Ekonomi
( 40465 )Algoritma Dana Desa 2022
Pemahaman liar Yuval Noah Harari teruji di desa pada 2022: yang paling tahu adalah pemilik algoritma dana desa atau DD berikut data desa. Permenkeu No 190/2021 memuat lampiran 900 halaman pagu DD bagi setiap desa, memotong hambatan tahunan hingga 6 bulan menunggu penerbitan peraturan kepala daerah atas pagu DD di wilayahnya. Di masa kini yang paling paham rincian pagu saban desa hanyalah penguasa data mikro desa, karena kenyataannya sampai 2020 ukuran kinerja desa selalu dikalkulasi Kemenkeu.
Menyadari keunggulan argumen Harari, Permendesa No 21/2020 segera menetapkan data SDGs Desa sebagai sumber daya milik desa, agar desa berdaulat atas data 100.470.045 warga, 33.379.692 keluarga, 517.329 Rukun Tetangga (RT) dan wilayah 74.960 desa. Algoritma kreasi Kemendesa PDTT menyuguhkan olahan data jadi informasi kebutuhan setiap warga desa, demand setiap keluarga, pilihan lokasi RT untuk mengakselerasi kemajuan, hingga rekomendasi kebijakan bagi pemerintah desa. Informasi terekap ke tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. (Yoga)
Pemulihan Ekonomi, Menjaga Deru Konsumsi Kelas Menengah
Sejalan dengan terkendalinya pandemi, konsumsi nasional beranjak bangkit, terefleksi pada kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di pengujung 2021, yaitu 118,3, di atas level pra-pandemi Februari 2020 sebesar 117,7. Sinyal menguatnya konsumsi juga tecermin dari data perbankan berupa rasio porsi pendapatan konsumen yang disimpan atau saving to income ratio. Semakin kecil rasio porsi pendapatan yang disimpan, artinya semakin besar rasio porsi konsumsi masyarakat. BI mencatat, pada Desember 2021, saving to income ratio 14,1 %, jauh lebih rendah dibandingkan Desember 2020 yaitu 19,4 %.
Dalam PEN 2021 terdapat sejumlah alokasi pos insentif untuk mendorong konsumsi masyarakat kelas menengah, di antaranya PPh Pasal 21, PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sektor perumahan, dan PPnBM DTP kendaraan bermotor. Pada tahun ini, PEN hanya mengakomodasi perlindungan masyarakat Terkait stimulus dunia usaha, pemerintah memprioritaskan sektor usaha yang masih tertatih, untuk menjamin efektivitas pemberian stimulus dan dampaknya terhadap perekonomian, yang diharapkan dapat menggenjot konsumsi yang menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi domestik. (Yoga)
Usaha Rintisan Akuakultur eFishery Disuntik Modal Rp 1,28 Triliun
Perusahaan rintisan akuakultur atau budi daya perikanan, eFishery, memperoleh pendanaan seri C senilai 90 juta USD atau Rp 1,28 triliun dari sejumlah investor, untuk ekspansi bisnis. Suntikan modal kepada eFishery dipimpin Temasek, SoftBank Vision Fund 2, dan Sequoia Capital India, juga Northstar Group, Go-Ventures, Aqua-Spark, dan Wavemaker Partners. ”Indonesia adalah negara maritim besar yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Artinya, kita punya potensi sangat besar di bidang perikanan. Pendanaan ini untuk ekspansi lebih lanjut membawa pembudidaya ikan masuk dalam ekosistem digital,” ujar Co-founder dan Chief Executive Officer eFishery Gibran Huzaifah (12/1).
Gibran menjelaskan, dana itu akan digunakan untuk meningkatkan layanan platform sehingga bisa berekspansi dengan menambah jumlah pembudidaya ikan yang tergabung dalam ekosistem eFishery, saat ini ada 30.000 pembudidaya ikan dengan 100.000 kolam budidaya ikan di 24 provinsi yang bergabung dengan eFishery.
