;
Kategori

Ekonomi

( 40512 )

Membuat Terang di Tahun Menantang

03 Dec 2022

Pemerintah dan dunia usaha memilih proaktif menghadapi tahun 2023 yang penuh tantangan. Apalagi, Indonesia punya daya tahan, modal dasar, dan kemampuan menavigasikan pemulihan. Paradigma proaktif ini menjadi pandangan umum di antara pejabat pemerintah dan pelaku usaha di sepanjang rangkaian Kompas100 CEO Forum powered by East Ventures yang berlangsung sejak Agustus hingga Desember. Mengusung tema ”Membuat Terang di Tahun Menantang”, Kompas100 CEO Forum di Istana Negara, Jumat (2/12) menjadi puncak acara yang menguatkan kesepahaman cara pandang itu. Presiden Jokowi dalam arahannya di depan 96 pemimpin perusahaan dan 10 kepala daerah di Istana Negara mengajak dunia usaha untuk optimistis menghadapi 2023. Hal ini disampaikan dengan penekanan agar semua pihak tetap waspada dan berhati-hati. Presiden mendasarkan optimisme pada empat faktor. Pertama, Indonesia kaya sumber daya alam. Kedua, memiliki sumber daya manusia yang besar. Ketiga, RI mempunyai pasar yang besar, termasuk pasar ASEAN dengan akumulasi penduduk 600 juta jiwa. Keempat, Indonesia terletak di jalur perdagangan yang sibuk.

”Kekuatan inilah yang harus kita ingat-ingat terus dalam rangka membangun sebuah strategi besar, bisnis negara, strategi besar ekonomi negara, agar kita mencapai visi yang kita inginkan,” kata Presiden, yaitu membangun ekosistem usaha domestic yang kuat. Salah satu cirinya adalah investasi, sebagai salah satu bagian vital dalam ekosistem, harus bersifat kemitraan yang saling menguntungkan. ”Kita tetap membuka ekonomi kita, keterbukaan ekonomi. Tetapi sekali lagi, kita harus bisa mendesain negara lain bergantung pada kita. Harus! Jangan sampai kita ini hanya menjadi cabang,” katanya. Saat ini, menurut Presiden Jokowi, pemerintah tengah membangun ekosistem industri kendaraan listrik. Indonesia punya modal dasar, yakni cadangan nikel, tembaga, bauksit, dan timah yang melimpah. ”Inilah yang ingin kita bangun, hanya satu ekosistem dulu. Belum nanti ekosistem yang berikut-berikutnya. Kalau ini jadi, 2026-2027 sudah kelihatan, akan  berbondong-bondong,” kata Presiden. (Yoga)


Faktor Geopolitik dan Resesi Global 2023

03 Dec 2022

Perekonomian dunia diperkirakan mengalami kelesuan pada 2023 dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi global berkisar 2,2-2,7 % (OECD, IMF). Deklarasi pemimpin dunia pada forum 20 di Bali,  November lalu, menunjukkan kekhawatiran yang sama, tercermin dari kesepahaman untuk kembali memperkuat skema kerja sama multilateral, menjaga kebijakan makroekonomi yang fleksibel, memperkuat ketahanan pangan dan energi, mendorong perdagangan dan investasi, serta mempercepat pencapaian sasaran pembangunan berkelanjutan. Kesuksesan perhelatan G20 masih menyisakan jalan panjang agar berbagai kesepahaman tersebut diterjemahkan menjadi aksi yang konkret. Bukan tidak mungkin ancaman resesi global pada akhirnya mendorong setiap negara mengambil kebijakan yang bersifat self-interest dan berlawanan dengan semangat deklarasi. Di titik ini Indonesia perlu mengantisipasi berbagai faktor yang dapat memengaruhi resesi tahun depan. Beberapa isu ekonomi dan geopolitik yang perlu mendapat perhatian adalah kemungkinan berkepanjangannya perang Rusia-Ukraina, meningkatnya proteksionisme, kebijakan moneter ketat AS, serta kebijakan China yang agresif, baik dalam isu Taiwan maupun perbatasan di Laut China Selatan. Pertama, dalam konflik Rusia-Ukraina, Indonesia harus siap dengan skenario perang berkepanjangan. Berlanjutnya perang akan memberi tekanan kepada Indonesia dari sisi pangan. Impor gandum Indonesia yang seperempatnya dipasok dari Ukraina sebelum perang dapat ditutup oleh pasokan dari Australia,  India, dan Kanada, tetapi harga gandum dan jagung dunia kembali melonjak setelah Rusia menolak membuka akses ekspor pangan Ukraina di Laut Hitam.

