Ekonomi
( 40460 )Harga Besi dan Baja Makin Keras Keras
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah toko besi dan baja ritel mengakui terjadi kenaikan harga jual ke hampir semua produk sejak Januari 2021. Dari hasil pengamatan Kontan ke beberapa toko, terjadi kenaikan harga besi dan baja mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per-batang.
Sumber KONTAN menjelaskan kenaikan harga di tingkat konsumen dipicu karena sejumlah hal. Pertama, harga bahan baku yang meningkat. Jika dibandingkan dengan akhir Januari 2021 kenaikan harga bahan baku saat ini sudah naik sekitar 10%.
Kemudian, pasokan besi dan baja yang terbatas seiring dengan permintaan yang meningkat. Permintaan besi dan baja meningkat karena adanya proyek-proyek yang sudah mulai berjalan. Informasi ini senada dengan penjelasan dari sejumlah produsen besi dan baja yakni PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP).
Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim mengatakan naiknya harga jual karena terjadi kenaikan harga iron ore dunia. "Harga jual mengikuti harga pasar dunia saja. Saat ini rata-rata harga jual naik sekitar 20-30%," jelasnya kepada Kontan.co.id, Senin (22/3).
Chief Strategy Officer Steel Pipe Industry of Indonesia, Johannes Edward mengakui saat ini seluruh bahan baku baik lokal maupun impor sedang mengalami kenaikan yang cukup tinggi.
"Secara umum seluruh baja mengalami kenaikan, mulai dari Hot Rolled Steel (HRC), Cold Rolled Steel (CRC), GI dan Stainless Steel. Sebenarnya kenaikan sudah mulai dirasakan sejak Agustus 2020 dan kenaikannya sangat luar biasa," jelas Johannes saat dihubungi terpisah.
Johannes mencontohkan, harga HRC di Amerika bulan Agustus 2020 masih sekitar US$ 500 per ton, adapun harganya saat ini sudah mencapai sekitar US$ 1.200 per-ton. Strategi ISSP untuk menyesuaikan kenaikan harga bahan baku ini dengan mengombinasikan sumber bahan bakunya.
(Oleh - HR1)Powell Sebut Kripto Belum Terlalu Bermanfaat
WASHINGTON – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyebut mata uang kripto tetap merupakan penyimpan valuasi yang tidak stabil. Sehingga bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut tidak akan buru-buru memperkenalkan kompetitornya. “(Kripto) sangat volatile sehingga belum terlalu bermanfaat untuk menyimpan valuasi dan tidak dijamin oleh apapun,” ujar Powell, dalam diskusi panel virtual tentang perbankan digital yang digelar oleh Bank for International Settlements (BIS), seperti dilansir CNBC, Senin (22/3).
Powell berbicara pada saat harga bitcoin, selaku mata uang kripto terbesar, turun di Coinbase tapi masih diperdagangkan di kisaran US$ 57.000 per koinnya. Harga mata uang kripto tersebut melonjak dalam tujuh bulan terakhir. Setelah transaksinya meningkat dan semakin diterima oleh industri finansial global. Selama beberapa tahun terakhir, The Fed mengembangkan sistem pembayaran sendiri. Yang dapat memfasilitasi transfer uang lebih cepat. Tapi produk finalnya kemungkinan baru keluar dalam dua tahun ke depan. Menurut Powell, Kongres kemungkinan harus mengesahkan dulu legislasi terkait sebelum The Fed dapat mengembangkan mata uang digital sendiri. Walau begitu, Powell menekankan bahwa pandemi Covid-19 telah menunjukkan pentingnya pengembangan sistem pembayaran yang lebih baik. Agar dana tunai dapat lebih cepat sampai kepada semua yang membutuhkan
(Oleh - HR1)
Kebangkitan Mata Uang Crypto
Mata uang digital dalam bentuk cryptocurrency untuk pertama kalinya muncul pada tahun 2009, setahun setelah dunia mengalami krisis keuangan global yang terjadi tahun 2008. Dunia mengenal sosok Satoshi Nakamoto sebagai orang yang menciptakan mata uang crypto pertama kali yang kemudian dikenal dengan nama bitcoin. Kemunculan bitcoin tersebut mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, mengingat setelah krisis keuangan global 2008 terjadi, sebagian investor menginginkan mata uang baru di luar mata uang konvensional yang ada. Para investor menginginkan mata uang yang berbasis digital, mudah untuk di gunakan dan diperdagangkan secara internasional. Selain itu, mereka juga mengharapkan munculnya mata uang baru yang terlepas dari kedaulatan suatu negara, sehingga tidak memiliki ikatan dengan pemerintahan manapun untuk mengendalikan mata uang tersebut. Mereka juga menginginkan adanya alternative mata uang lain yang tidak terpengaruh dengan nilai inflasi, sehingga tidak perlu dilakukan lindung nilai (hedging).
