;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Strategi Maksimalkan Surplus Dagang di Tengah Ketidakpastian

24 Mar 2025

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia menunjukkan sinyal positif di sektor perdagangan, dengan neraca perdagangan yang mencatat surplus sebesar US$3,12 miliar pada Februari 2025. Surplus ini terutama didorong oleh peningkatan ekspor komoditas nonmigas seperti minyak sawit, batu bara, dan besi baja, serta penurunan impor barang konsumsi. Meskipun ada kekhawatiran terkait daya beli masyarakat yang melemah dan penurunan belanja menjelang Ramadan, kinerja neraca dagang yang positif menunjukkan stabilitas ekonomi Indonesia.

Pemerintah diharapkan dapat terus memanfaatkan momentum ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dengan meningkatkan ekspor, memperkuat sektor pertambangan, dan mengoptimalkan produksi emas sebagai penyangga di tengah ketidakpastian global. Surplus neraca perdagangan ini juga memperkuat nilai tukar rupiah dan memperkuat stabilitas ekonomi Indonesia. Namun, tantangan tetap ada, seperti potensi hambatan perdagangan internasional dan penurunan permintaan domestik, yang perlu dihadapi dengan kebijakan yang responsif dan strategi yang tepat.

Tokoh yang relevan dalam konteks ini adalah Menteri Perdagangan atau pejabat terkait yang terlibat dalam pengelolaan kebijakan ekspor-impor dan penguatan sektor perdagangan Indonesia. Pemerintah harus memastikan keseimbangan antara ekspor dan konsumsi domestik untuk mempertahankan momentum positif ini.


Kenaikan Biaya Utang Jadi Ancaman Baru

24 Mar 2025
Kenaikan credit default swap (CDS) Indonesia menunjukkan meningkatnya risiko investasi yang berdampak langsung pada biaya penerbitan utang pemerintah, khususnya dalam bentuk valuta asing (valas). Meski peringkat utang Indonesia masih bertahan pada level investment grade, kenaikan CDS lima tahun hingga 91,66 per 22 Maret 2025, atau naik lebih dari 28% dalam sebulan terakhir, memperkuat sinyal meningkatnya premi risiko.

Myrdal Gunarto, Staf Ekonomi Bank Maybank Indonesia, menyebutkan dua faktor utama penyebab naiknya CDS: sentimen global, seperti ketegangan geopolitik dan perang dagang, serta penurunan indikator makroekonomi domestik, seperti penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen. Kenaikan CDS ini memengaruhi biaya investasi dan mendorong yield obligasi Indonesia naik, bahkan untuk tenor panjang sudah di atas 7%.

Eko Listiyanto, Ekonom dari Indef, memperkirakan rata-rata yield obligasi pemerintah bisa mencapai 7,5%, yang berarti bunga utang pemerintah akan semakin mahal. Ini akan berdampak pada beban anggaran, khususnya bila pemerintah tetap menerbitkan surat utang dalam valas.

Meski demikian, Suminto, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, menegaskan bahwa pemerintah menerapkan strategi penerbitan utang yang oportunistik dan fleksibel. Pemerintah akan menyesuaikan waktu dan komposisi mata uang penerbitan SBN berdasarkan kondisi pasar dan kebutuhan APBN, demi menjaga cost of fund tetap terkendali.

Meningkatnya CDS menambah tantangan pembiayaan pemerintah di tengah ketidakpastian global dan kondisi makro domestik yang melemah. Pemerintah harus semakin cermat dalam menyusun strategi utang agar risiko fiskal tetap terjaga.

Peluang Pertumbuhan Emiten Kawasan Industri

24 Mar 2025
Prospek pertumbuhan emiten kawasan industri di Indonesia menunjukkan potensi positif, terutama karena peluang relokasi usaha dari China akibat perang dagang dengan Amerika Serikat. Hal ini sempat terbukti pada periode 2018–2019, di mana penjualan lahan industri di kawasan Greater Jakarta meningkat signifikan hingga 380 hektare, dengan kontribusi besar dari sektor otomotif, kimia, makanan-minuman, dan pusat data.

Namun, para analis menggarisbawahi bahwa tahun ini pertumbuhan kawasan industri bisa tertahan oleh sejumlah tantangan domestik, seperti ketidakpastian hukum, panjangnya birokrasi, serta kebijakan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang menimbulkan ambiguitas di mata investor asing.

Sukarno Alatas, Senior Analyst dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa investor kini cenderung menahan diri karena ketidakpastian kebijakan dan iklim investasi. Hal senada disampaikan oleh Ahmad Iqbal Suyudi dari Edvisor Profina Visindo, yang menyoroti tantangan regulasi dan birokrasi sebagai hambatan utama masuknya investasi langsung asing (FDI).