Melihat rentannya kondisi pangan dunia terhadap gejolak produksi, harga, dan transportasi, pemerintah perlu mempertimbangkan 2023 sebagai tahun kebangkitan sumber pangan lokal. Dari jalur energi, meski tidak mengimpor minyak dan gas langsung dari Rusia dan Ukraina, Indonesia dapat terdampak jika harga energi dunia kembali meningkat seperti  pertengahan 2022. Di tengah krisis ini, terdapat peluang impor minyak murah Rusia, peningkatan  permintaan minyak nabati dan permintaan batubara Indonesia dari negara-negara Uni Eropa. Meski demikian, windfall dari komoditas ini tidak boleh menghentikan upaya peningkatan nilai tambah mineral. Selain itu, kembali digunakannya batubara untuk pembangkit energi di Uni Eropa adalah kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk menyerukan transisi energi yang adil dan terjangkau, yang memastikan tidak ada pihak yang tertinggal dan dirugikan, sebagaimana deklarasi G20 lalu. Kedua, kecenderungan proteksionisme dalam perdagangan internasional diperkirakan terus berlangsung. Proteksionisme ini juga berdampak pada perubahan pola rantai nilai global (GVC) untuk mengembalikan produksi ke negara asal (reshoring), ke negara yang dekat (nearshoring), atau negara yang lebih mudah dipengaruhi kebijakan perdagangannya (friend-shoring). Indonesia dapat mengantisipasi dengan  memaksimalkan berbagai perjanjian perdagangan bebas yang telah disepakati. Selain itu, mengembangkan perjanjian bilateral baru untuk memperluas negara mitra dagang serta memperkuat skema kerja sama regional ASEAN dan Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP.  (Yoga)


Produk Hijau Indonesia ”Menjaga Matahari”

03 Dec 2022

Sudah diberondong produk impor, masih harus memenuhi persyaratan produk hijau atau ramah lingkungan negara lain. Itulah potret sejumlah produk hijau Indonesia ”menjaga matahari”. Menyelamatkan pasar ekspor agar tak meredup. Agar diterima di pasar AS dan Uni Eropa (UE), pelaku usaha mebel dan kerajinan Indonesia harus menggunakan kayu legal dan tersertifikasi. Bahkan, demi syarat hijau negara lain, mereka rela ”kehilangan” 1 % pendapatan ekspor untuk dana penanaman pohon. Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur, mengatakan, Pemerintah Indonesia mewajibkan pelaku industri mebel dan kerajinan bisa memenuhi persyaratan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK). Untuk bisa menembus pasar AS, pelaku industri mebel perlu memenuhi persyaratan Lacey Act. Sementara itu, agar bisa menembus pasar Eropa, mereka harus memenuhi persyaratan Forest Stewardship Council (FSC). ”Suka tidak suka, anggota HIMKI yang berjumlah 2.500 pelaku usaha harus memenuhi sistem itu karena itu sifatnya mandatori.  Kami menjamin kayu itu betul-betul tersertifikasi dari lembaga tepercaya,” ujar Sobur, saat dihubungi, Senin (21/11). HIMKI bahkan sudah mengusulkan kepada pemerintah untuk menerbitkan Kepres mengenai Penanaman Kayu Perkakas. Tujuannya adalah demi bisa menjalankan usaha berkelanjutan, serta menjamin keberlangsungan bahan baku dan bisnis sejalan dengan pelestarian alam.