Co-founder & Co-managing Partner at Northstar Group Sidharta Prawira Oetama menjelaskan, pihaknya sepakat memberi pendanaan pada eFishery karena melihat potensi besar sektor budidaya perikanan. Selain itu, eFishery dinilai juga bisa memberi solusi permasalahan pangan yang mungkin terjadi pada masa mendatang. (Yoga)
KoinWorks Disuntik Modal Rp 1,6 Triliun
Penyedia layanan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi informasi KoinWorks mendapat suntikan pendanaan baru sebesar 108 juta USD atau Rp 1,6 triliun, untuk teknologi dan menambah karyawan. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh MDI Ventures, perusahaan modal ventura milik Telkom Indonesia, dan partisipasi investor sebelumnya. Benedicto Haryono, CEO dan Co-founder KoinWorks (12/1) mengatakan, pendanaan 108 juta USD itu terdiri dari ekuitas 43 juta USD dan modal utang 65 juta USD. (Yoga)
Bunga Kredit Tinggi, Bank Digital Nikmati Margin Tebal
Anomali terjadi di industri perbankan. Semarak bank digital seharusnya membikin biaya bank semakin murah, sehingga bunga kredit turun. Nyatanya, bunga kredit bank digital malah tinggi. Bandingkan saja, ketika bank konvensional sudah mengenakan bunga kredit single digit, bank digital mengenakan bunga kredit setinggi langit Tingginya bunga kredit ini tak lepas dari bank digital yang "nebeng" aplikasi lain. Dengan alasan baru berdiri, bank digital menggandeng financial technology (fintech). Meski menggunakan embel-embel digital, praktik bank digital Indonesia berbeda dengan luar negeri. Nubank Brasil, misalnya, bekerja keras menciptakan credit score sendiri. Sehingga bisa memberikan bunga lebih murah.
Di Indonesia, bank digital dengan strategi nebeng, menikmati margin tinggi, Bank Jago, misalnya, di kuartal III 2021 mencetak net interest margin (NIM) 6,1% atau di atas rata-rata NIM industri yang sebesar 4,52%. Tingginya bunga kredit itu juga akibat bank digital jorjoran memasang bunga simpanan tinggi dengan alasan promosi. Bank Neo Commerce (BNC) menawarkan bunga hingga 8% per tahun untuk pengguna baru. Sebagai acuan, bunga simpanan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) saat ini hanya 3,5%.
Dibayangi Rilis Inflasi AS
Kurs rupiah berpotensi kembali melemah pada perdagangan Kamis (13/1). Sentimen eksternal yang kurang mendukung rupiah akan jadi pemicu koreksi. Ekonom Samuel Sekuritas Fikri C. Permana mengatakan, pasar akan mencermati rilis data consumer price index Amerika Serikat (AS). Jika inflasi AS ternyata sesuai konsensus proyeksi analis atau lebih tinggi, rupiah bisa tertekan. "Desember adalah periode liburan, sehingga inflasi relatif lebih tinggi," ujarnya, Rabu (12/1).
Bank Sentral Jadi Tumpuan
Di tengah beban berat yang ditanggung pemerintah dalam menangkal ketidakpastian global, Bank Indonesia menjadi tumpuan dengan dilibatkan dalam pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara di pasar Surat Berharga Syariah Negara valuta asing. Bank Indonesia (BI) berperan sebagai penata usaha dan pembayar imbalan dan/atau nilai nominal Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) valuta asing (Valas). Adapun biaya yang timbul dari kegiatan tersebut berasal dari anggaran operasional bank sentral. Direktur Pembiayaan Syariah Ditjen Pembiayaan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah menuturkan keteribatan bank sentral dalam SBSN Valas merupakan tindak lanjut dari fungsi bank sentral di pasar Surat Utang Negara (SUN) Valas atau global bond. “Semua biaya terkait dengan pelaksanaan tugas penata usaha ditanggung oleh BI. Jadi bukan membiayai penerbitan,” katanya kepada Bisnis, Rabu (12/1).
SBSN Valas atau sukuk global menjadi salah satu sumber pembiayaan pemerintah, termasuk dalam rangka merespons pandemi Covid-19 sejak 2 tahun lalu. Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menuturkan bank sentral tetap berkomitmen untuk menjalankan fungsinya sebagai penata usaha dan pembayar imbalan SBSN. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, nilai penerbitan sukuk global negara pada tahun lalu mencapai US$3 miliar, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya US$2,5 miliar. Kendati mengokohkan postur fiskal, kebijakan ini berisiko menggerus anggaran internal BI yang sejak 2020 membantu pemerintah dalam memenuhi pembiayaan APBN melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) I dan SKB II.
