Ekonomi
( 40789 )Sentra Cabai Disiapkan di Keerom
Pemprov Papua menyiapkan sentra produksi cabai didua distrik atau kecamatan di Kabupaten Keerom. Luas areal untuk penanaman cabai 30 hektar. Total 36 kelompok tani terlibat dalam penanaman cabai, tersebar di empat kampung di Distrik Arso dan Skanto. Setiap kelompok terdiri atas lima hingga enam petani cabai. ”Pencanangan sentra cabai ini sebagai salah satu upaya penanganan inflasi sesuai arahan Kemendagri. Papua sebagai provinsi induk dari tiga provinsi lainnya yang baru dimekarkan harus juga memiliki kawasan sentra pertanian,” kata Sekretaris Daerah Papua Ridwan Rumasukun saat penanaman perdana bibit cabai di Keerom, Selasa (15/11).
Selanjutnya akan ada perluasan lahan pertanian hingga 200 hektar di Keerom untuk penanaman cabai, tomat, dan bawang merah. Plt Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Papua Salomon Telenggen memaparkan, masa tanam hingga panen cabai diperkirakan sekitar dua bulan. Para petani akan memasarkan cabai di Jayapura dan sekitarnya serta Wamena, ibu kota Provinsi Papua Pegunungan. ”Kami akan mendampingi para petani dalam proses penanaman hingga panen. Kami membantu para petani dengan penyediaan alat kerja, bibit cabai, hingga pupuk,” ujar Salomon. Wakil Bupati Keerom Wahfir Kosasih menyambut baik pembukaan sentra pertanian di wilayahnya. Sebab, Keerom berpotensi menjadi pusat distribusi komoditas pertanian ke beberapa provinsi yang baru dimekarkan dari Papua. (Yoga)
ESDM Diminta Turunkan Kuota Produksi
Masyarakat Jambi mendesak Kementerian ESDM mengurangi kuota produksi batubara selama jalan khusus pengangkutan hasil tambang belum direalisasikan. ”Kuota produksi supaya dikurangi dulu dan jumlah kendaraan (batubara) dibatasi. Ini agar pembangunan jalan khusus batubara bisa dijalankan,” kata anggota Komisi II DPRD Provinsi Jambi, Elpisina, Selasa (15/11). (Yoga)
Sentilan Petani untuk Jokowi
JAKARTA- Serikat petani hingga organisasi masyarakat menyoroti pidato Presiden Joko Widodo pada Sesi Pertama Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 dengan topik besar Kondisi Ekonomi Global, Ketahanan Pangan dan Energi. Pidato pembukaan yang disampaikan Presiden Jokowi di Bali, kemarin, 15 November 2022, dianggap tidak menangkap utuh persoalan pangan saat ini, hingga dikhawatirkan tidak menghasilkan solusi yang tepat. Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih menilai pidato Jokowi, yang salah satunya menekankan soal kelangkaan pupuk, kurang konprehensif dalam melihat permasalah ketahanan pangan. Dia menyebutkan pernyataan Presiden tersebut seakan-akan mengarahkan forum untuk menelurkan solusi berupa penggunaan pupuk kimia yang belakangan harganya melambung. "Jadi Jokowi salah momentum. Ditengah ancaman pemanasan global, harusnya jangan mengedapankan pupuk kimia. Dan terlampau berlebihan kalau menyatakan dunia akan kelaparan kalau tidak ada pupuk kimia. Padahal ini momentum beralih ke pupuk organik," ujar Hnery, kepada Tempo, kemarin. (Yetede)
Main Tangkap Pengeritik G20
DENPASAR- Sejumlah aktivis Indonesia People Assembly (IPA) ditangkap pada saat berdemonstrasi menentang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi G20. Koordinator IPA, Raden Deden Fajrulloh, mengatakan demonstrasi menolak KTT G20 digelar didepan Universitas Udayana pada Selasa, 15 November 2022. Setelah sekitar 7 menit aksi berlangsung, kata Deden, sejumlah aparat dari Satuan Polisi Pamong Praja Bali datang dan membubarkan aksi. "Empat orang langsung dirampas dompet dan KTPnya dengan paksa, sementara koordinator lapangan aksi diarahkan masuk kampus untuk diinterogasi, sehingga barisan aksi menjadi terpisah setelah dibubarkan," kata Deden. Raden juga menuturkan aksi yang digelar di Denpasar kemarin merupakan lanjutan dari diskusi yang diselenggarakan di Universitas Udayana. Selain aksi di Bali, IPA melakukan aksi penolakan penyelengaraan G20 di sejumlah wilayah, seperti NTB, Maluku Utara, dan DKI Jakarta. Mereka menganggap agenda G20 ini sebagai pemborodan biaya. (Yetede)
Presiden: Negara Berkembang Jadi Bagian Rantai Pasok Kesehatan Global
Pandemi Covid-19 menjadi pembelajaran bagi dunia untuk memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi darurat kesehatan global. Negara berkembang harus diberdayakan untuk menjadi bagian solusi kesehatan global. Hal tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat membuka sesi kedua terkait isu kesehatan dalam KTT G20 di Nusa Dua, Bali, Selasa (15/11). Pada sesi pertama, dibahas mengenai keamanan pangan dan energi. ”Negara berkembang harus diberdayakan sebagai bagian dari solusi. Kesenjangan kapasitas kesehatan tidak boleh dibiarkan. Negara berkembang perlu diberdayakan dan harus jadi bagian dari rantai pasok kesehatan global, termasuk pusat manufaktur dan riset,” tutur Presiden. Ia menyampaikan, hal tersebut dapat terwujud apabila investasi industri kesehatan di negara berkembang ditingkatkan.
