Ekonomi
( 40733 )Antisipasi Dampak Tarif Trump terhadap Ekspor
Kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan tren positif pada awal tahun 2025, tantangan besar sudah menanti, terutama dengan pengumuman yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada 2 April 2025. AS akan melakukan penyelidikan terhadap negara-negara penyumbang defisit terbesar, termasuk Indonesia, dan dapat menetapkan tarif perdagangan timbal balik (reciprocal) terhadap negara yang memberlakukan hambatan perdagangan terhadap barang-barang AS.
Indonesia, yang mencatat surplus perdagangan terbesar dengan AS pada Januari-Februari 2025 (US$3,13 miliar), perlu menghadapi keputusan yang akan sangat memengaruhi hubungan dagangnya dengan AS. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia telah mengantisipasi langkah AS tersebut dengan membuka dialog strategis dan melakukan lobi untuk mencari solusi, seperti melalui pembaruan Indonesia-US Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) dan memperkuat kerja sama investasi di sektor strategis.
Selain itu, Indonesia juga mempercepat penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) untuk membuka akses pasar baru dan mengurangi ketergantungan pada pasar AS jika terjadi tarif yang lebih tinggi. Benny Soetrisno, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), menekankan pentingnya diplomasi dagang dengan AS sambil tetap menyelesaikan perundingan dengan Uni Eropa.
Namun, Deni Friawan, peneliti senior Departemen Ekonomi CSIS, mengingatkan adanya potensi risiko yang harus diwaspadai oleh Indonesia dalam menghadapi kebijakan perdagangan AS, yang dapat mempengaruhi sektor-sektor strategis seperti migas, tembaga, emas, dan nikel. Oleh karena itu, meskipun ada peluang baru melalui perjanjian internasional, Indonesia harus tetap waspada terhadap dinamika hubungan dagangnya dengan AS.
Saham BUMN Kembali Menguat di Pasar
Saham-Saham BUMN yang tergabung dalam indeks IDXBUMN 20 mengalami kenaikan signifikan pada hari sebelumnya, dengan kenaikan IDXBUMN 20 tercatat mencapai 3,83%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan IHSG yang hanya 1,21%. Kenaikan ini terutama didorong oleh saham-saham dari bank-bank pelat merah seperti PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) yang naik 6,28%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) yang naik 5,26%, PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) yang naik 4,84%, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) yang naik 4,46%. Kenaikan ini terjadi setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang mengumumkan kebijakan pembagian dividen besar dan program buy-back saham.
Di balik fenomena ini, pengumuman tentang struktur pengurus Danantara juga memberikan dampak positif. Rosan Perkasa Roeslani, CEO Danantara, mengungkapkan bahwa struktur pengurus Danantara telah terbentuk secara selektif dan bebas dari kepentingan politis, dengan sejumlah tokoh ternama seperti Ray Dalio dan Thaksin Shinawatra bergabung. Felix Darmawan, seorang analis, mengatakan bahwa pembentukan Danantara berpotensi memberikan nilai tambah dan meningkatkan efisiensi BUMN, yang menguntungkan bagi pasar.
Selain itu, meskipun pasar saham BUMN menunjukkan tren positif, para analis juga memperingatkan pentingnya konsistensi dalam Good Corporate Governance (GCG) oleh emiten BUMN. Mereka percaya bahwa sektor keuangan (seperti BBRI dan BMRI) dan transportasi (seperti JSMR) memiliki prospek yang baik, meskipun tetap ada ketidakpastian yang perlu diwaspadai.
Secara keseluruhan, pasar merespons positif terhadap kebijakan baru dan struktur pengurus Danantara, namun tetap perlu pengawasan dan pelaksanaan yang baik untuk menjaga stabilitas pasar jangka panjang.
Bank Bermodal Besar Catatkan Kenaikan Laba
Rupiah Melemah, Defisit Diprediksi Melebar
GOTO Optimistis Lanjutkan Pertumbuhan
Dividen BMRI Berikan Imbal Hasil Menarik
BRI Gelar RUPTS 2025, Membagikan Dividen dan Buyback Saham
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Senin, 24 Maret 2025, di Jakarta. Pada RUPST ini, BRI menyetujui untuk membagikan dividen sebesar-besarnya Rp 51,73 triliun, meningkat dibandingkan dividen yang dibayarkan tahun 2024 sebesar Rp 48,10 triliun. BRI juga akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan jumlah sebesar-besarnya Rp3 triliun. Pada RUPST BRI 2025 ini terdapat 10 mata acara rapat yang diputuskan dan telah disetujui, tiga diantaranya dijelaskan oleh Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi, diantaranya Penetapan Penggunaan Laba Bersih Perseroan (penetapan dividen tunai), Rencana Pembelian Kembali Saham (buyback) dan Perubahan Pengurus Perseroan.
