;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

RAJA Segera Menuntaskan Akusisi Dua Perusahaan Sekaligus

08 Mar 2025
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) segera menuntaskan akuisisi dua perusahaan sekaligus pada semester 1-2025. Penambahan portfolio itu dilakukan RAJA untuk memperkuat sektor mindstream dan downstream seiring dengan tingginya permintaan di dua sektor. Direktur Utama Rukun Raharja Djauhar Maulidi menyampaikan, pengembangan bisnis sektor mindstream dan downstream nerupakan prioritas RAJA pada tahun ini untuk memperkuat rantai nilai energi. Karena itu perseroan secara aktif  terus mengeksplorasi peluang akuisisi di sektor terkait. "Perseroan tengah mengkaji akuisis perusahaan distribusi gas dan akuisisi perusahan infrstruktur LNG yang keduanya ditargetkan terealisasi pada semester pertama tahun ini," jelas Djauhar. Langkah strategis ini, sambung Djauhar, diharapkan dapat memperluas cakupan bisnis RAJA, meningkatkan efisiensi distribusi energi, dan memperkuat daya saing perseroan di industri energi yang terus berkembang. Ini sesuai komitmen RAJA dalam mendukung transisi energi nasional dengan berinvestasi pada energi bersih. "Melalui diversifikasi portfolio energi dan penguatan infrastruktur, RAJA tidak hanya mendorong pertumbuhan  bisnis mendukung ketahanan energi nasional menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan," papar dia. (Yetede)

Meminimalkan Penurunan Cadangan Devisa di Tengah Gejolak Global

08 Mar 2025
Upaya menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah gejolak perekonomian global menguras cadangan devisa (cadev) sebesar US$ 1,6 miliar menjadi US$ 154,5 miliar pada Februari, dibandingkan bulan sebelumnya US$ 156,1 miliar. Berkaitan itu, langkah strategis kebijakan Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) diharapkan menopang rupiah dan meminimalkan penurun cadev. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menargetkan cadangan devisa sebesar US$ 162,4 triliun pada tahun ini. Sedangkan pada 2029, cadangan devisa ditargetkan sebesar US$ 189,47 miliar. Adapun nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (7/3/2025) menguat hingga 45 poin atau 0,28% menjadi Rp16.340 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia justru melemah ke level Rp16.336 per dolar AS. Data Jisdor mencatat,  nilai tukar rupiah pada 28 Februari 2025 sempat melemah hingga Rp16.575 per dolar AS. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, perkembangan cadev pada Februari lalu tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri  pemerintah dan kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah, sebagai respons BI dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi. (Yetede)

Tenaga Kerja Terampil Dukung Pertumbuhan Investasi

08 Mar 2025
Menteri Investasi dan Hilirisasai/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menekankan pentingnya menyiapkan tenaga kerja yang siap menghadapi tuntutan industri modern. Dengan semakin meningkatnya investasi terutama di sektor hilirisasi, diperlukan tenaga kerja yang terampil dan tersertifikasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas. Investasi yang masuk ke Indonesia memiliki dampak besar terhadap penciptaan lapangan kerja. Menurut dia, dalam lima tahun yang akan datang, realisasi investasi akan mencipatkan lapangan pekerjaan baru sebanyak 2,9 juta tenaga kerja per tahun. "Untuk tahun lalu saja, dari realisasi investasi sebesar Rp 1.7000 triliun, tenaga kerja yang tercipta adalah 2,45 juta orang. Kami melihat pada tahun ini sampai lima tahun secara rata-rata mencapai 2,8-2,9 juta orang," ujar Rosan. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) memperkuat sinergi  untuk mempersiapkan tenaga kerja yang kompeten guna mendukung investasi dan industri hilirisasi di Indonesia. Rosan menekankan pentingnya kesiapan tenaga kerja untuk menarik investasi. Pasalnya saat memulai investasi di Indonesia investor selalu menanyakan faktor kesiapan ketenagakerjaannya.  (Yetede)

Sinyal Bahaya Hilirisasi Nikel, Apa Tantangannya?