Kerja sama riset dan transfer teknologi juga harus diperkuat serta akses bahan baku produksi untuk negara berkembang semakin diperluas. ”Dunia tidak boleh mengulang kesalahan yang sama saat pandemi Covid-19. Ini adalah pelajaran berharga untuk menyiapkan dunia dari daru rat kesehatan. Never again harus jadi mantra kita bersama,” ucap Jokowi. Dalam pidato pembukanya, ia juga mengajak para pemimpin G20 untuk turut berkontribusi dalam Dana Pandemi atau Pandemic Fund. Dana Pandemi diluncurkan oleh Presiden Jokowi, Minggu (13/11). Dana ini diharapkan dapat memperkuat dunia agar lebih baik dalam menghadapi pandemi di masa depan. Dana Pandemi saat ini, menurut Direktur Eksekutif Sekretariat Dana Pandemi Bank Dunia,telah terkumpul 1,4 miliar USD dari 24 kontributor. (Yoga)
Utang Luar Negeri Tergerus
UTANG luar negeri (ULN) Indonesia kembali turun. Bank Indonesia (BI) mencatat, ULN per akhir kuartal III-2022 sebesar US$ 394,6 miliar, turun US$ 9 miliar dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar US$ 403,6 miliar. Secara tahunan, ULN per akhir September turun 7%
year on year
(yoy). Penurunan itu lebih dalam dibandingkan penurunan pada kuartal sebelumnya, yaitu 2,9% yoy.
Secara terperinci, ULN pemerintah kuartal III-2022 sebesar US$ 182,3 miliar, turun 11,3% yoy. Penurunan terjadi karena perpindahan investasi pada surat berharga negara (SBN) domestik ke instrumen lain, dan mengurangi porsi kepemilikan investor non-residen pada SBN domestik.
Garap Peluang dari Ekosistem EV
Sejumlah emiten agresif mengembangkan bisnis ke ekosistem kendaraan listrik alias
electric vehicle
(EV). Gelaran konferensi B20 dan G20 menjadi momentum menggeber aksi korporasi di segmen ini.
Sebagai contoh, anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT), Star Energy Geothermal (SEG) yang meneken nota kesepahaman (MoU) bersama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). MoU tersebut terkait penyediaan infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) untuk operasional kendaraan listrik berbasis baterai di wilayah operasi Star Energy.
Lalu, ada Electrum yang meneken pokok-pokok kerjasama
terms sheet
dengan Pertamina NRE, anak usaha PT Pertamina. Electrum merupakan perusahaan patungan PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA).
Masih dari B20 Bali, Volta menjalin kerjasama dengan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dalam penyediaan sewa motor listrik di kawasan The Nusa Dua, tempat penyelenggaraan KTT G20. Volta merupakan anak usaha PT NFC Indonesia Tbk (NFCX), anak usaha PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS), yang salah satunya menggarap motor listrik.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengatakan, ekosistem EV akan tumbuh pesat. Ini didukung oleh bahan baku pembuatan baterai listrik sebagai komponen utama EV yang banyak terkandung di Indonesia, seperti nikel, kobalt, alumunium dan tembaga.
Tentang Fintech, Multifinance Garap Bisnis Dana Tunai
Di tengah himpitan ekonomi, kebutuhan masyarakat terkait pinjaman uang tunai semakin meningkat. Beberapa pemain multifinance melirik potensi tersebut dengan menyalurkan pinjaman uang tunai dalam bentuk pinjaman multiguna.
