;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Generasi Muda Target Pasar Rumah Subsidi Mini

20 Jun 2025
Rumah subsidi dengan luas tanah 25 meter persegi (m2) dan bangunan 18 m2 hanya dibangun di kawasan perkotaan. Alasannya, harga tanah di kota besar mahal, sehingga susah membuat rumah subsidi dengan harga terjangkau. Seiring dengan itu, pemerintah terus menyosialisasikan rumah mini, terutama ke generasi muda selaku target pasar utama. Pada Kamis (19/6/2025), Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) mengajak beberapa komunitas pemuda untuk melihat mock up rumah subsidi mini milik Lippo Group di Jakarta. Sejauh ini, anggota komunitas antusias dengan rumah minimalis yang menyasar perkotaan tersebut. "Bagi mereka, memiliki rumah lebih baik dibandingkan dengan kos, karena rumah adalah aset," ujar Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP Sri Haryati. Lewat acara itu, Kementerian PKP, kata dia, juga ingin mendapat tanggapan dan masukan dari generasi muda sambil menyosialisasikan program 3 juta rumah yang sudah berjalan. Dia menyebut langkah itu disambut baik oleh para komunitass. Bahkan, sebagian anggota langsung menanyakan ini dimana tempatnya. (Yetede)

Kemenlu Siapkan Evakuasi WNI di Iran

20 Jun 2025
Menteri Sugiono menyampaikan bahwa kementeriannya menyiapkan rencana  evakuasi terhadap warga negara Indonesia di Iran melalui jaur darat, menyusun konflik antara Iran dan Israel yang semakin meningkat dalam dua hari terakhir. Saat ini, terdapat sekitar 380 orang WNI yang berada di wilayah Iran, terutama di Taheran. "Pemerintah Indonesia menilai situasi semakin tidak kondusif seiring meningkatnya intensitas serangan, yang tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga sasaran sipil. Pesawat tidak bisa kesana. Satu-satunya jalur darat," kata Sugiono di Dt, Petersburg. Sebagai langkah antisipasi Kementerian Luar Negeri telah memerintahkan Keduataan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran untuk melakukan asesment terhadap rencana evakuasi  dan menjalankan langkah-langkah kongtingensi. Status kesiagaan di Kedutaan Besar RI di Teheran juga telah ditingkatkan dari siaga 2 menjadi siaga 1. Sugiono mengatakan bahwa komunikasi dengan negara-negara tetangga Iran sudah dilakukan untuk  memastikan kemudahan akses lintas perbatasan apabila evakuasi WNI harus dilakukan. "Kami juga sudah melakukan komunikasi dengan negara tetangga Iran memohon supaya warga ngara kita diberi kemudahan melewati perbatasannya karena situasinya juga yang semakin tidak menguntungkan," katanya. (Yetede)

Berburu Saham Murah CDIA

20 Jun 2025

Aksi penawaran umum perdana (public initial offering/IPO) saham PT Chandra Daya Investasi atau CDIA menjadi salah satu IPO calon  emiten raksasa (lighthouse) yang akan banyak diburu tahun ini. Membandroli harga IPO sebesar Rp170-190 per saham, valuasi CDIA dinilai murah. Valuasi murah CDIA ini terefleksi setelah membandingkan dengan emiten sejenis industri seperti saham HGII, PGEO, bahkan saham emiten sesama Grup Barito seperti BREN yang rata-rata valuasinya premium. Sebut misalnya, price-to-earning ratio (PER) rata-rata industri di 14,5x. Belum lagi, price-to-sale value  (PBV) CDIA yang berada di 1,5x-1,6x, lebih rendah ketimbang rata-rata industri di 18,3x.

Sementara dilihat dari net profit margin (NPM), CDIA berada di 30% atau lebih tinggi daripada industri yang rata-rata di 21%. Kemudian, return on equity (RoE) sebesar 3% alias di bawah industri yang 9%, dan debt-to-equity ratio CDIA berada di 0,37x, jauh dibawah rata-rata industri yang berada 1,6x, sebagaimana Indonesia (KSI) yang disusun Analis Senior KSI Sukarno Alatas, Kamis (19/6/2026). Sebaliknya, jika dikomparasikan dengan PER saham lain yang tercatat di IHSG, PER Chandra Daya Investasi terbilang premium. Karena umumnya PER perubahaan lain yang sudah tercatat di BEI berada di 10-20x. Merujuk pada riset Agloresearch, valuasi IPO CDIA yang PER-nya dihargai tinggi oleh pasar. Ini tidak lepas  dari prospek CDIA yang dipandang menjanjikan. (Yetede)

