;
Kategori

Ekonomi

( 40478 )

Dua Opsi bagi Pelaksana Subsidi Minyak Goreng

31 May 2022

Pemerintah memberi pilihan kepada para perusahaan eksportir pelaksana program Subsidi Minyak Goreng Curah untuk mendapatkan izin ekspor atau pembayaran klaim dana subsidi. Opsi itu diberikan agar ekspor bisa segera direalisasikan sekaligus menyerap CPO dan produk turunannya yang menumpuk selama larangan ekspor berlaku. Perusahaan yang memilih izin ekspor diperbolehkan mengekspor CPO dan produk turunannya sebanyak tiga kali lipat dari kuota DMO. Sementara perusahaan yang memilih opsi klaim subsidi, mereka baru bisa ekspor mulai 1 Juni 2022 mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah.

Ketentuan itu ditetapkan menyusul dibukanya kembali ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO); refined, bleached, and deodorized (RBD) palm oil; RBD palm olein; dan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah mulai 23 Mei 2022. Sebagai gantinya, pemerintah menerapkan kebijakan DMO atas empat komoditas itu. Pemerintah juga menghentikan program Subsidi Minyak Goreng Curah per 31 Mei 2022. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan (30/5) mengatakan, ada 75 perusahaan eksportir yang turut dalam program Subsidi Minyak Goreng Curah. Dari jumlah itu, hanya 65 perusahaan yang memenuhi persyaratan ekspor dan memilih mendapatkan izin ekspor ketimbang mengklaim subsidi minyak goreng curah ke Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). (Yoga)


PANGAN, Dering Alarm Bencana

31 May 2022

Laporan Global tentang Krisis Pangan 2022 menyajikan fakta yang memilukan: hampir 193 juta orang mengalami kerawanan pangan akut. Angka itu bertambah 40 juta orang dibandingkan dengan laporan serupa oleh World Food Programme tahun 2020. Konflik dan gangguan keamanan diidentifikasi sebagai pemicu utama yang mendorong tingkat kerawanan pangan. Akan tetapi, faktor lain seperti pandemi, gangguan rantai pasok, dan perubahan iklim berkelindan hingga menghasilkan dampak yang ”sempurna”. Kombinasi atas beberapa faktor itu semakin menjauhkan sebagian warga dunia ke akses pangan. Harga pangan yang tinggi juga berisiko mengurangi asupan kalori dan nutrisi.

Bank Dunia mencatat, per 19 Mei 2022, Indeks Harga Pertanian naik 42 % dibandingkan Januari 2022. Harga jagung dan gandum, naik 55 % dan 91 %. Harga rata-rata bulanan beberapa jenis beras naik tiga bulan terakhir. Beras Vietnam broken 5 %, naik dari 384,2 USD per ton pada Februari jadi 402,4 USD per ton pada April. Pada 18 Mei 2022, Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutkan, tingkat kelaparan global berada pada titik tertinggi baru. Hanya dalam dua tahun, jumlah orang yang sangat rawan pangan meningkat dua kali lipat, yakni dari 135 juta orang sebelum pandemi Covid-19 menjadi 276 juta orang saat ini. Alarm bencana pangan telah berdering kencang. Sementara situasi ke depan masih serba tak pasti. Apalagi jika perang Rusia-Ukraina berlanjut, sementara rantai pasok masih terganggu dan negara-negara produsen pangan makin memproteksi produknya demi kepentingan dalam negerinya. Harga pangan, energi, dan inflasi berisiko tetap tinggi. (Yoga)


Juni, IHSG Menembus Level 7.350

30 May 2022

Setelah rebound dan menembus level 7.000 Jumat (27/5) pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan terus bergerak  naik hingga menembus level  7.350 pada Juni 2022, naik 5% dibandingkan posisi akhir  Mei. Faktor utama yang mendorong kenaikan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah membaiknya kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi kuartal II yang diproyeksi mencatat 6% melambungnya harga komoditas, dan masuknya aliran dana asing (net foreign inflow), Namun, faktor eksternal, diantaranya rencana The Fed untuk menaikkan lagi suku bunga acuan, harus diwaspadai para pemodal. Pada tahun ini, pergerakan siklus IHSG di BEI berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Menjelang Lebaran lalu indeks naik, padahal biasanya turun saat sepekan pertama perdagangan saham kembali dibuka setelah libur panjang Idul Fitri 1443 Hijriah. (Yetede)