Dengan peraturan itu, 1 % dari kinerja ekspor industri mebel bisa dikembalikan kepada negara sebagai dana penanaman dan pelestarian kayu perkakas. Menurut rencana, pepohonan itu bisa ditanam di sepanjang jalan tol atau ditanam di sejumlah wilayah di Indonesia. Pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) juga berupaya menghasilkan produk hijau. Melalui Rantai Tekstil Lestari, Indonesia saat ini tengah mengembangkan serat selulosa untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri TPT di dalam negeri. Salah satunya adalah serat viskosa yang berasal dari akasia. Benang sintetis dari serat kayu ini memudahkan produk TPT terurai. Ketua Umum Rantai Tekstil Lestari (RTL) Basrie Kamba menuturkan, RTL akan menjembatani kepentingan negara-negara pengusung kebijakan nol karbon dengan pemerintah dan pelaku industri TPT di Indonesia. Salah satunya terkait dengan kebijakan-kebijakan yang  digulirkan atau akan digulirkan. Langkah serupa dilakukan ID Food, Holding BUMN Pangan. Salah satunya turut serta dalam pengembangan blue economy dan blue food Ocean20 (O20) melalui bisnis perikanan yang dikelola PT Perikanan Indonesia. Dirut lD Food Frans Marganda Tambunan menyatakan, untuk mewujudkan misi itu, ID Food akan memberdayakan nelayan tidak hanya dalam peningkatan produksi. Kelompok-kelompok nelayan juga akan diarahkan menjaga pasokan ikan dan pemanfaatan sumber daya laut yang ramah lingkungan. (Yoga)


Sepoi-sepoi Investasi dan Perdagangan

03 Dec 2022

Pertumbuhan perdagangan barang global akan turun menjadi 3 % pada 2022 dan 1 % pada 2023. Penurunan juga diperkirakan terjadi pada aliran masuk investasi asing langsung global. Kenaikan suku bunga global menjadi penyebab utamanya. Akan tetapi, posisi ekspor dan aliran investasi asing ke Indonesia diperkirakan relatif aman. Berdasarkan laporan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) per 23 Agustus 2022, nilai perdagangan global saat puncak pandemi turun 7,18 %, dari 19 triliun USD pada 2019 menjadi 17,65 triliun USD pada 2020. Nilai perdagangan global berangsur pulih menjadi 22,33 triliun USD pada 2021 atau naik 26,52 % dari 2020. Namun pada 2022 dan 2023, pertumbuhan perdagangan global kembali menurun walau tak terkontraksi. Selain karena kenaikan suku bunga global, penurunan perdagangan global pada 2022 terjadi akibat efek invasi Rusia ke Ukraina dan hambatan ekspor. Hingga pertengahan Oktober 2022, hambatan ekspor yang diterapkan G20 berkurang 77 % dan tinggal 17 jenis larangan ekspor. Namun hambatan yang masih ada telah menahan perdagangan barang global senilai 122 miliar USD. Hambatan itu termasuk perdagangan pangan dan pupuk, tetapi ada optimisme. Seperti diberitakan Xinhua, 23 November 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin siap memulai pasokan pupuk.

Penyebab lainnya adalah efek fragmentasi dan keterpecahan dalam perdagangan global, seperti dikatakan Dirjen Perdagangan WTO Ngozi Okonjo-Iweala di Sydney, Australia, Kamis (24/11). ”Fragmentasi mengancam perdagangan multilateral,” katanya. Semua faktor itu membuat perdagangan global pada 2023 diperkirakan hanya tumbuh 1 %. Akan tetapi, Indonesia tidak akan terpukul keras. Meski ada dampak, efeknya tidak signifikan. ”Efek ke Indonesia bersifat mild,” kata Agustinus Prasetyantoko, ekonom Universitas Atma Jaya Jakarta. Direktur Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk Indonesia Jiro Tominaga, Rabu (21/9), di Jakarta. ”Ekspor komoditas Indonesia mengalami booming,” katanya. Permintaan terhadap ekspor komoditas mendukung pertumbuhan dan mendorong penerimaan negara. Namun, masalah dihadapi perusahaan-perusahaan eksportir dengan tujuan ke negara-negara bermasalah. Ekspor nonmigas terlihat menurun ke Pakistan, Sri Lanka, dan sejumlah negara yang bermasalah dengan utang luar negeri. Masalah juga muncul bagi eksportir tekstil dan alas kaki ke pasar AS dan Eropa. Ada masalah bagi perusahaan dengan konsekuensi PHK. ”Khusus bagi perusahaan eksportir manufaktur, ada penurunan tajam,” kata Yose Rizal Damuri, ekonom dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta. Meski demikian, secara makro ekspor Indonesia tidak terpengaruh besar. Ekonom ADB, Albert Park, berpendapat Asia tak akan didera masalah moneter. Setelah mobilitas pulih, ekonomi Asia kembali mengalami pemulihan permintaan. Program-program ekonomi yang tertunda akan kembali berjalan. (Yoga)