Dampaknya adalah munculnya berbagai mata uang crypto lainnya selain bitocin, seperti ethereum, neo, stellar, cardano, dan lain-lain. Pada awal kemunculannya tahun 2010, 1 bitcoin diperdagangkan dengan nilai kurang dari US$ 1, yaitu sebesar US$ 0,0008 saja. Namun dalam perkembangannya mengalami volatilitas yang cukup tinggi, sehingga tidak butuh waktu lama menyentuh angka US$ 1.000 pada awal tahun 2017. Hanya dalam waktu kurang dari 8 tahun, seseorang yang memiliki 1 bitcoin mampu meraup keuntung an 1.000%.
Penyebab Kenaikan Nilai Bitcoin
Ada beberapa faktor yang ditengarai menjadi pemicu naiknya nilai uang crypto yang begitu pesat dalam beberapa waktu yang lalu. Pertama, institusi keuangan dan investasi internasional seperti per usahaan hedging, investment banking dan lain-lain mulai membeli bitcoin sebagai salah jenis aset investasi dalam portofolio mereka.
Kedua, berbagai perusahaan multinasional global di luar lembaga keuangan juga menganggap bahwa mata uang crypto tersebut memiliki nilai yang terus tumbuh dan berkembang. Oleh sebab itu sesuai untuk dijadikan sebagai salah satu instrumen investasi dari perusahaan mereka. Produsen mobil listrik terbesar di dunia, Tesla, telah membeli uang bitcoin senilai US$ 1,5 miliar atau setara dengan 8% dari uang cash yang mereka miliki. Kemudian, Microstrategy, sebuah produsen software terkemuka di dunia juga telah menghabiskan US$ 2,1 miliar untuk membeli bitcoin sebagai bagian dari investasi mereka.
Ketiga, munculnya mata uang crypto ternyata telah menjadi test case bagi bagi bank sentral di berbagai negara, yang semula wait and see dan sekarang sudah bisa melihat hasilnya ternyata perkembangannya sangat pesat. Perkembangan mata uang crypto yang sangat pesat tersebut, telah mendorong bank-bank sentral di berbagai negara untuk melakukan kajian dan juga uji coba mata uang bank sentral yang berbasis digital atau central bank digital currency (CBDC).
(Oleh - HR1)
Disrupsi Pasar Daging, Sapi Lokal Terseruduk Kerbau Impor
Bisnis, JAKARTA — Kebijakan impor daging kerbau yang rutin dilakukan pemerintah dinilai telah mendisrupsi pangsa pasar daging sapi segar produksi lokal, sekaligus gagal menurunkan harga komoditas sumber protein hewani di Tanah Air.
Ketua Komite Tetap Industri Peternakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Yudi Guntara Noor menjelaskan daging kerbau beku impor kebanyakan tidak dijual dalam bentuk beku di pasar tradisional. Alih-alih, komoditas tersebut kerap diperdagangkan sebagai ‘daging segar’ setelah dicampur dengan daging sapi segar produksi lokal.“Kalau di pasar becek, [daging kerbau beku] ini dijual sebagai daging segar. Mereka [pedagang] mencairkannya, lalu mencampurnya dengan daging sapi,” kata Yudi, Senin (22/3).
por cenderung lebih murah dibandingkan dengan daging sapi segar, yakni di kisaran Rp80.000 per kg, harga pasaran daging secara umum tetap berada di atas Rp100.000 per kg lantaran fungsi daging kerbau impor untuk stabilisasi harga gagal dijalankan.“Kalau ingin [harga daging yang] terjangkau, konsumen seharusnya dapat membeli yang frozen. Namun, [daging beku] ini tidak ada di pasar [tradisional]. Semua [daging beku impor] dicampur oleh pedagang [dengan daging sapi segar] dan pemerintah atas nama stabilisasi [harga] membiarkan [praktik] ini terjadi. Karena itu, kalau kita lihat, bahan pokok strategis ‘stabil’ terus harganya. Namun, itu ‘stabil tinggi’ untuk daging sapi segar,” jelasnya.