Sementara itu, Ismail Fakhri Suweleh dan Wilastita Muthia Sofi dari BRI Danareksa Sekuritas menekankan pentingnya daya saing dan kejelasan hukum, termasuk perlindungan hak kekayaan intelektual, sebagai faktor penting untuk menarik investor. Mereka juga menyoroti bahwa kemampuan monetisasi investasi sangat tergantung pada kesiapan infrastruktur dan cadangan lahan (landbank).

Imam Gunadi dari Indo Premier Sekuritas menambahkan bahwa meskipun terdapat hambatan seperti kualitas tenaga kerja dan beban regulasi, sektor-sektor tertentu seperti kendaraan listrik (EV) dan proyek hilirisasi tetap menjanjikan karena didukung insentif pemerintah.

Dari sisi investasi, Imam merekomendasikan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) karena kinerja keuangan yang solid, sementara Ismail dan Wilastita memilih PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) yang dinilai kuat karena diversifikasi pendapatannya.

Meskipun emiten kawasan industri menghadapi banyak tantangan struktural dan kebijakan, potensi pertumbuhan tetap terbuka lebar jika pemerintah mampu menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif dan stabil.

Nasib Bank BUMN Ditentukan RUPS

24 Mar 2025
Menjelang libur panjang Lebaran, pergerakan saham bank-bank BUMN diperkirakan sangat dipengaruhi oleh hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), yang kali ini menjadi sorotan karena melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk pertama kalinya. Keputusan penting seperti pembagian dividen dan pergantian direksi berpotensi menjadi katalis utama bagi kinerja saham-saham perbankan pelat merah yang tengah tertekan.

Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menjadi salah satu figur yang diperkirakan akan digantikan dalam RUPS, dengan Putrama Wahju Setyawan disebut-sebut sebagai calon pengganti. Posisi Sunarso, Direktur Utama BRI, juga dikabarkan akan diganti, meski masa jabatannya belum berakhir. Nama Catur Budi Harto dan Hery Gunardi muncul sebagai kandidat kuat untuk posisi tersebut.

Dari sisi kebijakan, pembagian dividen menjadi perhatian utama investor. BNI mengusulkan rasio dividen sebesar 60% dari laba, dan BRI bahkan menaikkan hingga minimal 85%. Namun, Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas mengingatkan bahwa rasio dividen yang terlalu tinggi bisa menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kinerja bank. Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan fundamental dan prospek jangka panjang bank.

Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo menambahkan bahwa tekanan pada saham bank tak lepas dari faktor politik domestik dan ketidakpastian terhadap program pemerintah baru, khususnya terkait efektivitas Danantara, yang membuat investor bersikap lebih hati-hati atau risk off terhadap saham sektor perbankan.

Investor menantikan arah kebijakan dan kepastian dari RUPS sebagai sinyal penting untuk menentukan kembali strategi investasi mereka di sektor perbankan BUMN.

Ekonomi Indonesia Tetap Resilient

22 Mar 2025

Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service menegaskan, perekonomian Indonesia tetap resilien, ditopang pertumbuhan stabil dan solid serta kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal yang terjaga.  Indonesia juga unggul dari sumber daya alam dan bonus demografis. Moody's memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5% tahun 2025 dan 2026, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang relatif kuat, serta volume komoditas yang stabil dan akan mendukung pertumbuhan ekspor. Namun, Moodys menilai, pemerintah perlu mewaspadai perlambatan akibat dinamika global seperti perang tarif. Moody's menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung ketahanan ekonomi yang berkelanjutan. Faktor struktural seperti sumber daya alam yang melimpah dan demografi yang kuat menjadi pilar utama yang mendukung stabilitas ekonomi Indonesia.

Lembaga ini memprediksi beban utang Indonesia tetap stabil dan pada tingkat yang relatif rendah, jika dibandingkan dengan ukuran ekonominya dan negara peers. Meski ada tantangan dalam kondisi fiskal yang lebih luas, terutama masih belum optimalnya basis pendapatan negara, situasi ini diyakini Moody's masih terkelola dengan baik. Selain itu, kebijakan fiskal dan moneter yang dikelola dengan baik dalam menjaga disiplin fiskal, stabilitas makro ekonomi serta inflasi, dianggap memperkuat profil kredit Indonesia. Komitmen otoritas moneter dan fiskal untuk menjaga kredibilitas kebijakan juga mendukung stabilitas makro ekonomi tetap terjaga. Faktor-faktor tersebut melandasi profil sovereign credit rating (SCR) Indonesia berada pada level Baa2 dengan outlook stabil. (Yetede)