NIM yang Terus Mengalami Tekanan

20 Jun 2025
Ditengah masih tingginya risiko akibat ketidakpastian ekonomi global, perbankan mencari pendapatan lain selain dari bunga. Terlihat dari margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang terus mengalami tekanan. Hingga posisi April 2025, NIM perbankan berada di level 4,45% melandai dari bulan sebelumnya 4,51%. Selain itu juga turun dari posisi April 2024 yang bertengger di posisi 4,56%. Meski demikian, Bank Indonesia (BI) mencatatkan suku bunga dasar kredit (SBDK) per April 2024 yang bertengger di posisi  4,56%. Meskipun demikian, BI mencatatkan suku bunga dasar kredit (SBDK) per April 2025 mengalami peningkatan secara bulanan, terutama pada kelompok bank pembangunan daerah (BPD). SBDK per April 2025 tercatat sebesar 9,27%, atau meningkat terbatas sebesar 2 basis points (bps) dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan SBDK ini terjadi bersamaan dengan moderasi pertumbuhan kredit secara tahunan dalam satu bulan terakhir, di mana kredit April naik 8,8% (yoy) menurun dari 9,16% pada bulan sebelumnya. Namun demikian, kenaikan SBDK pada April 2025 lebih moderat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 12 bps. (Yetede)

Misi Besar Hidupkan Lagi Industri Gula RI

20 Jun 2025

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian yang dipimpin oleh Menteri Amran Sulaiman, menargetkan produksi gula konsumsi sebesar 2,59 juta ton pada 2025, dengan tujuan jangka panjang swasembada gula konsumsi pada 2028 dan gula industri pada 2030. Meskipun target ini menunjukkan ambisi besar untuk memperkuat ketahanan pangan, realitas menunjukkan masih adanya defisit 850.000 ton yang harus dipenuhi lewat impor.

Amran menegaskan enam strategi utama dalam mencapai swasembada, mulai dari penguatan penyuluhan petani, kemudahan akses pupuk, hingga perluasan lahan oleh PTPN Group seluas 176.000 hektare dalam tiga tahun ke depan. Namun, berbagai tantangan klasik seperti rendahnya produktivitas, masalah benih, distribusi pupuk, tata niaga, dan konflik lahan masih menjadi hambatan besar.

Keberhasilan program ini juga sangat bergantung pada kerja sama lintas sektor, termasuk peran BUMN pupuk dan benih serta penggunaan teknologi digital dan kultur meristem. Validasi data, pemetaan lahan yang “clean and clear,” dan skema pembiayaan seperti KUR menjadi kunci percepatan implementasi.

Amran optimistis bahwa dengan komitmen, inovasi, dan koordinasi yang baik, Indonesia dapat keluar dari ketergantungan impor dan mencapai kedaulatan gula nasional lebih cepat dari target yang ditetapkan.


Kenaikan Biaya Logistik Mulai Picu Kekhawatiran

20 Jun 2025

Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel menimbulkan kekhawatiran serius terhadap disrupsi logistik global, terutama jika terjadi blokade Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia. Ketua Institut ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi mengingatkan bahwa gangguan di wilayah tersebut dapat memicu lonjakan harga energi dan logistik, yang pada akhirnya melemahkan daya saing ekspor-impor nasional.

Yukki menegaskan bahwa pelaku usaha logistik telah mulai menghitung risiko dan menyusun mitigasi, namun tetap mengkhawatirkan efek berantai ke wilayah strategis lain seperti Laut Merah. Menurutnya, kenaikan biaya operasi dan waktu transit akan menambah tekanan terhadap sektor transportasi dan logistik di tengah perlambatan ekonomi global 2025.

Menanggapi ancaman tersebut, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan simulasi dampak perang terhadap stok bahan baku impor dan ekspor nasional. Pemerintah terus berupaya menjaga kelancaran rantai pasok dalam negeri agar tidak terganggu secara signifikan.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyoroti bahwa ketegangan geopolitik telah berkontribusi pada kontraksi sektor manufaktur global. Ia menyebutkan bahwa kondisi dunia yang rapuh dan rentan secara geopolitik turut mendorong inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan tekanan terhadap kegiatan ekspor-impor Indonesia.

Keseluruhan situasi ini menuntut kesiapsiagaan dan kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.