SEGMEN PEDAGANG
Dengan mengutip survei Bank Indone-sia DKI Jakarta, Yudi mengatakan daging kerbau impor juga memicu pergeseran segmentasi pedagang daging. Pada 2019, hanya 19% dari pedagang daging yang murni menjual daging sapi lokal. Sementara itu, 42% di antaranya menjual daging sapi lokal dan daging kerbau impor, serta 34% menjual kombinasi daging sapi lokal dan impor ditambah dengan daging kerbau impor.
Adapun, 55% pedagang memilih menjual daging kerbau impor atas pertimbangan margin keuntungan yang lebih besar.Sisi lain, kehadiran daging kerbau beku impor yang tak berimbas pada harga da-ging secara umum juga berpengaruh ke peta pasar daging nasional. Studi yang dilakukan oleh Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) membukti-kan pasar daging sapi segar lokal mulai menunjukkan tren penurunan saat keran impor daging kerbau India dibuka.
Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf mengamini kehadiran daging kerbau impor tidak memberikan efek apa-apa terhadap penurunan harga daging nasional. Justru, daging kerbau impor dinilainya berdampak langsung terhadap merosotnya produktivitas sapi lokal.
Tren produksi sapi lokal tercatat hanya bergerak 1,30% per tahun dalam kurun 2013 sampai 2018. Sebaliknya, pertumbuhan konsumsi menembus 6,40% per tahun dan impor naik 16,20% per tahun. Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Veri Anggrijono memastikan pengawasan terhadap pasar daging sapi terus dilakukan demi memastikan konsumen memperoleh informasi dan akses pangan yang tepat.
(Oleh - HR1)
Kinerja Sektoral, Berkah Ramadhan Emiten Konsumer & Unggas
Kinerja emiten sektor konsumer dan sektor unggas digadang-gadang akan bersinar menjelang Ramadan 2021. Kurang sebulan menjelang bergulirnya Ramadan, emiten-emiten barang konsumsi dan unggas diproyeksi bakal mendulang pertumbuhan pendapatan.Head of Equity Trading MNC Sekuritas Frankie Wijoyo Prasetyo memprediksi tingkat konsumsi masyarakat pada tahun ini lebih baik dibandingkan dengan Ramadan periode 2020. Senada, Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai konsumer serta unggas sebagai dua sektor yang bakal terlihat pertumbuhan kinerjanya pada Ramadan tahun ini. Namun, dari pergerakan yang ada sejauh ini, kenaikan harga saham emiten-emiten unggas bisa jadi bakal tampak lebih mencolok.
Oleh sebab itu, dia lebih banyak memberikan rekomendasi buy untuk saham-saham sektor unggas. Beberapa yang William sebut menarik adalah saham PT Charoen Pokphan Indonesia Tbk. (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT Malindo Feed-mill (MAIN).Adapun, emiten produsen produk kebutuhan makanan pokok seperti produsen beras kemasan PT Buyung Poetra Sembada Tbk. (HOKI) dan daging olahan PT Estika Tata Tiara Tbk. (BEEF) menurutnya lebih menarik untuk sektor konsumer.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total produksi daging unggas pada tahun lalu, mentok di angka 3,27 juta ton. Angka ini turun tajam dari 3,49 juta ton pada 2019.Ini merupakan kali pertama produksi mengalami penurunan sejak fenomena serupa terjadi terakhir kali pada 2005, atau 15 tahun sebelumnya. Kondisi tersebut juga terefleksi dari kinerja emiten-emiten unggas yang cenderung tertekan.
(Oleh - HR1)
Duga Ada Kartel Mainkan Harga Anak Ayam, Peternak Lapor KPPU
Para peternak ayam mandiri melakukan laporan adanya indikasi perlakuan kartel dan monopoli pada penjualan bibit anak ayam (Day Old Chicken/DOC). Laporan itu disampaikan hari ini ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) Alvino Antonio menjelaskan telah terjadi kartel penentuan harga pada tingkat breeding farm alias peternakan bibit ayam. Alvino menilai bahwa harga DOC selalu sama dijual oleh berbagai breeding farm.
Masalahnya, harga yang dia sebut kartel ini sekarang sudah sangat jauh dari harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Dia menjelaskan harga acuan Kementerian Perdagangan berada di Rp 5.000-6.000 per ekor.
“Harga DOC ini jadi diatur nggak wajar, padahal acuan Kemendag kan Rp 5.000 sampai Rp 6.000, ini kenyataannya bisa sampai Rp 7.000,” papar Alvino.