Melesat 80% Dividen BUMN dan Anak Usaha Capai Rp 76 Triliun

30 May 2022

Nilai dividen yang dibagikkan emiten BUMN dan anak usaha untuk 2021 mencapai Rp76,21 triliun, melesat 80,04% dibanding tahun sebelumnya Rp42,33 triliun. Sebanyak Rp32,82 triliun diantaranya disetor langsung ke pemerintah sebagai pemegang saham pengendali. Dari total Rp 76,21 triliun, dividen terbanyak diberikan oleh PT  Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp26,4 triliun, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) senilai Rp16,82 triliun, dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) atau Telkom sebesar Rp14,85 triliun. Dividen yang cukup besar juga diberikan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp2,72 triliun,dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN sebesar Rp237 triliun. Sementara itu, emiten anak usaha BUMN juga turut menyisihkan laba bersh  2021 untuk dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham. Tercatat, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang merupakaN subholding gas PT Pertamina (Persero) membagikan dividEN terbesar sebesar Rp3,01 triliun. (Yetede)

Ketika BSI Konsisten Lakukan Transformasi

30 May 2022

Cita-cita Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjadi bagian dari Top 10 Global Islamic Bank semakin mendekat. Transformasi yang konsisten dilakukan oleh seluruh komponen BSI menorehkan kinerja yang membanggakan dan memberikan nilai tambah yang baik bagi Negara, Pemegang Saham maupun Umat. Seperti yang ditunjukkan dari Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BSI untuk Tahun Buku 2021. Pemegang saham bersepakat untuk membagikan dividen tunai sebesar 25% dari laba bersih perseroan atau sekitar Rp757 miliar. Tak hanya itu, Pemegang Saham pun memberikan persetujuan terhadap perubahan Anggaran Dasar Perseroan seiring dengan kepemilikan saham seri A Dwiwarna di perseroan oleh NKRI. Saham Seri A Dwiwarna ini merupakan saham khusus NKRI yang memberikan hak istimewa seperti persetujuan rapat umum pemegang saham serta menyetujui perubahan permodalan perusahaan. (Yetede)

Dividen Emiten Pelat Merah Lebih Merekah

30 May 2022

Pemegang saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) boleh bergembira. Setoran dividen emiten pelat merah tahun buku 2021 lebih gemuk. Tahun sebelumnya, sejumlah emiten BUMN sempat puasa membagi dividen akibat kinerjanya terpukul pandemi Covid-19. Setoran dividen yang cukup besar berasal dari emiten pertambangan yang tergabung dalam Holding Pertambangan Mining Industry Indonesia atau Mind Id. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), misalnya, membagikan seluruh laba bersih 2021 lalu sebagai dividen. Lonjakan dividen emiten pelat merah ini memicu kekhawatiran akan mengganggu rencana ekspansi. Apabila seluruh laba dibagikan sebagai dividen.

Era Bakar Duit Usai, Investor Startup Mulai Selektif

30 May 2022

Era bakar duit di bisnis startup berakhir. Investor mulai selektif mengucurkan dana. Jadi, pengelola startup harus kreatif mempertahankan bisnisnya. Kini, lanskap dunia startup di Indonesia berubah cepat. Bahkan sejumlah startup mulai realistis menghadapi persaingan bisnis, sehingga memangkas jumlah tenaga kerja. Dengan beragam alasan, Jd.Id, Tanihub, Zenius dan Link Aja, mulai mengurangi jumlah karyawan. Pengamat pasar modal Teguh Hidayat berpendapat, tren tumbangnya startup mirip fenomena gelembung dot-com di Amerika Serikat pada 1995-2000. Kala itu, banyak e-commerce tumbuh hingga akhirnya tumbang satu per satu dan tinggal menyisakan Amazon dan Ebay.

Ketika BSI Konsisten Lakukan Transformasi Menuju Top 10 Global Islamic Bank

30 May 2022

Cita-cita PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjadi bagian dari Top 10 Global Islamic Bank semakin dekat, seiring konsistensi torehan kinerja yang membanggakan bagi negara, pemegang saham maupun umat.Hal ini seperti ditunjukkan dalam hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BSI Tahun Buku 2021, yang mana pemegang saham sepakat membagikan dividen tunai 25% dari laba bersih (sekitar Rp757 miliar). Kemudian, 20% dari laba bersih 2021 disisihkan sebagai cadangan wajib dan 55% lainnya dialokasikan sebagai laba ditahan. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengemukakan, langkah tersebut semakin memperkuat BSI turut serta memajukan ekonomi nasional, serta menjadi motor ke-majuan industri keuangan syariah Indonesia. “BSI semakin siap menjadi energi baru untuk Indonesia. Sehingga, ke depannya perbankan syariah diharapkan mampu menjadi prioritas dan kompetitif, bukan lagi alternatif pilihan masyarakat,” tegasnya.