Peluang Jumbo dari Saham IPO Baru

20 Jun 2025
Di tengah sepinya aksi initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia belakangan ini, muncul rencana IPO besar dari PT Chandra Daya Investasi (CDIA), anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik taipan Prajogo Pangestu. CDIA menargetkan meraup dana segar hingga Rp 2,37 triliun dengan menawarkan maksimal 12,48 miliar saham pada harga Rp 170–Rp 190 per saham.

IPO CDIA dinilai pasar cukup menarik karena diharapkan bisa mengikuti jejak sukses emiten saudara seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang melonjak 685% dari harga IPO-nya, maupun PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melesat lebih dari 5.000% sejak pencatatan perdana. Kartika Sutandi, pengamat pasar modal, menekankan pentingnya melihat siapa pemilik di balik perusahaan, bukan hanya fundamental atau penjamin emisi, agar investor tidak terjebak pada pihak yang hanya ingin meraup uang lalu pergi.

Namun, IPO besar tidak selalu menjamin cuan. Ada contoh IPO seperti PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) yang meski meraup Rp 2 triliun saat IPO, kini harganya sudah turun 23%, atau PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang masih jauh di bawah harga IPO. Irwan Ariston, pengamat pasar modal lain, mengingatkan bahwa banyak saham IPO dijual pada valuasi tinggi. Ia menekankan perlunya investor mengecek jumlah penjatahan, fundamental, prospek sektor, hingga susunan direksi dan komisaris. Menurut Irwan, saat ini banyak saham di pasar sekunder yang bahkan lebih murah valuasinya dibanding saham IPO.

Sementara itu, Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas menilai harga penawaran CDIA sebenarnya cenderung murah dibandingkan rata-rata industri. CDIA memiliki price-to-earnings ratio di kisaran 43–48 kali (industri rata-rata 99 kali) dan price-to-book ratio 1,5–1,6 kali (industri 4,5 kali). Namun Sukarno juga mengingatkan risiko tetap ada, seperti volatilitas harga komoditas, penurunan permintaan industri, hingga tantangan lingkungan.

Devisa Belum Tertopang Optimal oleh Valas Ekspor

20 Jun 2025
Aturan baru tentang kewajiban membawa pulang devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) memang sudah berlaku sejak 1 Maret 2025, tapi dampaknya dinilai belum signifikan. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut setoran valuta asing dari DHE SDA ke rekening khusus selama Maret–April 2025 memang naik menjadi US$ 22,9 miliar. Ia mengklaim peningkatan ini sebagai hasil implementasi Peraturan Pemerintah (PP) No. 8/2025 yang mewajibkan 100% DHE SDA disimpan di dalam negeri minimal 12 bulan.

Namun, detail BI menunjukkan mayoritas dana ini sebenarnya langsung digunakan untuk kebutuhan usaha, dengan hanya US$ 194 juta yang benar-benar ditempatkan di term deposit (TD) valas DHE — komponen yang secara langsung menambah cadangan devisa. Ini jauh dari target ambisius pemerintah yang berharap tambahan cadangan devisa hingga US$ 90 miliar.

Muhammad Rizal Taufiqurrahman, Kepala Makroekonomi dan Keuangan INDEF, menilai kontribusi DHE SDA masih setengah jalan. Dari total ekspor nasional periode itu senilai US$ 43,98 miliar, hanya sekitar 52% yang tercatat masuk dalam DHE SDA. Bahkan, penempatan dalam TD valas yang penting untuk cadangan devisa sangat kecil. Rizal menilai, kebijakan ini masih lebih bersifat administratif ketimbang strategis, dan belum berdampak signifikan pada penguatan rupiah atau cadangan devisa.

Menurut Rizal, masalah utamanya bukan hanya pada jumlah devisa yang masuk, tetapi insentif yang belum cukup menarik. Eksportir cenderung hanya patuh secara formal tanpa benar-benar menahan devisa di dalam negeri. Ia menekankan bahwa ke depan kebijakan DHE SDA tidak cukup hanya berbasis kewajiban, tapi juga harus berbasis kemauan yang didorong insentif kredibel yang membuat eksportir mau menempatkan devisa secara lebih strategis di Indonesia.

Meski aturan DHE SDA yang lebih ketat sudah berjalan, para tokoh seperti Perry Warjiyo dan Rizal Taufiqurrahman menyoroti bahwa efektivitas kebijakan ini masih terbatas tanpa insentif yang lebih menjanjikan untuk eksportir.