Barito Renewables Energy Mencetak Laba 2 Triliun

22 Mar 2025

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menorehkan kinerja impresif sepanjang tahun buku 2024 dengan meraup pendapatan konsolidasi yang solid dan laba bersih yang bertumbuh. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasi, Jumat (21/3/2025), emiten energi terbarukan Prajogo Pangestu itu berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 597 juta, naik tipis dari tahun sebelumnya US$ 594 juta. Energi angin berkontribusi 4% terhadap total pendapatan konsolidasi. Kenaikan pendapatan tersebut didorong kontribusi kuat segmen energi angin yang tetap beroperasi optimal dan memberi pendapatan stabil. Padahal, pada kuartal III-2024, emiten berkode saham BREN tersebut sempat terdampak kegiatan pemeliharaan tak terencana di segmen panas bumi terutama pada unit 2 Drajat yang menyebabkan produksi menurun sementara.

BREN juga berhasil mencatatkan EBITDA tumbuh 86,3% menjadi US$515 juta berkat implementasi inisiatif efisiensi biaya yang disiplin, sehingga mendorong ekspansi marjin EBITDA menjadi 86.3%. EBITDA yang lebih tinggi ini mendorong laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 122 juta atau Rp 2 triliun, naik dari sebelumnya US$ 107 juta. CEO Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan tak memungkiri bahwa sepanjang tahun buku 2024, BREN menghadapi tantangan dari sisi operasional. Namun, perseroan tetap berkomitmen pada efisiensi dan keberlanjutan. "Meski, terdapat hambatan sementara dalam produksi panas bumi, portofoio energi terbarukan kami yang ekstensif berkontribusi pada pendapatan yang stabil dan peningkatan profitabilitas," jelas Hendra, Jumat (21/3/2025). (Yetede)


Fore Coffee Siap Berekspansi dengan Membuka Gerai Baru

22 Mar 2025

PT Fore Kopi Indonesta Tbk (FORE) atau Peyre Coffee bersiap memperluas jaringan outlet di berbogai wilayah Indonesia. Aksi ekspansif tersebut akan dieksekusi berbekal dana segar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). CEO Fore Cotfee, Vico Lomar menyampaikan, IPO merupakan langkah strategis memperkuat posisi perseroan di industri kopi premium Indonesia. "Kami melihat, peluang besar di pasar kopi premium Indonesia dan IPO ini akan memberikan karni sumber daya yang dibutuhkan untuk memanfaatkan peluang itu,"ujar Vico dalarn konferensi pers Investor Gathering di Jakarta, Jumat (21/3/2025). Fore Coffee akan melepas sebanyak 1,88 miliar saham atau 21,08% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh.

Dalam masa penawaran awal (book building) yang berlangsung pada 19-21 Maret 2025, harga saham ditetapkan dalam rentang Rp 160-Rp 202 per saham. Dengan demikian, perseroan berpotensi memperoleh dana segar hingga Rp 379,8 míliar. Masa penawaran umum dijadwalkan pada 26 Maret hingga 9 April 2025, sementara pencatatan saham di BEl direncanakan pada 11 April 2025Vico menjelaskan, sebanyak 76 % dana hasil IPO akan dialokasikan untuk ekspansi outlet di berbagai kota di Indonesia guna memperkuat posisi Fore Coffee sebagai pemimpin pasar kopi premium. "Kami menargetkan, segmen pasar yang mengutamakan pengalaman menikmati kopi dalam suasana modern dan nyaman. Fore Coffee berencana mengoperasikan hingga 600 outiet secara bertahap dalam empat tahun ke depan," kata Vico. (Yetede)


Belum Terbendungnya Volatilitas IHSG

22 Mar 2025

Gelombang aksi pembelian kembali (buyback) saham oleh sejumlah emiten kalkap belum cukup membendung volatilitas indeks harga saharn gabungan (IHSG). Padahal sebagian besar emiten berkapitalisasi jumbo sudah menguntumkan dan melangsungkan buyback saham, misalnya, Grup Barito, Grup Alarn Tri dan deretan emiten Bank Himbara. Grup Barito menyampaikan telah menyiapkan total Rp 5 triliun untuk buyback saham TPIA, BREN, BRPT dan CUAN. Sedangkan Grup Alamn Tri mengalokasikan total Rp 4 triliun untuk melakukan buyback saham. Bahkan, Boy Thohir sudah memborong total 7,3 juta saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) secara pribadi maupun melalui perusahaan keluarganya, PT Trinugraha Thohir (TNT).