08 Mar 2025

Pemerintah Indonesia untuk melakukan penghiliran nikel menghadapi sejumlah tantangan yang cukup besar. Salah satu masalah yang muncul adalah kesulitan yang dihadapi oleh Jiangsu Delong Nickel Industry Co., induk perusahaan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI), yang terjerat utang dan menghadapi masalah hukum, mengingat sebagian besar smelter di Indonesia beroperasi melalui kerja sama dengan perusahaan China. GNI, yang mengolah 20 juta ton bijih nikel per tahun, adalah salah satu smelter terbesar di Indonesia, namun masalah cadangan dan pasokan bijih nikel menjadi kendala. Impor bijih nikel, khususnya dari Filipina, juga mengalami peningkatan yang signifikan pada 2024, karena adanya perbedaan spesifikasi bijih nikel.

Selain itu, kebijakan pemerintah mengenai pembatasan produksi nikel dan pengelolaan cadangan mineral turut menambah ketidakpastian di kalangan pelaku industri smelter, yang khawatir akan mempengaruhi pasokan dan operasional mereka. Bisman Bachtiar, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan, mengkritik kurangnya perencanaan yang matang dalam industri smelter nikel nasional, yang mengakibatkan tumbuhnya banyak smelter tanpa persiapan yang memadai, sehingga menyebabkan ketidaksehatan industri.

Untuk menghadapi masalah ini, beberapa tokoh, seperti Bisman Bachtiar dan Bhima Yudhistira, menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan moratorium pembangunan smelter untuk mengevaluasi kesiapan pasokan mineral dan mengelola potensi pasokan dan harga secara lebih selektif. Meskipun demikian, pemerintah melalui Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa moratorium pembangunan smelter nikel berbasis teknologi rotary kiln-electric furnace (RKEF) belum direncanakan. Pemerintah akan tetap mendorong penghiliran nikel dan memaksimalkan pemanfaatan produk turunan, sambil mengevaluasi kapasitas smelter yang berlebih.


Ekonomi Bergerak, Daya Beli Melesat Jelang Lebaran

08 Mar 2025

Negara dengan populasi Muslim terbesar kedua di dunia, memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri halal dan menjadi pusat ekonomi syariah global. Meskipun konsumsi produk halal dunia diperkirakan akan terus berkembang pesat, Indonesia masih tertinggal dalam kontribusinya terhadap industri halal global, dengan ekspor produk halal yang hanya mencapai 3% dari total pasar global.

Salah satu faktor penghambatnya adalah rendahnya jumlah pelaku usaha yang memiliki sertifikasi halal. Saat ini, hanya sekitar 3,1% dari 66 juta UMKM Indonesia yang sudah memiliki sertifikasi halal. Oleh karena itu, pemerintah melalui BPJPH telah mengeluarkan regulasi kewajiban sertifikasi halal untuk memperkuat ekosistem industri halal nasional, yang juga memberikan nilai tambah bagi produk Indonesia di pasar internasional.

Selain itu, pasar halal kini berkembang pesat di sektor makanan, minuman, kosmetik, fesyen, dan farmasi, dengan semakin banyaknya konsumen yang peduli terhadap manfaat fungsional dan emosional produk halal, bukan hanya spiritual. Perubahan perilaku konsumen Muslim ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar, khususnya dengan strategi yang mengutamakan kualitas, harga kompetitif, serta inovasi produk. Ke depan, Indonesia perlu lebih fokus pada pengembangan produk halal berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas dan lebih kritis.


UU BUMN Digugat ke MK, Apa Implikasinya?

08 Mar 2025

Belum genap sebulan setelah disahkannya Undang-Undang No. 1/2025 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN), UU tersebut sudah diajukan untuk uji materi ke Mahkamah Konstitusi. Gugatan ini diajukan oleh empat pemohon yang tergabung dalam Asosiasi Advokat Konstitusi (AAK), yaitu Bahrul Ilmi Yakup, Iwan Kurniawan, Yuseva, dan Rosalina Pertiwi Gultom. Mereka menggugat keberadaan Danantara, yang dianggap sudah seharusnya dianggap sebagai entitas publik karena anggarannya bersumber dari APBN. AAK mendesak agar Mahkamah Konstitusi menguji konstitusionalitas beberapa pasal dalam UU BUMN, khususnya Pasal 3E ayat (2), (3), (4), dan (5), yang dianggap bermasalah dalam konteks konstitusional.