Transformasi Digital Dorong Perluasan Retail

20 Jun 2025
Prospek PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) pada 2025 dinilai tetap solid meskipun menghadapi tantangan di segmen food & beverage (F&B). Laporan keuangan kuartal I 2025 menunjukkan pendapatan segmen kafe dan restoran turun 8,65% yoy menjadi Rp 719,49 miliar. Sebaliknya, segmen penjualan ritel tumbuh 6,71% yoy menjadi Rp 7,79 triliun dan departemen store naik 9,51% yoy menjadi Rp 759,78 miliar.

Abdul Azis Setyo Wibowo, analis Kiwoom Sekuritas, menilai daya beli kelas menengah atas masih terjaga di segmen ritel dan departemen store sehingga margin MAPI tetap solid. Ia juga melihat aksi korporasi MAPI mengambil alih sewa gerai GS Supermarket akan mendorong pertumbuhan departemen store sekaligus mengurangi tekanan pada segmen F&B. Namun, Aziz juga mengingatkan potensi risiko dari ketidakpastian global dan daya beli masyarakat yang melemah, sehingga ia memberikan rekomendasi netral dengan target harga Rp 1.290 per saham.

Jessica Leonardy dari OCBC Sekuritas lebih optimistis. Ia menyoroti rencana MAPI membuka hingga 700 toko baru pada 2025, termasuk 450 toko untuk anak usaha MAP Active (MAPA) yang fokus pada tren gaya hidup sehat dan olahraga. Penjualan internasional MAPA juga tumbuh signifikan, berkontribusi 25% ke total segmen ini. Selain itu, strategi digitalisasi lewat platform MAP Club yang sudah menyumbang 8,6% penjualan total dianggap penting untuk perluas pasar. OCBC memperkirakan pendapatan MAPI naik 8,22% yoy ke Rp 40,94 triliun dan laba bersih tumbuh 13,06% yoy menjadi Rp 1,99 triliun. Jessica memberikan rating buy dengan target harga Rp 1.800.

Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, mengakui risiko pelemahan daya beli masyarakat dan kompetisi ketat di F&B, yang tercermin dari harga saham MAPI yang turun 10,23% dalam sebulan. Namun ia melihat potensi katalis positif jangka pendek dari stimulus pemerintah dan kemungkinan penurunan suku bunga. Karena itu, Indy merekomendasikan akumulasi MAPI dengan target harga Rp 1.500.

Bank Masih Dilema Menurunkan Bunga Kredit

20 Jun 2025
Industri perbankan Indonesia pada Mei 2025 berupaya memperbaiki profitabilitas di tengah tantangan biaya dana tinggi dan likuiditas ketat dengan menaikkan bunga kredit. Bank Indonesia (BI) mencatat margin keuntungan naik tipis 3 bps ke 2,04% pada April, sementara suku bunga dasar kredit (SBDK) juga naik ke 9,27%.

Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga, menegaskan bahwa menjaga margin bunga bersih (NIM) sangat penting untuk mengantisipasi potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL) yang bisa menekan laba. Ia menjelaskan NIM CIMB Niaga turun ke 3,99% pada kuartal I-2025 akibat kenaikan biaya dana, jauh dari level ideal 5%. Menurut Lani, likuiditas pasar yang ketat membuat penurunan bunga kredit sulit meski BI rate sudah turun dua kali tahun ini.

Di sisi lain, Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, mengatakan BCA mampu mencatat kenaikan NIM dari 5,6% ke 5,8% di kuartal I-2025. Hal ini didorong rasio dana murah yang tinggi (82,9%) dan pertumbuhan kredit yang solid. Namun, Hera menekankan bahwa profitabilitas bukan hanya soal margin, tetapi juga keseimbangan dengan kualitas aset dan pengelolaan risiko NPL.

Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengingatkan bahwa secara industri NIM menurun ke 4,45% pada April 2025 dari 4,56% setahun sebelumnya. Ia menilai penurunan ini mencerminkan ketatnya persaingan pendanaan. Dian menekankan pentingnya perbankan tidak hanya mengandalkan selisih bunga, tetapi juga mendorong efisiensi operasional dan pengelolaan risiko kredit. Ia memperkirakan NIM akan stabil dan moderat ke depan jika transmisi penurunan suku bunga berjalan efektif dan kredit tumbuh.

Meski beberapa bank seperti BCA bisa menjaga margin lebih baik, perbankan secara umum menghadapi tekanan margin akibat biaya dana tinggi dan risiko kredit. Penyesuaian bunga kredit jadi strategi mempertahankan profitabilitas, tetapi keseimbangan dengan kualitas aset dan efisiensi tetap kunci penting untuk menjaga kinerja berkelanjutan.