Selama ini yang paling getol memberikan layanan ini adalah perusahaan multifinance yang bergerak di pembiayaan sektor otomotif. Di sisi lain, multifinance menggarap pasar pinjaman uang tunai yang merupakan ladang bisnis utama.
Salah satu perusahaan multifinance, Adira Finance yang banyak bergerak di sektor otomotif mulai membidik segmen bisnis tersebut.
"Kami memanfaatkan banyaknya kendaraan bermotor masyarakat untuk menjadi jaminan dalam menyalurkan pinjaman dana tunai. Terutama untuk keperluan lain, seperti pendidikan maupun modal kerja," ujar Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, kemarin.
Mandiri Tunas Finance (MTF) juga termasuk multifinance yang yakin, segmen ini bisa terus tumbuh. Bahkan, Direktur MTF, William Francis berharap, segmen ini bisa menjadi penopang pertumbuhan di saat penjualan kendaraan bermotor bisa lesu di tahun depan.
Setitik Asa Ekonomi Dunia
Optimisme kembali menyeruak di antara proyeksi ‘gelap’ ekonomi dunia. Pemicunya, angin ‘perdamaian’ yang berhembus kencang dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Bali. Salah satunya ditandai dengan penegasan sejumlah kepala negara perihal urgensi untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina yang menjadi biang kerok ketidakpastian global. Bahkan, sehari sebelum pembukaan KTT G20, Selasa (15/11), Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping bertemu dan berkomitmen untuk menghindari konflik dan berfokus pada pemulihan ekonomi. Hal itu pun digadang-gadang menjadi penyejuk karena sebelumnya kedua negara adi daya tersebut terlibat perang dagang yang berimbas ke negara lain. Teropong ekonomi dunia pun diyakini kembali terang setelah dibayangi lonjakan inflasi dan risiko resesi. Pada pembukaan KTT G20 kemarin, Selasa (15/11), Presiden Joko Widodo meminta kepada seluruh delegasi untuk merumuskan solusi konkret atas permasalahan ekonomi dunia. Beberapa di antaranya yakni krisis pangan, perang, mahalnya ongkos energi, hingga ketidakpastian lainnya. Joe Biden, mengatakan AS dan China berusaha menciptakan hubungan mesra dalam rangka mengendurkan ketegangan ekonomi dunia. “Kami akan bersaing tetapi tidak mencari konflik. Saya ingin mengelola kompetisi dengan bertanggung jawab,” kata Biden. Sementara itu, Xi Jinping dalam situs resmi Kementerian Luar Negeri China menegaskan ekonomi negara itu sangat terbuka dengan seluruh peluang. Dia mengatakan interaksi China-AS harus ditentukan oleh dialog dan kerja sama saling menguntungkan, bukan konfrontasi dan persaingan tanpa hasil.
Perekonomian Daerah: Bengkulu Pacu Konektivitas
Pemerintah Provinsi Bengkulu memperkuat konektivitas antardaerah melalui pembangunan infrastruktur di wilayah ini guna mengakselerasi perekonomian sehingga dapat menjadi pintu masuk investasi di Sumatra Bagian Selatan.
Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengungkapkan bahwa infrastruktur yang diperlukan untuk meningkatkan konektivitas itu adalah jalan tol, rel kereta api, hingga pengembangan Pelabuhan Pulau Baai sebagai kawasan industri. “Jika [Sumbagsel] diibaratkan sebuah rumah, maka Bengkulu ini bisa menjadi terasnya,” kata Rohidin saat menerima kunjungan Bisnis di Bengkulu, Selasa (15/11). Menurutnya, Bengkulu bisa menjadi katup pembuka untuk menggerakkan ekonomi di kawasan Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel), terutama sejumlah daerah yang ada di provinsi tetangga, Sumatra Selatan (Sumsel), yakni Lubuk Linggau, Musi Rawas Utara, Lahat dan Empat Lawang yang memiliki banyak potensi di hasil bumi dan sumber daya alam (SDA). Konektivitas berupa Jalan Tol Palembang—Bengkulu, yang merupakan sirip dari Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) itu diyakini bisa mempercepat akses mobilitas masyarakat maupun aktivitas ekonomi di dua provinsi itu.
Oleh karena itu, dia mengaku telah menggelar beberapa kali pertemuan dengan gubernur di Sumbagsel untuk membahas strategi dalam membuka konektivitas kawasan itu.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