Konglomerat Prajogo Pangestu, juga sudah mengakumulasi 4,57juta saham BREN, termasuk PT PetrindoJaya Kreasi Tbk (CUAN) lewat PT Kreasi Jasa Persada yang mengakumulasi PTRO dengan total 273,84 juta saham. Transaksi buyback saham emiten Grup Barito akan terus berlanjut sebesar Rp 2 triliun untuk mengguyur saham TPIA dan BREN dan Rp 500 miliar untuk saham BRPT dan Rp 500 miliar CUAN. Emiten bank-bank BUMN seperti BBNI juga sudah ancang-ancang dengan menyiapkan Rp 1,5 triliun untuk buyback saham. BMRI menyisihkan Rp1,1 triliun dan BBRI sudah melangsungkan periode buyback saham dengan mengalokasikan dana Rp 3 triliun.

Aksi gelombang buyback, sekaligus menjadi isyarat dari para konglomerat dan emiten besar dalam menindaklanjuti kebijakan baru OJK yang mengizinkan emiten untuk melakukan buybeck tanpa perlu meminta persetujuan Rapat Umum Pernegang Saham (RUPS) sebagai upaya mengatasi kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan. Meski stimulus OJK itu disambut meriah dengan ramainya aksi buyback oleh para emiten, namun hal tersebut belum cukup mampu membuat pasar saham bergerak stabi. Buktinya, IHSG kembah terkoreksi sebanyak 123,49 poin (1,94%) ke level 6.258,1 pada perdagangan Jumat (21/3/2025) kemarin. (Yetede)


Program MBG Mendukung Ekonomi Lokal dan UMKM

22 Mar 2025

Kementerian UMKM menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan gizi masyarakat, tapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan, khususnya bagi UMKM. “Dengan alokasi anggaran Rp 171 triliun dan cakupan penerima manfaat sebanyak 82,9 juta orang, program ini membuka peluang besar bagi UMKM untuk berkembang," kata Wamen UMKM, Helvi Moraza, Jumat (21/3/2025). Saat ini terdapat 726 Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 38 provinsi, dengan lebih dari 1.500 UMKM telah bergabung sebagai pemasok bahan baku.

"Seiring dengan target pengembangan 32.000 dapur SPPG pada tahun 2025, jumlah UMKM yang terlibat diproyeksikan akan terus bertambah," kata Helvi. Perputaran ekonomi dalam program ini juga sangat besar, dengan estímasi Rp 30 juta perhari untuk satu dapur SPPG yang memproduksi 3.000 porsi makanan, atau Rp 600 juta per bulan. Untuk memastikan UMKM dapat berpartisipasi secara optimal dalam program MBG, pemerintah telah menyusun berbagai langkah strategis.“Salah satunya adalah memberi kemudahan akses pembiayaan bagi pelaku usaha, schingga mereka dapat memenuhi kebutuhan modal dalam pengadaan bahan baku, peningkatan kapasitas produksi, hingga distribuasi produk pangan." ungkap Helvi.

Pemerintah juga memfasilitasi business matching antara petani, UMKM, platform digital dan ritel guna memperkuat rantai pasok dan membuka akses pasar lebih luas. Pemerintah berupaya menjadikan UMKM sebagai pusat ekosistem pangan melalui pendampingan dalam akses pembiayaan, legalitas usaha, hingga strategi pemasaran.Dengansinergi yang kuat, diharapkan program MBG tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan nasional tetapi juga membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal dan kesejahteraan para pelaku UMKM. (Yetede)


Perpanjangan Diskon Tarif Penyeberangan Merak Bakauheni

22 Mar 2025

Menyambut pergerakan penumpang pada periode libur Nyepi dan arus mudik Lebaran 2025, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memperpanjang kebijakan diskon tarif kendaraan penumpang hingga 36% atau tarif satu harga pada layanan express lintasan Merak-Bakauheni yang akan diterapkan mulai Senin (24/3) atau H-7 hingga Minggu (30/3) atau H-1 Lebaran. Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya ASDP untuk memberikan layanan yang lebih terjangkau sekaligus mengoptimalkan kelancaran arus mudik Lebaran 2025. la juga mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan lebih awal dan melakukan reservasi tiket melalui Ferizy minimal H-1 sebelum keberangkatan.

"Kami mengingatkan pengguna jasa untuk membeli tiket secara online sebelum tiba di pelabuhan serta datang sesuai jadwal keberangkatan yang tertera pada tiket. Dengan perpanjangan diskon tarif ini, kami berharap masyarakat dapat menikmati perjalanan yang lebih nyaman dan ekonomis," kata Shelvy, Jumat(21/3/2025). Penerapan diskon tarif berlaku untuk seluruh golongan yang dilayani di Pelabuhan Merak pada periode tersebut (Pejalan Kaki, Gol IVA, Gol IVB, Gol VA, Gol VIA), dengan besaran diskon tarif untuk kendaraan penumpang berkisar 21-36%. ASDP juga telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk memastikan kelancaran lalu lintas, salah satunya dengan berkoordinasi bersama pemangku kepentingan terkait guna mengatur pengalihan kendaraan di titik-titik krusial. (Yetede)