EMITEN TELEKOMUNIKASI : SENTIMEN POSITIF TERJAGA

30 May 2022

Sejumlah emiten telekomunikasi royal membagi dividen setelah mengukir kinerja mengilap pada 2021. Kinerja positif diproyeksi berlanjut tahun ini kendati dibayangi berbagai tantangan. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai prospek emiten sektor telekomunikasi makin positif seiring dengan tren digitalisasi yang berlanjut. “Apalagi jumlah pengguna internet makin meningkat yang menyebabkan kebutuhan data dan internet turut naik. Dari sisi supply diperkirakan bertambah, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya,” katanya, Minggu (29/5). Kucuran dividen yang ditopang oleh peningkatan laba bersih emiten telekomunikasi cukup besar tercermin dari tata-rata dividend payout ratio berada di atas 50%.

SVP Corporate Communication & Investor Relation Telkom Ahmad Reza mengatakan dividen setara dengan 60% laba bersih 2021 senilai Rp24,76 triliun. Kucuran dividen juga datang dari PT XL Axiata Tbk. (EXCL) yang menyetujui pembagian dividen untuk pemegang saham senilai Rp522 miliar atau 50% dari keuntungan untuk tahun buku 2021. Emiten menara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) juga akan membagikan dividen total Rp800 miliar dari laba bersih 2021 atau meningkat dari dividen tahun sebelumnya Rp692 miliar. Di sisi lain, Nico menjelaskan bahwa emiten telekomunikasi juga ramai melakukan aksi korporasi penggabungan usaha untuk memperkuat bisnisnya. Hal ini tidak hanya akan mendorong kinerja emiten, tetapi juga mendukung prospek industri telekomunikasi.

Pandemi Hilang, Jumlah Pasien Naik

30 May 2022

Penyebaran Covid-19 mulai mereda. Bahkan, status pandemi Covid-19 akan diubah menjadi endemi. Ini jadi sentimen positif bagi emiten pengelola rumah sakit. Performa harga saham emiten rumah sakit pun tampak terus naik di tahun ini. Performa saham emiten rumah sakit yang apik ini, menurut analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya, justru merupakan efek dari melandainya kasus Covid-19 akhir-akhir ini. Pasalnya, tingkat kunjungan pasien rawat jalan maupun rawat inap kembali meningkat. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei menambahkan, beberapa emiten rumah sakit dalam pantauan Henan Putihrai Sekuritas, seperti MIKA, HEAL, dan SILO, sejak kuartal IV-2021 mencatatkan jumlah volume pasien melebihi level sebelum Covid. "Artinya, bisnis dasar rumah sakit mulai pulih, setelah permintaan perawatan atau operasi sempat tertunda selama pandemi," kata Jono kepada KONTAN, Jumat (27/5). Cheryl menyebut, dengan makin rendahnya kasus Covid-19 saat ini, tren berobat masyarakat akan terus berlanjut, sehingga mendorong volume kunjungan pasien pada tahun ini. Kondisi ini jadi katalis positif bagi emiten. Tapi, Analis CGS CIMB Sekuritas Patricia Gabriella, dalam risetnya menuliskan, pertumbuhan volume pasien industri rumah sakit pada tahun ini diprediksi cuma mencapai 16% secara year on year. 

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio meyakini, kesadaran masyarakat akan kesehatan menjadi faktor penting pertumbuhan kinerja emiten rumah sakit, serta ditunjang naiknya penjualan obat. "Jadi, saham rumah sakit tetap menarik. Terlebih jumlah pasien naik, begitu pula emiten rumah sakit kian ekspansif untuk layanan pengobatan dan teknologi kesehatannya," imbuh dia. Frankie menyebut, menariknya prospek emiten rumah sakit terlihat dari aksi korporasi Grup Lippo yang menambah kepemilikan saham SILO serta strategi grup Astra menyerap saham HEAL yang dilepas di private placement.