;

STOK BERAS : GANJALAN KETAHANAN PASOKAN

Lingkungan Hidup Hairul Rizal 19 Apr 2024 Bisnis Indonesia
STOK BERAS : GANJALAN KETAHANAN PASOKAN

Produksi beras tahun ini yang diproyeksi bakal lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya membuat cadangan beras pemerintah berada pada level yang rawan. Serapan gabah yang dilakukan oleh Perum BULOG pun mengalami penyusutan. Panen raya yang menjadi momentum bagi BULOG untuk menyerap gabah lebih banyak dari petani terhambat oleh beragam anomali yang terjadi. Impaknya, cadangan beras pemerintah saat ini belum bisa dibilang aman. Perum BULOG mencatat serapan gabah sejak Januari 2024 hingga 14 April 2024 mencapai 120.000 ton atau setara dengan 64.000 ton beras. Angka tersebut anjlok dibandingkan dengan serapan pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, di mana rata-rata kemampuan serap gabah BULOG mencapai 375.000 ton beras. Di sisi lain, stok beras BULOG per 16 April 2024 tercatat masih ada pada level 1.231.434 ton. Direktur Utama Perum BULOG Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa penyerapan yang rendah pada tahun ini terjadi lantaran produksi yang diperkirakan lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya. Hal itu diperkuat dengan prediksi Badan Pusat Statistik yang menyebut bahwa produksi beras pada kuartal I/2024 bakal turun 17% secara tahunan.

Selain produksi yang rendah, kualitas gabah petani yang belum memadai ikut menjadi kendala bagi BULOG dalam melakukan tugasnya menyerap gabah petani. Sebagian besar gabah petani cenderung basah alias punya kadar air di atas ketentuan yang telah ditetapkan. Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi juga mengakui serapan BULOG pada periode awal panen raya masih minim. Alasannya, sebagian besar gabah petani sudah diserap terlebih dahulu oleh penggilingan swasta. Dia menyebut bahwa Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras pada Maret 2024 sebanyak 3,8 juta ton, dan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan ini menjadi sebanyak 4,9 juta ton. Akan tetapi, gejolak geopolitik di Timur Tengah usai pecahnya konflik Iran-Israel juga meningkatkan risiko terhadap importasi beras. Apalagi, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga terus tembus di atas Rp16.000 per dolar AS. Secara terpisah, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengatakan bahwa saat ini sebenarnya sudah memasuki periode panen raya. Harga gabah di tingkat petani pun sudah jatuh di bawah Rp5.000 per kilogram. Untuk itu, keberadaan BULOG untuk menyerap gabah petani dengan harga lebih tinggi menjadi sangat penting.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia Sutarto Alimoeso membeberkan bahwa rendahnya serapan beras BULOG pada panen raya berisiko terhadap stok cadangan beras pemerintah hingga akhir tahun. Saat stok beras pemerintah sangat terbatas, kata Sutarto, harga beras pada paruh kedua tahun ini berisiko naik. Apabila hal itu terjadi, opsi impor menjadi yang paling diandalkan oleh pemerintah untuk menjaga stok cadangan beras pemerintah. Panen raya, kata dia, menjadi satu-satunya kesempatan bagi BULOG untuk menyerap produksi dalam negeri. Musababnya, kondisi surplus hanya terjadi pada periode panen raya periode Maret—Mei. Saat produksi rendah dan defisit pada bulan paceklik, dipastikan BULOG akan sulit menyerap gabah petani lantaran harga gabah naik dan kompetisi dengan pabrik beras swasta makin ketat, seperti yang terjadi pada paruh kedua 2023. Terlebih, lanjutnya, kapasitas penggilingan sudah terlampau banyak, yaitu mencapai 225 juta ton. Padahal, produksi gabah nasional secara tahunan hanya 54 juta ton. Adapun, pengamat pertanian Center of Reform on Economics Eliza Mardian mengatakan bahwa pemerintah perlu menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah petani menjadi di atas Rp6.000 per kilogram agar BULOG bisa menyerap lebih banyak hasil produksi petani.

Tags :
#Beras #Pangan
Download Aplikasi Labirin :