sebelumnya, meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 sebesar -2,2% dan sebesar 4,4% pada tahun 2021.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