Cegah Konflik Meluas, Antisipasi Perang Ekonomi

03 Dec 2022

Kecuali Australia, semua benua akan masih dilanda perang atau setidaknya konflik bersenjata pada 2023. Persaingan di antara sesama negara mitra dan kerja sama di antara negara yang terlihat berseberangan juga akan terus terjadi. Penggunaan instrumen-instrumen ekonomi sebagai sarana menekan lawan dan pesaing akan makin masif. Inflasi di Uni Eropa (UE) dan AS serta pengendalian Covid-19 di China harus menjadi perhatian Indonesia. Pada akhir November 2022, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde dan Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell menegaskan, pengendalian inflasi masih menjadi fokus. Karena itu, ECB dan The Fed akan berusaha menekan konsumsi serta menarik uang dari pasar demi mengendalikan inflasi. Sementara China masih mempertahankan kebijakan nihil Covid-19, meski Beijing mengindikasikan akan ada pelonggaran, pembatasan bakal terus dilakukan di China. Sebagai tujuan  utama ekspor Indonesia, keputusan trio AS-Eropa-China itu bisa menekan neraca perdagangan luar negeri Indonesia. Nilai tukar rupiah juga akan terus tertekan karena pasokan dollar AS dan euro bakal terus berkurang. Bagi eksportir, pelemahan rupiah sebenarnya bisa menjadi peluang jika pasar sedang terbuka. Sayangnya, trio tujuan ekspor utama Indonesia berpotensi mengurangi permintaan.

Inflasi Eropa tidak bisa dilepaskan dari perang Ukraina. Peneliti Rand Corporation, Samuel Charap, menyebutkan, sulit, setidaknya sampai saat ini, mencari solusi damai perang Ukraina. ”G7 pada dasarnya meminta Rusia menyerah total, hal yang tidak mungkin dicapai secara diplomatik,” kata peneliti lembaga kajian yang dekat dengan Departemen Pertahanan AS itu. Perang Ukraina juga menjadi salah satu penyebab Economist Intelligent Unit memasukkan Indonesia dalam kelompok negara dengan risiko kerentanan pangan pada rentang 11 - 40 %. Selain gangguan pola tanam akibat perubahan iklim, risiko itu juga dipicu hambatan perdagangan pupuk dan gandum gara-gara perang Ukraina-Rusia. Indonesia juga ikut menanggung dampak lonjakan harga energi gara-gara perang tersebut. Beban Indonesia dan sejumlah negara semakin bertambah jika perang sampai pecah di Semenanjung Korea dan Taiwan. Perang di kawasan itu akan menjadi beban serius bagi Indonesia. Setidaknya 500.000 warga Indonesia tinggal di Hong Kong-Taiwan-Korea Selatan-Jepang. Mereka perlu dievakuasi jika sampai terjadi perang di Taiwan atau Semenanjung Korea. Selain itu, dari 228 miliar USD ekspor Indonesia sepanjang 2021, hingga 83 miliar USD ditujukan ke Taiwan dan sekitarnya. Nilai ekspor Indonesia ke sana setara 7 % PDB Indonesia 2021. Karena itu, sangat beralasan jika Presiden Jokowi pada pidato pembukaan KTT G20 di Bali, pertengahan November, menekankan betul agar dunia tidak terbelah, terutama karena perang antarnegara tidak hanya berwujud perang bersenjata, tetapi juga perang ekonomi. (Yoga)


