BKSDA Pertimbangkan Opsi Pelepasliaran
Setelah satu bulan dievakuasi ke Lembaga Konservasi Lembah Hijau, harimau betina yang dibawa dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan hingga kini masih menjalani perawatan secara eksitu. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu tengah mempertimbangkan untuk melepasliarkan satwa dilindungi tersebut. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Hifzon Zawahiri mengatakan, saat ini kesehatan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) tersebut dalam kondisi stabil. Saat pertama kali dievakuasi, harimau yang diberi nama Putri Sentani itu menunjukkan tanda-tanda stres. ”Saat ini, harimau itu sudah mampu beradaptasi terhadap lingkungan barunya. Seiring waktu, perilakunya mulai lebih tenang, dengan pola makan dan aktivitas yang lebih teratur. Tim pengelola masih mengamati adanya tanda-tanda kewaspadaan tinggi dan sensitivitas terhadap suara atau aktivitas di sekitar kandang,” kata Hifzon, Senin (13/1/2025).
Harimau itu dievakuasi ke Lembah Hijau setelah masuk kandang jebak yang dipasang petugas gabungan dan masyarakat di Kabupaten Lampung Barat pada Jumat (13/12/2024). Sejak Februari 2024, konflik perebutan ruang hidup antara manusia dan harimau memang terjadi di kawasan itu. Setidaknya sudah ada tiga warga yang diterkam harimau, dua orang di antaranya tewas. Selain menimbulkan korban jiwa, konflik antara manusia dan harimau juga berimbas pada pembakaran kantor Resort Suoh TNBBS (Kompas.id, 14/12/2024). Selama ini, kata Hifzon, tim kesehatan dari Lembaga Konservasi Lembah Hijau dan petugas BKSDA melakukan pendekatan berbasis rehabilitasi perilaku untuk menjaga agar harimau itu tidak stres. Sekeliling kandang ditutup agar harimau tidak dapat melihat kehadiran manusia. Petugas lebih banyak memantau kondisi harimau dari CCTV.
Makanan yang diberikan untuk harimau itu juga berupa ternak hidup untuk menjaga naluri liarnya. ”Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa harimau tersebut tidak mengalami luka serius, tetapi memerlukan perawatan lebih lanjut. Saat ini, harimau tersebut berada dalam pengawasan ketat untuk memastikan pemulihan optimal,” kata Hifzon. BKSDA telah menyiapkan rencana strategis untuk harimau yang mencakup rehabilitasi, monitoring, dan rencana pelepasliaran ke habitat aslinya. Saat ini, proses rehabilitasi terus dilakukan dengan pemberian nutrisi dan pengondisian perilaku liar. BKSDA bekerja sama dengan lembaga konservasi lain untuk mengidentifikasi kawasan pelepasliaran yang aman, bebas ancaman perburuan, dan konflik untuk harimau tersebut. Kawasan pelepas liaran mesti dipastikan memiliki ketersediaan mangsa yang cukup. (Yoga)
Tags :
#BeritaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023