Ekonomi
( 40512 )Bank Kecil dan Digital Waspadai Efek SVB
Otoritas Jasa Keuanga (OJK) menilai, kegagalan Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat (AS) tidak akan berdampak langsung ke perbankan Indonesia. Optimisme semacam itu sejalan dengan penilaian OJK tentang stabilitas sektor perbankan yang masih terjaga.
Namun efek domino kejatuhan bank di Amerika Serikat (AS) tetap harus diwaspadai perbankan, terutama bank digital dan bank berskala kecil menengah.
"Bank pada dua kategori ini rentan terkena dampak karena kurangnya kepercayaan masyarakat jika dibanding dengan bank besar," kata Senior Vice President
Lembaga Pengembangan Perbakan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, Rabu (15/3).
Dia mengakui kesehatan bank digital dan bank berskala kecil saat ini terjaga, sejalan dengan aturan terkait permodalan yang ketat. Namun tetap saja, bank di kelompok ini harus mengantisipasi agar tidak terjerembab seperti SVB.
Satu caranya adalah memperkuat permodalan.
Pengamat dan Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menilai, kesehatan bank digital semakin baik seiring langkah efisiensi.Kendati beberapa bank masih merugi.
Selain karena stabilitas perbankan kuat, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut kasus SVB tak berdampak langsung karena bank-bank di Tanah Air tak punya hubungan bisnis,
facility line, maupun investasi pada produk sekuritisasi SVB. Bank domestik juga tidak menyalurkan kredit dan melakukan investasi ke perusahaan berbasis teknologi dan kripto.
MENGAWAL LENGGANG KINERJA DAGANG
Kinerja dagang Indonesia lagi-lagi moncer. Termutakhir, Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (15/3), mengumumkan neraca perdagangan pada Februari 2023 tembus US$5,48 miliar. Artinya, grafik surplus neraca perdagangan Indonesia tak pernah nyungsep ke area negatif dalam 34 bulan terakhir. Tak pelak, capaian positif tersebut kian menahbiskan Indonesia sebagai negara yang hingga kini masih memiliki fundamental ekonomi kuat. Namun jika dicermati, sejatinya ada gelagat negatif yang patut diwaspadai. Kinerja dagang yang positif tersebut berisiko berbalik arah lantaran performa ekspor dan impor pada Februari 2023 turun secara bulanan. Tren yang sama juga terjadi pada bulan sebelumnya. Menurut data BPS, ekspor pada Februari 2023 turun sebesar 4,15% secara bulanan (month-to-month/MtM) menjadi US$21,40 miliar, kendati secara tahunan masih meningkat sebesar 4,51% (year-on-year/YoY). Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah menjelaskan tren pelemahan ekspor dipengaruhi oleh sejumlah harga komoditas yang menurun, serta perlambatan perekonomian negara mitra dagang. Secara bulanan, ekspor migas tercatat turun 20,26%, sedangkan ekspor nonmigas juga melorot 3% secara MtM. Salah satu kekhawatiran kinerja impor lantaran penurunannya pada kategori impor bahan baku/penolong yang menjadi bahan baku industri. Sebaliknya, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri optimistis kinerja ekspor Indonesia berpeluang membaik setelah pembukaan kembali perbatasan China.
Bagi Dividen Rp7,3 Triliun, BNI Optimistis Kinerja 2023 Semakin Positif
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI telah mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2022 dan telah menyetujui pembagian dividen sebesar 40% atau senilai Rp7,32 triliun. Nilai ini naik 2,69 kali lipat dari total dividen tahun buku 2021 yang mencapai Rp2,72 triliun. Dengan demikian, nilai dividen per lembar saham kali ini ditetapkan Rp392,78, dibandingkan tahun lalu sebesar Rp146. Dengan memperhitungkan komposisi saham milik Pemerintah yang sebesar 60%, maka perseroan akan menyetorkan dividen senilai Rp4,39 triliun ke rekening Kas Umum Negara. Sementara atas kepemilikan 40% saham publik, dividen senilai Rp2,92 triliun akan diberikan kepada pemegang saham sesuai dengan porsi kepemilikannya masing-masing.
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyampaikan kenaikan rasio pembayaran dividen menjadi 40% pada tahun ini dilakukan seiring dengan kinerja keuangan perseroan yang terus membaik dengan capaian laba Rp18,3 triliun pada 2022.