Menjaga Keberlanjutan Sukses Inovasi

03 Dec 2022

Di tengah ketidakpastian akhir pandemi Covid-19, dunia dihadapkan pada krisis pangan dan energi. Inflasi dan resesi ekonomi yang memicu instabilitas politik di sejumlah negara membuat pemenuhan kebutuhan dasar jadi lebih menantang. Namun, kondisi itu juga bisa menjadi peluang mendorong riset dan inovasi lebih maju. Terganggunya rantai pasok global obat dan alat kesehatan pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020 membuat Kemenristek saat itu bergerak cepat mengoordinasi semua lembaga riset dan perguruan tinggi membuat berbagai produk kesehatan yang dibutuhkan dalam menangani Covid-19. Dengan tujuan terarah, penugasan gamblang, pendanaan jelas, sistem pendanaan riset yang  dipermudah, hingga koordinasi lintas keilmuan dan lembaga yang lincah, terpacu lahirnya banyak inovasi dalam waktu singkat dan kondisi terbatas. Dukungan penuh lembaga sertifikasi membuat berbagai inovasi segera diserap pasar sekaligus membantu masyarakat. Sejumlah inovasi itu di antaranya menghasilkan bahan dan alat uji cepat antigen, ventilator, laboratorium uji bergerak, robot pembersih ruang isolasi, dan vaksin. Sebagian inovasi itu tak dipakai lagi seiring terkendalinya penyebaran Covid-19, tetapi sebagian baru akan dipakai dalam waktu dekat, seperti vaksin. Berbagai riset terkait pandemi Covid-19, terutama epidemiologi, pun dilakukan. Hasil riset jadi dasar pengambilan kebijakan dan edukasi warga, khususnya terkait pelaksanaan aturan pembatasan kegiatan masyarakat.

”Riset dan inovasi terkait optimasi hasil pangan, teknologi pascapanen, dan pengolahan pangan beserta diversifikasinya penting dikedepankan pada 2023,” kata Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan  kewirausahaan ITB, R Sugeng Joko Sarwono, Rabu (23/11). Untuk bidang energi, riset inovasi energi baru dan terbarukan berbasis solar, arus sungai, dan laut diprediksi naik. Demikian pula inovasi teknologi alat transportasi listrik dan penunjangnya, mengingat pemerintah mendorong transisi dari kendaraan  berbasis mesinpembakaran internal ke kendaraan listrik. Ketidakjelasan akhir pandemi membuat riset dan inovasi teknologi farmasi, khususnya obat dengan bahan baku dalam negeri serta obat herbal, juga akan berkembang. Riset alkes diyakini akan berkembang menggantikan alkes impor. Semua jenis riset dan inovasi yang makin berkembang tahun depan itu berbasis kecerdasan artifisial, mesin pembelajar, hingga mahadata. Karena itu, tersedianya sumber daya manusia bermutu bidang teknologi informasi akan makin penting. Dorongan inovasi ini guna memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. ”Untuk jadi negara maju pada 100 tahun kemerdekaannya tahun 2045, Indonesia harus meningkatkan pendapatan per kapita yang kini 4.000 USD menjadi 12.000 USD,” kata Gatot Dwianto, anggota Next Federation, lembaga pendorong integrasi dan transformasi sumber daya industri global. Lompatan pendapatan per kapita bakal terwujud jika pertumbuhan ekonomi didorong inovasi, tak hanya bertumpu pada ekspor komoditas. (Yoga)


Industri Film, Tekor atau Mencatat Rekor?

03 Dec 2022

Tahun 2022 saat pandemi masih mengintai, bioskop dibuka kembali dengan berbagai pembatasan. Saat itu film KKN di Desa Penari yang disutradarai Awi Suryadi mencetak sejarah dengan 9,2 juta penonton. Sampai saat ini, film produksi MD Pictures yang diputar April-Mei itu belum tergoyahkan sebagai film Indonesia dengan penonton terbanyak. Pencapaian KKN di Desa Penari yang fenomenal dipandang sebagai penanda kembali bangkitnya perfilman nasional. Apalagi sepanjang 2022 ada 10 film yang masing-masing ditonton lebih dari satu juta penonton. Meski tahun 2022 industri film komersial memperlihatkan tanda kebangkitan, bukan berarti tahun 2023 industri ini pasti akan lebih baik. Ada beberapa ancaman yang bisa memengaruhi industri ini, di antaranya ancaman krisis ekonomi sebagai dampak perang Rusia-Ukraina, ancaman keamanan pada tahun politik jelang Pemilihan Umum 2024, dan ancaman kesehatan akibat masih belum kelarnya pandemi Covid-19. Produser Wicky V Olindo mengatakan, kondisi ekonomi saat ini mulai suram lantaran banyak pemberitaan tentang pemberhentian tenaga kerja di banyak perusahaan besar. Akan tetapi, dia tetap optimistis karena pertumbuhan ekonomi masih bagus dan daya beli masih terjaga.