Penggunaan Laba Bersih Perseroan (Penetapan Dividen Tunai) untuk tahun buku 2024, BRI mencatat laba bersih konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 60,15 triliun. Dari jumlah tersebut, perseroan menetapkan total dividen tunai yang dibagikan sebesar-besarnya mencapai Rp 51,73 triliun. Atas nilai dividen tersebut, pada 15 Januari 2025, BRI telah membagikan dividen interim sebesar Rp 20,33 triliun atau Rp 135 per lembar saham. Sisa dividen yang akan dibayarkan adalah sebesar besarnya Rp31,40 triliun. Dari total nilai dividen tunai diatas, BRI menyetorkan dividen kepada negara Rp27,68 triliun (termasuk dividen interim yang telah dibagikan pada 15 Januari 2025 sebesar Rp10,88 triliun). Sisanya dibayarkan secara proporsional kepada setiap Pemegang Saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada tanggal pencatatan (recording date). (Yetede)
Berkurangnya Manfaat Ekonomi Lebaran
Jumlah pemudik tahun ini yang diperkirakan turun sinifikan dinilai bukan hanya sebagai gambaran perubahan pola mobilitas masyarakat, tapi juga memperkuat sinyal pelemahan ekonomi nasional. Pasalnya, ini akan membuat penyusutan jumlah perputaran uang, sehingga manfaat ekonomi dari libur Lebaran terhadap sejumlah sektor ekonomi berkurang. Alhasil, libur ldulfitri yang secara historis hampir selalu menjadi pengungkit ekonomi di kuartal hari rayaumat muslim di tahun ini kemungkinan akan berkurang signifikan.
Bahkan, hampir semua ekonom memprediksi, pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1-2025 akan lebihrendah dibanding periode sama tahun lalu, yang secara year on year (yoy) masih mampu tumbuh 5,11%. Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilal, sektor transportasi, ritel, kuliner, dan industri kecil menengah (UMKM) akan menjadi sektor yang paling merasakan penurunan manfaat ekonomi Lebaran tahun ini. Padahal, tradisi mudik Lebaran selama ini menjadl motor penggerak slklus perputaran uang di masyarakat. (Yetede)
Investor Pasar Saham Agar Fokus ke Fundamental
Pasar saham kembali terempas pada perdagangan Senin (24/3/2025), begitu struktur pengurus Badan pengelola Investasi (BPI) Dayanagata Nusantara (Danantara) diumumkan ke publik. Namun, sejumlah analis dan Bursa Efekndonesia (BEI) menyebut danantara bukan penyebab penurunan indeks, karena manajemen diisi kalangan professional. Analis menilai, penurunan indeks lebih disebabkan persepsi pertumbuhan Indonesia yang lebih rendah tahun ini. Selain itu,kondisi global belum kondusif dalam menopang penguatan indeks. Investor diminta fokus ke fundamental ekonomi nasional sekaligus emiten dalam berinvestasi saham, bukan ke persepsi. Berdasarkan data BEI, indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 1,55% ke level 6.161.
Bahkan, indeks sempat merosot hingga jebol di bawah 6.000, tepatnya 5.967 pada sesi pertama. Asing kembali net sell Rp 160 miliar, sehingga akumulasinya sampai kemarin mencapai Rp 33,3 triliun sepanjang 2025. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham likuid berkinerja baik terpangkas 17,62%. Indeks regional ditutup mixed, kemarin. Indeks FTSE Malaysia turun 0,11%, PSEi Index Filipina turun 1,1%, Strait Times Index STI Singaputa naik 0,25%, SET Thailand naik 0,29%, dan VN-Index Vietnam turun 0,15%. Indeks SSE Composite China naik 0,15%, Hang Seng 0,9%, Kospi Korea Selatan turun 0,42%, dan TSE Taiwan terpangkas 0,46%. (Yetede)
Program Produktif butuh Relokasi Anggaran
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan, efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah berdampak ke sektor perhotelan. "Pasti terdampak di sektor perhotelan karena biasa pemerintah melakukan kegiatan di hotel," kata dia, Senin (24/3/2025). Menurut Esther, budget realokasi (bukan efisiensi anggaran karena total anggaran tak berkurang) harus diperuntukkan untuk program yang produktif dan bisa menstimulasi pertumbuhan ekonomi untuk mencegah PHK di sektor perhotelan. "Juga menjaga daya beli masyarakat karena masyarakat bisa berlibur dan menggunakan hotel kalaupunya uang," kata dia. Tahun lalu pemerintah resmi melakukan pemotongan anggaran, industri perhotelan dan restoran mengalami penurunan yang signifikan.
Ketua bidang Litbang dan IT BPP Perhimpunan Hoten dan Restoran Indonesia (PHRI) Christy Megawati memaparkan kinerja pasar mengalami penurunan sejak kebijakan penghematan anggaran pemerintah diterapkan pada November 2024, tercermin dari survei PHRI beberapa bulan terakhir yang melibatkan 726 pelaku industri perhotelan dari 30 provinsi. "Dalam grafik ini kita bisa lihat November, market masih optimis bahwa kinerja pasar tahun2024 dibanding tahun sebelumnya masih positif. Tapi di bulan Desember, semenjak adanya pengumuman kebijakan anggaran, market mulai shifting," jelas Christy dalam Konferensi Pers PHRI di Jakarta belum lama ini. Dari Januari, industri mulai merasakan pesimis karena market mengalami penurunan. (Yetede)
(Yetede)Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