Selain melaporkan adanya praktik kartel dalam penentuan harga DOC, Alvino menilai pembagian DOC dari breeding farm juga kurang adil. Menurutnya, banyak petani rakyat mandiri sepertinya tidak bisa mendapatkan bibit ayam.
Pengusaha Sebut Banyak Pedagang Jual Daging Sapi Dicampur Kerbau, Hati-hati
Pada tahun ini, pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor 80.000 ton daging kerbau dari India. Impor dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan daging dalam negeri, dan juga untuk stabilisasi harga daging sapi lokal.
Namun, menurut Ketua Komite Tetap Industri Peternakan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Yudi Guntara Noor, tujuan itu belum tercapai sepenuhnya, karena maraknya aksi pedagang pasar menjual daging sapi dan kerbau yang dicampur.
Yudi mengatakan, daging kerbau yang diimpor dari India sebagian besar tidak dijual di pasar dalam keadaan beku atau utuh tanpa dicampur. Daging tersebut dicairkan, lalu dijual dengan dicampur dengan daging sapi tanpa diketahui pembeli.
Ia menegaskan, pemerintah harus membuat segmentasi daging untuk konsumen di pasar. Dengan demikian, konsumen mengetahui dengan jelas jenis daging yang dibeli, dengan harga yang sesuai. Kondisi ini harus diperhatikan karena akan berdampak pada para peternak lokal yang tak bisa mendapatkan insentif jika para pedagang menjual daging sapi dengan dicampur.
Setiap Panen Langsung Terjual
Ketua KWT Siti Nurul Ida Susanti mengungkapkan tiga bulan sejak membudidayakan bibit pohon yang dibeli dari Gresik tersebut, anggota KWT memanen daun-daun pohon tersebut untuk dijadikan teh.
Tak hanya daun dan buahnya, Siti dan anggota KWT juga mulai membudidayakan pohon tin dalam bentuk stek batang. “Laris juga kami jual satu batang Rp 35 ribu, jadi kami memang fokus membudidayakan pohon tin secara maksimal karena potensi ekonominya yang besar, “ ujarnya.
Potensi ekonomi pohon tin juga seiring dengan manfaatnya sebagai terapi menstabil kolesterol. Para anggota KWT juga turut mengonsumsi teh daun tin setiap panen.
Fathiyah Amieni, pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sekaligus pembina KWT Kedurus Asri mengungkapkan, “Buah tin sebenarnya sudah banyak, tetapi cara penjualannya yang berbeda. Dan KWT ini punya pasar sendiri dibandingkan petani pohon tin di Sidoarjo dan Gresik,” pungkasnya.
Target Hanya 69 Ribu Ton
Chief Executive Officer PTPN XIV Ryanto Wisnuardhy mengatakan, PT Perkebunan Nusantara XIV (PTPN XIV) mencatat kebutuhan produksi gula di Provinsi Sulsel mencapai sekitar 200 ribu ton per tahun. Namun ia tak menampik angka tersebut sejauh ini belum mampu dipenuhi. Apalagi, tahun ini PTPN XIV hanya menargetkan produksi gula 69 ribu ton. Kemudian, masalah utama yang dihadapi pihaknya, jelas Ryanto adalah para petani yang lebih senang menanam komoditi lain, yakni padi dan porang karena dianggap perputarannya lebih cepat. Sedangkan tebu yang merupakan bahan baku industri gula pasir (gula kristal), setidaknya ditanam 9 bulan dulu sebelum masuk proses penggilingan.
IMF akan Revisi Target Ekonomi Global
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dana Moneter Internasional (IMF) melihat telah muncul tanda-tanda pemulihan ekonomi global yang lebih kuat. Namun, di saat yang sama, lembaga ini mengingatkan bahwa risiko ekonomi juga masih besar, termasuk munculnya mutasi virus Covid-19.
Dengan adanya tanda-tanda tersebut, IMF akan memperbaharui perkiraan pertumbuhan global pada awal April mendatang, dari perkiraan terakhir di Januari lalu sebesar 5,5%.
Meski begitu, prospek pemulihan ekonomi di banyak negara dan banyak sektor berbeda. Seberapa cepatnya akan sangat bergantung terhadap progres vaksinasi. Bila program vaksinasi tidak secepat itu dan bahkan terbukti tidak mempan untuk menahan laju virus juga mutasi virus ini, maka dunia perlu mengubah vaksin saat ini.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