Industri Film Siap Panen di Musim Lebaran

08 Mar 2025
Momentum libur Lebaran 2025 menjadi peluang besar bagi industri bioskop dan perfilman Indonesia untuk meningkatkan jumlah penonton dan pendapatan. PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA), pengelola Cinema XXI, telah menyiapkan lima film lokal untuk tayang saat Lebaran, yakni Jumbo, Komang, Norma: Antara Mertua dan Menantu, Pabrik Gula, dan Qodrat 2. Indah Tri Wahyuni, Corporate Secretary Cinema XXI, menegaskan komitmen jaringan bioskop terbesar di Indonesia ini dalam menghadirkan film-film berkualitas bagi penonton. Cinema XXI juga terus meningkatkan kenyamanan dan teknologi bioskop guna memberikan pengalaman menonton terbaik.

Sementara itu, PT MD Entertainment Tbk (FILM) turut meramaikan Lebaran dengan merilis film horor terbaru berjudul Pabrik Gula, yang disutradarai oleh Awi Suryadi. Film ini mengisahkan teror supranatural yang dialami sekelompok buruh musiman di sebuah pabrik gula tua. Astrid Suryatenggara, Chief Communications Officer MD Entertainment, berharap Pabrik Gula dapat mengikuti jejak sukses film horor MD sebelumnya, seperti KKN di Desa Penari, Sewu Dino, dan Badarawuhi di Desa Penari, yang sukses menjadi box office di Indonesia.

Dengan strategi pemasaran yang kuat dan kualitas produksi tinggi, MD Entertainment optimistis film ini akan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan pendapatan perusahaan di 2025. Bahkan, perusahaan telah mengalokasikan capital expenditure (capex) besar untuk produksi, termasuk penggunaan teknologi IMAX dan efek visual canggih.

Secara keseluruhan, libur Lebaran diprediksi akan meningkatkan jumlah penonton bioskop secara signifikan, mengingat banyaknya film lokal berkualitas yang siap tayang serta tingginya animo masyarakat terhadap film, terutama di genre horor.

Optimisme Cadangan Devisa, Mampukah Melonjak?

08 Mar 2025
Cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan pada akhir Februari 2025, tercatat sebesar US$ 154,5 miliar, turun dari US$ 156,1 miliar pada Januari 2025. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar global. Meskipun demikian, BI menilai cadangan devisa masih berada di tingkat yang memadai untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan.

Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, memperkirakan bahwa dalam jangka panjang, cadangan devisa berpotensi meningkat berkat aturan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), yang mewajibkan eksportir menyimpan 100% dananya di perbankan dalam negeri selama minimal 12 bulan. Jika aturan ini berjalan efektif, cadangan devisa Indonesia bisa menembus US$ 200 miliar pada tahun 2029.

Sementara itu, pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, menargetkan cadangan devisa mencapai US$ 189,47 miliar pada 2029, naik dari target US$ 162,40 miliar pada 2025. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bahkan memperkirakan aturan DHE SDA dapat mendongkrak cadangan devisa hingga US$ 80 miliar pada 2025.

Namun, peningkatan cadangan devisa bisa terhambat oleh beban pembayaran utang luar negeri (ULN) yang besar. David Sumual mengingatkan bahwa utang pemerintah yang jatuh tempo pada 2025 mencapai Rp 800,33 triliun, dan akan meningkat menjadi Rp 803,49 triliun pada 2026, yang dapat menjadi tantangan dalam menjaga pertumbuhan cadangan devisa.

Meskipun cadangan devisa masih cukup kuat untuk menopang stabilitas ekonomi, tantangan utama ke depan adalah pengelolaan utang dan efektivitas kebijakan DHE SDA dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Laba Industri Pupuk Tumbuh di Tengah Volatilitas Pasar

08 Mar 2025
PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) optimistis dapat meningkatkan pendapatan dan laba melalui ekspansi bisnis di sektor pupuk dan agrokimia setelah melantai di bursa pada 13 Januari 2025. Direktur DGWG, Danny Jo Putra, menyatakan bahwa industri agro input masih memiliki prospek cerah pada 2025, seiring dengan upaya pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan.