Mengeruk Untung Saham Batu Bara
Pemerintah telah mencabut kebijakan larangan ekspor batu bara sejak Senin (10/1). Mulai kemarin, Rabu (12/1), aktivitas ekspor batu bara sudah kembali bisa dilakukan secara bertahap. Pencabutan larangan ekspor batu bara tersebut memberikan katalis ke sejumlah saham perusahaan penambang emas hitam. Sejak awal pekan, pelaku pasar merespons positif kebijakan tersebut sehingga mendorong pertumbuhan ke beberapa saham emiten seperti PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG).
Berdasarkan data Bloomberg, sejak pengumuman larangan ekspor dicabut, saham BYAN telah melejit 9,14%. Hingga penutupan pasar kemarin, BYAN diperdagangkan seharga Rp28.650 per lembar. Saham Barito Pacific juga mendapatkan keuntungan dari kebijakan itu. BRPT dalam 3 hari terakhir telah tumbuh 4,14% ke level Rp880 per lembar. Begitu juga dengan Indo Tambangraya. Sahamnya naik 0,6% ke level Rp20.175 per lembar. Saham anak usaha PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) yakni PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) mencetak pertumbuhan paling tinggi. Sejak Senin hingga penutupan perdagangan kemarin, saham ADMR membumbung hingga 93,4%. Jika diteliti, kami menilai bahwa pelaku pasar menaruh ekspektasi terhadap saham-saham emiten yang memproduksi batu bara kalori tinggi. Dengan tren harga yang sedang tinggi, produsen batu bara kalori tinggi mengeruk keuntungan paling besar dari pasar ekspor.
Peta Industri Tekstil, Pasar Domestik Bakal Lebih Solid
Geliat industri tekstil nasional pada tahun ini diperkirakan lebih kencang sejalan dengan makin kondusifnya pasar dalam negeri. Peluang ekspor juga kian terbuka meski tantangannya juga penuh dinamika. Pemerintah juga percaya diri dengan memproyeksikan pertumbuhan 5% untuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pada 2022 setelah sebelumnya tak bisa mengoptimalkan ekspansi, karena pandemi dan pembatasan ketat. Alhasil, sejumlah pemain di industri ini juga menyiapkan langkah ekspansi meskipun masih terbatas guna mengantisipasi kebutuhan pasar. Sekjen Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan industri tekstil hulu sebenarnya memiliki peluang besar untuk mensubstitusi bahan baku impor untuk tujuan ekspor. Namun, bahan baku dari luar negeri memperoleh fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). Hal serupa tidak berlaku untuk produk dalam negeri.
Ekspektasi itu didukung oleh sejumlah perkembangan positif seperti pasar domestik yang sudah mulai bergeliat dengan mobilitas yang lebih longgar dibandingkan dengan tahun lalu. Di sisi lain tantangan yang dihadapi pebisnis juga tidak kecil, seperti kemungkinan naiknya biaya energi pada tahun ini, sehingga harus ditempuh strategi jitu untuk menghasilkan produk yang tetap berdaya saing. Sementara itu, kalangan pelaku industri juga siap mengarungi tahun ini dengan harapan yang lebih kuat. Sekretaris Perusahaan PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL) R. Nurwulan Kusumawati mengatakan arah perbaikan pasar domestik sudah mulai dirasakan pada kuartal terakhir tahun lalu yang disambut dengan menggencarkan produk ritel dan customized order.
Kemenkominfo Mulai Siapkan Frekuensi Untuk 5G
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah melakukan kajian awal terkait peta jalan dan mulai menyiapkan spektrum frekuensi radio untuk implementasi layanan telekomunikasi seluler 5G di Indonesia. Koordinator Standar Radio Telekomunikasi Radio Kemenkominfo Indra Utama mengatakan, spektrum frekuensi yang digunakan para operator telekominukasi untuk implementasi 5G saat ini yang dimulai pada 2021 masih pada frekuensi eksisiting yang juga digunakan untuk layanan 4G LTE. Menurut Indra, ada dua opsi yang dapat dilakukan untuk bisa segera memanfaatkan frekuensi 700 MHz. Pertama,dibuatkan seleksi izin nasional pada kuartal III-2021. Tetapi, pemanfaatannya untuk 5G dimulai area rural dengan mengikuti clerarence seauai jadwal ASO. "Opsi kedua, seleksi izin nasional menunggu penuntasan seluruh tahapan ASO paling lambat selesai pada November 2022," imbuhnya. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