”Untuk industri bioskop, kita harus melihat lagi karena bioskop itu fluid dari perspektif daya beli. Karena industrinya belum konsisten, penonton kadang ada dan enggak ada,” ujar Wicky di Jakarta, Jumat (25/11). Para produser yang lama malang melintang di industri film Indonesia seperti Manoj Punjabi dari MD Pictures juga tetap optimistis menatap tahun 2023. Belajar dari kesuksesan film produksinya, KKN di Desa Penari, menurut Manoj, film Indonesia sudah terbukti bisa bersaing dengan film-film Hollywood. ”Ini, luar biasa. Setelah itu hingga sekarang film-film nasional bisa dibilang jadi tuan rumah lagi di negeri sendiri,” ujarnya. Dia telah mempersiapkan 11 film andalan untuk ditayangkan pada 2023. Dia yakin, film-film tersebut bakal menggaet jutaan penonton. Keyakinan itu ditopang dengan fakta bahwa penguasaan pasar (market share) film-film nasional bisa mengimbangi film asing pada tahun 2023. Ketua Komite FFI 2021-2023 Reza Rahadian pada malam penghargaan FFI di Jakarta, Selasa (22/11) mengatakan, penguasaan pasar film Indonesia sudah mencapai 61 %. Persentase tersebut naik signifikan dalam setahun dari sebelumnya 48 %. (Yoga)


Inflasi Inti Melandai, Daya Beli Masyarakat Kian Tergerus

03 Dec 2022

Pergerakan inflasi inti melandai pada November 2022. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi inti pada November 2022 sebesar 0,15% month on month (mom) atau secara tahunan tercatat 3,3% year on year (yoy). Pergerakan inflasi inti secara bulanan dalam tren menurun sejak September 2022. Saat itu, inflasi inti tercatat 0,30% mom, turun dari bulan sebelumnya yang 0,38%. Inflasi inti terus menurun hingga pada Oktober tercatat sebesar 0,16% mom dan kembali menurun di November 2022. Sementara itu, inflasi inti secara tahunan dalam tren naik sejak awal tahun. Pada Januari, inflasi inti tercatat 1,84% yoy dan terus meningkat hingga ke level 3,21% pada Oktober. Selain itu, inflasi inti yang tidak naik signifikan karena dampak lanjutan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap inflasi inti cukup terbatas. Erwin yakin inflasi inti maupun inflasi umum akan tetap terjaga di kisaran 3% plus minus 1%.

Harga Komoditas Menuklik, Saham Konsumer Masih Ciamik

03 Dec 2022

Kinerja emiten sektor barang konsumer diprediksi mempunyai outlook cerah hingga 2023 mendatang. Salah satu penopangnya, mulai melandainya harga sejumlah komoditas yang jadi bahan baku industri konsumer. Analis Samuel Sekuritas Indonesia Pebe Peresia menilai, penurunan harga komoditas, seperti harga gandum dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), akan berdampak positif terhadap kinerja emiten barang konsumsi. Dari beberapa emiten consumer goods yang ada dalam cakupan analisis Samuel Sekuritas, Pebe melihat, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) akan dapat keuntungan besar dari penurunan harga komoditas.

Jor-Joran Tebar Insentif Kendaraan Listrik

02 Dec 2022

Pemerintah benar-benar jor-joran memberikan insentif demi menggenjot populasi kendaraan listrik, baik sepeda motor maupun mobil. Sejak program pengembangan industri kendaraan listrik bergulir pada 2019 silam, aneka insentif untuk mendorong pengembangan ekosistem kendaraan setrum, baik di hulu maupun hilir terus diobral. Cukup banyak ragam insentif yang telah ditawarkan. Tak hanya pemerintah, insentif juga datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), baik bagi produsen kendaraan listrik maupun konsumen sendiri. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana menyatakan, usulan subsidi Rp 6,5 juta datang dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Namun, pihaknya juga mengusulkan skema subsidi tersebut juga diberikan dalam bentuk konversi motor BBM ke motor listrik.