Saat ini, bisnis utama DGWG berada di segmen pupuk dan agrokimia, yang menyumbang bagian terbesar dari total penjualan Rp 3,4 triliun pada 2024.

Untuk memperluas pasar, DGWG berencana membangun pabrik pupuk baru di Sumatra dengan kapasitas 200 metrik ton per tahun pada tahap awal. Pabrik ini bertujuan untuk memenuhi permintaan lokal dengan harga yang lebih kompetitif karena biaya distribusi yang lebih rendah.

Selain ekspansi produksi, DGWG juga melakukan diversifikasi produk di segmen pestisida, pupuk, dan alat-alat pertanian. Perusahaan juga menjajaki pasar ekspor untuk produk karbamasi, dengan target wilayah ASEAN, China, Asia Selatan, Australia, dan Amerika Latin (Brazil).

Di dalam negeri, DGWG memperluas cakupan pasar dengan model business to business (B2B) dan business to business to consumer (B2B2C). Dengan strategi ekspansi ini, DGWG menargetkan pertumbuhan pendapatan 16% dan kenaikan laba bersih 27%. Perusahaan juga telah mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 133 miliar pada 2025, setelah merealisasikan Rp 182 miliar pada 2024.

Dengan ekspansi kapasitas produksi, diversifikasi produk, serta strategi pemasaran yang agresif, DGWG yakin dapat memperkuat posisinya di industri agro input dan mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Saudi Suntikkan Rp 1,6 Triliun untuk Investasi di AirAsia

08 Mar 2025
Public Investment Fund (PIF) dari Arab Saudi berencana menginvestasikan US$ 100 juta (Rp 1,6 triliun) ke maskapai Airasia Group sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan dengan Asia Tenggara, yang menjadi sumber utama wisatawan ke Saudi. Putra Mahkota Mohammed Bin Salman, yang memimpin PIF, berambisi menjadikan Saudi sebagai pusat perjalanan global guna mengurangi ketergantungan ekonomi pada minyak.

Investasi ini sangat penting bagi Airasia Group, yang tengah mencari pendanaan untuk mempercepat ekspansi setelah mengalami kerugian akibat pandemi. Airasia menargetkan penggalangan dana sebesar RM 1 miliar (Rp 3,68 triliun), dengan PIF sebagai investor terbesar. Selain PIF, Airasia juga menjajaki pendanaan dari investor di Singapura dan Jepang.

Kesepakatan ini bertepatan dengan restrukturisasi kepemilikan Airasia oleh Capital A Bhd, termasuk penggabungan unit penerbangan dengan Airasia X Bhd. Salah satu daya tarik utama Airasia bagi investor adalah pesanan lebih dari 350 pesawat narrowbody dari Airbus, meskipun saat ini hanya mengoperasikan 225 pesawat Airbus.

Menariknya, maskapai Riyadh Air, yang juga dimiliki oleh PIF, telah mengambil alih sebagian slot pengiriman pesawat yang sebelumnya dipesan Airasia. Hal ini memungkinkan Airasia menunda pembelian pesawat baru dan mengalokasikan dana untuk ekspansi lainnya, sementara Riyadh Air mendapatkan armada yang sangat dibutuhkan.

PIF sendiri mengelola aset senilai US$ 930 miliar dan memiliki berbagai bisnis penerbangan, termasuk leasing pesawat, unit helikopter, serta sektor pertahanan dan luar angkasa. PIF juga memiliki 15% saham di Bandara Heathrow, London.

Investasi ini sejalan dengan visi Mohammed Bin Salman dalam proyek Neom, kota futuristik senilai US$ 1,5 triliun yang akan menjadi pusat ekonomi baru di Saudi. Secara keseluruhan, kolaborasi antara PIF dan Airasia diharapkan memberikan manfaat strategis bagi kedua belah pihak dalam industri penerbangan global.