Royke menuturkan perseroan optimistis dalam meningkatkan kinerja secara berkelanjutan. Secara umum, 2023 diprediksi sebagai tahun yang penuh tantangan dengan masih berlanjutnya isu geopolitik, perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi secara global. Inflasi pun diperkirakan melandai ke 3,8% setelah meredanya dampak kenaikan harga BBM ke inflasi konsumen. Stabilnya ekonomi domestik ini tentunya akan menjadi katalis pertumbuhan bisnis yang sehat bagi perbankan. “Dengan mempertimbangkan prospek dan potensi bisnis serta kondisi makro ekonomi, perseroan tetap optimistis pertumbuhan kinerja akan positif seiring dengan agenda transformasi yang masih berjalan di 2023,” jelasnya.
Perseroan juga mengembangkan infrastruktur teknologi serta inovasi digital dalam rangka peningkatan kemampuan transaksional, terutama pada aplikasi BNI Mobile Banking dan BNIDirect dengan tujuan untuk menjadi top-of-mind transactional bank bagi nasabah. Perseroan juga gencar melakukan perluasan kemitraan melalui platform open API dan pengembangan teknologi terkini seperti AI, blockchain, hingga metaverse dalam rangka memperluas ekosistem bisnis dan meningkatkan customer experience.
PELUANG INVESTASI : Australia Lirik Potensi Sulsel
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) membuka peluang investasi bagi perusahaan di Australia, terutama pada sektor pariwisata, energi, pertanian, perikanan, dan peternakan. Hal tersebut diungkapkan oleh Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dalam lawatannya ke Negeri Kanguru, Rabu (15/3).Dia mengatakan, beberapa sektor yang ditawarkan tersebut merupakan sumber daya unggulan Sulsel yang dinilai bisa dikembangkan secara maksimal. Apalagi, Australia telah dipercaya menjadi mitra kerja sama wilayah ini sejak lama.”Hubungan dan kerja sama antara Sulsel dan Australia memang telah terjalin sejak lama. Oleh karena itu dibukanya peluang ini diharapkan bisa makin menguatkan hubungan kita,” katanya dalam keterangan resminya.Andi Sudirman menginginkan investasi dari Australia bisa mendukung pemerataan pembangunan di wilayahnya. ”Kami yakin investasi dari perusahaan Australia bisa mengembangkan potensi wilayah kami sebagai sebuah aktivitas ekonomi yang menjanjikan bagi para investor,” jelasnya.Sementara itu, perwakilan dari The Australia Indonesia Centre (AIC) Helen Fletcher Kenedy mengatakan, pihaknya mengapresiasi dibukanya peluang ini.
Pengelola Smelter Berburu Dana di Pasar Modal
Saat akses kredit bank seret, sejumlah perusahaan berbasis mineral menggali peluang pendanaan dari publik. Mereka akan menggelar
initial public offering
(IPO) di Bursa Efek Indonesia.
Beberapa perusahaan itu adalah PT Amman Mineral Internasional (induk usaha Amman Mineral Nusa Tenggara), PT Trimegah Bangun Persada (Holding Harita Nickel), dan PT Merdeka Battery Materials (anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk).
Direktur Utama Trimegah Bangun Persada, Roy A Arfandy bercerita, proyek smelter nikel berteknologi
high-pressure acid leach
(HPAL) kerap terkendala pendanaan bank, khususnya saat awal pengembangan smelter. "Setengah mati cari pinjaman. Investasi pabrik
mixed hydroxide precipitate
(MHP) kami cukup besar, yakni US$ 1,2 miliar. Bank pemerintah banyak menahan pendanaan karena masalah sumber listrik, terkhusus dari energi batubara," ungkap dia, baru-baru ini.
Kini, entitas Harita Group milik
crazy rich
Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, itu siap masuk BEI pada April 2023 dan mengincar US$ 600 juta. "Kami akan menggunakan hasil IPO untuk menyelesaikan proyek smelter," sebut Roy.
Amman Mineral mengincar dana IPO senilai US$ 1 miliar untuk menuntaskan proyek smelter mineral logam di Batu Hijau. Ihwal kabar penundaan IPO, manajemen Amman Mineral belum menjawab konfirmasi KONTAN.
Bitcoin Laris Manis di Kala Investor Saham Menangis
Harga bitcoin menguat di saat harga
stablecoin
USD Coin (USDC) longsor setelah kejatuhan Silicon Valley Bank (SVB). Harga bitcoin pada Selasa (14/3) pukul 19.59 WIB, naik 8,14% menjadi US$ 26.183,10 per BTC.
Kenaikan harga bitcoin ini tergolong cepat. Jumat (10/3) lalu, per pukul 11.00 WIB, nilai tukar bitcoin masih berada di US$ 19.624,30 per btc. Jadi, dalam waktu sekitar empat hari, harga bitcoin sudah melesat sekitar 33,42%.
Sebelumnya muncul keriuhan lantaran Circle, perusahaan di balik USDC, mengungkapkan beberapa cadangan dana koin disimpan di SVB. Meski begitu harga USDC saat ini masih stabil di US$ 0,99.
Co-founder
CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir mengatakan, kenaikan harga bitcoin tidak terkait kebangkrutan SVB. "Namun, memang ada perkiraan investor jadi membeli bitcoin di tengah hancurnya sistem perbankan di Amerika Serikat (AS)," ujar dia.
CEO Triv Gabriel Rey menyarankan, investor harus berhati-hati sebelum memutuskan membeli atau melepas bitcoin saat ini. "Sebab, kondisi makro seperti kenaikan suku bunga, ancaman resesi, dan
inverted yield
masih terjadi di Amerika Serikat (AS)," ujar dia, Selasa (14/3).
MENEKAN KETERGANTUNGAN DOLAR AS : LCS DIPERLUAS KE ASEAN
Bank Indonesia akan memperluas kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan secara bilateral atau local currency settlement ke seluruh negara Asean dalam rangka menekan ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menjaga stabilitas rupiah. Perluasan itu menjadi salah satu misi utama yang akan dieksekusi oleh bank sentral sejalan dengan posisi Indonesia yang memegang Keketuaan Asean 2023 atau Asean Chairmanship 2023. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo, mengatakan keketuaan Asean merupakan posisi strategis bagi Indonesia yang dapat dijadikan momentum untuk menguatkan ketahanan ekonomi nasional, termasuk di pasar uang. “LCS kita dorong di kawasan, dengan integrasi penggunaan mata uang lokal,” katanya dalam agenda Asean dan Signifikansinya Bagi Perekonomian Indonesia, Senin (13/3). Saat ini, tercatat ada empat negara yang telah melakukan kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dengan Indonesia. Keempatnya adalah China, Jepang, Thailand, dan Malaysia. LCS menjadi instrumen tambahan yang dioptimalisasi oleh otoritas moneter dalam rangka menjaga stabilitas rupiah seiring dengan terus menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan derasnya aliran keluar modal asing (capital outflow). Maklum, pelemahan mata uang Garuda berimpak cukup besar, tak hanya di pasar keuangan juga pada ekonomi secara makro. Dolar AS yang terus menguat mendorong kenaikan biaya produksi akibat importasi bahan baku dan penolong yang makin mahal. Sementara itu, dalam implementasinya tidak seluruh pelaku usaha atau eksportir bersedia untuk menerapkan LCS dalam setiap transaksi perdagangan. Musababnya, pebisnis terlebih dahulu memperhatikan kondisi pasar uang.
MEMITIGASI GEJOLAK PASAR SAHAM
Pelaku pasar modal mesti waspada. Sentimen eksternal yang dipicu oleh penutupan Sillicon Valley Bank dan Signature Bank di Amerika Serikat kembali menimbulkan volatilitas tinggi di pasar saham global, termasuk Indonesia. Tekanan yang menyelimuti saham-saham sektor teknologi dan perbankan diproyeksi berlangsung dalam jangka pendek. Pasar saham global merah merona pada perdagangan Selasa (14/3). Indeks harga saham gabungan (IHSG) terperosok 2,14% ke level 6.641,81 bersama dengan bursa lain di regional. Akibat koreksi itu, indeks komposit melemah 3,05% sepanjang tahun berjalan 2023. Pelemahan indeks komposit sejalan dengan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp1,33 triliun pada perdagangan kemarin. Sejalan dengan itu, sejumlah saham emiten berkapitalisasi pasar besar berguguran. Di sektor finansial, koreksi a.l. dialami oleh saham BMRI yang tercatat turun 4,1%, BBCA -2,6%, BBRI -2,5%, dan BBNI melemah 3,5% pada Senin (14/3). Beberapa saham emiten bank digital juga terpukul dalam hingga menyentuh level auto rejection bawah (ARB), seperti saham ARTO yang anjlok 6,64% dan BBYB turun 6,84%. Sektor teknologi juga menghadapi gelombang tinggi akibat bangkrutnya SVB yang dikenal sebagai bank yang fokus pada pembiayaan startup. Beberapa saham yang merosot dalam, a.l. GOTO yang turun 3,97%, BUKA terkoreksi 3,88%, serta EMTK dan NFCX yang masing-masing anjlok 6,29% dan 6,87%. Research and Consulting Infovesta Utama Nicodemus Anggi mengatakan pengaruh dari runtuhnya SVB ke IHSG hanya panic selling sesaat ke pasar saham domestik. Dihubungi terpisah, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina memperkirakan pasar saham global dan Indonesia dapat pulih dengan cepat, sepanjang kejatuhan SVB dan Signature Bank tidak menular ke bank lainnya dan bisa dikendalikan oleh regulator AS. Mirae Asset Sekuritas tetap merekomendasikan saham perbankan dalam pilihan utama lantaran krisis SVB diperkirakan berdampak minim ke bank-bank nasional.
RUPST 2023: Beri Kontribusi Optimal, Bank Mandiri Tebar Dividen Rp24,7 Triliun
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2023 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau Bank Mandiri menyepakati pembagian dividen kepada pemegang saham sebesar Rp24,7 triliun atau 60% dari laba bersih konsolidasi 2022. Dari nilai tersebut, besaran dividen per lembar saham Bank Mandiri mencapai kisaran Rp529,34 atau naik 46,8% jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya yang sebesar Rp360,64 per lembar saham. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan dividen kepada Negara Republik Indonesia atas kepemilikan sebesar 52% saham Bank Mandiri atau sebesar Rp12,84 triliun akan disetorkan kepada Rekening Kas Umum Negara. Nilai tersebut naik 46,7% dari posisi tahun lalu. Sementara itu, 40% dari laba bersih konsolidasi tahun lalu atau sebesar Rp16,46 triliun akan dialokasikan sebagai laba ditahan. Besaran dividen tersebut sejalan dengan komitmen manajemen Bank Mandiri yang terus berupaya untuk berkontribusi secara optimal kepada masyarakat.
Dalam RUPST tersebut, pemegang saham Bank Mandiri juga menyetujui pelaksanaan pemecahan saham (stock split) perseroan dengan rasio 1:2 guna mendorong peningkatan likuiditas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2023 SUMATRA ECONOMIC SUMMIT : MENGANGKAT PERFORMA SUWARNADWIPA
Perekonomian di Pulau Sumatra, khususnya Sumatra Utara dihadapkan pada dua tantangan besar yakni pengendalian inflasi dan ketimpangan sumber pertumbuhan ekonomi. Sejumlah upaya perlu dilakukan oleh stakeholder terkait menyusul masih adanya ketimpangan pembangunan di wilayah ini.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatra Utara Doddy Zulverdi pada ajang 4th Sumatranomics: 2023 Sumatra Economic Summit yang digelar di Medan, Sumatra Utara, Senin (13/3). Dia mengungkapkan bahwa ada dua tujuan besar yang ingin dicapai pada forum Sumatranomics 2023. Pertama, menggali ide-ide yang nanti diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah untuk mempercepat proses meningkatkan kualitas rekomendasi kebijakan dan juga sebagai wadah bagi akademisi, praktisi, dan mahasiswa dalam mengembangkan kapasitas keilmuan mereka. Menurutnya, dari sudut pandang Bank Indonesia ada dua tantangan struktural di dalam perekonomian domestik, khususnya Sumatra Utara (Sumut).
Kedua, adanya ketimpangan antar wilayah, di mana terdapat 25 kabupaten/kota di Sumut tergolong daerah relatif tertinggal.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut Arief S. Trinugroho berharap agar ajang Sumatranomics mampu memberikan ide pemikiran yang tak hanya berbentuk konseptual nan utopis mengenai solusi, strategi kebijakan percepatan pertumbuhan ekonomi, hingga dampak krisis akibat berbagai dimensi melalui tulisan ilmiah.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









